Kamis, 21 Februari 2019


Senin, 24 September 2018 10:51 WIB

Musyawarah Buku Bangsa Pelaut dan Sri Buddha-Bukan Sriwijaya yang 'Melawan Arus'

Reporter : Redaksi
Kategori : Ragam

Musyawarah Buku Bangsa Pelaut dan Sri Buddha-Bukan Sriwijaya di Altar Candi Kedaton, Muara Jambi/ foto: ist

Kajanglako.com, Jambi – Sejarawan yang juga Jurnalis, Wenri Wanhar, menggelar Musyawarah untuk mengulas isi dua karya bukunya yang akan diterbitkan dalam waktu dekat, di Candi Kedaton, Komplek Percandian Muara Jambi.

Musyawarah kerja sama Seloko Institute, Yayasan Padmasana dan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Jambi ini digelar Minggu (23/9). Dengan dihadiri Peneliti Sejarah, Pegiat Budaya, Cendikiawan, Tokoh Masyarakat, Perwakilan Pemerintah, Mahasiswa serta Jurnalis.



Musyawarah buku ini juga digelar sekaligus memperingati Hari Maritim, musyawarah yang disebut dengan ritual adat sirih sekapur. Bertajuk ‘Sidayatra Menuju Bahal Waktu: Kembali Menjadi Bangsa Pelaut’.

Ada dua buku yang dimusyawarahkan, ‘Bangsa Pelaut - Kisah Setua Waktu dan Sri Buddha - Bukan Sriwijaya’. Dari sinopsis kedua buku itu diketahui, Wenri mengulik sejarah masa lampau.

Dalam buku ‘Bangsa Pelaut’, Wenri menuturkan bahwa dahulu, sebelum negeri ini bernama Indonesia, Nusantara adalah sebuah benua besar yang diterjang banjir raksasa akibat letusan Gunung Toba.

Gelombang lautan menenggelamkan ‘Sundaland’ sebagai induk daratan hingga tersisa 5 pulau besar dan puluhan ribu pulau kecil. Indonesia adalah bangsa pelaut yang mana nenek moyangnya berjaya di lautan.

Kapal-kapalnya membelah samudera hingga ke Madagaskar. Pengaruh armadanya dalam jaringan pelayaran dunia pernah menggetarkan.

Wenri mengatakan, kalimat-kalimat itu tercatat dalam banyak referensi dan terus menerus dikampanyekan, bahkan menjadi semacam postulat dalam narasi sejarah Indonesia. Ia diterima nyaris tanpa penolakan.

“Namun di saat yang sama, selama puluhan tahun ia berhenti menjadi Jargon, tidak hidup dalam denyut jantung keseharian kita,” katanya.

“Apa pasal? Bersiaplah, kita akan mengupas kulit bawaang sejarah yang tiap lembarannya siap membuat mata tergenang,” katanya lagi.

Sedangkan dalam bukunya yang berjudul ‘Sri Buddha - Bukan Sriwijaya’ Wenri meyakini dan menemukan fakta berbeda dengan cerita yang selama ini berkembang di masyarakat. Dia meyakini jika tak pernah ada kerajaan Sriwijaya.

Menurut Wenri, Sriwijaya bukan nama sebuah kerajaan seperti yang kini melegenda. Bahkan, bukan pula nama seorang raja. Sriwijaya, memang muncul dalam sejumlah prasasti dan batu bersurat. Namun seluruhnya diiringi dengan kata kedatuan dan datuk.

“Ya, Sriwijaya memang kedatuan (kedaton). Semacam citvitas akademika, perguruan tinggi, kampus tempa orang mengapuh ilmu. Karena keilmuan yang beralam luas, berpandang lebar, alumni dari Kedaton disebut ‘dato atau datu atau datuk atau datuak,” kata Wenri.

“Da bahasa sanskerta artinya yang mulia, To artinya orang. Manusia-manusia mulia yang dimajukan selangkah, ditinggikan seranting,” kata Wenri.

Lalu, dimana kedatuan yang ia maksudkan dalam buku yang akan segera ia luncurkan itu. Wenri sedikit memberikn bocorasn, bahwa di dalam buku tersebut ia mengulas dengan jelas sejarah bahkan bisa membuktikan apa yang ia tulis.

“Hingga hari ini, rakyat di kawasan Candi Muara Jambi masih menyebut belantara rimba, ladang duku di antara reruntuhan batu bata masa lampau ini dengan nama Kedaton, Candi Kedaton, tempat sekarang kita berunding,” katanya.

Wenri Wanhar, penulis sepasang buku tersebut mengusung genre reportase sejarah. Wenri mencemplungkan dirinya untuk menguji data yang ia temukan.

Dia membaca, menulis ulang sejarah dengan tekhnik dasar jurnalistik, berburu dan meramu cerita yang tentu saja ia verifikasi langsung ke lokasi-lokasi yang ia yakini bisa membuktikan, menjadi fakta dari cerita awal yang ia dapatkan.

“Sepasang buku ini adalah buah karya, buah pikiran, buah peluh orang banyak, gotong royong semua makhluk dari segala unsur. Beta hanya merangkainya,” kata Wenri.

Musyawarah dua bukunya itu dilakukannya juga dalam rangka untuk mendapatkan dukungan agar ia segera mencetak sepasang buku yang telah rampung ditulis tersebut. (*)


Tag : #Candi Kedaton #Bangsa Pelaut #Wenri Wanhar #Sriwijaya #Sri Buddha



Berita Terbaru

 

Rakernas APPSI
Kamis, 21 Februari 2019 17:53 WIB

Rakernas APSI Bersama Wapres JK, Fachrori Tekankan Pengembangan Produk Lokal


Kajanglako.com, Jambi - Gubernur Jambi, Fachrori Umar, menekankan pengembangan produk unggulan daerah se-Provinsi Jambi dalam menyongsong kerjasama antar

 

Kamis, 21 Februari 2019 17:51 WIB

Hadiri Sertijab DWP BPKP Provinsi Jambi, Ini Pesan Neta Dianto


Kajanglako.com, Jambi - Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) Provinsi Jambi, Neta Aryani Dianto, menghadiri Sertijab DWP BPKP Perwakilan Provinsi Jambi. Sertijab

 

Kamis, 21 Februari 2019 17:50 WIB

PDAM Batanghari Putus 328 Sambungan Pelanggan yang Menunggak Pembayaran


Kajanglako.com, Batanghari – Sekitar 328 Sambungan Rumah (SR) air bersih diputus oleh PDAM Tirta Batanghari. Direktur utama PDAM Batanghari, Abu

 

Kamis, 21 Februari 2019 17:49 WIB

Pemkab Tanjabbar Dorong Kemandirian Kepala Sekolah Melalui Forum KKKS


Kajanglako.com, Jambi – Perhatian Tanoto Foundation terhadap dunia pendidikan di Provinsi Jambi terus berlanjut melalui program STEP (School Transition

 

Kamis, 21 Februari 2019 17:47 WIB

Akun WA Kepala Bappeda Batanghari Dihackers, Minta Transfer Uang


Kajanglako.com, Batanghari - Akun WhatsApp (WA) milik Mulawarman, Kepala Bappeda kabupaten Batanghari kena hackers orang tak dikenal. Hal tersebut baru