Kamis, 13 Desember 2018


Rabu, 10 Oktober 2018 09:19 WIB

Pengetahuan dan Kuasa Kolonial: Jambi Abad 19 dalam Sejarah Indonesia (I)

Reporter :
Kategori : Jejak

Sungai Batanghari. D.D.Veth. Midden Sumatra Expeditie 19877-1879

Oleh: Bondan Kanumuyoso*

Sejarah Jambi belum mendapat perhatian yang memadai jika dibandingkan dengan sejarah daerah lain di Sumatra. Aceh dan Minangkabau misalnya telah menjadi bahan kajian sejarah dari masa masuknya dan berkembangnya Islam (abad 13 sampai abad 17) di kedua wilayah itu sampai ke masa revolusi kemerdekaan. Sejarah kolonial daerah-daerah lainnya seperti Sumatra Timur, Palembang, Kepulauan Riau, Bengkulu dan Lampung juga telah banyak diteliti.



Sementara itu sejarah Jambi praktis belum mendapat perhatian yang serius. Dalam kurun waktu tiga puluh tahun terakhir paling tidak hanya ada dua buku yang membahas sejarah Jambi secara mendalam (1) . Hal ini cukup mengejutkan, mengingat Jambi telah memainkan peran yang penting dalam sejarah Sumatra dan Kepulauan Indonesia bagian barat dari masa pra modern. Bukti dari peran penting itu dapat ditemukan pada kompleks percandian Muara Jambi yang merupakan kompleks percandian yang terluas di Asia Tenggara.

Di abad ke-19 wilayah kesultanan Jambi tidaklah seluas kesultanan-kesultanan lain di Sumatra. Meskipun wilayahnya hanya berukuran sedang, tetapi wilayah Jambi berada di tengah pulau Sumatra dengan daerah pantai yang menghadap ke pantai timur pulau itu. Secara keseluruhan wilayah Jambi membentang sejauah 350 km dari timur ke barat dan 220 km dari utara ke selatan.

Urat nadi utama kehidupan masyarakat Jambi adalah Sungai Batanghari. Sungai ini adalah sungai yang terpanjang di Sumatra (panjangnya sekitar 800 km) dan memiliki banyak anak sungai. Perkambangan sejarah Jambi banyak terjadi di kawasan yang ada di sekitar sungai. Selain menjadi sarana utama transportasi antara wilayah pesisirdan pedalaman, daerah yang ada di tepian sungai menjadi tempat pemukiman penduduk. Para penduduk itu tinggal dalam dusun-dusun yang di abad 19 jumlah masing-masing populasinya beragam antara 500 sampai 800 orang.

Pada paruh kedua abad ke-19, pemerintah kolonial Hindia Belanda mulai meluaskan pengaruhnya ke luar Jawa. Keberhasilan pelaksanaan Tanam Paksa di Jawa dan beberapa daerah lain di Sumatra dan Sulawesi telah menyediakan basis ekonomi untuk ekspansi teritorial negara kolonial. Suatu perluasan wilayah hanya dapat dilakukan dengan baik jika pengetahuan tentang kondisi geografis dan penduduk wilayah itu telah dikuasai dengan baik pula.

Salah satu wilayah  di Sumatra yang mulai mendapat perhatian serius dari pemerintah kolonial Belanda adalah Jambi. Sebagai bagian dari upaya menguasai wilayah Jambi pada pada tahun 1877-1879 Belanda mengirimkan ekspedisi ke Jambi. Ekspedisi yang terkenal dengan sebutan Midden Sumatra expeditie adalah ekspedisi yang bertujuan untuk mengumpulkan pengetahuan tentang kondisi geografi dan masyarakat Jambi. Meskipun memiliki latar belakang untuk mengumpulkan pengetahuan, namun ekspedisi ke Jambi juga merupakan bagian krusial dari perkembangan kekuasaan kolonial di Pulau Sumatra. Ekspedisi ke Jambi hingga sejauh ini belum banyak diungkap dalam historiografi Indonesia

Ekspansi Kolonial

Awal abad 19 di Nusantara dibuka dengan masa transisi yang ditandai dengan diluidasinya VOC (Verenigde Oost-Indische Compagnie atau Maskapai dagang Hindia Timur) pada tahun 1799 yang diikuti dengan pemerintahn peralihan yang berlangsung selama kurang lebih tiga puluh tahun. Dalam tiga dekade awal abad 19tersebut terjadi berbagai macam reorganisasi dan restrukturasi dalam negara kolonial terutama dalam masa pemerintahan Gubernur Jendral Herman Willem Daendels (1808-1811), Letnan Gubernur Jendral Thomas Stamford Raffles (1811-1816) yang memerintah atas nama Inggris, dan Gubernur Jendral Baron Van der Capellen (1816-1826).

Di masa berkuasa sebagai gubernur jendral, Daendels melakukan penataan ulang administrasi kolonial dengan memperkuat kedudukan pemerintah pusat (2). Sementara itu, dalam masa pemerintahannya Raffles membentuk pemerintahan residensi yang dikepalai oleh residen dan memiliki kewenangan militer (3). Sedangkan Van der Capellen melanjutkan berbagai reformasi birokrasi yang sudah dimulai oleh Daendels dan Raffles.

Kebijakan reformasi yang berlangsung antara tahun 1808 sampai tahun 1826 telah berhasil mentrasformasi birokrasi VOC yang didasarkan pada prinsip-prinsip dagang menjadi pemerintahan terpusat dengan birokrasi yang modern. Ide-ide pembaharuan yang dihasilkan oleh revolusi Perancis telah dibawa masuk ke Hindia Belanda oleh Daendels dan dilanjutkan oleh berbagai gagasan modernisasi di koloni-koloni Inggris yang diperkenalkan oleh Raffles.  Meski telah terjadi berbagai pembaharuan, namun masa penjajahan yang sesungguhnya di Hindia Belanda baru dimulai pada tahun 1830, yaitu ketika ketika Gubernur Jendral Johannes van den Bosch menerapkan Cultuur Stelsel (Sistem Tanam Paksa). Hingga saat itu kekuasaan kolonial Hindia Belanda terutama terpusat di Jawa. Hal ini yang menjelaskan mengapa pelaksanaan sistem Tanam Paksa dan dampaknya terutama dirasakan oleh penduduk Jawa. Namun demikian, Tanam Paksa tidak hanya dilaksanakan di Jawa, tetapi juga di beberapa daerah lain seperti di Sumatra Barat dan Minahasa.

Suatu momentum baru bagi perkembangan negara kolonial terjadi ketika Tanam Paksa telah dilaksanakan kurang lebih dua puluh tahun. Keuntungan besar yang didapat dari sistem agraria ini menyebabkan perekonomian negeri Belanda menjadi stabil. Hutang-hutang yang diakibatkan oleh pengeluaran yang sangat besar dalam Perang Jawa (1825-1830) dapat dilunasi. Keuntungan Tanam Paksa juga menyebakan pajak yang diterapkan di negeri induk dapat diturunkan. Bersama dengan itu negeri Belanda mulai melakukan industrialisasi. Pada tahun 1850 terjadi kecenderungan yang negatif berupa bencana kelaparan di Hindia Belanda, stagnasi produksi dan konsumsi, serta melambatnya peningkatan populasi Eropa. Semua itu merupakan indikasi bahwa dorongan terhadap produksi yang diberikan oleh Tanam Paksa sedang mengalami penurunan.

Tetapi perkembangan baru di negeri Belanda dalam perkapalan, perniagaan, dan manufaktur menunjukkan bahwa pihak swasta sudah siap untuk mengambil alih posisi pemerintah dalam pengelolaan tanah jajahan. Sistem tanam paksa sedang memudar, bukan karena gagal tetapi karena perimbangan kekuasaan yang baru di negeri Belanda. Di Hindia Belanda hanya sedikit orang yang berani mengkritik tanam paksa, namun di negeri Belanda sudah muncul kelas menengah liberal yang secara politik semakin kuat dan berani dalam melancarkan kritik terhadap praktek ekonomi di tanah jajahan. Kaum liberal yang baru muncul bertujuan mendapatkan kekuatan politik dan ekonomi di dalam negeri dan kemudian memperoleh kendali atas keuntungan-keuntungan dari koloni.

Sementara itu perkembangan internal di Hindia belanda menunjukkan, bahwa sejak tahun 1840 dan selanjutnya, pemerintah kolonial semakin banyak terlibat dalam berbagai permasalahan yang terjadi di luar Jawa. Keterlibatan yang semakin besar itu terutama didorong oleh berbagai motif ekonomi. Eksploitasi terhadap Jawa telah mencapai puncaknya melalui sistem Tanam Paksa. Karena itu diperlukan wilayah-wilayah baru yang dapat dieksploitasi di luar Jawa untuk memaksimalkan keuntungan ekonomi dari pengelolaan negara kolonial. Dengan itu dimulailah ekspansi territorial negara kolonial yang tadinya hanya terpusat di Pulau Jawa ke seluruh wilayah Hindia Belanda dalam rangka menegakkan Pax Neerlandica.

Ada dua alasan utama yang melatari ekspansi kolonial tersebut, pertama: dalam rangka menjaga kedaulatan wilayah-wilayah yang telah dikuasainya, Belanda merasa perlu untuk melakukan pasifikasi terhadap daearh-daerah yang memiliki potensi untuk mendukung atau membangkitkan gerakan perlawanan. Kedua: Belanda merasa penting untuk memastikan hak mereka terhadap seluruh wilayah Hindia Belanda sebagai cara untuk mencegah penetrasi kolonial dari bangsa-bangsa Barat lainya. Kedua alsan utama itu menyebabkan perluasan territorial Belanda sejak paruh kedua abad 19 ke seluruh Nusantara tidak hanya wilayah-wilayah yang mereka minati sejak lama, tetapi juga daerah-daerah yang tidak mereka minati sebelumnya (4).

Salah satu pulau di Nusantara yang telah lama menarik perhatian Belanda adalah Sumatra. Sumatra menjadi daerah tujuan ekspansi territorial utama karena letaknya yang sangat strategis, yaitu di bagian barat kepulauan Nusantra, dimana ujung utaranya menjadi gerbang masuk ke Selat Malaka dan ujung selatannya menjadi pintu masuk ke Selat Sunda. Selain letaknya yang strategis, Sumatra adalah juga pulau penghasil berbagai komoditi berharga yang dapat dijual ke pasar dunia seperti lada, emas, dan kemudian juga batubara. Sebelum abad ke-19, VOC telah memiliki beberapa wilayah koloni di Sumatra yang tersebar di pantai barat maupun timur pulau Sumatra.

Koloni-koloni itu lebih merupakan penanda kehadiran Belanda yang ketika itu direpresentasikan oleh VOC daripada wilayah kekuasaan terirorial yang sebenarnya. Dengan semakin kuatnya negara kolonial akibat dari keuntungan yang didapat dari Tanam Paksa, maka Belanda mulai melakukan upaya-upaya yang lebih serius untuk secara bertahap menguasi seluruh Pulau Sumatra. Salah satu wilayah di pulai ini yang dikuasai paling akhir oleh Belanda, selain Aceh, adalah Jambi.

 

*Dr. Bondan Kanumuyoso adalah pengajar sejarah di Universitas Indonesia. Tulisan di atas merupakan makalah penulis yang disampaikan dalam “Diskusi Sejarah Midden Sumatra Expeditie 1877-1879: Eksplorasi Sejarah Jambi” yang diadakan oleh Media Online Kajanglako.com di Jambi Tanggal 4 Oktober 2018.

                                                 

Catatan kaki:

(1). Kedua buku itu ditulis oleh para ahli sejarah dari luar Indonesia yang mencakup periode abad 17-19, yaitu Barbara Watson Andaya, To Live as Brother: Southeast Sumatra in the Seventeenth and Eighteenth Centuries, Honolulu, University of Hawaii Press, 1993 dan Elsbeth Locher Scholten, Sumatran Sultanate and Colonial State: Jambi and the Rise of Dutch Imperialism, 1830-1907, Ithaca, New York: Southeast Asia Program Publications, 2003.

(2). Masa pemerintahan Daendels sangat singkat, hanya tiga tahun, tetapi Ia adalah tokoh yang meletakkan dasar bagi sebuah birokrasi dan pemerintahan yang modern di Hindia Belanda. Lihat Peter Carey, The Power of Propechy: Prince Dipanegara and the end of an old order in Java, 1785-1855, Leiden: KITLV Press, 2007, hlm. 131.

(3). Selain membentuk pemerintahan residensi, Raffles juga memperkenalkan ke Hindia Belanda sistem Pajak Tanah (land rent) yang telah diterapkan oleh Inggris di koloni mereka di India. Pajak tanah diutamakan dalam bentuk uang sehingga mengakibatkan meluasnya monetisasi (ekonomi uang) di Hindia Belanda. Tentang penerapan sistem Pajak Tanah lihatJan Luitan van Zanden dan Daan Marks, Ekonomi Indonesia, 1800-2010: Antara Drama dan Keajaiban Pertumbuhan, Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2012, hlm. 84-85.

(4)    Tentang latar belakang ekspansi teritorial negara kolonial Hindia Belanda lihat M.C. Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern, 1200-2008, Jakara: Serambi, 2008, hlm. 289-290.


Tag : #Sejarah Jambi dan Batavia #Sejarah Jambi dan Ekspansi Kolonial #Ekspedisi Sumatra Tengah 1877-1879



Berita Terbaru

 

Kamis, 13 Desember 2018 08:04 WIB

Pria dan Wanita Muda Ini Ditangkap saat Asik Nyabu di Rumah Bedeng


Kajanglako.com, Tanjung Jabung Barat – Sepertinya hampir setiap hari Kepolisian di Tanjab Barat menangkap pelaku penyalahgunaan Narkoba, terutama

 

Rabu, 12 Desember 2018 20:30 WIB

Dua Pelajar Kesentrum Listrik Akibat Buah Rambutan


Kajanglako.com, Tanjung Jabung Timur - Dua pelajar yang sedang berada di RT 10 Dusun Margomulyo, Desa Pandan Lagan, Kecamatan Geragai, terpaksa harus dilarikan

 

Kecelakaan Maut
Rabu, 12 Desember 2018 19:09 WIB

Ini Identitas Korban Meninggal Kecelakaan Mobil Dinas Camat Jangkat Timur


Kajanglako.com, Batanghari – Mobil dinas Camat Jangkat Timur yang masuk ke dalam jurang yang digenangi air banjir di Jalan AMD Muarabulian, Batanghari,

 

Rabu, 12 Desember 2018 18:43 WIB

Menolak Revisi UU Tipikor, Antasari: KPK Sikat Habis Koruptor jika Ada Bukti


Kajanglako.com, Jambi - Antasari Azhar, mantan Ketua KPK periode 2007-2009 memberikan kuliah umum kepada mahasiswa Universitas Adiwangsa di Jambi. Usai

 

Rabu, 12 Desember 2018 18:33 WIB

Kenakan Lacak, Antasari Azhar Ajak Mahasiswa Bantu KPK


Kajanglako.com, Jambi - Mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) RI, Antasari Azhar, melakukan kunjungan ke Jambi. Ia memberikan kuliah umum di