Senin, 10 Desember 2018


Sabtu, 15 September 2018 10:25 WIB

Selamat Tinggal, Sumatera

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Karena air sungai yang berlumpur, badan yang kurang dapat bergerak di dalam perahu dan entah apa lagi, beberapa orang di dalam tim penjelajahan itu mulai merasa demam, sakit perut ringan atau diserang keluhan-keluhan lainnya.



Schouw Santvoort sendiri sehat-sehat saja, hanya luka-luka kecil di kakinya yang tak sembuh-sembuh juga membuatnya meringis membayangkan perjalanan di antara Pangkalan Bali dan Palembang. Jarak sepanjang 17 pal (hampir 32 km) harus ditempuh dengan berjalan kaki.

Di bawah sinar rembulan, Pangkalan Bali tampak romantis dan bersahabat. Kepala kampung itu mengajak Schouw Santvoort mampir di kampungnya sebelum mereka meneruskan perjalanan. Lelaki itu bercerita bahwa akhir-akhir ini, warga kampungnya resah karena acap didatangi oleh harimau, bahkan malam sebelumnya, seekor kambing hilang digasak binatang buas itu.

Trayek Pangkalan Bali ke Palembang terbagi ke dalam tiga bagian oleh dua buah bangunan pesanggrahan. Istilah pesanggrahan barangkali terlalu mewah untuk diterapkan pada bangunan-bangunan yang bobrol itu. Pegawai-pegawai Belanda yang harus berkeliling ke pedalaman atau orang yang kemalaman menggunakannya untuk tempat menginap. Setelah berjalan—atau lebih tepat, menyeret-nyeret langkah, akhirnya mereka tiba pagi hari, pukul setengah sebelas pada tanggal 27 di pesanggrahan yang kedua.

Sipir, yang selalu mendampingi dan mengawal Schouw Santvoort dalam penjelajahan  yang terakhir ini, memang sampai detik terakhir tidak meninggalkan sisinya sampai ke Palembang. Ia bahkan termasuk orang terakhir yang berpisah dengannya. Walaupun ia sendiri tentunya teramat sangat letih, ia mengusulkan untuk berangkat duluan agar dapat mengabarkan kedatangan Schouw Santvoort   kepada Residen Palembang dan untuk mencarikan kuda atau kereta yang dapat dikirim menjemput penjelajah Belanda itu di perjalanan. Setelah beristirahat secukupnya, menjelang tengah hari, lelaki itu berangkat sendirian ke Palembang.

Pukul 17.00, Schouw Santvoort dan sisa rombongannya berangkat lagi, dengan langkah berat. Istirahat selama beberapa jam saja tidak dapat menghapuskan lelah yang dikandung badan. Schouw Santvoort sebetulnya berharap seekor kuda dikirimkan dari Palembang untuk menjemputnya. Tetapi, kuda itu tak datang. Mau tak mau, ia memaksa kakinya melangkah dan melangkah. Matahari tenggelam. Malam tiba. Mereka terus berjalan. Pukul. 21.45. Mereka tiba di ibukota, di Palembang.

Di sebuah pondok penjagaan, Schouw Santvoort merapikan diri, berganti pakaian, lalu mendatangi sebuah losmen. Penginapan itu mendapatkan subsidi dari pemerintah Hindia-Belanda. Sipir, yang sedianya akan membantu menginapkan anggota tim di rumah seorang kerabatnya, tak tampak. Pemilik losmen pun tak tampak, akan tetapi isterinya menyambut kedatangan Schouw Santvoort dengan ramah. Dengan berbahasa Melayu, perempuan itu menyiapkan tempat untuknya dan untuk anggota-anggota tim yang lain.

Sebuah sampan membawanya ke kapal pos yang tertambat di tengah-tengah Soengei Moessi. Schouw Santvoort melaporkan diri sebagai penumpang. Ia ingin berangkat keesokan harinya ke Batavia. Anggota-anggota tim harus kembali ke Padang, juga harus menumpang kapal itu. Dari Batavia, mereka akan menumpang kapal lain menuju Padang. Di Djambi, Schouw Santvoort sudah menawarkan kesempatan untuk pulang ke Padang bersamaan dengan anggota tim yang pulang ke Rantau Ikir, akan tetapi mereka menolak.

Geladak kapal pos yang dijejaknya sepi. Tak ada seorang pun yang dapat ditemuinya untuk melaporkan diri. Schouw Santvoort terpaksa naik ke sampannya dan kembali ke darat. Malam semakin larut. Jam-jam pertama di Palembang, di daerah yang dianggap sebagai daerah (jajahan) Belanda, telah dilaluinya tanpa mengucapkan sepatah pun kata dalam bahasa Belanda.

Pagi-pagi tanggal 28 April, Schouw Santvoort melangkah bersemangat ke kantor Residensi Palembang. Ternyata, Residensi Palembang sedang ke luar kota. Asisten-Residen pun tak ada di tempat. Pejabat tertinggi yang dapat ditemuinya adalah seorang lelaki Belanda bernama du Cloux.

Kepadanya, Schouw Santvoort meminta bantuan untuk membantu dan memudahkan keberangkatan Orang Toewa Katib Sampono ke Mekkah untuk naik haji. Biaya naik haji itu ditanggung oleh Ekspedisi Sumatera Tengah sebagai tanda terima kasih.

Schouw Santvoort sekali lagi naik sampan. Awak kapal pos Bentinck tampak sibuk mempersiapkan keberangkatan. Pukul 8.00 pagi, kapal itu bertolak. Selesailah sudah tahap pertama penjelajahannya. Palembang menghilang dari pandangan. Satu setengah hari kemudian, tanggal 30 April dinihari, kapal pos itu memasuki perairan Soenda Kelapa. Batavia menantinya.

*Acuan Kepustakaan: PJ Veth. Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, uitgerust door het Aardrijkskundig Genootschap, 1877-1879 . Jilid II. Leiden: EJ Brill. 1882.


Tag : #Midden Sumatra Expeditie #Schouw Santvoort ke Djambi



Berita Terbaru

 

Minggu, 09 Desember 2018 17:45 WIB

Premi BPJS Kesehatan ASN Muarojambi Capai Rp12,24 Miliar


Kajanglako.com, Muaro Jambi - Setiap tahun Pemerintah Kabupaten Muarojambi mengeluarkan dana sebesar Rp12,24 miliar.    Dana sebesar itu digunakan

 

Minggu, 09 Desember 2018 17:31 WIB

Kontraktor Curi Listrik, Saryoto Sebut Pihak Rekanan Lobi Denda ke PLN Jambi


Kajanglako.com, Batanghari - Hingga saat ini, KWH di Kantor Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak

 

Minggu, 09 Desember 2018 17:08 WIB

Tumpukan Sampah Bikin Kesal, Warga Bagan Pete Blokir Jalan


Kajanglako.com, Jambi  - Puluhan warga Bagan Pete RT 15 Kenali Besar, Kota Jambi, melakukan aksi pemblokiran jalan. Minggu (9/12).   Aksi merupakan

 

Minggu, 09 Desember 2018 11:18 WIB

BNNK Bungo Antisipasi Meningkatnya Peredaran Narkoba Jelang Tahun Baru


Kajanglako.com, Bungo - Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Bungo mengantisipasi peningkatan peredaran barang haram jelang Tahun Baru 2019.   Ketua

 

Sabtu, 08 Desember 2018 14:56 WIB

Biaya Makan Napi Minus, Lapas Sarolangun Hutang ke Rekanan


Kajanglako.com, Sarolangun – Anggaran untuk makan Napi di Lapas Klas III Sarolangun yang dikucurkan Kementerian Hukum dan HAM melalui Dirjen Pemasyarakatan