Kamis, 18 Oktober 2018


Sabtu, 29 September 2018 11:52 WIB

Penjelajahan van Hasselt di Soengei Kamboet

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Dua hari sebelum mereka tiba di Kota Baroe, mereka berlayar dengan biduk di air Soengei  Mamoen. Siang hari mereka tiba di  Soengei Kamboet, negari yang terletak di tepian kiri  Batang Hari. Letaknya hanya dua jam jauhnya naik perahu dari muara sungai itu. Penduduk Soengei Kamboet berjumlah kurang-lebih 1000 orang.



Negari itu dipimpin oleh enam orang penghoeloe yang disebut Datoek nan beranam. Pemimpin tertinggi, di atas Datoek nan beranam itu, adalah  seorang lelaki bernama Angkoe Poetik yang menyandang gelar Radja. Baik Angkoe Poetik maupun keenam penghoeloe tadi cenderung menolak kehadiran Belanda.

Hal ini tidak mengherankan mengingat bahwa mereka berada di bawah pengaruh dan tergantung pada  pemimpin-pemimpin daerah Sigoentoer yang lebih kuat. Radja Sigoentoer pun berkerabat dengan Radja Poelau Poendjoeng.

Van Hasselt mengutus seseorang untuk menemui Angkoe Poetih. Lelaki itu menyambut kedatangannya dengan ramah. Ia juga menerima baik surat dan cenderamata yang disampaikan kepadanya. Ia sendiri memberikan surat jawaban yang santun kepada van Hasselt. Ia meminta van Hasselt memberinya kabar (secara lisan) tentang kedatangan rombongan karena ia sendiri ingin menjemput mereka (dalam perjalanan).

Tanggapan Angkoe Poetih membesarkan hati Van Hasselt dan rombongannya. Pada hari itu juga mereka berlayar lagi, setengah hari lamanya, menuju Poelau Poendjoeng. Ketika mereka tiba, dusun itu tengah berduka. Dua minggu sebelumnya,  Toeankoe nan Sati, radja  Poelau Poendjoeng, meninggal dunia. Ia digantikan oleh kemenakannya, seorang pemuda berusia 16 tahun, putra dari Radja Bagindo Ratoe van Sigoentoer—radja yang paling berpengaruh di daerah Batang Hari Atas.

Poelau Poendjoeng merupakan salah satu negari yang terbesar; wilayahnya terbentang sampai ke perbatasan Djambi. Penduduknya berjumlah sekitar  1000 orang (termasuk di sini, penduduk yang tinggal di tepian kanan Soengei Daras). Negari itu dipimpin oleh dua belas orang penghoeloe--Datoek nan doewa belas.

 Kepala adat Soengei Daras pun belum lama meninggal dunia. Akan tetapi, di sini  kedudukan almarhum Toeankoe nan Sati digantikan oleh kemenakannya, seorang perempuan bernama Radja Poetih. Sikapnya terhadap kehadiran Belanda sama saja dengan sikap para pemimpin di  Soengei Kamboet.

Setibanya mereka di  Poelau Poendjoeng, utusan-utusan Ekspedisi segera datang ke rumah Radja. Para penghoeloe negari itu berkumpul di sana. Di mana-mana tampak warga kampong yang menyandang senjata. Setelah sekian lama menunggu, barulah Radja muncul. Ia didampingi oleh Radja van Sigoentoer, lelaki yang telah berpengaruh besar sepanjang hidupnya—tak ubahnya seperti ayahnya sendiri.

Rupanya para penghoeloe sedang berkumpul di rumah gedang Radja untuk berunding menentukan penyelenggaraan upacara adat kematian Radja yang barus saja meninggal. Setelah utusan Ekspedisi memberikan sambah yang santun dan menyampaikan maksud dan tujuan kedatangan rombongan itu di sana, para penghoeloe itu mulai tampak lebih ramah. Mereka pun menerima baik surat-surat (perkenalan) dan cenderamata yang disampaikan oleh utusan itu.

Berbeda halnya dengan Bagindo Ratoe, pemimpin tertua di dewan kepala adat itu. Ia membalikkan tubuhnya dan meneruskan pembicaraan mengenai upacara kematian yang sedang dirundingkan. Para utusan ekspedisi penjelajahan yang datang menghadap itu tak dipedulikannya.

Lama sekali utusan-utusan van Hasselt duduk di sana (barangkali sambil menahan hati). Akhirnya seseorang—tampaknya mewakili Radja—menanyakan lagi maksud kedatangan mereka di negarinya. Apakah ekspedisi itu menjelajah mengenali lingkungan untuk kemudian menduduki daerah itu?

“Toean-toean kami hanyalah penjelajah yang ingin datang mengunjungi para radja. Mereka juga ingin melihat sendiri batu-batu (megalit) yang terdapat di dekat Sigoentoer.”  liggen."  Demikianlah jawaban Mantri Amas yang menjadi utusan van Hasselt. Batu-batu megalit yang disebutkannya merupakan artefak Hindu yang tak lama sebelumnya dibicarakan oleh tim penjelajahan itu.  

Van Hasselt dan timnya mengetahui tentang batu-batu bersejarah itu dari tulisan karya Verkerk Pistorius. Uraiannya mengenai daerah  Sigoentoer sama sekali tidak memberikan bayangan bahwa akan ada hambatan apa pun untuk mendatangi dan melihat artefak-artefak itu.

Tak lama kemudian, mereka bertemu dengan Penghoeloe Kapala Soengei Langsè, lelaki tua yang diutus oleh Kontrolir Verkerk Pistorius ke Sigoentoer untuk melihat arca-arca itu. Melalui Penghoeloe Kapala Soengei Langsè, Verkerk Pistorius memohon izin dari Radja negari itu untuk datang melihatnya. Radja itu—mamak dari Radja yang kini memimpin Sogoentoer, tidak mengizinkan Verkerk Pistorius memasuki wilayahnya.

Akan tetapi, ia menyampaikan bahwa salah sebuah arca itu hendak dijualnya dengan harga ƒ 1000,-.  Seandainya Toean Pistorius hendak membeli arca itu, maka Radja akan mengirimkan benda itu  melalui biloengkang ke Takoeng.  Cerita Penghoeloe Kapala Soengei Langsè lebih tepat menggambarkan situasi di lapangan dibandingkan dengan uraian Verkerk Pistorius mengenai Sigoentoer di dalam bukunya.

Penghoeloe Kapala Soengei Langsè menceritakan bahwa ada dua arca tinggalan zaman Hindu di daerah itu. Yang satu terdapat di Soengei Langsè, di tepian Batang Hari, berseberangan dengan Sigoentoer. Arca itu tiga meter tingginya dengan pahatan di seluruh bagiannya (tanpa relief). Arca itu menggambarkan seorang perempuan yang berdiri dengan kaki rapat. Di tangan kanannya, ia memegang sebilah pisau yang sedikit-banyak serupa dengan pisau meja biasa. Kedua lengannya, dengan jari-jari membentuk tinju, bersidekap di dadanya; lengan kanan di atas lengan kiri. Arca perempuan itu berambut keriting dan leher, pergelangan tangan dan pergelangan kakinya berlilitkan perhiasan.

Arca yang kedua terdapat di Loeboe Boelan, di hulu tempat Soengei Pangean bermuara di Batang Hari. Arca itu juga menggambarkan seorang perempuan yang dipahat relief di atas sebuah batu tegak sebesar manusia. Arca itu memegang dua orang anak bayi yang menyusu di kedua payudaranya. Sebuah batu besar menutup bagian atas arca ini.

*Acuan Kepustakaan: PJ Veth. Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, uitgerust door het Aardrijkskundig Genootschap, 1877-1879 . Jilid II. Leiden: EJ Brill. 1882.


Tag : #Joh F. Snelleman dan A.L. van Hasselt #Midden Sumatra Expeditie 1877-1879



Berita Terbaru

 

Pembunuhan
Kamis, 18 Oktober 2018 18:19 WIB

Tukang Ojek Dibunuh dan Dibuang ke Kebun Karet


Kajanglako.com, Sarolangun – Seorang Tukang Ojek di Sarolangun menjadi korban pembunuhan, korban kemudian dibuang di kebun karet, korban tewas dengan

 

Waspada Penculikan Anak
Kamis, 18 Oktober 2018 17:50 WIB

Upaya Penculikan Anak di Sarolangun Dilakukan Wanita Hamil


Kajanglako.com, Sarolangun – Upaya penculikan anak di Sarolangun pada Rabu sore, tepatnya di RT 18 Komplek Kantor Bupati Sarolangun, benar-benar

 

Waspada Penculikan Anak
Kamis, 18 Oktober 2018 17:18 WIB

Modus Ngontrak Rumah, Pelaku Bawa Kabur Dua Anak Tetangganya


Kajanglako.com, Sarolangun - Warga RT 18 Komplek Kantor Bupati Sarolangun dihebohkan dengan adanya kabar penculikan anak, dugaan penculikan itu dilakukan

 

Kamis, 18 Oktober 2018 16:55 WIB

Sambut Kunker DPRD Temanggung, Syahirsah: Semoga Kerjasama Terjalin dengan Baik


Kajanglako.com, Batanghari - Bupati Batanghari, Ir Syahirsah Sy, Rabu (17/10) menyambut kunjungan kerja rombongan Komisi A DPRD Kabupaten Temanggung. Kunjungan

 

Peluru Nyasar
Kamis, 18 Oktober 2018 16:46 WIB

Penembakan ke Gedung DPR RI, Begini Tanggapan Anggota DPR dari Jambi


Kajanglako.com, Jakarta – Senin 15 Oktober 2018 lalu berbagai pemberitaan digemparkan dengan peristiwa dua peluru yang menyasar ke gedung DPR RI.