Rabu, 14 November 2018


Sabtu, 20 Oktober 2018 07:08 WIB

Berbiduk-biduk Menuju Sigoentoer

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Laporan lengkap mengenai pertemuan para utusan dengan pemimpin-pemimpin adat di Poelau Poendjoeng mengecewakan tim inti Ekspedisi Sumatera Tengah.



Dalam bahasa Belanda, supaya tidak didengar dan dimengerti oleh orang-orang di sekeliling mereka, dilakukan perundingan mengenai langkah-langkah selanjutnya.  Setiap saat rombongan ini dikelilingi oleh orang dusun dengan rasa ingin tahu yang besar. Mereka keluar-masuk ke dalam rumah tempat tim itu menginap, lalu ikut duduk dan mendengarkan segala sesuatu yang dibicarakan sambil memperhatikan segala gerak-gerik manusia-manusia berkulit putih itu. Bahkan terkadang, tanpa ditanya, mereka tidak ragu-ragu ikut angkat suara, memberikan saran dan pendapat.

Walau kadang-kadang, ikut campurnya orang-orang itu agak mengesalkan, van Hasselt dan timnya tidak berusaha mengusir mereka. Bukankah salah satu tujuan ekspedisi itu adalah untuk mempelajari bahasa, prilaku dan adat-kebiasaan mereka?

Keberadaan orang-orang itu merupakan kesempatan baik untuk meneliti dan mencatat segala-sesuatu yang didengar dan diamati. Orang-orang dusun itu hanya segan terhadap Kontrolir atau seorang pejabat tinggi. Tak ada seorang pun berani masuk tanpa izin ke tempat Kontrolir menginap, namun mereka berusaha berdiri sedekat mungkin supaya dapat mendengarkan apa yang dibicarakan. Karena sudah mengetahui kebiasaan ini dan karena tidak ingin rencana mereka menjadi pengetahuan umum, tim inti Ekspedisi tidak menyebut-nyebut perihal rencana meneruskan perjalanan ke Soengei Kamboet.

Pada tanggal 28 Juni, mereka menyiapkan barang dan perbekalan. Perahu-perahu yang akan membawa mereka ke hulu pun disiapkan. Tak seorang pun menyebutkan tujuan perjalanan berikutnya. Orang dusun yang selalu ramai ada di sekitar mereka, mulai berbisik-bisik dan menebak-nebak sambil menunjuk-nunjuk ke perahu-perahu itu. Kabar persiapan keberangkatan tim ekspedisi sampai pula ke telinga Toengganei. Lelaki itu segera datang dan meminta mereka untuk tidak pergi ke daerah-daerah yang masih merdeka. Bila itu dilakukan, pastilah mereka akan celaka, katanya.

Toengganei itu menyampaikan bahwa sehari sebelum tim Ekspedisi itu, empat orang doebalang dari Loeboe Olang Alieng datang. Keempat orang itu bersenjatakan tombak dan klewang. Mereka datang mengumpulkan informasi mengenai ekspedisi dan rencana-rencana para penjelajah asing itu. Karena ingin melindungi van Hasselt dan rombongannya, Toengganei itu menolak menemui keempat orang doebalang itu.

Proses memuat barang ke dalam lima buah perahu itu berjalan lamban. Hal itu menunjukkan keengganan para kuli melakukan perjalanan.  Akhirnya, mereka baru dapat bertolak setelah jam menunjukkan pukul 09.00 lewat. Perjalanan mereka lancar. Sungai itu lebar dan dalam dan bahkan dapat dilayari sampai ke muaranya oleh kapal-kapal yang lebih besar dari perahu-perahu mereka. pelayaran mereka hanya beberapa kali terhalang oleh percepatan arus sungai. Bebatuan, yang biasanya mempersulit perjalanan di sungau, dapat dihindari atau dikesampingkan dengan mudah. 

Banyak sungai dan kali kecil di tepian kiri dan kanan, yang airnya mengalir menyatu dengan Soengei Mamoen. Darat di tepian sungai itu dipenuhi hutan lebat. Di sana-sini tampak ladang-ladang yang ditanami pisang dan tebu dengan beberapa rumah panggung di dekatnya.

Setiap dua atau tiga hari sekali, pemilik ladang-ladang itu datang untuk merawat tanamannya. Di dekat sebuah ladang, tampak sebuah jaring penangkap ikan tergantung di atas sungai. Alat itu yang disebut ‘lapoen’ terbuat dari sebuah lingkaran rotan (dengan jaring) yang diikatkan dengan tali pada sebuah tonggak yang dipancangkan di tepian sungai. Lapoen itu diangkat bila ada ikan masuk ke dalamnya. Masyarakat di saerah Silago tidak mengenal alat seperti itu.

Tak jauh dari penangkap ikan, mereka melewati sebatang pohon besar. Tiga buah sarang lebah yang teramat besar tampak di cabang-cabangnya yang teratas. Sebuah tangga bambu yang mungkin digunakan untuk mengambil sarang lebah sebelumnya, masih menempel di batang pohon itu. Lalu, mereka melewati seseorang sedang mencabut ubi manis di ladangnya. Mereka menepi sesaat untuk membeli beberapa batang ubi sebagai kudapan dalam perjalanan.

Mereka merapat untuk beristirahat dan makan di sebuah pulau di tengah sungai, Poelau Andjolei. Jam sudah menunjukkan pukul 12.00 siang. Tak jauh dari pulau itu, ada sebuah batu besar yang disebut Batoe Oeban oleh penduduk setempat. Batu di tengah sungai itu merupakan penanda batas di antara Kota Baroe dan Soengei Kamboet.

Perjalanan dilanjutkan. Menjelang pk. 15.00, mereka tiba di Moeara Mamoen, tempat Soengei Mamoen bermuara di Batang Hari. Bukan main bagusnya pemandangan di tempat itu! Air mengalir tenang ke arah utara di Soengei Batang Hari yang lebarnya ratusan meter itu. Tepian di kiri-kanannya dipenuhi ladang dan bebatuan granit bermunculan di sana-sini dari dalam air.

Di tepian kiri, tampak di kejauhan sebuah bukit yang menghijau oleh pepohonan. Ke arah hulu, tampak puncak Goenoeng Medan dan perbukitan lainnya. Gunung dan perbukitan itu sudah termasuk di dalam wilayah Sigoentoer.

*Acuan Kepustakaan: PJ Veth. Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, uitgerust door het Aardrijkskundig Genootschap, 1877-1879 . Jilid II. Leiden: EJ Brill. 1882.


Tag : #Midden Sumatra Expeditie 1877 #Ekspedisi Belanda ke Djambi #Sejarah Jambi dalam Naskah Klasik Belanda



Berita Terbaru

 

Rabu, 14 November 2018 00:18 WIB

Politik Identitas Jelang Pemilu, Al Makin: Menghilangkan Substansi Masalah Sebenarnya


Kajanglako.com, Kota Jambi - Semakin mendekati Pemilu 2019, isu politik identitas semakin kentara disebarluaskan ke tengah masyarakat. Medium utamanya,

 

Operasi Zebra 2018
Selasa, 13 November 2018 20:25 WIB

Satlantas Sarolangun Keluarkan 1.318 Surat Tilang Selama Operasi Zebra


Kajanglako.com, Sarolangun - Selama 14 hari pelaksanaan Operasi Zebra 2018, Satlantas Polres Sarolangun sedikitnya mengeluarkan 1.318 surat tilang, baik

 

Selasa, 13 November 2018 20:13 WIB

Percobaan Penculikan Anak, Dewan Sarolangun Minta TNI/Polri Bersinergi


Kajanglako.com, Sarolangun – Kabar dugaan  percobaan penculikan  anak  di  RT 11 Desa Bernai, Sabtu malam lalu, membuat Anggota

 

Selasa, 13 November 2018 19:56 WIB

Kejari Tanjabbar Musnahkan Narkoba Bernilai Miliaran Rupiah


Kajanglako.com, Tanjung Jabung Barat – Barang bukti hasil tangkapan kasus Narkoba dan tindak pidana umum dimusnahkan yang di Halaman Kantor Kejaksaan

 

Selasa, 13 November 2018 19:36 WIB

Mau Damai, Kepala MTS Simpang Babeko yang 'Pecut' Siswanya Harus Setor Rp200 Juta


Kajanglako.com, Bungo - Kasus pemukulan yang dilakukan oleh Kepala MTS Negeri Simpang Babeko, Kabupaten Bungo, terhadap siswanya atas nama M Fiqri Ardiansyah