Jumat, 16 November 2018


Jumat, 26 Oktober 2018 07:10 WIB

Ekspedisi Perhimpunan Ilmu Bumi Kerajaan Belanda di Nusantara

Reporter :
Kategori : Jejak

ilustrasi. tepian Batanghari, Djambi. D.D. Veth. Sumber: Tropen Museum

Oleh Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Koninklijke Nederlandsche Aardrijkskundige Genootschap (KNAG) atau Perhimpunan Ilmu Bumi Kerajaan Belanda didirikan pada tahun 1873. Di Eropa, perhimpunan serupa pertama-tama berdiri di Prancis (1821), disusul oleh Jerman (1828), Inggris (1830), dan Belgia (1876).



Sebetulnya, sejak abad ke-17, orang Belanda sudah dikenal di Eropa sebagai pedagang dan pelaut. Di abad ke-17, negeri yang nyaris terbenam laut itu melahirkan pelaut-pelaut handal seperti Willem Barentz (yang berlayar sampai ke daerah Zembla di kutub utara) dan Abel Tasman (yang berlayar ke selatan dan menemukan Pulau Tasmania).

Ekspedisi-ekspedisi itu terutama bertujuan ekonomis, yaitu untuk menemukan rute pelayaran yang lebih baik dan lebih cepat ke dunia belahan timur. Oleh terbukanya rute pelayaran ke utara, orang Belanda lalu mendirikan kota pelabuhan untuk menampung dan memasarkan produk-produk dari penangkapan ikan paus serta bulu-bulu binatang yang dibawa dari daerah Kutub. Kota pelabuhan itu dinamakan New Amsterdam. Di kemudian hari, kota itu dikenal sebagai kota New York.

Di abad ke-18, setelah mengalami Zaman Keemasan (antara lain karena keuntungan dari rempah-rempah nusantara yang dibawa oleh VOC), pengaruh Belanda di Eropa banyak berkurang. Tak banyak lagi benua dan pulau besar yang belum diketemukan. Akan tetapi di bola dunia atau peta pada masa itu, yang terutama digambarkan hanyalah bentuk kasar benua atau gugusan kepulauan dengan beberapa nama kota pelabuhan di tepian pantainya.

Pedalaman benua dan pulau-pulau itu kosong, tanpa gambar gunung, lembah, sungai atau pun danau karena memang tak ada orang Eropa yang pernah mendatanginya dan tak ada yang tahu ada unsur topografi apa di sana. Bagian-bagian kosong di peta itu disebut ‘witte vlekken’ (noda-noda putih atau blanko). Ekspedisi-ekspedisi yang dilakukan setelah abad-abad ke-18 terutama diniatkan untuk mengumpulkan pengetahuan mengenai noda-noda putih tadi. Inilah yang menjadi titik-tolak lahirnya Perhimpunan Ilmu Bumi Belanda dan pelaksanaan ekspedisi-ekspedisinya.

Menghilangkan noda-noda putih atau blanko di peta bumi tentunya bukan semata-mata niat luhur akademis saja. Di nusantara, orang Belanda yang berpikir dirinya beradab dan maju, merasa memiliki white man’s burden untuk menggiring masyarakat pribumi di nusantara ke arah peradaban dan kemajuan (sesuai kacamata Barat) melalui kolonialisme.

Namun demikian, di balik itu, tentunya kepentingan ekonomi untuk menemukan rute pelayaran untuk transportasi komoditi-komoditi baru pengisi kas kerajaan tetap menjadi faktor pendorong yang besar.

Selain itu, ekspedisi-ekspedisi itu juga melihat kemungkinan perluasan pengaruh dan kekuasaan dengan menempatkan pejabat-pejabat (kontrolir) di tempat-tempat baru di pedalaman.  Karena itulah, ekspedisi-ekspedisi itu banyak disponsori oleh perusahaan-perusahaan perdagangan dan berbagai lembaga kolonial (pertambangan, pertanian, pelayaran, militer dan sebagainya).

Kerajaan Belanda biasanya mensponsori dengan menyediakan sarana transportasi penjelajahan berupa kapal uap (seperti untuk Ekspedisi Sumatera Tengah); dan di kemudian hari, mereka menyediakan pesawat terbang atau helikopter. Angkatan Laut Kerajaan menyediakan tenaga pelayaran dan awak kapal.

Mulai tahun 1877, KNAG merencanakan dan menjalankan berbagai ekspedisi ke beberapa daerah di rute pelayaran kapal-kapal mereka, yaitu Afrika Selatan dan Amerika. Namun, penjelajahan mereka terutama diarahkan ke pedalaman daerah-daerah jajahannya di nusantara dan Suriname.

Pada umumnya, sebagian besar daerah yang mereka anggap sebagai daerah jajahan sebetulnya de fakto hanyalah merupakan pos-pos perdagangan di pelabuhan di tepi pantai. Pos-pos perdagangan itu hanya terdiri dari beberapa bangunan saja: perkantoran, gudang, rumah kepala pos itu dan barak militer yang dikelilingi oleh benteng kayu. Agen-agen perdagangan di pos itu membeli komoditi hasil pertanian/perkebunan atau hasil hutan dari penduduk pedalaman yang datang ke sana.  Tak ada orang Belanda yang menjelajah ke luar wilayah pos perdagangan itu karena daerah di luar wilayah pos itu merupakan daerah blanko yang tak dikenal dan dianggap berbahaya.

Ekspedisi pertama yang dilakukan oleh KNAG adalah Ekspedisi Sumatera Tengah pada tahun 1877.  Selain ke bagian tengah Pulau Sumatera, di nusantara, KNAG menyelenggarakan ekspedisi ke Flores, Timor, Sulawesi Selatan, Utara dan Tengah, Kepulauan Kei, Sumba, Bagian Tenggara Papua, Nias, Sumatera Utara, Ambon, Seram, Buru, Jawa, gugusan pulau-pulau di daerah Sunda Kecil, daerah Sunda, Kalimantan, Aceh, Enggano dan Ekspedisi Snellius. Ekspedisi KNAG yang terakhir adalah Ekspedisi Pegunungan Bintang di Papua Nugini pada tahun 1959.

 

Ekspedisi Sumatra Tengah (1877 – 1879)

Ekspedisi Sumatra Tengah dirancang untuk memetakan aliran Batang Hari, lingkungan alamnya dan kebudayaan masyarakat yang tinggal di sekitarnya.

 J. Schouw Santvoort, pemimpin ekspedisi itu, menganggarkan biaya sebesar kurang-lebih ƒ 50.000,- untuk menjalankan penjelajahan itu. Upaya mengumpulkan biaya itu dimudahkan oleh dua hal: Prof. PJ Veth (ketua KNAG) menyumbangkan uang persis sejumlah yang diperlukan! ƒ 50.000,- ! Dan, pelindung ekspedisi itu adalah kerabat Raja Belanda,  Pangeran Hendrik. Namanya yang terpampang di proposal penjelajahan membuat para pengusaha dan masyarakat umum bersemangat ikut menyumbangkan dana untuk membiayai penjelajahan avonturir ke daerah-daerah di Sumatra yang sama sekali belum pernah didatangi oleh orang Eropa. Pemerintah kerajaan menambahkan dana yang terkumpul dengan uang sebesar ƒ 20.000,- dan sebuah kapal uap (beserta awak) yang sengaja dikirim ke nusantara dari negeri Belanda.

 

Tim Penjelajahan

Biasanya ekspedisi-ekspedisi yang diselenggarakan oleh KNAG dijalankan oleh sebuah tim kecil yang terdiri dari 4 atau 5 orang ilmuwan dari bermacam disiplin ilmu (termasuk di antaranya seorang dokter dan seorang ahli geologi), seorang fotografer ditambah dengan seorang marinir atau agen kepolisian Hindia-Belanda. Jumlah serdadu yang ikut ditambahkan bila masyarakat di daerah yang akan didatangi dianggap menunjukkan sikap permusuhan terhadap kehadiran Belanda. Tim inti ini ditambah lagi dengan sejumlah pembantu dan kuli-kuli yang bertugas menggotong semua barang dan perbekalan ekspedisi. Total anggota ekspedisi yang akhirnya menjelajah seringkali mencapai jumlah 30-50 orang.

Tim inti Ekspedisi Sumatra Tengah terdiri dari empat orang, yaitu J. Schouw Santvoort (pemimpin ekspedisi), J.F. Snelleman (ahli biologi), A.L. van Hasselt (kontrolir di daerah Pantai Barat Sumatra yang bertugas mempelajari bahasa dan budaya masyarakat yang didatangi) serta D.D. Veth (fotografer dan ahli geografi dan geologi; ia juga adalah anak lelaki Prof Veth, ketua KNAG).

Ekspedisi Sumatra Tengah direncanakan akan dibagi menjadi dua: tim penjelajahan sungai yang dipimpin oleh Schouw Santvoort  dan tim penjelajahan darat yang dipimpin oleh Van Hasselt.  Akhirnya, p

Pada tanggal 13 Januari 1877, Schouw Santvoort, Snelleman dan DD Veth meninggalkan Belanda. Sebulan kemudian, 23 Februari, mereka tiba di Padang dan disambut oleh van Hasselt.

Sebagian besar barang dan perbekalan untuk penjelajahan dibawa dari negeri Belanda. Hal ini dilakukan dengan pertimbangan bahwa peralatan yang diperlukan belum tentu tersedia di Hindia-Belanda (atau daerah tujuan penjelajahan lainnya). Apa saja yang dibawa?

Kaleng-kaleng berisi daging, aneka sayuran, dan makanan khas Belanda dan Eropa; peralatan serta instrumen-instrumen penelitian geologi dan topografi; kamera dan segala tetek-bengek yang diperlukan untuk membuat foto di abad ke-19; obat-obatan; kertas tulis, kertas gambar dan alat-alat untuk menulis, menggambar dan  melukis; pakaian (luar dan dalam) yang dianggap diperlukan di daerah tropis; serta peralatan dan keperluan untuk mengumpulkan dan mengawetkan koleksi-koleksi geologi, biologi dan botani.

Ketika KNAG menyelenggarakan ekspedisi ini, orang Belanda dan orang Eropa lainnya menganggap suku-suku bangsa di Afrika, Asia, Amerika Latin dan daerah-daerah lain yang bukan Eropa sebagai masyarakat yang terbelakang dan tidak beradab. Ada anggapan bahwa masyarakat non-Eropa itu dapat diperbandingkan dan disamakan dengan anak kecil—yang tentunya harus dibimbing dan dibentuk oleh orang Eropa--untuk mencapai peradaban yang lebih tinggi, yaitu peradaban seperti yang ada di negeri mereka sendiri.

Sejalan dengan ini, perbedaan fisik di antara orang Eropa dan orang non-Eropa yang acapkali bertubuh lebih kecil dan pendek dengan kulit yang berwarna hitam, sawo-matang atau kuning langsat dan rambut hitam yang kejur atau keriting kecil-kecil, cukup mengherankan mereka. Keanehan fisik itu pun menjadi bagian penelitian ekspedisi-ekpedisi KNAG yang pertama. Catatan dari Ekspedisi ke Pegunungan Bintang di Papua berbunyi sebagai berikut:

“Pada setiap orang Papua dewasa, lelaki maupun perempuan, dilakukan sejumlah pengukuran, misalnya tinggi badan, panjang dan lebar kepala, panjang dan lebar hidung, warna dan bentuk mata dan rambut serta jenis rambut itu. Data ini diperlukan untuk menentukan ras orang-orang itu serta hubungan kekerabatan di antara mereka.”

Warna kulit pun dinilai sesuai dengan standar tertentu dengan rentang kulit putih (seperti orang Eropa) sampai ke kulit hitam yang paling legam. Di kemudian hari, pengukuran fisik seperti ini tidak lagi dilakukan karena dianggap diskriminatif dan melecehkan. Walaupun demikian, terkadang penilaian dengan bias budaya (yang beranggapan bahwa orang non-Eropa merupakan masyarakat dengan tingkat peradaban yang lebih rendah) memang masih terbaca dalam laporan dan catatan penjelajahan. Juga dalam laporan Ekspedisi Sumatera Tengah.

KNAG sendiri sebetulnya menganggap Ekspedisi Sumatera Tengah tidak sepenuhnya berhasil. Ekspedisi itu seharusnya dapat mengumpulkan informasi mengenai lingkungan alam dan masyarakat-masyarakat di daerah-daerah Sumatera Tengah (yaitu Jambi), yang berada di luar daerah yang telah dikuasai Hindia-Belanda. Namun, pada akhirnya, tim itu tidak berhasil melakukannya karena pemerintah pusat di Batavia melarang mereka meneruskan perjalanan demi keamanan anggota tim. Penolakan dan pertentangan Sultan Taha dan pengikutnya dianggap terlalu besar dan membahayakan.

Walaupun Ekspedisi Sumatera Tengah dianggap gagal oleh KNAG, untuk kita, informasi yang dikumpulkan dan didokumentasi oleh tim itu tetap dapat dianggap sebagai harta-karun kesejarahan. Harta-karun itu mencakup:

- Seluruh dokumentasi tertulis (catatan dan buku harian lapangan tim penjelajahan) dan visual (foto dan gambar) serta peta Sumatra tengah (termasuk topografi dan aliran-aliran sungai-sungai) diterbitkan menjadi beberapa jilid buku berjudul ‘Midden Sumatra: Reizen en Onderzoekingen’.

- Ekspedisi-ekspedisi KNAG berhasil membuat ribuan peta dari banyak wilayah di nusantara. Koleksi peta (sebanyak 135.000) dan atlas (sebanyak 4500) tersimpan di Perpustakaan Universitas Amsterdam. Pada tahun 2005, KNAG—bekerjasama dengan Arsip Kerajaan Belanda, dan Arsip Nasional Republik Indonesia—menerbitkan 4 jilid koleksi peta daerah-daerah nusantara beserta keterangan mengenai kartografernya.

- Tim penjelajahan itu meneliti, mengukur serta mencatat tinggi gunung, vulkanis ataukah tidak, kedalaman sungai, kelok-keloknya, percepatan arus air sungai, danau,  serta jenis-jenis tanah. Semua ini digambarkan pula di peta. Dalam hal ini, ekspedisi Sumatra Tengah cukup berhasil mengisi noda-noda blanko/putih yang tadinya menjadi warna utama peta Sumatera bagian tengah;

- Tim ekspedisi itu mengumpulkan aneka jenis bebatuan, tanaman, serangga, ikan dan entah binatang apa lagi yang dapat diawetkan. Sebagian besar koleksi ini masih tersimpan di berbagai museum di negeri Belanda;

- Mereka juga mengumpulkan berbagai benda yang biasa digunakan dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat: perkawinan, kelahiran, kematian, matapencaharian (misalnya pacul, ani-ani, jaring ikan, bubu dan keranjang, pakaian, perhiasan, mainan anak-anak dan sebagainya). Benda-benda seperti itu diperoleh dengan membeli benda-benda itu atau menukarnya dengan manik-manik, kain, pisau, cermin, sisir, kancing baju, benang, dan bahkan juga garam. Sebagian besar benda-benda ini tersimpan di Museum Nasional, Jakarta dan beberapa museum di negeri Belanda.

- Foto dan/atau gambar lukisan warga kampung-kampung yang didatangi pun dibuat sebagai bagian dari penelitian terhadap bentuk tubuh manusia. Ekspedisi Sumatera Tengah merupakan ekspedisi pertama yang menggunakan alat fotografi. Berbeda dengan kamera di telpon genggam kita sekarang ini, untuk membuat foto, DD Veth—fotografer Ekspedisi Sumatra Tengah—tidak hanya terpaksa mengangkut dan merawat banyak sekali alat untuk membuat foto, ia juga harus sabar membujuk orang untuk difoto. Tak jarang kaum perempuan dan anak-anak berlari ketakutan ketika melihat lelaki itu menyiapkan segala peralatannya;

- Tim ekspedisi itu juga mencatat adat-kebiasaan dan  upacara, mitologi,  serta mengumpulkan kosa kata, istilah, dan kaidah kebahasaan di setiap tempat.

Kini, 139 tahun setelah berlangsungnya ekspedisi pertama itu, KNAG tidak lagi mengorganisir ekspedisi ke mana pun. Perhimpunan itu—yang sampai sekarang masih berkantor di kota Utrecht di negeri Belanda—sekarang ini lebih banyak berfungsi sebagai pusat informasi geologi, geografi dan topografi bagi sekolah-sekolah menengah dan peminat ilmu bumi di Belanda. Hal itu dilakukannya melalui dua buah majalah, yaitu ‘Journal of Economic and Social Geography’ (yang berbahasa Inggris)  dan ‘Geografie’ (yang berbahasa Belanda).

 

*Tulisan di atas merupakan makalah penulis yang disampaikan dalam “Diskusi Sejarah Midden Sumatra Expeditie 1877-1879: Eksplorasi Sejarah Jambi” yang diadakan oleh Media Online Kajanglako.com di Jambi Tanggal 4 Oktober 2018. Sumber Acuan: http://www.knag-expedities.nl/pages/expedities.php


Tag : #Ekspedisi Perhimpunan Ilmu Bumi Belanda #Ekpedisi KNAG di Nusantara #Midden Sumatra expeditie 1877 #Willem Barentz #Abel Tasman #J. Schouw Santvoort #Sejarah Jambi dan Ekspedisi Belanda



Berita Terbaru

 

Penerimaan CPNS 2018
Jumat, 16 November 2018 08:48 WIB

Tingkat Kelulusan CASN Rendah, Ini Kata Ihsan Yunus


Kajanglako.com - Rekrutmen Calon Aparatur Sipil Negara (CASN) tahun ini meninggalkan cerita pelik. Di satu sisi Negara tengah membutuhkan banyak tambahan

 

Festival Budaya Bioskop
Jumat, 16 November 2018 06:20 WIB

Bentuk Museum Bioskop, Tempoa Art Digandeng Institut Kesenian Jakarta


Kajanglako, Jambi-hanya tinggal menghitung hari, Festival Budaya Bioskop Jambi segera dibuka untuk publik. Festival untuk pertama kali di Jambi ini merupakan

 

Kamis, 15 November 2018 22:10 WIB

Dugaan Percobaan Penculikan Anak, CE: Jangan Buat Gaduh Sebelum Jelas Motifnya


Kajanglako.com, Sarolangun - Kabar dugaan percobaan penculikan anak di Desa Bernai Luar, Kabupaten Sarolangun, Sabtu (10/11) lalu sempat membuat gempar

 

Kamis, 15 November 2018 18:00 WIB

Tahun Depan, Jembatan Timbang Tembesi Kembali Diaktifkan


Kajanglako.com, Batanghari - Saat ini, tonase truk batubara maupun angkutan lainnya sudah melebihi batas kemampuan kualitas jalan.    Untuk menertibkan

 

Surat-surat Pribadi Pendiri Bangsa
Kamis, 15 November 2018 16:55 WIB

10 Fakta Menarik Seputar Pameran Surat-surat Pendiri Bangsa


Kajanglako.com, Jakarta- Memasuki hari ke-5, pameran Surat-surat Pendiri Bangsa yang bertempat di Museum Nasional, Jakarta, telah dikunjungi lebih dari