Kamis, 13 Desember 2018


Sabtu, 22 September 2018 06:56 WIB

Pedagang-pedagang Kerbau dari Tebo

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda).

Sementara Schouw Santvoort menjelajah ke arah Djambi dengan mengikuti Batang Hari, teman-temannya yang lain, van Hasselt dan DD Veth menjelajahi bagian tengah Sumatera yang termasuk ke dalam wilayah administrasi Pantai Barat Sumatera. Akhirnya mereka tiba di sekitaran Silago dan menjelajahi daerah-daerah yang dialiri Soengei Simauoeng, menuju Moeara Mamoen.



Perjalanan yang ditempuh untuk tiba di Silago membuktikan bahwa niat mereka ke sana bukan hanya untuk mengunjungi dan melihat-lihat kampung itu saja. Silago terpisah kira-kira 60 kilometer dari Soepajang. Mereka telah melewati tiga daerah aliran sungai di ketinggian beberapa ribu meter. Daerah pegunungan yang tak ada tandingannya kini dipunggungi. Silago akan menjadi basis sementara—entah untuk berapa lama. Dari kampung itu, mereka merencanakan berbagai penjelajahan untuk mengumpulkan informasi dan data mengenai daerah di sebelah utara Silago sampai ke Sidjoendjoeng, daerah sebelah selatan sampai  ke Sibelaboe dan daerah di sebelah timur sampai ke Sigoentoer.

Mereka tinggal sebuah rumah yang terletak di sebuah bukit kecil, di luar kampung Silago. Rumah itu merupakan rumah negari (baca: nagari) seperti yang selama ini biasa diinapi. Rumah negari di Silago itu agak lebih bagus daripada tempat-tempat mereka menginap sebelumnya. Rumah itu terbagi ke dalam satu ruangan besar dan beberapa ruangan yang lebih kecil. Di satu sisinya, terdapat serambi depan yang luas. Lantainya dan atap rumah itu dibuat  dari ilalang. Rumah atau pendopo itu dibangun di atas tiang-tiang yang tingginya kira-kira satu setengah meter dari tanah.

Sebagian besar waktu untuk mematangkan rencana penjelajahan dihabiskan di serambi itulah karena ruangan-ruangan di dalam rumah penuh dengan barang dan perbekalan mereka. Ruangan-ruangan yang lebih kecil dipergunakan sebagai ruangan tidur. Mereka hanya meninggalkan serambi itu bila angin kencang membuat hujan masuk di antara kisi-kisi kayu serambi depan itu. Di belakang bangunan rumah, di tempat yang terpisah, terdapat bangunan dapur.  Rumah induk dan bangunan dapur dikelilingi oleh halaman yang dibatasi oleh pagar bambu dan kayu. Di seberang jalan, terdapat istal kuda. Di sebelah kanannya, di lahan yang curam turun ke tepian sungai, terdapat bangunan lain.

Dari serambi, yang pertama-tama menarik perhatian adalah Soengei Silago. Sungai itu berkelok-kelok  dan tepian di kiri-kanannya ditanami padi. Di sana-sini tampak pepohonan kelapa dan rumah-rumah warga kampung. Semua itu dilatarbelakangi oleh rimba yang berjarak beberapa ribu meter dari permukiman penduduk. Boekit Gedang Doerian Simpei menjulang di kejauhan. Bukit inilah yang menjadi perbatasan dengan daerah-daerah merdeka—yang tidak dikuasai Belanda. Di sebelah kiri serambi, tampak sebagian kampung Silago. Dari balik pepohonan, tampak atap-atap rumah. Boekit Sigadung menjulang di belakang rumah penginapan mereka. Warna kebiru-biruan tampak juga. Itulah gunung-gunung yang memisahkan Silago dengan negari-negari Grabak dan Datar.

Di dalam rumah, beberapa meja, kursi dan bangku masih fungsional walaupun perabot-perabot itu sudah tampak tua. Beberapa jam kemudian, peti-peti perbekalan sudah dibongkar dan rumah itu sudah siap ditinggali. Setiap anggota tim penjelajah sudah memilih salah satu sudut di rumah itu dan mengatur tempat tidur dan menyusun barang-barang milik pribadi.

Hari-hari pertama dalam bulan Juni di Silago berlalu. Setiap anggota tim sibuk dengan pekerjaan dan tugas masing-masing. Para pembantu dan kuli—personalia tim penjelajahan itu—menyibukkan diri dengan perubahan dan perbaikan kecil-kecil di dalam dan di sekitar rumah.

Beberapa hari setelah mereka menempati rumah di Silago itu, di atas bukit yang sama, muncul beberapa orang lelaki membawa sekawanan kerbau. Rupanya orang-orang berasal dari Tebo, sebuah dusun yang termasuk daerah merdeka. Untuk tiba di tujuan akhir, yaitu Padang, mereka harus berjalan melewati daerah Sindjoendjoeng dan Solok. Mereka telah berjalan selama 29 hari dari Tebo ke Silago. Perjalanan mereka lamban sekali karena kawanan kerbau yang digiring tak dapat dipaksa untuk berjalan lebih cepat. Setelah menyelesaikan urusan di Padang, mereka akan kembali berjalan kaki lagi ke Tebo, negari mereka, membawa kain. Mereka tidak membeli aneka kebutuhan hidup di Padang; tak juga garam.  Hanya kain saja.

Biasanya orang di daerah ini membawa barang di atas kepala. Bungkusan barang ditopang oleh semacam bangku kecil yang diletakkan di atas bahu pembawanya. Orang-orang dari Tebo itu membawa barang-barang mereka dengan cara lain. Barang-barang mereka disatukan di dalam bungkusan panjang yang diikat di punggung dengan temali dari kulit kayu. Dua utas tali pengikat bungkusan itu disampirkan di bahu dan seutas lagi disangkutkan di atas dahi. Dengan tali-tali di bahu dan dahi itu, bungkusan yang menyerupai ransel itu, membebaskan tangan orang yang membawanya.

Menjelang malam, ketika tiba waktunya untuk berhenti berjalan, mereka mencari tanah lapang atau tempat terbuka untuk bermalam. Setelah setiap kerbau diikatkan pada tonggak-tonggak kayu yang dipancangkan di tanah, mulailah mereka membuat perkemahan yang sederhana. Dari pohon-pohon yang ada di sekitar, mereka memotong beberapa cabang yang dibentuk menjadi tiang-tiang yang ditanamkan di tanah. Tiang-tiang itu membentuk dinding dan kerangka untuk atap yang ditutup dengan dedaunan.

Mereka menyiapkan tiga potong kayu yang ditegakkan di atas unggun untuk memasak nasi di dalam panci tembaga buatan Padang. Selain api untuk masak, mereka juga menumpuk kayu dan ranting dan membakarnya di dekat tempat kerbau-kerbau ditambatkan. Asap dari tumpukan kayu dan ranting itu mengusir nyamuk.

Tentu saja, kedatangan orang-orang dari Tebo itu menarik perhatian tim penjelajah. Van Hasselt dan DD Veth mendatangi perkemahan mereka untuk berkenalan. Dua orang haji—seorang berusia muda dan seorang lagi lebih tua, berjanggut dan berwibawa, ada di rombongan pedagang kerbau itu. Kedua orang itulah yang menceritakan perihal perjalanan mereka tadi.

Matahari sudah terbenam ketika kedua lelaki Belanda itu duduk mengelilingi api unggun bersama lelaki-lelaki Tebo itu. Bukan hanya cerita mereka yang menarik. Sosok lelaki-lelaki itu dan kerbau mereka menjadi bayang-bayang samar bermandikan api unggun. Tak ada kata lain yang tepat untuk menggambarkannya, kecuali fantastis.

*Acuan Kepustakaan: PJ Veth. Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, uitgerust door het Aardrijkskundig Genootschap, 1877-1879 . Jilid II. Leiden: EJ Brill. 1882


Tag : #ekspedisi belanda ke jambi #midden-sumatra expeditie 1877 #sejarah jambi #naskah klasik belanda



Berita Terbaru

 

Kamis, 13 Desember 2018 08:04 WIB

Pria dan Wanita Muda Ini Ditangkap saat Asik Nyabu di Rumah Bedeng


Kajanglako.com, Tanjung Jabung Barat – Sepertinya hampir setiap hari Kepolisian di Tanjab Barat menangkap pelaku penyalahgunaan Narkoba, terutama

 

Rabu, 12 Desember 2018 20:30 WIB

Dua Pelajar Kesentrum Listrik Akibat Buah Rambutan


Kajanglako.com, Tanjung Jabung Timur - Dua pelajar yang sedang berada di RT 10 Dusun Margomulyo, Desa Pandan Lagan, Kecamatan Geragai, terpaksa harus dilarikan

 

Kecelakaan Maut
Rabu, 12 Desember 2018 19:09 WIB

Ini Identitas Korban Meninggal Kecelakaan Mobil Dinas Camat Jangkat Timur


Kajanglako.com, Batanghari – Mobil dinas Camat Jangkat Timur yang masuk ke dalam jurang yang digenangi air banjir di Jalan AMD Muarabulian, Batanghari,

 

Rabu, 12 Desember 2018 18:43 WIB

Menolak Revisi UU Tipikor, Antasari: KPK Sikat Habis Koruptor jika Ada Bukti


Kajanglako.com, Jambi - Antasari Azhar, mantan Ketua KPK periode 2007-2009 memberikan kuliah umum kepada mahasiswa Universitas Adiwangsa di Jambi. Usai

 

Rabu, 12 Desember 2018 18:33 WIB

Kenakan Lacak, Antasari Azhar Ajak Mahasiswa Bantu KPK


Kajanglako.com, Jambi - Mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) RI, Antasari Azhar, melakukan kunjungan ke Jambi. Ia memberikan kuliah umum di