Kamis, 21 Februari 2019


Kamis, 11 Oktober 2018 08:22 WIB

Dua Mutiara Pesantren al-Jauharain Seberang Kota Jambi

Reporter :
Kategori : Ensklopedia

Gedung induk Pesantren al-Jauharain di Seberang Kota Jambi. Dok. Widodo

Oleh: Widodo*

Secara formal Pondok Pesantren al-Jauharain dibangun pada 1927.  Pesantren yang berlokasi di Kelurahan Tanjung Johor, kawasan Seberang Kota Jambi ini merupakan satu dari empat pesantren tua di Seberang Kota Jambi. Tiga pesantren tua lainnya adalah Nurul Iman (1913), Sa'adatuddarain (1915), dan Nurul Islam (1922).



Sebenarnya, al-Jauharain telah dirintis jauh sebelum 1927. Awalnya, mudir (kepala sekolah) al-Jauharain yg pertama, yaitu H. Usman bin H. Ali, pada 1872 mulai mengadakan pengajian di rumahnya yang berlokasi di Sungai Asam Darat. Lima tahun kemudian, setelah berkomunikasi dengan Guru Abdul Kafi, aktivitas pengajian dipindah ke Masjid Jamik Tanjung Johor.

Semenjak itu, pergaulan H. Usman dengan para guru sepuh Seberang lainnya kian intensif. Buahnya, mereka lantas mendirikan perkumpulan kematian Tsamarotul Insan. Perkumpulan ini melahirkan empat pesantren tua di Seberang yang saat itu merupakan kota metropolis Kesultanan Melayu Jambi.

Mengapa al-Jauharain menjadi pesantren yang paling muda di antara empat pesantren tersebut, tentu ada ceritanya. K.H. Sirojuddin, mudir al-Jauharain saat ini, menuturkan bahwa para guru di Tanjung Johor mulanya mengajar di Sa'adatuddarain. Tetapi, mereka kemudian merasa tidak cocok dengan pesantren yang terletak di Kelurahan Tahtul Yaman itu. Akhirnya, mereka memutuskan untuk membangun pesantren baru di kampung sendiri. Maka, pada 1927, masyarakat Tanjung Johor membangun gedung al-Jauharain.

Setelah dipimpin H. Usman, secara berurutan tongkat estafet kemudiran al-Jauharain diwariskan kepada Guru H. Ahmad Zain bin Najhun (1940-1951), Guru Muhammad Yusuf bin Saprudin (1951-1962; 1967-1975), Guru H. Mahfudz Jalil (1962-1966; 1982-1989), Guru Muhammad Tohir Ja'far (1975-1981), dan K.H. Sirojuddin (sekarang).

Al-Jauharain sempat mengalami kevakuman, dalam arti aktivitas belajar mengajar tidak berjalan sebagaimana semestinya. Untungnya, atas prakarsa pemuda setempat, didorong oleh ulama dan tokoh masyarakat, al-Jauharain diaktifkan kembali pada 2003.

Saya belum tahu pasti penyebab kevakuman al-Jauharain. Tetapi, menilik makna baru yang dijumbuhkan pada nama al-Jauharain (dua mutiara), barangkali kevakuman itu disebabkan oleh perubahan sosial dan kegagapan pesantren dalam merespon perubahan tersebut.

Kini al-Jauharain dimaknai sebagai dua mutiara yang sama penting dan berharganya. Mutiara pertama adalah mutiara akhirat yang melambangkan pendidikan agama yang termanifestasi menjadi kurikulum salafiah (pesantren tradisional). Mutiara kedua adalah mutiara dunia yang menyimbolkan pendidikan umum yang termanifestasi menjadi kurikulum khalafiah (sekolah modern).

Dengan demikian, visi al-Jauharain adalah mengintegrasikan unsur tradisional dan unsur modern dalam kelembagaan pendidikan Islam. Beginilah cara pesantren ini menjawab tantangan zaman, merespons perubahan sosial.

Ada hal menarik lain dari al-Jauharain. Seperti pesantren Lirboyo di Kediri, Jawa Timur, pesantren ini memiliki tradisi khusus dalam pengajaran linguistik praktis bahasa Arab (ilmu alat). Sebagaimana tertulis pada gapura pesantren (lihat foto), al-Jauharain menampilkan diri sebagai al-maktabah li al-'ulum al-'arabiyyah, lembaga pendidikan ilmu-ilmu bahasa Arab.

Saat kami berkunjung ke al-Jauharain, sebelum dipertemukan dengan mudirnya, kami berbincang-bincang dengan dua guru. Guru pertama menemui kami sambil membawa kitab tentang ilmu Bayan, cabang ilmu bahasa Arab yang membahas soal sastra dan metafora. Ketika kami mewancarai K.H. Sirojuddin, guru kedua menulis catatan dengan aksara Arab Melayu.

 

*Artikel ini disarikan dari sumber internet dan wawancara langsung Widodo bersama Ridwan dan Nur Rohmat dengan mudir al-Jauharain. 


Tag : #Pesantren Al-Jauharain Seberang Kota Jambi #Pesantren di Jambi #Dinamika Pesantren di Jambi



Berita Terbaru

 

Rabu, 20 Februari 2019 20:17 WIB

Bikin Merinding!! Mawardi Cerita Terdengar Suara Misterius di Pohon Pisang Miliknya


Kajanglako.com, Sarolangun - Kejadian misterius dan bikin bulu kuduk merinding dialami Mawardi, dari arah pohon pisang yang tumbuh tepat di perkarangan

 

Rabu, 20 Februari 2019 20:15 WIB

Pemkab Sarolangun Akan Lelang Terbuka 26 Kendaraan Dinas


Kajanglako.com, Sarolangun - Pemkab Sarolangun melalui Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) akan melakukan pelelangan 26 kendaraan dinas,

 

Rabu, 20 Februari 2019 19:40 WIB

4 Mantan Pimpinan DPRD Sarolangun Belum Kembalikan Mobil Dinas


Kajanglako.com, Sarolangun - Empat mantan unsur Pimpinan DPRD Kabupaten Sarolangun membandel, mereka belum mengembalikan aset milik daerah berupa mobil

 

Pemilu 2019
Rabu, 20 Februari 2019 19:11 WIB

30 Kotak Suara Rusak Tak Layak Pakai Belum Diganti


Kajanglako.com, Batanghari - Pesta demokrasi akan digelar pada 17 April 2019 mendatang. Untuk menghadapi perhelatan akbar tersebut, KPU RI hingga KPUD

 

Rabu, 20 Februari 2019 19:10 WIB

Ragam Kisruh Rio di Bungo, Warga Segel hingga Bakar Kantor Desa


Kajanglako.com, Bungo - Berbagai kisruh di tingkat dusun di Kabupaten Bungo menjadi sejarah hitam dalam dua tahun terakhir, banyak terjadi konflik di tengah