Jumat, 16 November 2018


Sabtu, 27 Oktober 2018 07:08 WIB

Ketakutan Angkoe Poetih

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Tak jauh dari muara, di bawah sebatang pohon kasei raksasa, mereka merapat. Di seberang sungai tampak sekitar dua puluhan orang—lelaki, perempuan dan anak-anak yang baru saja selesai menyemai padi di ladang.



Orang-orang itu berjalan ke tepian sungai dan naik ke atas perahu-perahu yang tertambat di sana. Dua buah perahu menyeberang, mendekati perahu-perahu van Hasselt dan rombongannya. Di atas salah sebuah perahu, duduk Malim Pandita, Juru Tulis Radja Soengei Kamboet. Malim Pandita adalah lelaki Melayu yang berasal dari Rau (Ajer Bangis). Ia telah tinggal lebih dari 20 tahun di  Soengei Kamboet.  

Lelaki itu menyapa mereka dengan ramah. Tak lama kemudian, ketika hujan turun dan semakin lama menjadi semakin deras, ia mengizinkan van Hasselt dan rombongannya untuk berteduh di sebuah pondok di ladang di seberang sungai. Barang-barang dan perbekalan tim ekspedisi itu pun dibawa pula ke pondok itu.

Malim Pandita menyampaikan bahwa warga kampung (kedua puluhan orang tadi)—terutama kaum perempuan dan anak-anak, merasa takut melihat kedatangan rombongan ekspedisi itu. Van Hasselt segera meminta agar Malim Pandita menenangkan hati mereka. Orang-orang itu mulai menyemai padi lagi. Untuk menunjukkan bahwa mereka berniat baik, van Hasselt menyuruh para pendayung perahu-perahu mereka membantu warga kampung itu menyemai.   

Malini Pandita naik ke perahunya dan bertolak ke arah Soengei Kamboet untuk mengabari radja mengenai kedatangan tim ekspedisi. Ia meminta van Hasselt untuk tidak meninggalkan pondok di ladangnya. Van Hasselt menyetujui permintaan itu, tetapi ia juga mengamati bahwa bersamaan dengan keberangkatan perahu Malim Pandita, beberapa biduk lain pun bertolak ke hilir Batang Hari.

Sementara perahu Malim Pandita semakin menjauh dan kemudian menghilang dari pandangan, tim ekspedisi di pondok itu beristirahat. Pondok itu terdiri dari dua bagian. Bagian kedua, yang lebih kecil, dibangun menempel di bagian pertama. Keduanya berdinding kulit kayu dengan lantai yang terbuat dari kulit bambu.  Dapur untuk masak terdapat di bagian yang besar. Sebuah senapan dan beberapa tombak tampak tersimpan di antara kasau (kayu/bambu melintang penyangga atap) pondok itu. Di dekat pondok itu, terdapat sebuah penggilingan tebu. Di sebelahnya, di bawah atap, terdapat tungku untuk memasak air tebu menjadi gula.

Dalam waktu singkat, ranjang-ranjang lipat sudah dipasang di pondok itu dan keperluan dapur pun telah disiapkan, pemilik pondok itu datang. Lelaki itu diiringi oleh seorang anak lelaki berumur sekitar 6 tahun. Anak itu,  yang menggenggam sebatang kayu kecil, menarik perhatian van Hasselt ketika ia membantu ayahnya merapatkan perahu ke tepian. Van Hasselt melipat-lipat selembar koran menjadi perahu yang dilayarkan di air sungai. Dengan permainan itu, anak itu kehilangan segala rasa takutnya. Ia cepat bersahabat dan bahkan tanpa segan-segan, menjawab segala pertanyaan yang diajukan kepadanya.

Beberapa orang lelaki—yang dikenal oleh para pendayung--datang dan masuk ke dalam pondok itu. Pembicaraan yang ramai terjadi. van Hasselt hanya mampu menangkap beberapa kata saja, tetapi yang didengarnya tidaklah membuat hatinya tenang. Suasana yang meresahkan itu semakin menjadi-jadi menjelang matahari terbenam.

Angkoe Poetih tiba. Ia diiringi oleh seorang penghoeloe dan beberapa lelaki lain. Setelah sapa-menyapa yang santun dilakukan, van Hasselt menyampaikan bahwa ia sangat terkesan oleh kehangatan surat Angkoe Poetih dan karenanya, tim ekspedisi hendak datang berkunjung ke kampungnya. Akan tetapi, jawaban Angkoe Poetih mengejutkan dan mengecewakan.

Angkoe Poetih hanya bersedia menerima kedatangan tim ekspedisi itu bila mereka membawa pasukan lengkap. Bila mereka hanya datang dengan pengamanan sederhana seperti adanya saat itu, Bagindo Ratoe akan menyerang. Lelaki itu telah memerintahkan doebalangnya untuk mempersenjatai diri. Para doebalang itu bahkan telah beberapa kali diperintahkan untuk melayari Batang Hari, bahkan juga Soengei Mamoen, untuk menghalangi perjalanan tim ekpedisi itu. Angkoe Poetih sendiri mengalami banyak kesulitan dan tekanan karena telah menerima surat dan cenderamata dari van Hasselt. Karena itulah, ia hendak kembali—secepat mungkin—ke kampungnya sendiri. Ia sangat takut pada Radja Sigoentoer. “Aku tidak diizinkan menerima Toean-toean di negariku,” kata Angkoe Poetih. “Bila itu kulakukan, Toean-toean akan dibunuh semua dan seluruh negariku dibumihanguskan oleh warga Sigoentoer.”

Apakah mungkin mereka dapat melayari Batang Hari dan Soengei Pangean tanpa pengamanan dari pasukan lengkap? Angkoe Poetih menghindar memberikan jawaban. Namun, ia menekankan bahwa untuk berlama-lama tinggal di tempat ini pun tidak aman. Bila Bagindo Ratoe mengetahui kehadiran mereka di situ, pastilah ia akan datang menyerang.

Sekali lagi Angkoe Poetih menekankan bahwa bila Kumpeni memutuskan untuk menaklukkan Sigoentoer, ia bersedia membantu agar Belanda dapat memerintah di daerah itu. Van Hasselt segera memotong kata-katanya. Ekspedisi Sumatera Tengah tidak bermaksud melakukan apa-apa atas nama dan untuk Kumpeni.

Mereka hanyalah penjelajah-penjelajah damai yang datang untuk mengenal dan mempelajari masyarakat dan alam di daerah itu. Antara lain, mereka juga tertarik untuk melihat sendiri tinggalan purbakala yang ada di Sigoentoer. Angkoe Poetih tidak dapat atau mungkin juga, tidak mau lagi menambahkan keterangan mengenai tinggalan-tinggalan Hindu itu. Sebuah batu bertulis tersembunyi di antara ilalang, katanya, dan sebuah lagi terbenam di dalam sungai karena dilemparkan ke sana oleh seekor gajah.  

Lelaki itu tampak resah. Ia menyarankan mereka untuk segera berangkat; bukan saja karena khawatir akan pecah peperangan di antara kampungnya dan Sigoentoer, melainkan juga demi keamanan dan keselamatan tim ekspedisi itu sendiri. “Beristirahatlah dulu di pondok ini,” katanya. “Tetapi, Toean-toean harus selalu waspada.”

*Acuan Kepustakaan: PJ Veth. Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, uitgerust door het Aardrijkskundig Genootschap, 1877-1879 . Jilid II. Leiden: EJ Brill. 1882.


Tag : #Midden Sumatra Expeditie 1877 #van Hasselt #Sejarah Jambi dalam Naskah Belanda #Malim Pandita #Juru Tulis Soengai Kamboet



Berita Terbaru

 

Festival Budaya Bioskop
Jumat, 16 November 2018 06:20 WIB

Bentuk Museum Bioskop, Tempoa Art Digandeng Institut Kesenian Jakarta


Kajanglako, Jambi-hanya tinggal menghitung hari, Festival Budaya Bioskop Jambi segera dibuka untuk publik. Festival untuk pertama kali di Jambi ini merupakan

 

Kamis, 15 November 2018 22:10 WIB

Dugaan Percobaan Penculikan Anak, CE: Jangan Buat Gaduh Sebelum Jelas Motifnya


Kajanglako.com, Sarolangun - Kabar dugaan percobaan penculikan anak di Desa Bernai Luar, Kabupaten Sarolangun, Sabtu (10/11) lalu sempat membuat gempar

 

Kamis, 15 November 2018 18:00 WIB

Tahun Depan, Jembatan Timbang Tembesi Kembali Diaktifkan


Kajanglako.com, Batanghari - Saat ini, tonase truk batubara maupun angkutan lainnya sudah melebihi batas kemampuan kualitas jalan.    Untuk menertibkan

 

Surat-surat Pribadi Pendiri Bangsa
Kamis, 15 November 2018 16:55 WIB

10 Fakta Menarik Seputar Pameran Surat-surat Pendiri Bangsa


Kajanglako.com, Jakarta- Memasuki hari ke-5, pameran Surat-surat Pendiri Bangsa yang bertempat di Museum Nasional, Jakarta, telah dikunjungi lebih dari

 

Surat-surat Pendiri Bangsa
Kamis, 15 November 2018 15:36 WIB

5000 Orang Kunjungi Pameran Surat-surat Pendiri Bangsa


Kajanglako.com, Jakarta- Selain beberapa remaja dan turis manca negara, siswa sekolah dasar berduyun-duyun ke area pameran Surat-surat Pendiri Bangsa yang