Selasa, 25 September 2018


Sabtu, 08 September 2018 08:13 WIB

Menuju Banjoe Asin

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Keesokan harinya, hujan deras turun. Tanpa henti. Perahu mereka bergerak lamban. Menjelang matahari terbenam, pk 18.00, mereka menepi di kampung Poelau Gading yang dihuni oleh orang Koeboe.



Kelompok masyarakat ini adalah satu-satunya kelompok penduduk yang tinggal di tepian Soengei Lalang. Karena mereka sudah seringkali bertemu dan berhubungan dengan pedagang-pedagang dari Palembang serta oleh adanya perlindungan dari perwakilan Hindia-Belanda di daerah itu, orang Koeboe di sana telah banyak meninggalkan kebiasaan-kebiasaan lama, terutama terkait makanan dan pakaian.

Mereka sudah banyak mengambil alih kebiasaan hidup orang Melayu di sekitarnya. Banyak pula perempuan Koeboe yang telah menikah dengan lelaki dari Palembang maupun Djambi. Beberapa lelaki itu bahkan berpoligami dan menikahi dua orang perempuan Koeboe. Ke hilir, di antara Poelau Gading dan Bakoeng, tak ada permukiman. Setelah Bakoeng, ada enam permukiman Koeboe.

Mereka beristirahat selama satu jam di rumah salah seorang warga dusun, yaitu Raden Asim. Lelaki itu meminjamkan sebuah perahu miliknya kepada Sipir yang ikut di dalam rombongan Schouw Santvoort (catatan FA: jangan lupa bahwa sebagian pendayung dalam perjalanan itu merupakan ‘kettingganger’, yaitu tahanan/narapidana yang dianggap sebagai pekerja paksa). Sipir berangkat duluan dengan perahu itu untuk mencarikan perahu lain yang dapat bergerak lebih cepat. 

Sementara belum mendapatkan perahu pengganti yang lebih cepat, Schouw Santvoort berangkat lagi dengan perahu yang sejak tadi digunakan. Sepanjang malam, walau para pendayung sudah bekerja keras, perjalanan mereka berjalan lamban. Tak ada arus yang dapat mempercepat meluncurnya perahu itu dan para pendayung sudah teramat lelah.

Pagi-pagi, entah di mana, mereka beristirahat dulu sejam. Seseorang memasak nasi. Ketika mereka sedang makan, perahu pinjaman yang dibawa Sipir datang dengan sebuah sampan kecil yang diikatkan di belakangnya. Sampan kecil itu diperkirakan akan dapat mengantar Schouw Santvoort ke Pangkalan Bali dalam waktu tiga hari dua malam.

Dari Pangkalan Jati, ia melanjutkan perjalanan ke Palembang yang jauhnya 27 pal dari tempat itu. Dengan sampan kecil itu, ia terpaksa meninggalkan beberapa orang yang ikut dalam rombongannya dan sebagian besar bagasi dan perbekalannya.

Pukul 08.15, ia tiba di Telokh Rawah. Di dusun itu tinggal seorang kepala polisi (berbangsa Belanda). Menurut orang itu, dengan perahu daoeb, orang akan dapat sampai di Pangkalan Bali pada tanggal 27—apabila para pendayung terus-menerus mendayung siang-malam. Sayangnya, tak ada orang yang bersedia menjadi pendayung. Untunglah, Schouw Santvoort berhasil menemukan beberapa orang yang bersedia membantunya.

Sambil beristirahat, mereka memperbaiki ini-itu di perahu dan menambahkan pemberat supaya perahu-perahu mereka tidak terlalu cepat oleng. Awak perahu-perahu itu dibagi menjadi dua kelompok yang akan bertugas mendayung dan tidur secara bergantian.

Setelah semua persiapan selesai, mereka bertolak lagi. Jam sudah menunjukkan pukul 10.00. Karena sudah lebih stabil oleh pemberat dan para pendayung masih segar, perahu-perahu mereka meluncur dengan cepat. Sepanjang malam tanggal 24 sampai pagi tanggal 25 April, para pendayung itu terus bekerja tanpa kenal lelah.

Mereka hanya berhenti—sekitar 3 jam saja—di pagi hari, ketika air pasang sedang tinggi-tingginya. Sebelum permukaan air sungai surut, mereka sudah bertolak lagi. Matahari bersinar terik. Di atas air, mereka seperti terpanggang di atas api. Udara panas menyesakkan nafas dan meletihkan semua orang. Lalat dan semut—entah dari mana—pun datang menyerang. Serangga-serangga kecil itu memilih untuk hinggap dan menyemut di luka-luka bekas tertusuk duri hutan di kaki dan lengan. Walaupun demikian, para pendayung dan kuli itu—juga yang ikut sejak dari Dataran Tinggi Padang—tetap bersemangat bergantian mendayung perahu bersama dengan para tahanan pekerja paksa.

Angin segar bertiup dari arah timur laut. Schouw Santvoort betul-betul menikmati tiupannya. Rasanya sudah lama sekali—sejak meninggalkan Padang—ia tidak merasakan tiupan angin sesegar itu. Pukul setengah lima sore, perahu-perahu itu tiba di muara sungai. Tepiannya berlumpur dan penuh dengan rumpun-rumpun nipah yang hijau.

Sebetulnya mereka berencana untuk meneruskan perjalanan sehingga dapat mencapai  Soengei Banjoe Asin. Akan tetapi, angin dari timur-laut, yang tadi begitu dinikmati oleh Schouw Santvoort, kini bertiup semakin kencang. Perahu-perahu itu tak dapat bergerak maju dan bahkan terombang-ambing karenanya. Barulah menjelang Magrib, mereka tiba di sebuah kampung nelayan, yaitu Penoegoean. Mereka menepi untuk membeli ikan dan menanyakan jalan. Tak lama kemudian, mereka bertolak lagi dan sepanjang malam terus meluncur di atas air  Koeala Penoegoean.

Pagi-pagi tanggal 26 April, mereka melewati  Poelau Poendjoeng. Tak lama kemudian, mereka Koeala Tjali. Perjalanan mereka diteruskan melalui Koeala Batang Terab yang mengalir ke timur menuju  Banjoe Asin. Koeala Penoegoean dan Koeala Batang Terab sebetulnya merupakan dua aliran Koeala Tjali yang memisah dan melingkari Poelau Poendjoeng.  

Untunglah mereka sudah menanyakan arah yang harus ditempuh. Kalau tidak, tentulah mereka akan tersesat di kelok-kelok sungai-sungai itu. Setiap orang menyingsingkan lengan baju, bahkan Orang Toewa ikut mendayung supaya mereka tiba tepat waktu di Palembang, sebelum kapal pos yang hendak ditumpangi Schouw Santvoort ke Batavia terkejar.

Ketika matahari mulai membakar ubun-ubun, perahu-perahu mereka memasuki perairan Banjoe Asin. Setelah melewati beberapa anak sungai, lewat tengah malam tanggal 27 April, arus air sungai membawa mereka ke  tepian Pangkalan Bali.

Malam itu juga, setelah melengkapi perbekalan untuk di perjalanan, Schouw Santvoort bertolak lagi ke Palembang. Pukul 03.00 dinihari. Ia lega meninggalkan perahunya yang  sempit dan pengap.  Untuk mengurangi perhentian selama di perjalanan, perahu daoeb diisi penuh sehingga setiap orang harus duduk berdesak-desakan dengan barang dan penumpang lainnya.

Tentunya tak masuk akal bila ia menuntut tempat duduk yang agak luang, kalau pun ada. Keluangan di perahu itu hanya dapat diperoleh dengan meninggalkan beberapa orang pendayung. Namun bila itu dilakukan, pendayung yang ada harus diberi waktu untuk beristirahat dan ini akan memperlamban perjalanan.

Satu kali sehari, di haluan perahu, seseorang memasak nasi dan menyiapkan lauk-pauknya. Schouw Santvoort pun menerima jatah makanan yang sama dengan awak kapal dan penumpang lainnya. Di atas air sungai, alangkah enaknya makan nasi panas  dengan sambal dan ikan asin.

*Acuan Kepustakaan: PJ Veth. Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, uitgerust door het Aardrijkskundig Genootschap, 1877-1879 . Jilid II. Leiden: EJ Brill. 1882.


Tag : #Schouw Santvoort ke Banyu Asin Palembang #Midden Sumatra 1877-1879 #Ekspedisi Belanda ke Djambi



Berita Terbaru

 

Selasa, 25 September 2018 18:04 WIB

Sosialisasi Pemilu Damai di Bungo, Kapolda: Berbeda Pilihan, Jangan Merusak Persaudaraan


Kajanglako.com, Bungo - Kapolda Jambi, Irjen Pol Muchlis. Mensosialisasikan bahaya Radikalisme, Terorisme dan Pemilu Damai ke Kabupaten Bungo.    Kedatangan

 

Kekerasan Terhadap Jurnalis
Selasa, 25 September 2018 15:05 WIB

Penyidikan Kasus Ancaman Pembunuhan Wartawan, Camat Marosebo Ulu Berhalangan Hadir


Kajanglako.com, Batanghari - Polres Batanghari terus melakukan penyelidikan terhadap kasus ancaman pembunuhan wartawan yang dilakukan oknum ASN Kantor

 

Selasa, 25 September 2018 13:43 WIB

Penjual Emas PETI Diamankan saat Tunggu Pembeli di Pinggir Jalan


Kajanglako.com, Merangin - Polisi Resor Merangin mengamankan dua orang penjual emas hasil pertambangan ilegal. Pelaku diamankan di wilayah Kelurahan Pasar

 

Lelang Jebatan
Selasa, 25 September 2018 13:26 WIB

Tiga Besar Lelang Jabatan Pemprov Diumumkan, Ini Daftarnya


Kajanglako.com, Jambi - Panitia Pelaksana Lelang Jabatan Pemprov Jambi, telah mengumumkan tiga besar terbaik hasil uji kompetensi lelang jabatan Eselon

 

Unjuk Rasa
Selasa, 25 September 2018 12:57 WIB

Pilrio Ditunda, Warga Ujung Tanjung Unjuk Rasa ke DPRD Bungo


Kajanglako.com, Bungo - Ratusan masyarakat Dusun Ujung Tanjung, Kecamatan Jujuhan menggeruduk Kantor DPRD Bungo, Selasa (25/9).   Dalam aksinya warga