Kamis, 13 Desember 2018


Kamis, 11 Oktober 2018 08:22 WIB

Dua Mutiara Pesantren al-Jauharain Seberang Kota Jambi

Reporter :
Kategori : Ensklopedia

Gedung induk Pesantren al-Jauharain di Seberang Kota Jambi. Dok. Widodo

Oleh: Widodo*

Secara formal Pondok Pesantren al-Jauharain dibangun pada 1927.  Pesantren yang berlokasi di Kelurahan Tanjung Johor, kawasan Seberang Kota Jambi ini merupakan satu dari empat pesantren tua di Seberang Kota Jambi. Tiga pesantren tua lainnya adalah Nurul Iman (1913), Sa'adatuddarain (1915), dan Nurul Islam (1922).



Sebenarnya, al-Jauharain telah dirintis jauh sebelum 1927. Awalnya, mudir (kepala sekolah) al-Jauharain yg pertama, yaitu H. Usman bin H. Ali, pada 1872 mulai mengadakan pengajian di rumahnya yang berlokasi di Sungai Asam Darat. Lima tahun kemudian, setelah berkomunikasi dengan Guru Abdul Kafi, aktivitas pengajian dipindah ke Masjid Jamik Tanjung Johor.

Semenjak itu, pergaulan H. Usman dengan para guru sepuh Seberang lainnya kian intensif. Buahnya, mereka lantas mendirikan perkumpulan kematian Tsamarotul Insan. Perkumpulan ini melahirkan empat pesantren tua di Seberang yang saat itu merupakan kota metropolis Kesultanan Melayu Jambi.

Mengapa al-Jauharain menjadi pesantren yang paling muda di antara empat pesantren tersebut, tentu ada ceritanya. K.H. Sirojuddin, mudir al-Jauharain saat ini, menuturkan bahwa para guru di Tanjung Johor mulanya mengajar di Sa'adatuddarain. Tetapi, mereka kemudian merasa tidak cocok dengan pesantren yang terletak di Kelurahan Tahtul Yaman itu. Akhirnya, mereka memutuskan untuk membangun pesantren baru di kampung sendiri. Maka, pada 1927, masyarakat Tanjung Johor membangun gedung al-Jauharain.

Setelah dipimpin H. Usman, secara berurutan tongkat estafet kemudiran al-Jauharain diwariskan kepada Guru H. Ahmad Zain bin Najhun (1940-1951), Guru Muhammad Yusuf bin Saprudin (1951-1962; 1967-1975), Guru H. Mahfudz Jalil (1962-1966; 1982-1989), Guru Muhammad Tohir Ja'far (1975-1981), dan K.H. Sirojuddin (sekarang).

Al-Jauharain sempat mengalami kevakuman, dalam arti aktivitas belajar mengajar tidak berjalan sebagaimana semestinya. Untungnya, atas prakarsa pemuda setempat, didorong oleh ulama dan tokoh masyarakat, al-Jauharain diaktifkan kembali pada 2003.

Saya belum tahu pasti penyebab kevakuman al-Jauharain. Tetapi, menilik makna baru yang dijumbuhkan pada nama al-Jauharain (dua mutiara), barangkali kevakuman itu disebabkan oleh perubahan sosial dan kegagapan pesantren dalam merespon perubahan tersebut.

Kini al-Jauharain dimaknai sebagai dua mutiara yang sama penting dan berharganya. Mutiara pertama adalah mutiara akhirat yang melambangkan pendidikan agama yang termanifestasi menjadi kurikulum salafiah (pesantren tradisional). Mutiara kedua adalah mutiara dunia yang menyimbolkan pendidikan umum yang termanifestasi menjadi kurikulum khalafiah (sekolah modern).

Dengan demikian, visi al-Jauharain adalah mengintegrasikan unsur tradisional dan unsur modern dalam kelembagaan pendidikan Islam. Beginilah cara pesantren ini menjawab tantangan zaman, merespons perubahan sosial.

Ada hal menarik lain dari al-Jauharain. Seperti pesantren Lirboyo di Kediri, Jawa Timur, pesantren ini memiliki tradisi khusus dalam pengajaran linguistik praktis bahasa Arab (ilmu alat). Sebagaimana tertulis pada gapura pesantren (lihat foto), al-Jauharain menampilkan diri sebagai al-maktabah li al-'ulum al-'arabiyyah, lembaga pendidikan ilmu-ilmu bahasa Arab.

Saat kami berkunjung ke al-Jauharain, sebelum dipertemukan dengan mudirnya, kami berbincang-bincang dengan dua guru. Guru pertama menemui kami sambil membawa kitab tentang ilmu Bayan, cabang ilmu bahasa Arab yang membahas soal sastra dan metafora. Ketika kami mewancarai K.H. Sirojuddin, guru kedua menulis catatan dengan aksara Arab Melayu.

 

*Artikel ini disarikan dari sumber internet dan wawancara langsung Widodo bersama Ridwan dan Nur Rohmat dengan mudir al-Jauharain. 


Tag : #Pesantren Al-Jauharain Seberang Kota Jambi #Pesantren di Jambi #Dinamika Pesantren di Jambi



Berita Terbaru

 

Kecelakaan Maut
Kamis, 13 Desember 2018 09:21 WIB

Ucapan Duka untuk Santri Korban Kecelakaan Mobnas Camat Jangkat Timur Mengalir di Medsos


Kajanglako.com, Merangin - Kecelakaan tunggal mobil dinas Camat Jangkat Timur yang mengakibatkan tiga korban tewas di Jalan AMD Muarabulian, Kabupaten

 

Kecelakaan Maut
Kamis, 13 Desember 2018 08:41 WIB

[Foto-foto] Kecelakaan Maut Mobil Dinas Camat Jangkat Timur


 

Kamis, 13 Desember 2018 08:23 WIB

Rekanan Lamban, Proyek Drainase Rp6,5 M Distop dan Diadendum


Kajanglako.com, Sarolangun - Pekerjaan proyek drainase tertutup yang berlokasi di Jalan Sriwijaya Sarolangun distop pengerjaannya,

 

Kamis, 13 Desember 2018 08:04 WIB

Pria dan Wanita Muda Ini Ditangkap saat Asik Nyabu di Rumah Bedeng


Kajanglako.com, Tanjung Jabung Barat – Sepertinya hampir setiap hari Kepolisian di Tanjab Barat menangkap pelaku penyalahgunaan Narkoba, terutama

 

Rabu, 12 Desember 2018 20:30 WIB

Dua Pelajar Kesentrum Listrik Akibat Buah Rambutan


Kajanglako.com, Tanjung Jabung Timur - Dua pelajar yang sedang berada di RT 10 Dusun Margomulyo, Desa Pandan Lagan, Kecamatan Geragai, terpaksa harus dilarikan