Selasa, 25 Juni 2019


Senin, 24 September 2018 10:51 WIB

Musyawarah Buku Bangsa Pelaut dan Sri Buddha-Bukan Sriwijaya yang 'Melawan Arus'

Reporter : Redaksi
Kategori : Ragam

Musyawarah Buku Bangsa Pelaut dan Sri Buddha-Bukan Sriwijaya di Altar Candi Kedaton, Muara Jambi/ foto: ist

Kajanglako.com, Jambi – Sejarawan yang juga Jurnalis, Wenri Wanhar, menggelar Musyawarah untuk mengulas isi dua karya bukunya yang akan diterbitkan dalam waktu dekat, di Candi Kedaton, Komplek Percandian Muara Jambi.

Musyawarah kerja sama Seloko Institute, Yayasan Padmasana dan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Jambi ini digelar Minggu (23/9). Dengan dihadiri Peneliti Sejarah, Pegiat Budaya, Cendikiawan, Tokoh Masyarakat, Perwakilan Pemerintah, Mahasiswa serta Jurnalis.



Musyawarah buku ini juga digelar sekaligus memperingati Hari Maritim, musyawarah yang disebut dengan ritual adat sirih sekapur. Bertajuk ‘Sidayatra Menuju Bahal Waktu: Kembali Menjadi Bangsa Pelaut’.

Ada dua buku yang dimusyawarahkan, ‘Bangsa Pelaut - Kisah Setua Waktu dan Sri Buddha - Bukan Sriwijaya’. Dari sinopsis kedua buku itu diketahui, Wenri mengulik sejarah masa lampau.

Dalam buku ‘Bangsa Pelaut’, Wenri menuturkan bahwa dahulu, sebelum negeri ini bernama Indonesia, Nusantara adalah sebuah benua besar yang diterjang banjir raksasa akibat letusan Gunung Toba.

Gelombang lautan menenggelamkan ‘Sundaland’ sebagai induk daratan hingga tersisa 5 pulau besar dan puluhan ribu pulau kecil. Indonesia adalah bangsa pelaut yang mana nenek moyangnya berjaya di lautan.

Kapal-kapalnya membelah samudera hingga ke Madagaskar. Pengaruh armadanya dalam jaringan pelayaran dunia pernah menggetarkan.

Wenri mengatakan, kalimat-kalimat itu tercatat dalam banyak referensi dan terus menerus dikampanyekan, bahkan menjadi semacam postulat dalam narasi sejarah Indonesia. Ia diterima nyaris tanpa penolakan.

“Namun di saat yang sama, selama puluhan tahun ia berhenti menjadi Jargon, tidak hidup dalam denyut jantung keseharian kita,” katanya.

“Apa pasal? Bersiaplah, kita akan mengupas kulit bawaang sejarah yang tiap lembarannya siap membuat mata tergenang,” katanya lagi.

Sedangkan dalam bukunya yang berjudul ‘Sri Buddha - Bukan Sriwijaya’ Wenri meyakini dan menemukan fakta berbeda dengan cerita yang selama ini berkembang di masyarakat. Dia meyakini jika tak pernah ada kerajaan Sriwijaya.

Menurut Wenri, Sriwijaya bukan nama sebuah kerajaan seperti yang kini melegenda. Bahkan, bukan pula nama seorang raja. Sriwijaya, memang muncul dalam sejumlah prasasti dan batu bersurat. Namun seluruhnya diiringi dengan kata kedatuan dan datuk.

“Ya, Sriwijaya memang kedatuan (kedaton). Semacam citvitas akademika, perguruan tinggi, kampus tempa orang mengapuh ilmu. Karena keilmuan yang beralam luas, berpandang lebar, alumni dari Kedaton disebut ‘dato atau datu atau datuk atau datuak,” kata Wenri.

“Da bahasa sanskerta artinya yang mulia, To artinya orang. Manusia-manusia mulia yang dimajukan selangkah, ditinggikan seranting,” kata Wenri.

Lalu, dimana kedatuan yang ia maksudkan dalam buku yang akan segera ia luncurkan itu. Wenri sedikit memberikn bocorasn, bahwa di dalam buku tersebut ia mengulas dengan jelas sejarah bahkan bisa membuktikan apa yang ia tulis.

“Hingga hari ini, rakyat di kawasan Candi Muara Jambi masih menyebut belantara rimba, ladang duku di antara reruntuhan batu bata masa lampau ini dengan nama Kedaton, Candi Kedaton, tempat sekarang kita berunding,” katanya.

Wenri Wanhar, penulis sepasang buku tersebut mengusung genre reportase sejarah. Wenri mencemplungkan dirinya untuk menguji data yang ia temukan.

Dia membaca, menulis ulang sejarah dengan tekhnik dasar jurnalistik, berburu dan meramu cerita yang tentu saja ia verifikasi langsung ke lokasi-lokasi yang ia yakini bisa membuktikan, menjadi fakta dari cerita awal yang ia dapatkan.

“Sepasang buku ini adalah buah karya, buah pikiran, buah peluh orang banyak, gotong royong semua makhluk dari segala unsur. Beta hanya merangkainya,” kata Wenri.

Musyawarah dua bukunya itu dilakukannya juga dalam rangka untuk mendapatkan dukungan agar ia segera mencetak sepasang buku yang telah rampung ditulis tersebut. (*)


Tag : #Candi Kedaton #Bangsa Pelaut #Wenri Wanhar #Sriwijaya #Sri Buddha



Berita Terbaru

 

Pidana Pemilu
Selasa, 25 Juni 2019 18:02 WIB

Akui Coblos Sisa Surat Suara di Persidangan, Ini Tuntutan JPU kepada Terdakwa


Akui Coblos Sisa Surat Suara di Persidangan, Ini Tuntutan JPU kepada Terdakwa Kajanglako.com, Sarolangun – Sedikitnya lima orang terdakwa tindak

 

Selasa, 25 Juni 2019 17:40 WIB

HUT Bhayangkara ke 73, Polri dan TNI Kunjungi Kediaman Suku Anak Dalam


HUT Bhayangkara ke 73, Polri dan TNI Kunjungi Kediaman Suku Anak Dalam Kajanglako.com, Sarolangun – Polri dan TNI berkunjung ke kediaman Suku Anak

 

Sail Nias Sumut 2019
Selasa, 25 Juni 2019 17:29 WIB

Tiga Anak Muda ini Wakili Jambi di Sail Nias Sumut 2019


Tiga Anak Muda ini Wakili Jambi di Sail Nias Sumut 2019 Kajanglako.com, Jambi – Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Diskepora) Provinsi Jambi mengutus

 

Pilbup Batanghari 2020
Selasa, 25 Juni 2019 15:15 WIB

Bermodal Raih 4.923 Suara di Pileg Lalu, Yuninta Asmara Disebut Layak Maju di Pilkada Batanghari


Bermodal Raih 4.923 Suara di Pileg Lalu, Yuninta Asmara Disebut Layak Maju di Pilkada Batanghari Kajanglako.com, Batanghari – Yuninta Asmara, istri

 

Selasa, 25 Juni 2019 14:54 WIB

Dinas Pendidikan Pemprov Disebut Tak Mampu Urus SMA/SMK, Ini Tanggapan Gubernur Fachrori


Dinas Pendidikan Pemprov Disebut Tak Mampu Urus SMA/SMK, Ini Tanggapan Gubernur Fachrori Kajanglako.com, Jambi – Pemerintah Provinsi Jambi melalui