Rabu, 14 November 2018


Selasa, 04 September 2018 08:15 WIB

Muhammadanisme Christiaan Snouck Hurgronje

Reporter :
Kategori : Sosok

Christiaan Snouck Hurgronje (KITLV Leiden/File)

Oleh: Mohd. Ruslani*

Christiaan Snouck Hurgronje (1857-1936) adalah seorang doktor Orientalisme, pakar kajian tentang dunia Timur yang merupakan mata rantai terpenting dalam jajaran para Orientalis Belanda. Hurgronje memberi dasar bagi titik tolak baru terhadap orientalisme.



Sebelum Hurgronje, orientalisme lebih dimaksudkan sebagai kajian apologetik yang berusaha membuktikan kebenaran agama Barat, terutama Kristen, dan keunggulan Al-Kitab dibandingkan dengan kitab-kitab suci agama lain.

Hurgronje berusaha memberi perhatian pada agama-agama lain, terutama Islam, dan memahaminya dari perspektif orang Islam. Sebagai seorang orientalis, ia tidak saja berusaha mencari kelemahan dalam ajaran-ajaran Islam, tetapi juga berusaha membawa “misi peradaban” melalui ide-ide pencerahan yang mulai memengaruhi kajian orientalisme waktu itu.

Buku Muhammadanisme awalnya merupakan bahan kuliah tentang Islam yang disampaikan oleh Snouck Hurgronje tahun 1914. Snouck dianggap sebagai sarjana Eropa yang memiliki pemahaman paling luas mengenai Islam dalam pelbagai aspeknya.

Isi buku ini pernah disampaikan sebagai bahan kuliah di pelbagai universitas ternama di Amerika Serikat, semisal: Columbia University, Yale University, University of Pennsylvania, Meadville Theological Seminary, University of Chicago, Lowell Institute, dan Johns Hopkins University.

Dalam buku ini, ada beberapa hal menarik yang merupakan kritik Hurgronje terhadap studi orientalisme sebelumnya. Pertama, kajian yang mengatakan Islam disebarkan dengan pedang. Bagi Snouck, pendapat ini sangat naif karena Islam berkembang di pelbagai belahan dunia dengan beragam cara dan jalan. Tidak mungkin menggeneralisasi Islam hanya dikembangkan dengan jalan kekerasan, karena ada pelbagai pola interaksi dalam masyarakat yang kemudian juga mengubah pola keberagamaan masyarakat, baik melalui perang, perdagangan, perkawinan, sekolah, dan sebagainya.

Kedua, kaum Muslim sendiri terbagi menjadi pelbagai kelompok masyarakat yang berbeda. Masing-masing memahami Islam dalam konteks budaya yang berbeda pula. Dalam pelbagai catatan etnografis tentang Islam di Indonesia (Hindia Belanda), Snouck menjelaskan secara detail pelbagai adat kebiasaan masyarakat Muslim yang mengalami sintesis dan asimilasi dengan budaya lokal. Dalam Islam di Hindia Belanda, Snouck menguraikan pelbagai detail masyarakat Muslim, bahkan hingga bangunan masjid, tugas-tugas imam, khatib (ketib), bilal, marbot, dan lain-lain.

Yang tak kalah pentingnya untuk disimak dan menjadi bahan renungan bersama adalah kritik Snouck terhadap kaum Muslim. Snouck mengungkapkan, bahwa kaum Muslim lebih giat mengusahakan perluasan wilayah dan memperbanyak pengikut ketimbang mengolah secara intensif untuk meningkatkan kualitas masyarakat yang telah menganut agama Islam.

Karenanya, terlepas dari pelbagai kelemahan kajian Barat tentang Islam dan masyarakat Muslim, kita banyak belajar dari wawasan tentang Islam yang dikembangkan para sarjana Barat, tetapi tidak boleh mengabaikan wawasan tentang Islam yang dikembangkan oleh kaum Muslim sendiri.

Tugas sarjana Muslim adalah menegakkan Islam sebagai agama dan peradaban yang mampu memberi kebaikan dan peningkatan kualitas hidup manusia. Tetapi, tugas dan cita-cita ini tidak boleh menghalangi kerjasama dengan kalangan non-Muslim, utamanya dalam pengembangan intelektual, kajian sains dan teknologi.

Pemahaman tentang Islam yang baik serta apresiasi terhadap Islam sangat mungkin muncul dari para sarjana Barat non-Muslim yang melakukan kajian tentang Islam tanpa prasangka dan kepentingan politis, dibarengi dengan sensitivitas dan pengetahuan luas mengenai masyarakat dan budaya-budaya Muslim yang ditelitinya.

Ada sejumlah kesalahpahaman mengenai Snouck yang acapkali membuat orang curiga dan menghakiminya sebelum membaca karya-karyanya. Dalam buku ini, ada hal menarik yang disampaikan Snouck mengenai penyebaran Islam. Anggapan bahwa Islam berkembang melalui pedang dan kitab suci juga tidak sepenuhnya dibenarkan oleh Hurgronje.

Terlalu gegabah jika ada pendapat yang menyatakan sebuah keyakinan yang begitu besar, dengan pengikut dari pelbagai kalangan, yang memasuki hampir seluruh benua Afrika, Asia, dan Eropa, disebarkan melalui metode tunggal dan cara yang seragam. 
Anggapan-anggapan negatif mengenai Islam awal dan perkembangannya lebih banyak berasal dari rasa terancam karena kedatangan Islam sebagai agama baru. Dalam sejarah agama-agama, agama yang baru datang selalu dianggap sebagai ancaman dan bidah oleh agama yang sudah ada sebelumnya.

Kristen awalnya dianggap sebagai bidah dan ancaman bagi Yahudi, Islam awalnya juga dianggap sebagai bidah dan ancaman terhadap Kristen, dan seterusnya. Dalam ungkapan Hurgronje disebutkan, “Cara agresif yang dilakukan oleh Islam yang masih baru lahir waktu itu segera menempatkannya sebagai oposisi terhadap dunia lain yang berakibat munculnya sikap yang tidak bersahabat.”

Mengenai perkembangan politik dalam Islam, Snouck menyebutnya sebagai “bab terpenting dan paling relevan dengan sejarah Indonesia.” Hurgronje mengungapkan bahwa Islam, meskipun diyakini oleh penganutnya sebagai suatu keutuhan dan ajaran yang holistik, tetapi sebenarnya terbagi ke dalam tiga ranah aktivitas: keagamaan “murni” atau ibadah, kemasyarakatan, dan kenegaraan.

Keberhasilan Hurgronje menaklukkan Aceh bisa dibaca dengan pemahaman ini. Politik pemerintah kolonial Belanda dalam menghadapi mayoritas penganut Islam di Hindia Belanda waktu itu berangkat dari kerangka pembagian ini.

Lalu, bagaimana sikap Pemerintah Hindia Belanda? Bagaimana pula Snouck mengusulkan semacam politik etis dari Negeri Kincir Angin untuk Priboemi? Bagaimana pandangan Snouck tentang rukun Islam, ijtihad, ijmak, dan penetapan hukum dalam Islam? Bagaimana pula muncul kesempitan berpikir yang menganggap "Arab adalah Islam" sehingga budaya Arab dianggap bagian dari ajaran Islam oleh sebagian kaum Muslim? Ah...pasti lebih afdol jika Anda membaca langsung buku Muhammadanisme ini.


-Yogyakarta, 8 Juli 2018.

*Penulis adalah Penerjemah buku C. Snouck Hurgronje: Mohemmedanism: Lecture on its Origin, its Religious and Political Growth, and its Present State (Putman, New York, 1916). Edisi terjemahan diterbitkan MataBangsa: Muhammadanisme: Kuliah-kuliah Mengenai Asal-usul, Perkembangan Agama dan Politik Serta Kondisinya Saat Ini (2018).


Tag : #Muhammadanisme #C. Snouck Hurgronje #MataBngsa



Berita Terbaru

 

Rabu, 14 November 2018 00:18 WIB

Politik Identitas Jelang Pemilu, Al Makin: Menghilangkan Substansi Masalah Sebenarnya


Kajanglako.com, Kota Jambi - Semakin mendekati Pemilu 2019, isu politik identitas semakin kentara disebarluaskan ke tengah masyarakat. Medium utamanya,

 

Operasi Zebra 2018
Selasa, 13 November 2018 20:25 WIB

Satlantas Sarolangun Keluarkan 1.318 Surat Tilang Selama Operasi Zebra


Kajanglako.com, Sarolangun - Selama 14 hari pelaksanaan Operasi Zebra 2018, Satlantas Polres Sarolangun sedikitnya mengeluarkan 1.318 surat tilang, baik

 

Selasa, 13 November 2018 20:13 WIB

Percobaan Penculikan Anak, Dewan Sarolangun Minta TNI/Polri Bersinergi


Kajanglako.com, Sarolangun – Kabar dugaan  percobaan penculikan  anak  di  RT 11 Desa Bernai, Sabtu malam lalu, membuat Anggota

 

Selasa, 13 November 2018 19:56 WIB

Kejari Tanjabbar Musnahkan Narkoba Bernilai Miliaran Rupiah


Kajanglako.com, Tanjung Jabung Barat – Barang bukti hasil tangkapan kasus Narkoba dan tindak pidana umum dimusnahkan yang di Halaman Kantor Kejaksaan

 

Selasa, 13 November 2018 19:36 WIB

Mau Damai, Kepala MTS Simpang Babeko yang 'Pecut' Siswanya Harus Setor Rp200 Juta


Kajanglako.com, Bungo - Kasus pemukulan yang dilakukan oleh Kepala MTS Negeri Simpang Babeko, Kabupaten Bungo, terhadap siswanya atas nama M Fiqri Ardiansyah