Rabu, 17 Juli 2019


Rabu, 10 Oktober 2018 09:54 WIB

Kebangkrutan Amal Agama

Reporter :
Kategori : Sudut

ilustrasi. sumber: tribunkaltim

Oleh: K.H. Husein Muhammad*

Belakangan ini kita menyaksikan maraknya ujaran kebencian. Dalam bahasa asing disebut "hate speech". Ia adalah tindakan komunikasi yang dilakukan oleh suatu individu atau kelompok dalam bentuk provokasi, hasutan, ataupun hinaan kepada individu atau kelompok yang lain yang tidak sejalan dengan dirinya dalam hal berbagai aspek seperti ras, warna kulit, etnis, gender, agama, dan lain-lain.



Sungguh sangat menyedihkan bahwa perilaku ini dilakukan oleh umat beragama. Di dalam Islam tindakan atau perbuatan ini diharamkan dan dosa besar.

Nabi saw bersabda:

“Maukah kalian aku beritahu tentang orang-orang yang moralnya paling buruk?. Mereka menjawab : Ya, kami mau. Nabi mengatakan: Ialah orang-orang yang kerjanya mengadu domba (menghasut), yang gemar memecah-belah orang-orang yang saling mengasihi/bersahabat, dan yang suka mencari-cari kekurangan pada manusia yang tidak berdosa". (HR.Al-Bukhari dalam kitab Al-Adab Al-Mufrad, 323 dan Ahmad, 6/459 ) .

Nabi saw juga bersabda ;

"Janglah kalian saling mendengki, jangan saling menyombongkan diri, jangan saling membenci, jangan saling membelakangi (bermusuhan) ! Janganlah sebagian kalian membeli barang yang sedang ditawar orang lain, dan hendaklah kalian menjadi hamba-hamba Allâh yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, maka ia tidak boleh menzhaliminya, menelantarkannya, dan menghinakannya. Takwa itu disini –beliau memberi isyarat ke dadanya tiga kali-. Cukuplah seseorang dipandang buruk jika ia menghina saudaranya yang Muslim. Setiap orang Muslim, haram darahnya, hartanya, dan kehormatannya atas muslim lainnya.”

Kesalehan individu, seperti rajin shalat, rajin membaca AlQuran, puasa dan sebagainya yang diajarkan Islam selalu menuntut lahirnya kesalehan/kebaikan sosial, atau kebaikan kepada orang lain dan masyarakat.

Manakala ritual-ritual personal tersebut (ibadah individual) tidak melahirkan kesalehan sosial dan kemanusiaan, maka untuk tidak mengatakan sebagai keberagamaan yang sia-sia, bisa dikatakan sebagai sebuah kebangkrutan agama. Apatah lagi jika melahirkan sikap-sikap hidup destruktif terhadap kepentingan sosial kemasyarakatan. 
Nabi saw pernah menyinggung persoalan ini melalui dialog yang indah :

Beliu bertanya kepada para sahabatnya :

 “Tahukah kalian siapakah orang yang bangkrut ?”. Mendengar pertanyaan Nabi yang sangat mudah ini, para sahabat dengan cepat menjawab : “dia adalah orang yang tidak lagi punya kekayaan”. Nabi mungkin tersenyum. Beliau mengatakan : “oh, bukan, sama sekali bukan”. Lalu beliau menjelaskan maksudnya : “seorang yang bangkrut ialah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa daftar pahala shalat, puasa dan zakat. Tetapi dalam waktu yang sama dia juga membawa daftar kezaliman. Dia mengecam si A, menuduh si B, memakan harta si C, menumpahkan darah si D dan memukul si E. Kepada mereka yang dizalimi, terampas hak-hak asasinya, dia (pelaku) dihukum dengan membayar pahala atas kebaikan-kebaikan atau kesalehan-kesalehan personalnya. Manakala dengan semua pahala kebaikan dan kesalehan tersebut dia belum bisa melunasinya, maka dosa mereka yang dizalimi ditimpakan kepadanya. Sesudah itu dia (pelaku) dilemparkan ke dalam api neraka”.

Pernyataan Nabi di atas memperlihatkan kepada kita betapa kesalehan personal seperti shalat, puasa dan haji dengan pahalanya yang begitu besar, bisa digugurkan dan digusur oleh perilaku-perilaku kezaliman sosial.

Kezaliman sosial adalah tindakan-tindakan yang melanggar hukum publik, merampas hak milik manusia, melukai kehormatannya, seperti mencaci maki, menuduh, memfitnah, melakukan kekerasan, korupsi dan lain-lain. Nabi datang untuk memberi peringatan kepada mereka yang zalim akan masa depan mereka di neraka dan menyampaikan kabar gembira kepada mereka yang menjaga kesalehan personal dan sosial bahwa mereka akan memeroleh surga.

 

*K.H. Husein Muhammad, lahir di Cirebon, 9 Mei 1953. Setelah menyelesaikan pendidikan di Pesantren Lirboyo, Kediri, tahun 1973 melanjutkan studi ke Perguruan Tinggi Ilmu al-Qur-an (PTIQ) Jakarta. Tamat tahun 1980. Kemudian melanjutkan belajar ke Al-Azhar, Kairo, Mesir. Di tempat ini ia mengaji secara individual pada sejumlah ulama Al-Azhar. Kembali ke Indonesia tahun 1983 dan menjadi salah seorang pengasuh Pondok Pesantren Dar al-Tauhid, yang didirikan kakeknya tahun 1933 sampai sekarang. Tulisan ini diunggah penulis di fb pribadi pada 08.10.18.


Tag : #Ujaran Kebencian #Saleh Ritual Saleh Sosial #Kebangkrutan Agama



Berita Terbaru

 

Selasa, 16 Juli 2019 20:18 WIB

Sedang Mengukur Tanah, Syafei Luka Parah Diserang Beruang


Sedang Mengukur Tanah, Syafei Luka Parah Diserang Beruang Kajanglako.com, Batanghari - Warga Rt 16 Desa Bukit Harapan, Kecamatan Mersam, Kabupaten Batanghari,

 

Pelantikan Pejabat
Selasa, 16 Juli 2019 20:15 WIB

Al Haris Kembali Lantik Pejabat Eselon III dan IV, Pejabat Dinas PUPR Paling Banyak


Al Haris Kembali Lantik Pejabat Eselon III dan IV, Pejabat Dinas PUPR Paling Banyak Kajanglako.com, Merangin - Kabinet Merangin Mantap kembali mengalami

 

Komoditas
Selasa, 16 Juli 2019 20:12 WIB

Jambi Kekurangan 24 Ton Cabe Merah Perharinya, Kadisperindag Uraikan Sebabnya


Jambi Kekurangan 24 Ton Cabe Merah Perharinya, Kadisperindag Uraikan Sebabnya Kajanglako.com, Jambi – Beberapa pekan terakhir, harga cabe merah di

 

Teka-Teki Wakil Gubernur Jambi
Selasa, 16 Juli 2019 20:00 WIB

Jika Tak Miliki Wakil, Fachrori Anggap Orang-Orang ini Sebagai Wakil Gubernur Jambi


Jika Tak Miliki Wakil, Fachrori Anggap Orang-Orang ini Sebagai Wakil Gubernur Jambi Kajanglako.com, Jambi – Teka teki siapa yang akan mendampingi

 

Teka-Teki Wagub Jambi
Selasa, 16 Juli 2019 19:48 WIB

Terkait Siapa Wakilnya, Fachrori: Tanpa Wakil Juga Tak Apa-Apa


Terkait Siapa Wakilnya, Fachrori: Tanpa Wakil Juga Tak Apa-Apa Kajanglako.com, Jambi – Provinsi Jambi terancam benar-benar tidak akan memiliki wakil