Kamis, 21 Maret 2019

Minggu, 14 Oktober 2018 13:54 WIB

Jurnalisme dan Politik Identitas

Reporter : Redaksi
Kategori : Sudut

ilustrasi. sumber: radioidola.com

Meski Pemilihan Presiden baru akan dilaksanakan April 2019, tensi ritus politik lima tahunan ini terus memanas. Di media sosial tampak jelas, publik (nitizen) seolah terbelah menjadi dua kelompok mainstream, yakni antara Pro Jokowi-Maruf Amin dan Prabowo-Sandigo Uno (untuk menyebut kelompok Kecebong vs Kampret).

Dalam proses itu, wacana keseharian yang menguat adalah isu politik identitas yang dikemas berdasarkan kesamaan latar belakang daerah, ras, etnis, maupun agama.



Meski dengan frekuensi yang berbeda, tetapi benang merahnya sama, wacana politik identitas juga menggejala dalam proses pemilihan kepala daerah serentak 2018, bahkan yang amat mencolok ketika pemilihan Gubernur Jakarta 2017.

Pertanyaannya kemudian, “Apakah menentukan pilihan politik berdasarkan kesamaan agama, ras, atau jenis kelamin, itu salah?”

Tentu tidak salah bila disertai cara yang menjunjung tinggi rasionalitas, data dan argumentasi, serta kesadaran kultural yang menjadikan Pilpres/Pilkada sebagai ruang publik yang mencerahkan dan mendewasakan. Bukan sebaliknya, menyebarluaskan berita bohong (hoax), memperluas episentrum kebencian, dan bahkan membangun ketidapercayaan antar sesama warga, yang ujungnya bisa memicu konflik horizontal.

Konflik di atas menjadi mungkin, bila kebencian dilibatkan dalam pembentukan identitas yang pada gilirannya dimobilisasi dalam panggung politik oleh kalangan elit dan partisan serta direproduksi melalui media dan karya jurnalistikya.

Bersamaan hal itu, perkembangan sains dan teknologi membuat penyebaran “racun” kebencian tersebut makin menjadi. Fatalnya, teknologi ini seringkali memperbesar kemampuan indera kita, tetapi tidak memperbesar kemampuan emosi dan nalar kita. Suatu keadaan yang perlu kita refleksikan di era air bah informasi dewasa ini.

Dalam situasi demikian, peran media massa (media cetak dan online) diharapkan memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk lebih cermat membaca dan memaknai dinamika kontestasi pilpres, utamanya berkaitan politik identitas, melalui serangkaian kerja-kerja jurnalistik yang mensyaratkan independensi serta menjunjung tinggi prinsip dan etika jurnalistik. Nilai independensi dalam hal ini bukan hanya berguna sebagai ‘code of conduct’ bagi jurnalis, melainkan juga prinsip utama yang membuat profesi ini dipercaya oleh publik.

Bertolak dari hal demikian, portal berita dan pemikiran, kajanglako.com menginisiasi diskusi publik dengan tema Jurnalisme dan Politik Identitas. Sebuah diskusi kecil yang memberikan ruang sepenuhnya bagi sikap kritis terhadap beberapa hal utama, yaitu bagaimana isu politik identitas diartikulasikan oleh media dan jurnalis (dalam hal ini karya jurnalistik) ? Bagaimana efek politik identitas terhadap perspesi publik tentang demokrasi? Bagaimana pula wacana politik identitas (spesifik dalam kasus/peristiwa di Jambi) berlangsung, baik dalam mementum periodik, seperti Pileg, Pilkada maupun pemilihan pucuk pimpinan kelembagaan lainnya? Dan terakhir, apa yang mesti dilakukan oleh media, jurnalis, dan warga agar menempatkan politik identitas pada ‘ruangnya’ secara tepat, bukan sebaliknya, justru terseret turut menguatkan polarisasi politik sebagaimana sekarang kita saksikan. 

 

*Catatan oleh redaksi Kajanglako.com di atas merupakan TOR (Term of Reference) Diskusi Publik dengan tema: Jurnalisme dan Politik Identitas pada Hari Selasa, 16 Oktober 2018. Pukul 14.00 WIB-selesai. Bertempat di Kampus STISIP NH Jambi.

Adapun narasumber diskusi: Hariqo Wibawa Satria (Direktur Eksekutif Komunikonten.com; Runner Up Program The Next Leader di Metro TV, yang digagas oleh Universitas Paramadina Jakarta. Pernah juga di Charta Politika dan aktif mengamati media sosial); MH. Abid (Akademisi UIN STS Jambi). Abid Menulis tesis mengenai Perkembangan Industri Koran Lokal di Jambi Pasca Orde Baru; Irma Tambunan (Jurnalis Harian Kompas). Memenangi beberapa penghargaan karya liputan jurnalistik.; dan M Ramond EPU, Ketua AJI Jambi, Pemred Jambipro.com dan Penulis di beritagar.id.

 Terbuka untuk umum!


Tag : #Jurnalisme dan Politik Identitas #Pemilihan Presiden 2019 #Kajanglako dan Jurnalisme #Hoax dan Ujaran Kebencian



Berita Terbaru

 

Rabu, 20 Maret 2019 21:38 WIB

Gubernur Fachrori dan Bupati Romi Panen Benih Padi di Simpang Datuk


Kajanglako.com, Tanjung Jabung Timur - Dalam mewujudkan kemandirian benih di Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim), penangkaran padi kegiatan pembenihan

 

Rabu, 20 Maret 2019 21:37 WIB

Di Pra Musrenbang, Sekda Dianto Marah-marah dan Luapkan Kekecewaan


Kajanglako.com, Jambi - Sekda Provinsi Jambi, M Dianto, meluapkan kekecewaannya saat membuka Rakor Pra Musrenbang yang digelar Bappeda Provinsi Jambi,

 

Rabu, 20 Maret 2019 21:20 WIB

Ciptakan Pemilu Damai, Bupati Safrial: Tanggung Jawab Semua Lintas Sektor


Kajanglako.com, Tanjung Jabung Barat - Guna menciptakan Pemilihan Umum (Pemilu) Serentak Tahun 2019 yang sejuk, aman dan damai. Pemerintah Tanjung Jabung

 

Rabu, 20 Maret 2019 21:19 WIB

Sekda Dianto Beberkan Kendala Penyaluran Alokasi DAK Fisik dan Dana Desa


Kajanglako.com, Jambi – Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jambi, M Dianto berharap agar Dana Alokasi Khusus (DAK) Fisik dan Dana Desa disalurkan

 

Rabu, 20 Maret 2019 19:08 WIB

Parah!! Staf Perempuan Minta Tandatangan Surat Pindah, Kabiro AUPK UIN Minta Pesan Kamar Hotel Dahulu


Kajanglako.com. Jambi - Dugaan pelecehan seksual yang dilakukan oleh J, Kabiro Administrasi Umum Perencanaan dan Keuangan (AUPK) UIN STS Jambi, kepada