Rabu, 24 Januari 2018
Pencarian


Sabtu, 07 Oktober 2017 07:16 WIB

Annabel Teh Gallop, Jambi dan Anugerah Kebudayaan 2017

Reporter : Ardi
Kategori : Ensklopedia

Annabel: Penerima Anugerah Budaya 2017

Seminggu lepas, tepatnya 28 September 2017, 47 individu dari berbagai latar belakang profesi, menerima Anugerah Kebudayaan dan Penghargaan Maestro Seni Tradisi dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Pemberian penghargaan itu berlangsung di Plaza Insan Berprestasi Kemendikbud, Jakarta.

Helatan rutin Kemdikbud sedari tahun 2012 ini memuat tujuh kategori penghargaan, yaitu Kategori Pencipta, Pelopor, dan Pembaru; Kategori Pelestari; Kategori Anak dan Remaja; Kategori Maestro Seni Tradisi; Kategori Komunitas; Kategori Pemerintah Daerah; dan Kategori Perorangan Asing.



Tahun ini, untuk kategori Perorangan Asing, yaitu satu di antara tiga penerima adalah Annabel Teh Gallop dari Inggris. Ia dikenal luas sebagai peneliti manuskrip, surat, dokumen, dan cap Melayu, serta seni Alquran di Asia Tenggara, khususnya Indonesia.

Mendapati kabar raihan Anugerah Budaya dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia itu, Seloko Institute, Jambi, diwakili Jumardi Putra via media jejaring sosial, facebook, mengucapkan selamat sekaligus sukacita atas Anugerah Budaya yang disematkan pada Dr. Annabel Gallop atas dedikasinya sebagai peneliti manuskrip, surat, dokumen, dan cap Melayu, serta seni Alquran di Asia Tenggara, khususnya Indonesia.

“Terima kasih, dan saya juga mengucapkan terima kasih kepada teman-teman di Jambi atas kerjasama yang begitu menyenangkan. Nanti saya kirim makalah saya saat seminar Internasional Pernaskahan Nusantara 2017 di Surakarta, Jawa Tengah, 26 September 2017, tentang Surat Piagam Jambi”, balas Annabel.

Dalam studi pernaskahan, Annabel Teh Gallop adalah nama yang sangat familiar. Sekarang Dr. Annabel Teh Gallop merupakan Kepala Kurator Naskah Asia Tenggara, British Library, London. Fokus penelitian utamanya adalah manuskrip, surat, dokumen, cap Melayu, dan buku seni Islam, khususnya manuskrip Melayu di kawasan Asia Tenggara.

Disertasi doktoralnya (Ph.D.) di School of Oriental and African Studies, University of London, 2002,  berjudul  'Inskripsi pada cap Melayu: Sebuah kajian epigrafi IIlam dari Asia Tenggara'. Karyanya yang lain, antara lain, 'Surat Emas: Tradisi Tulis di Indonesia'; artikel 'Meterai bersilsilah kaiser Mughal India'; 'Piagam Serampas: dokumen Melayu dari pedalaman Jambi', dan 'Piagam Muara Mendras: tambahan dokumen Melayu dari pedalaman Jambi', dan 'Seni Hias Manuskrip Melayu' (iluminasi naskah Melayu) di Warisan manuskrip Melayu (Kuala Lumpur, 2002).

Di antara banyak wilayah (daerah) penelitian yang ia kunjungi di Indonesia, yaitu Jambi adalah salah satunya. Setidaknya, untuk menyebut contoh, penelitiannya mengenai Piagam Serampas dan Muara Mendras memberi gambaran perhatian Annabel pada studi filologi di Jambi.

Tak hanya itu, Annabel selain pernah menjadi chairperson (untuk menyebut kurator) sekaligus pembentang makalah berjudul “The Royal Animal Seals of Jambi” pada perhelatan Konferensi Internasional Studi Jambi (International Conference on Jambi Studies), 21-24 November 2013, juga pernah diundang oleh Seloko Institute, Jambi, bekerjasama dengan KKI WARSI ke Jambi dalam rangka pelatihan pernaskahan pada 15-16 September 2014.

Pelatihan ketika itu fokus pada pengayaan pengetahuan seputar naskah (filologi) dan aspek luaran naskah (kodikologi) serta sosial budaya yang menyertai keberadaan masing-masing naskah. Di samping itu, pelatihan tidak saja fokus pada naskah-naskah Jambi, seperti piagam, cap, mushaf, dan berbagai dokumen berupa surat kontrak perjanjian antar Kesultanan di Nusantara, tetapi juga pernaskahan dalam cakupan yang lebih luas, yaitu Nusantara.

Menurut Annabel Gallop, sampai sekarang banyak naskah Jambi yang belum tersentuh oleh peneliti, terutama filolog. "Sejauh ini dalam penelitian saya di Nusantara, cap yang menggunakan lambang hewan hanya ditemukan di Jambi," ungkapnya.

Ia pun memperlihatkan foto-foto cap asal Jambi kepada peserta pelatihan ketika itu. Salah satunya adalah cap era kepemimpinan Sultan Thaha Syaifudin yang berupa kaligrafi berbentuk Angsa. Menurut Annabel, cap tersebut adalah salah satu penemuannya ketika ia menyusun disertasi sekira dua belas tahun lalu.

Sejauh ini, diakui Annabel, baru ditemukan 1830 cap Islam dari wilayah Asia Tenggara, dan 90 persen dari keseluruhan itu merupakan tinggalan abad ke-18 dan 19.

“Sepencatatan kami, dalam rentang 1700-1750 ditemukan sebanyak 144 cap, 1750-1800 sebanyak 356 cap, sedangkan periode 1800-1850 sebanyak 378 cap, dan periode 1850-1900 sebanyak 788 jenis cap”, tambahnya.


Tag : #Filologi #Naskah Jambi #Piagam Serampas #Piagam Muara Mendras #Sumatra #Nusantara



Berita Terbaru

 

Selasa, 23 Januari 2018 23:50 WIB

Dugaan Kecurangan Toke Karet Terkuak, Warga Bandingkan Hasil Timbangan dengan Milik Sendiri


Kajanglako.com, Bungo – Petani Karet yang ada di Wilayah Kecamatan Muko-muko Bathin VII, Kabupaten Bungo, mulai resah dengan hasil timbangan yang

 

Penyelundupan Satwa Langka
Selasa, 23 Januari 2018 20:26 WIB

BKIPM Jambi Gagalkan Penyelundupan 7 Anak Buaya Via Bandara


Kajanglako.com, Jambi – Badan Karantina Ikan dan Pengendalian Mutu (BKIPM) Jambi bekerja sama dengan Avsec Bandara Sultan Thaha, berhasil menggagalkan

 

Selasa, 23 Januari 2018 20:14 WIB

Selain Diselingkuhi, Juanda Mengaku Juga Sering Dianiaya Istrinya


Kajanglako.com, Batanghari - Sebelum belang sang istri yang kedapatan selingkuh dengan Kades Padang Kelapo mencuat. Juanda akui sudah seringkali dianiaya

 

Selasa, 23 Januari 2018 20:03 WIB

Juanda Lapor ke Inspektorat, Kades Padang Kelapo Berdalih Hanya Ajak 'EN' Rapat


Kajanglako.com, Batanghari - Kasus perselingkuhan Kades Padang Kelapo akhirnya berlanjut. Juanda, beserta sejumlah saksi melaporkan kasus tersebut ke Inspektorat

 

Selasa, 23 Januari 2018 19:49 WIB

Heboh, Kades Padang Kelapo Dikabarkan 'Gituan' di Semak-semak


Kajanglako.com, Batanghari - Selaku pemimpin desa harusnya bisa membimbing warga desanya dengan baik. Namun, yang terjadi kali ini bertolak belakang. Jangankan