Sabtu, 19 Januari 2019


Sabtu, 13 Oktober 2018 15:42 WIB

Terusir dari Poelau Poendjoeng

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran*

Arca-arca itulah yang dimaksudkan ketika Mantri Amas menceritakan tentang ‘batu bertulis’. Bagindo Ratoe tidak menanggapi ucapannya. Penjelajah-penjelajah itu sekarang ada di mana? Tanyanya.



Mendengar jawab: “Silago,” Bagindo Ratoe lama berdiam diri. Ia terus membungkam sampai dua jam kemudian, ketika akhirnya kedua utusan tim Ekspedisi meminta diri untuk kembali ke rumah Angkoe Poetih, tempat mereka menginap.

Malam itu juga, Mantri Amas datang ke rumah Raja untuk menyampaikan surat-surat perkenalan dan cenderamata. Rumah itu kosong. Rupanya Raja sedang berapat dengan para penghoeloe. Dalam musyawarah itu, mereka memutuskan untuk menolak permohonan tim ekspedisi.

Lewat tengah malam, sekitar pk 01.00, datang anak lelaki Bagindo Ratoe yang lain (bukan Radja Poelau Poendjoeng). Ia ditugaskan mengajak Mantri Amas untuk menemui ayahnya. Radja segera menanyakan Bandaro Koening. Ketika Mantri Amas menjelaskan bahwa Bandaro Koening menginap di kampung, Radja tampak kesal. “Mengapa orang itu belum juga pergi?  Apa yang dicarinya di sini? Kalau ia tidak segera pergi, aku akan menyuruh orang membunuhnya!”

Mantri Amas menjelaskan bahwa mereka hanya datang untuk menyampaikan surat-surat perkenalan dan cenderamata; dan bila perlu, mereka akan bertolak malam itu juga. Bagindo Ratoe memotong kata-katanya. “Tak usah bicarakan lagi soal surat-surat itu! Dan aku tak mau lagi mendengar tentang Bandaro Koening! Di mataku, ia sama saja dengan anjing! Bawa pulang surat-surat itu! Katakan kepada para penjelajah itu: aku tidak bersedia menerima kedatangan mereka!  Aku bahkan tidak mau lagi tahu tentang mereka karena aku telah bersumpah—seperti juga nenek-moyangku telah bersumpah—untuk tak akan pernah menerima kedatangan orang berkulit putih di Rantau dan akan memerintahkan untuk membunuh semua orang Eropa yang berani masuk ke wilayah (kerajaan)ku!” Angkoe Moeda pulang membawa pesan itu untuk disampaikan kepada tim ekspedisi.

Sementara itu, putra Radja yang tadi mengajak utusan tim penjelajah menemui ayahnya, menyampaikan kepada Bandaro Koening bahwa ia harus segera meninggalkan tempat itu. Bila tidak, ia akan dibunuh. Akan tetapi, lelaki muda itu membolehkan mereka bermalam dulu, asal keesokan harinya, pagi-pagi, mereka sudah bertolak. Apakah ada yang sempat memejamkan mata dan terlelap malam itu? Entahlah.

Pagi-pagi pk. 06.00, putra Radja sudah muncul lagi, menanyakan mengapa rombongan tim ekspedisi itu belum pergi. Mantri Amas menjelaskan bahwa ia merasa tidak dapat berangkat sebelum menemui Radja, sesuai dengan yang digariskan oleh adat. Mantri Amas diizinkan pamit kepada Radja, tetapi Bandaro Koening tetap ditolak.

Akhirnya mereka berangkat, melalui jalan darat, menuju Soengei Kamboet. Sesampainya di dusun itu, mereka beristirahat sejenak di rumah ibunda Angkoe Poetih. Setelah makan dan minum, mereka kembali lagi ke Kota Baroe. Laporan mereka mengenai segala-sesuatu yang telah dialami, meyakinkan van Hasselt dan anggota-anggota tim yang berbangsa Belanda bahwa tak ada kemungkinan untuk menjelajah sampai ke Poelau Poendjoeng dan Sigoentoer.

Kekecewaan itu terobati sedikit karena hangatnya sambutan Radja Soengei Kamboet. Kalau saja waktu yang tersedia lebih banyak, tampaknya mereka dapat berlama-lama meneliti di daerahnya. Karena penelusuran dan penelitian lanjutan terhadap aliran Soengai Mamoen dan bagian utara Batang Hari teramat penting, maka mereka memutuskan untuk memanfaatkan keterbukaan dan keramahan Angkoe Poetih.

Larangan dari Bagindo Ratoe untuk memasuki wilayahnya tidak hanya mengecewakan, tetapi juga memaksa tim penjelajahan mengubah perencanaan penjelajahan. Banyak daerah di dekat perbatasan—yang sama sekali tidak dikenal—tak dapat dijelajahi dan dipetakan. Tetapi, apa yang dapat dilakukan? Apakah mereka harus memaksa masuk ke dalam wilayah Sigoentoer walau ada larangan keras untuk melakukan itu? Tanpa senjata dan tanpa bala bantuan yang dapat diandalkan dalam situasi darurat, memaksa meneruskan perjalanan ke Sigoentoer merupakan hal yang sangat ceroboh.

Mungkin saja, jikalau mereka menemui Bagindo Ratoe di wilayahnya sendiri, lelaki itu akan mengambil sikap lain. Mungkin saja, jalannya perkara akan lain. Akan tetapi, mungkin juga, bila mereka tetap memaksa dan tiba di Sigoentoer, Bagindo Ratoe akan mengatakan bahwa ia tidak dapat menjamin keamanan rombongan tim penjelajahan karena besarnya kebencian rakyatnya terhadap orang berkulit putih. Bila seorang kepada adat tidak dapat menjamin keamanan pendatang di daerahnya, sudah hampir pasti bahwa warganya telah siap-siaga mengangkat senjata.

Penjelajah yang bepergian tanpa iringan (pasukan) pengaman bersenjata memang sebaiknya menghindari daerah yang dihuni oleh masyarakat yang menunjukkan sikap bermusuhan.  Hal ini terbukti dengan naasnya nasib yang menimpa Wallon dan Guillaume—dua orang penjelajah Prancis—yang menelusuri Soengei Tenom di pesisir barat Atjeh.

*Acuan Kepustakaan: PJ Veth. Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, uitgerust door het Aardrijkskundig Genootschap, 1877-1879 . Jilid II. Leiden: EJ Brill. 1882.


Tag : #Ekspedisi Belanda ke Jambi #Ekspedisi Sumatra Tengah 1877 #Sejarah Jambi



Berita Terbaru

 

Sabtu, 19 Januari 2019 12:25 WIB

Bupati Syahirsah Hadiri Sosialisasi BPOM Bersama Anggota DPR RI


Kajanglako.com, Batanghari - Bupati Batanghari, Syahirsah Sy, Kamis (17/01) lalu, membuka Sosialisasi Pemberdayaan Masyarakat Melalui Komunikasi Informasi

 

Ekspedisi Belanda ke Djambi
Sabtu, 19 Januari 2019 07:12 WIB

Raden Hassan, Danau Sipin dan Tanah Pileh


Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda) Raden Hassan menunjukkan beberapa contoh batu bara yang dapat ditemukan di daerah Sekamis, di tepian

 

Jumat, 18 Januari 2019 20:15 WIB

Kunker ke Kerinci, Fachrori Bicara Pentingnya Pendidikan dan Kesehatan


Kajanglako.com, Jambi - Plt Gubernur Jambi, Fachrori Umar, menyampaikan pesan pentingnya pendidikan dan kesehatan menjelang pelaksanaan ibadah Salat Jumat

 

Jumat, 18 Januari 2019 19:55 WIB

Penuhi Panggilan Bawaslu, Sutan Adil Menolak Disebut Diperiksa


Kajanglako.com, Jambi – Kasus pembagian Beasiswa Program Indonesia Pintar (PIP) yang diduga dijadikan jualan politik oleh lima Caleg Gerindra, termasuk

 

Warga Tenggelam
Jumat, 18 Januari 2019 17:52 WIB

Petani yang Terseret Arus di Sungai Tembesi Ditemukan Tewas


Kajanglako.com, Merangin - Sarmidi (35), warga Desa Rantau Panjang, Kecamatan Muara Siau yang terseret arus sungai Tembesi pada Rabu (16/1) lalu, berhasil