Kamis, 18 Oktober 2018


Kamis, 11 Oktober 2018 07:56 WIB

Pengetahuan dan Kuasa Kolonial: Jambi Abad 19 dalam Sejarah Indonesia (II)

Reporter :
Kategori : Jejak

ilustrasi. sumber: tropenmuseum (1931)

Keterlibatan Belanda di Jambi

Hubungan Belanda dengan Jambi telah terjadi pada tahun 1616. Pada tahun itu Sultan Jambi Al Qahar memberi izin kepada VOC untuk membangun pos dagang dan benteng di Muara Kumpeh. Dengan dibangunnya benteng Belanda tersebut dimulailah suatu babak baru dalam sejarah Jambi, dimana kekuatan kolonial berusaha untuk menancapkan pengaruhnya di wilayah Sumatra Tengah.



Sebagai maskapai dagang VOC tidak memiliki ketertarikan untuk melakukan penguasaan teritorial. Bagi perusahaan swasta Belanda ini kemungkinan untuk meraih keuntungan dari kegiatan perdagangan jauh lebih menarik daripada perluasan wilayah kekuasaan (1). Hal ini karena penguasaan wilayah memerlukan birokrasi dan birokrasi harus digaji yang artinya adalah pengeluaran. Sebagai sebuah perusahaan VOC berusaha sejauh mungkin menghindari pengeluaran yang tidak perlu.

Dalam kasus Jambi, VOC merasa berkepentingan untuk menanamkan pengaruhnya di wilayah ini karena Jambi adalah salah satu daerah penghasil lada di Pulau Sumatra. Wilayah peisir Jambi adalah daerah rawa-rawa yang tidak cocok untuk kegiatan perkebunan. Karena itu lada yang diproduksi di Jambi berasal dari daerah pedalaman. Belanda bukanlah satu-satunya pedaganag Eropa yang terlibat dalam kegiatan perdagangan lada di Jambi.

Selain Belanda ada juga Inggris. Persaingan dagang antara VOC dengan maskapai dagang Inggris EIC (East India Company) menyebabkan harga lada menjadi tinggi. Tingginya harga lada mendorong orang-orang di pedalaman untuk lebih banyak menanam lada dan membawanya melalui Sungai Batanghari ke daerah hilir. Hubungan antara wilayah hulu dan hilir adalah penggarak utama dari sejarah Jambi. Tercatat bahwa di pertengahan abad ke-17 Jambi adalah penghasil utama lada di pesisir timur Sumatra.

Setelah berakhirnya kekuasaan VOC dimulai suatu babak baru hubungan antara Jambi dengan Belanda. Berbagai upaya dilakukan Belanda untuk menguasai wilayah pesisir timur Sumatra. Pengaruh Belanda menguat di Jambi ketika Sultan Muhammad Fakhruddin (1829-1841) menyerang wilayah-wilayah Palembang tetapi berhasil dipukul mundul oleh Palembang. Momentum kekalahan Jambi ini dimanfaatkan Belanda untuk memaksa Sultan mengakui kekuasaan Belanda (1834).

Sebagai penanda kekuasaanya Belanda membangun pos militer di muara sungai di Muara Kumpeh. Penentangan terhadap kehadiran Belanda terjadi ketika Thaha Saifuddin (1855-1904) diangkat sebagai sultan Jambi. Sultan Thaha menolak untuk menandatangani perjanjian dengan Belanda. Akibatnya Belanda melakukan serangan militer terhadap kedudukan sultan pada tahun 1858. Peristiwa penyerangan ini menyebabkan Sultan Thaha mengungsi ke wilayah pedalaman. Dari pedalaman Jambi Ia dan para pengikutnya terus membangkitkan perlawanan. Perjuangan Sultan Thaha untuk mengusir Belanda keluar dari Jambi terhenti pada tahun 1904, yaitu ketika terbunuh oleh patrol militer Belanda di wilayah pedalaman Jambi (2).

Ketika Sultan Thaha melakukan perlawanan di wilayah pedalaman, Belanda mengangkat sultan baru beberapa kali untuk menggantikan Thaha. Para sultan pengganti itu mendapat dukungan Belanda karena mengakui kekuasaan pemerintah kolonial. Meskipun mereka secara resmi berkuasa di Jambi, tetapi dukungan rakyat Jambi yang sebenarnya tetap diberikan kepada Sultan Thaha.

Situasi inilah yang menyebabkan Belanda tidak pernah benar-benar bisa menegakkan kekuasaannya di Jambi di sepanjang abad ke-19. Mereka melakukan berbagai upaya untuk menguasai Jambi sepenuhnya, baik secara militer maupun melalui kewenangan Sultan yang mereka dukung.

Tidak berhenti sampai disitu, pemerintah kolonial juga berusaha untuk menguasai Jambi dengan jalan mendapat pengetahuan sebanyak-banyaknya tentang wilayah Jambi dan rakyatnya. Upaya terakhir inilah yang menjadi latar belakang dari dilaksanakannya Ekspedisi Sumatra Tengah

Ekspedisi Sumatra Tengah         

Hubungan antara pengetahuan dan kekuasaan kolonial dalam sejarah dunia maupun dalam konteks Hindia Belanda terdokumentasikan dengan baik dalam sumber-sumber sejarah. Sebagaimana kekuatan kolonial lainnya di Eropa, Belanda memanfatkan Ilmu Pengetahuan untuk menunjang kekuasaan kolonial meraka di Asia maupun di Amerika.

Di Sumatra, selain di Jambi, Belanda telah menggunakan ilmu pengetahuan dalam mengungkap budaya masyarakat Aceh dalam rangka menanamkan kekuasaan kolonialnya di wilayah ujung utara Pulau Sumatra tersebut.

Melalui seorang tokoh ilmuwan ahli Islam, yaitu Snouck Hurgornje, Belanda mendapat pengetahuan tentang berbagai aspek yang melatar belakangi perlawanan rakyat Aceh. Hurgonje tidak meneliti secara khusus tentang bagaimana cara menaklukkan rakyat Aceh. Apa yang dilakukannya adalah menelusuri pengaruh Islam dalam budaya Aceh. Berdasarkan karya-karya akademis yang ditulis oleh Hurgronje Belanda mendapat pemahaman yang lebih baik tentang rakyat Aceh dan pada akhirnya bisa menemukan cara untuk memadamkan perlawanan mereka.

Ekspedisi Sumatra tengah yang dilaksanakan Belanda di pedalaman Jambi berlangsug kurang lebih bersamaan dengan pecahnya Perang Aceh di tahun 1877 (3). Kedua peristiwa ini saling terkait erat dan dengan jelas menggambarkan terjadinya ekspansi negara kolonial di Sumatra. Wujud ekspansi itu tidak hanya dalam bentuk kekuatan politik, tetapi juga dalam bidang ilmu pengetahuan.

Ekspedisi Sumatra Tengah dipelopori oleh lembaga Masyarakat Geografi di Belanda. Lembaga ini berdiri pada tahun 1873 dan sekitar satu dekade kemudian resmi menggunakan nama Masyarakat Geografi Kerajaan Belanda. Di abad 19 Ilmu geografi telah digunakan oleh negara-negara kolonial untuk memastikan wilayah kekuasaan mereka. Kemampuan Geografi dalam mendeskripsikan bentuk fisik dari permukaan bumi dan batas-batas wilayah telah sangat membantu pemerintantahan-pemerintahan negara kolonial di Asia, Amerika dan Afrika dalam memastikan teritori wilayah kekuasaan meraka dan potensi kekayaan alam yang ada di dalamnya.

Setahun setelah berdirinya Masyarkat Geografi, dewan pengelola lembaga ini memutuskan untuk melakukan suatu ekpsedisi ke Hindia Belanda. Tujuan dari ekspedisi geografi itu adalah spesifik, yaitu mengeksplorasi wilayah Jambi dan Kerinci. Ekspedisi yang sudah direncanakan sejak tahun 1874, tetapi tidak dapat segera dilaksanakan. Dibutuhkan waktu selama tiga tahun untuk melakukan berbagai persiapan dan mendapatkan persetujuan, baik dari pemerintah pusat di Den Haag maupun pemerintah kolonial di Batavia, sebelum akhirnya ekspedisi benar-benar dapat dijalankan.

Pada bulan Januari 1877 Ekspedisi Sumatra Tengah dengan resmi dimulai. Ekspedisi ini dipimpin oleh Letnan J. Schouw Santvoort dengan dibantu dua orang lainnya, yaitu D.D. Veth dan J.F. Snelleman. Pada saat itu telah diputuskan untuk menghapus bagian misi untuk mengeksplorasi kerinci. Keputusan ini diambil sebagai akibat dari perkembangan perang Aceh yang semakin memburuk. Dampak dari Perang Aceh menyebabkan sikap permusuhan rakyat Sumatra terhadap Belanda semakin menguat. Suatu ekspedisi ke Kerinci akan dianggap oleh rakyat di wilayah itu sebagai suatu misi militer untuk pengintaian.

Ekspedisi Sumatra Tengah tidak berlangsung sebagaimana yang diharapkan. Agar dapat berlayar sampai ke wilayah hulu Sungai Batanghari tim ekspedisi harus menunggu datangnya puncak musim hujan di bulan Desember 1877. Dalam masa penantian untuk bisa berlayar ke hulu, tepatnya pada bulan tanggal 22 November, pimpinan ekspedisi Schouw Santvoort mendadak jatuh sakit dan kemudian meninggal dunia. Posisinya sebagai pimpinan ekspedisi segara digantikan oleh residan Belanda di Palembang, yaitu Abraham Pruys van der Hoeven. Bagi pimpinan ekspedisi yang baru perjalanan melayari Batangari dari hilir ke hulu Sungai Batanghari memiliki tiga tujuan utama, pertama: menyelidiki kemungkinan Sungai Batanghari untuk dilayari secara regular, kedua: untuk menyelidiki keadaan di wilayah pedalaman Jambi, dan ketiga: sebagai konsolidasi kekuasaan belanda di Jambi. Ekspedisi Sumatra Tengah berakhir pada tahun 1878.

Beberapa tahun kemudian berbagai temuan yang didapat dari Ekspedisi Sumatra Tengah diterbitkan oleh Masyarakat Geografi Kerajaan Belanda dalam empat jilid buku besar dan beberapa buku lepas lainnya. Hasil-hasil ekspedisi itu dijadikan landasan untuk mendapakan izin untuk melanjutkan ekspedisi ke wilayah-wilayah lain di Hindia Belanda, yaitu ke Bornoe, Papua, Kepualuan Aru dan Kepulauan Obi.

Semua usulan ekspedisi itu ditolak oleh pemerintah pusat. Satu-satunya ekspdisi yang dizinkan untuk dilaksankan adalah perjalanan ke Indonesia timur, yaitu ke Kepulauan Kei (1887), Flores (1888) dan ke Papua.  Meskipun secara keseluruhan Ekspedisi Sumatra Tengah hanya berdampak secara terbatasterhadap ekaspnasi kolonial secara keseluruhan ke Hindia Belanda, tetapi hasil-hasil laporan dari ekspedisi ini menjadi sumber sangat penting yang dapat digunakan untuk menuliskan sejarah Jambi di abad ke-19.

 

Kesimpulan

Sejarah Jambi di abad ke-19 adalah bagian dari sejarah Indonesia yang ketika itu secara teritorial mulai mengalami penyatuan sebagai dampak dari ekspansi kolonial ke luar Jawa. Sebagaimana wilayah-wilayah lain di Sumatra dan di pulau-pulau lain, Jambi dalam periode ini menglmi suatu periode sejarah yang sangat dinamis, dimana kekuasaan kolonial yang berusaha menanamkan hegemoninya mendapat tanggapan berupa resistensi yang kuat dari para elit lokal yang didukung oleh rakyatnya.

Di Jambi sosok Sultan Thaha menjalankan peranan yang menentukan dalam membentuk identitas rakyat Jambi sebagai salah satu kelompok masyarakat di Indonesia yang paling gigih mempertahankan kedaulatannya. Upaya Belanda untuk menaklukkan Jambi tidak berjalan dengan lancar. Karena itu mereka kemudian menempuh cara lain. Jalan lain itu adalah dengan mempelajari karakter alam dan masyarakat Jambi untuk dapat memahami secara lebih baik potensi alam dan kekuatan rakyatnya. Pada aspek ini terlihat kaitan jelas bahwa pengetahuan telah digunakan dengan baik oleh kekuatan kolonial dalam rangka memperkuat hegemoninya di Jambi dan Hindia Belanda secara umum.

Ekspedisi Sumatra Tengah merupakan episode menentukan dalam sejarah Jambi. Arti penting ekspedisi ini tidak terlihat secara langsung. Pemerintah kolonial sangat mungkin telah menggunakan hasil laporan ekspedisi ini untuk bahan pertimbangan dalam merumuskan kebijakan meraka terhadap Jambi. Tetapi tampaknya secara keseluruhan pemerintah kolonial beranggapan bahwa hasil-hasil yang dicapai oleh ekspedisi ini kurang sepadan dengan berbagai upaya dan pengorbanan yang telah dilakukan dalam persiapan dan pelaksanaannya. Sikap itu terutama terlihat dari penolakan pemerintah kolonial terhadap sebagaian besar usulan untuk melakukan kegiatan semacam Ekspedisi Sumatra Tengah di wilayah-wilayah lain di Hindia Belanda.

Berbagai dokumen dan buku-buku yang menyimpan informasi tentang Jambi dan masyarakatnya telah dihasilkan oleh Ekspedisi Sumatra Tengah. Semua bahan-bahan itu ketika ditulis tentu ditujukan untuk kepentingan pemerintah kolonial dan masyarakat Belanda. Namun demikian, berbagai laporan yang dihasilkan oleh Ekspedisi Sumatra Tengah tetap memiliki kandungan informasi sejarah yang tinggi. Data-data tersebut adalah tentang berbagai aspek dari kekayaan alam dan karakter masyarakt Jambi di abad ke-19. Adalah sangat mungkin untuk memanfaatkan sumber-sumber itu untuk kepentingan penulisan sejarah Jambi. Dengan memanfaatkan laporan-laporan Ekspedisi Sumatra Tengah dapat diharapkan akan muncul berbagai kajian sejarah mengenai berbagai aspek dalam masyarkat Jambi yang bertumpu kepada sumber-sumber primer.

 

*Dr. Bondan Kanumuyoso adalah pengajar sejarah di Universitas Indonesia. Tulisan di atas merupakan makalah penulis yang disampaikan dalam “Diskusi Sejarah Midden Sumatra Expeditie 1877-1879: Eksplorasi Sejarah Jambi” yang diadakan oleh Media Online Kajanglako.com di Jambi Tanggal 4 Oktober 2018.                        

Catatan kaki:

(1). Kegiatan perdagangan VOC di Asia di abad ke-18 dibahas dalam Els M. Jacobs, Merchant in Asia: The Trade of the Dutch East India Company during the Eighteenth Century, Leiden, CNWS Publications, 2006.

(2).Dengan melihat akhir dari perlawanan Sultan Thaha maka dapat dikatakan bahwa Jambi sama seperti Aceh dan Bali, yaitu baru jatuh sepenuhnya ke tangan kekausaan kolonial di awal abad ke-20. Tentang perlawanan Sultan Thaha lihat Rusdi Sufi, “Perlawanan Rakyat Jambi” dalam Taufik Abdullah dan A.B. Lapian (editor), Indonesia dalam Arus Sejarah Jilid 4: Kolonisasi dan perlawanan, Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 2012, hlm. 452-454.

(3).  Tentang jalannya Perang Aceh lihat Ibrahim Alfian, Perang di Jalan Allah: Perang Aceh 1873-1912, Yogyakarta: Penerbit Ombak, 2016.

(4).  Scholten, Sumatran Sultanate and Colonial State, hlm. 142.

 

 

Daftar Pustaka

Alfian, Ibrahim,Perang di Jalan Allah: Perang Aceh 1873-1912, Yogyakarta: Penerbit Ombak, 2016.

Andaya, Barbara Watson, To Live as Brother: Southeast Sumatra in the Seventeenth and Eighteenth Centuries, Honolulu, University of Hawaii Press, 1993. 

Carey, Peter, The Power of Propechy: Prince Dipanegara and the end of an old order in Java, 1785-1855, Leiden: KITLV Press, 2007.

Jacobs, Els M., Merchant in Asia: The Trade of the Dutch East India Company during the Eighteenth Century, Leiden, CNWS Publications, 2006. 

Ricklefs, M.C., Sejarah Indonesia Modern, 1200-2008, Jakara: Serambi, 2008.

Scholten, Elsbeth Locher, Sumatran Sultanate and Colonial State: Jambi and the Rise of Dutch Imperialism, 1830-1907, Ithaca, New York: Southeast Asia Program Publications, 2003.

Sufi, Rusdi, “Perlawanan Rakyat Jambi” dalam Taufik Abdullah dan A.B. Lapian (editor), Indonesia dalam Arus Sejarah Jilid 4: Kolonisasi dan perlawanan, Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 2012.

Zanden, Jan Luitan van, dan Daan Marks, Ekonomi Indonesia, 1800-2010: Antara Drama dan Keajaiban Pertumbuhan, Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2012.


Tag : #Keterlibatan Belanda di Jambi #Ekspedisi Sumatra Tengah #Sejarah Jambi #VOC di Jambi #Sultan Thaha



Berita Terbaru

 

Pembunuhan
Kamis, 18 Oktober 2018 18:19 WIB

Tukang Ojek Dibunuh dan Dibuang ke Kebun Karet


Kajanglako.com, Sarolangun – Seorang Tukang Ojek di Sarolangun menjadi korban pembunuhan, korban kemudian dibuang di kebun karet, korban tewas dengan

 

Waspada Penculikan Anak
Kamis, 18 Oktober 2018 17:50 WIB

Upaya Penculikan Anak di Sarolangun Dilakukan Wanita Hamil


Kajanglako.com, Sarolangun – Upaya penculikan anak di Sarolangun pada Rabu sore, tepatnya di RT 18 Komplek Kantor Bupati Sarolangun, benar-benar

 

Waspada Penculikan Anak
Kamis, 18 Oktober 2018 17:18 WIB

Modus Ngontrak Rumah, Pelaku Bawa Kabur Dua Anak Tetangganya


Kajanglako.com, Sarolangun - Warga RT 18 Komplek Kantor Bupati Sarolangun dihebohkan dengan adanya kabar penculikan anak, dugaan penculikan itu dilakukan

 

Kamis, 18 Oktober 2018 16:55 WIB

Sambut Kunker DPRD Temanggung, Syahirsah: Semoga Kerjasama Terjalin dengan Baik


Kajanglako.com, Batanghari - Bupati Batanghari, Ir Syahirsah Sy, Rabu (17/10) menyambut kunjungan kerja rombongan Komisi A DPRD Kabupaten Temanggung. Kunjungan

 

Peluru Nyasar
Kamis, 18 Oktober 2018 16:46 WIB

Penembakan ke Gedung DPR RI, Begini Tanggapan Anggota DPR dari Jambi


Kajanglako.com, Jakarta – Senin 15 Oktober 2018 lalu berbagai pemberitaan digemparkan dengan peristiwa dua peluru yang menyasar ke gedung DPR RI.