Rabu, 14 November 2018


Selasa, 16 Oktober 2018 09:02 WIB

Seputar 'Sang Nabi' Kahlil Gibran

Reporter :
Kategori : Sudut

Kahlil Gibran (1883-1931). Sumber: libriantichionline.com

Oleh: Widodo*

Beberapa hari lalu, saya mengunjungi Gramedia Jambi. Dan saya terkejut. Di antara koleksi pustaka sastranya yang minimalis, ternyata toko ini menyediakan satu petak rak tersendiri untuk karya-karya Kahlil Gibran (1883-1931), sastrawan yang lahir di Lebanon dan berkewarganegaraan Amerika tetapi memuja Suriah sebagai bangsanya.



Seperti di belahan dunia mana pun, karya Gibran, terutama Sang Nabi (1923), tampaknya juga menjadi buku buruan di Jambi. Disebut-sebut bahwa Sang Nabi merupakan karya abadi. Di Amerika saja, risalah tipis yang pernah menjadi Bibel-nya generasi 60-an itu telah terjual lebih dari 9 juta eksemplar. Konon, setiap minggu, bahkan hingga sekarang, Sang Nabi terjual sekitar 5.000 eksemplar.

Master piece Gibran tersebut terus dicetak ulang dan telah diterjemahkan ke dalam lebih dari 40 bahasa. Bahkan ada sumber yang menyebutkan lebih dari 50 bahasa.

Terjemah bahasa Indonesia untuk Sang Nabi membentuk narasi yang menarik. Di Indonesia, Sang Nabi sudah dialihbahasakan paling sedikit oleh tiga penerjemah. Terjemahan pertama, yang betul-betul puitis, yang diterbitkan Pustaka Firdaus, sepertinya bersumber dari cetakan asli berbahasa Inggris.

Terjemahan lain, yang ada di tangan saya tetapi bukan punya saya, diterbitkan Pustaka Pelajar. Sumber penerjemahan bukan Sang Nabi versi asli berbahasa Inggris, melainkan Sang Nabi yg sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Padahal, sebelum dicetak massal, Sang Nabi pada mulanya ditulis Gibran dalam bahasa Arab. Lalu, bersama dengan Mary Haskell, dia menerjemahkannya ke dalam bahasa Inggris. Betapa rumitnya riwayat alih bahasa Sang Nabi!

Terjemahan paling baru merupakan buah tangan Sapardi Djoko Damono, penyair ‘Hujan Bulan Juni’ itu. Entah sihir apa yang terkandung dalam Sang Nabi sampai-sampai penyair sekaliber Sapardi pun mau menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia.

Sebagaimana tampak pada foto, di samping Sang Nabi, karya-karya Gibran lainnya juga sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, bahkan diterbitkan ulang dengan penampilan yang lebih segar, kekinian, dan lux. Sebut saja seperti Sayap-Sayap Patah, Rahasia Hati, Jiwa-Jiwa Pemberontak, dan lain-lain. Penampilan seperti ini, ditambah mitos dan kharisma yang menyelubungi figur Gibran, tentu kian memikat publik untuk membeli dan memiliki "Gibran", tak peduli apakah mereka paham apa yang ditulis Gibran, tak peduli pula apakah mereka menghayati pesan-pesan perenial Gibran atau tidak.

Yang jelas, sekedar memiliki Gibran saja sudah merupakan gengsi bagi kalangan kelas menengah perkotaan. Gengsi literasi itulah yang barangkali menjadikan Sang Nabi cukup diburu di Jambi sehingga Gramedia Jambi menyediakan satu petak rak istimewa untuk memajang Gibran. Kita tahu, Jambi adalah daerah yang masyarakatnya digerakkan oleh berhala gengsi.

Tapi, analisis sinis semacam itu boleh jadi tak sepenuhnya tepat. Sebab, dalam Sang Nabi, melalui lidah al-Mustafa, Gibran sudah mengisyaratkan alasan di balik popularitas kata-kata hikmahnya.

"Apakah yang akan aku katakan pada kalian," tulisnya, "kalau bukan tentang sesuatu yang tepat pada saat ini sedang bergejolak di kalbumu?"

Masih dalam Sang Nabi, di tempat lain, dia juga menulis: "Aku hanya sekadar mengucapkan rangkaian kata tentang sesuatu yang sebenarnya kalian sendiri telah ketahui di dasar alam pikiran kalian".

"Sebab, apakah pengetahuan itu jika bukan bayangan dari pengetahuan yg terpendam bisu? Pikiran kalian dan jalinan kata-kataku digetarkan oleh gelombang yang satu, yang terekam dan terpatri di antara hari-hari yang telah berlalu. Yaitu sejak masa-masa silam yang jauh terpendam, ketika bumi belum mengenal dirinya sendiri dan kegelapan belum terkurung oleh malam."

 

*Penulis merupakan penikmat sastra. Almunus Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa, Yogyakarta.


Tag : #Sang Nabi Karya Kahlil Gibran



Berita Terbaru

 

Rabu, 14 November 2018 00:18 WIB

Politik Identitas Jelang Pemilu, Al Makin: Menghilangkan Substansi Masalah Sebenarnya


Kajanglako.com, Kota Jambi - Semakin mendekati Pemilu 2019, isu politik identitas semakin kentara disebarluaskan ke tengah masyarakat. Medium utamanya,

 

Operasi Zebra 2018
Selasa, 13 November 2018 20:25 WIB

Satlantas Sarolangun Keluarkan 1.318 Surat Tilang Selama Operasi Zebra


Kajanglako.com, Sarolangun - Selama 14 hari pelaksanaan Operasi Zebra 2018, Satlantas Polres Sarolangun sedikitnya mengeluarkan 1.318 surat tilang, baik

 

Selasa, 13 November 2018 20:13 WIB

Percobaan Penculikan Anak, Dewan Sarolangun Minta TNI/Polri Bersinergi


Kajanglako.com, Sarolangun – Kabar dugaan  percobaan penculikan  anak  di  RT 11 Desa Bernai, Sabtu malam lalu, membuat Anggota

 

Selasa, 13 November 2018 19:56 WIB

Kejari Tanjabbar Musnahkan Narkoba Bernilai Miliaran Rupiah


Kajanglako.com, Tanjung Jabung Barat – Barang bukti hasil tangkapan kasus Narkoba dan tindak pidana umum dimusnahkan yang di Halaman Kantor Kejaksaan

 

Selasa, 13 November 2018 19:36 WIB

Mau Damai, Kepala MTS Simpang Babeko yang 'Pecut' Siswanya Harus Setor Rp200 Juta


Kajanglako.com, Bungo - Kasus pemukulan yang dilakukan oleh Kepala MTS Negeri Simpang Babeko, Kabupaten Bungo, terhadap siswanya atas nama M Fiqri Ardiansyah