Senin, 23 Juli 2018


Sabtu, 07 Oktober 2017 07:16 WIB

Annabel Teh Gallop, Jambi dan Anugerah Kebudayaan 2017

Reporter : Ardi
Kategori : Ensklopedia

Annabel: Penerima Anugerah Budaya 2017

Seminggu lepas, tepatnya 28 September 2017, 47 individu dari berbagai latar belakang profesi, menerima Anugerah Kebudayaan dan Penghargaan Maestro Seni Tradisi dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Pemberian penghargaan itu berlangsung di Plaza Insan Berprestasi Kemendikbud, Jakarta.

Helatan rutin Kemdikbud sedari tahun 2012 ini memuat tujuh kategori penghargaan, yaitu Kategori Pencipta, Pelopor, dan Pembaru; Kategori Pelestari; Kategori Anak dan Remaja; Kategori Maestro Seni Tradisi; Kategori Komunitas; Kategori Pemerintah Daerah; dan Kategori Perorangan Asing.



Tahun ini, untuk kategori Perorangan Asing, yaitu satu di antara tiga penerima adalah Annabel Teh Gallop dari Inggris. Ia dikenal luas sebagai peneliti manuskrip, surat, dokumen, dan cap Melayu, serta seni Alquran di Asia Tenggara, khususnya Indonesia.

Mendapati kabar raihan Anugerah Budaya dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia itu, Seloko Institute, Jambi, diwakili Jumardi Putra via media jejaring sosial, facebook, mengucapkan selamat sekaligus sukacita atas Anugerah Budaya yang disematkan pada Dr. Annabel Gallop atas dedikasinya sebagai peneliti manuskrip, surat, dokumen, dan cap Melayu, serta seni Alquran di Asia Tenggara, khususnya Indonesia.

“Terima kasih, dan saya juga mengucapkan terima kasih kepada teman-teman di Jambi atas kerjasama yang begitu menyenangkan. Nanti saya kirim makalah saya saat seminar Internasional Pernaskahan Nusantara 2017 di Surakarta, Jawa Tengah, 26 September 2017, tentang Surat Piagam Jambi”, balas Annabel.

Dalam studi pernaskahan, Annabel Teh Gallop adalah nama yang sangat familiar. Sekarang Dr. Annabel Teh Gallop merupakan Kepala Kurator Naskah Asia Tenggara, British Library, London. Fokus penelitian utamanya adalah manuskrip, surat, dokumen, cap Melayu, dan buku seni Islam, khususnya manuskrip Melayu di kawasan Asia Tenggara.

Disertasi doktoralnya (Ph.D.) di School of Oriental and African Studies, University of London, 2002,  berjudul  'Inskripsi pada cap Melayu: Sebuah kajian epigrafi IIlam dari Asia Tenggara'. Karyanya yang lain, antara lain, 'Surat Emas: Tradisi Tulis di Indonesia'; artikel 'Meterai bersilsilah kaiser Mughal India'; 'Piagam Serampas: dokumen Melayu dari pedalaman Jambi', dan 'Piagam Muara Mendras: tambahan dokumen Melayu dari pedalaman Jambi', dan 'Seni Hias Manuskrip Melayu' (iluminasi naskah Melayu) di Warisan manuskrip Melayu (Kuala Lumpur, 2002).

Di antara banyak wilayah (daerah) penelitian yang ia kunjungi di Indonesia, yaitu Jambi adalah salah satunya. Setidaknya, untuk menyebut contoh, penelitiannya mengenai Piagam Serampas dan Muara Mendras memberi gambaran perhatian Annabel pada studi filologi di Jambi.

Tak hanya itu, Annabel selain pernah menjadi chairperson (untuk menyebut kurator) sekaligus pembentang makalah berjudul “The Royal Animal Seals of Jambi” pada perhelatan Konferensi Internasional Studi Jambi (International Conference on Jambi Studies), 21-24 November 2013, juga pernah diundang oleh Seloko Institute, Jambi, bekerjasama dengan KKI WARSI ke Jambi dalam rangka pelatihan pernaskahan pada 15-16 September 2014.

Pelatihan ketika itu fokus pada pengayaan pengetahuan seputar naskah (filologi) dan aspek luaran naskah (kodikologi) serta sosial budaya yang menyertai keberadaan masing-masing naskah. Di samping itu, pelatihan tidak saja fokus pada naskah-naskah Jambi, seperti piagam, cap, mushaf, dan berbagai dokumen berupa surat kontrak perjanjian antar Kesultanan di Nusantara, tetapi juga pernaskahan dalam cakupan yang lebih luas, yaitu Nusantara.

Menurut Annabel Gallop, sampai sekarang banyak naskah Jambi yang belum tersentuh oleh peneliti, terutama filolog. "Sejauh ini dalam penelitian saya di Nusantara, cap yang menggunakan lambang hewan hanya ditemukan di Jambi," ungkapnya.

Ia pun memperlihatkan foto-foto cap asal Jambi kepada peserta pelatihan ketika itu. Salah satunya adalah cap era kepemimpinan Sultan Thaha Syaifudin yang berupa kaligrafi berbentuk Angsa. Menurut Annabel, cap tersebut adalah salah satu penemuannya ketika ia menyusun disertasi sekira dua belas tahun lalu.

Sejauh ini, diakui Annabel, baru ditemukan 1830 cap Islam dari wilayah Asia Tenggara, dan 90 persen dari keseluruhan itu merupakan tinggalan abad ke-18 dan 19.

“Sepencatatan kami, dalam rentang 1700-1750 ditemukan sebanyak 144 cap, 1750-1800 sebanyak 356 cap, sedangkan periode 1800-1850 sebanyak 378 cap, dan periode 1850-1900 sebanyak 788 jenis cap”, tambahnya.


Tag : #Filologi #Naskah Jambi #Piagam Serampas #Piagam Muara Mendras #Sumatra #Nusantara



Berita Terbaru

 

Senin, 23 Juli 2018 01:11 WIB

Selain HP, Sipir Lapas Bungo Temukan Benda Diduga Digunakan Napi untuk Kabur


Kajanglako.com, Bungo - Petugas Lembaga Pemasyarakatan Klas 2B Muara Bungo menemukan sejumlah barang di sel warga binaan saat razia digelar, Minggu (22/7)

 

Senin, 23 Juli 2018 00:59 WIB

Lapas Klas 2B Bungo Geledah Blok Napi


Kajanglako.com, Bungo - Lembaga Permasyaratan (Lapas) Klas 2B Muara Bungo melakukan penggeledahan blok hunian warga binaan.   Penggeledahan dipimpin

 

Senin, 23 Juli 2018 00:45 WIB

Bambang Bantah Sidak Sel Fasilitas Hotel Bintang Lima di Lapas Jambi


Kajanglako.com, Jambi - Sidak yang dilakukan di Lapas Klas 2A Jambi, Minggu (22/7) malam, berkaitan dengan OTT KPK di Lapas Sukamiskin Jawa Barat, dibantah

 

Senin, 23 Juli 2018 00:29 WIB

Disinggung Soal Sidak Sel Mewah, Bambang: Tak Ada yang Perlu Dieskpos Media


Kajanglako.com, Jambi - Dilarangnya awak media tak boleh meliput Sidak yang dilakukan Kakanwil Kemenkumham Provinsi Jambi, Bambang Palasara, di Lapas Klas

 

Senin, 23 Juli 2018 00:10 WIB

Lapas Jambi Disidak Pasca OTT KPK di Lapas Sukamiskin


Kajanglako.com, Jambi - Pasca Komisi Pemberantas akorupsi (KPK) melakukan Operasi Tangkap Tangan (OTT) terhadap Kalapas Sukamiskin, Jawa Barat, terkait