Sabtu, 20 Oktober 2018


Senin, 03 September 2018 14:15 WIB

Menggugat Pendidikan dalam Bangku Kayu dan Kamu yang Tumbuh di Situ

Reporter :
Kategori : Ensklopedia

Pertunjukan Bangku Kayu dan Kamu yang Tumbuh di Situ. Sumber: Panitia (31/8/18).

Oleh: Ricky A Manik*

Manusia berjalan sendiri-sendiri. Tidak ada interaksi manusia satu dengan manusia lainnya. Mereka serupa robot-robot dengan gerakan yang berbeda tetapi dengan keteraturannya masing-masing. Percepatan-percepatan dinamika kehidupan dalam era global menuntut manusia-manusia menjadi individulistis. Zaman seolah mengajak manusia hanya menjadi mesin yang digerakkan oleh satu tombol: bisa kekuasaan atau kaum pemilik modal.



Setidaknya ini yang menjadi gambaran awal dalam sebuah pertunjukan yang berjudul Bangku Kayu dan Kamu yang Tumbuh di Situ dengan besutan sutradara Dr. Yusril, M.Sn (Katil) pada tanggal 31 Agustus 2018 di Teater Tertutup Taman Budaya Jambi. Pertunjukan ini merupakan pemenang hibah penelitian penciptaan dan penyajian DRPM Dikti 2018 dan satu dari rangkaian pertunjukan yang dinamakan Jambi Performing Art: Tiga Kota Tiga Bentuk.

Alur pertunjukan ini bergerak mundur (flashback). Seorang aktor yang sebelumnya bergerak seperti robot mengangkat sebuah bangku kayu dan melakukan gerakan (tarian) yang kemudian diikuti oleh aktor-aktor yang lain.

Beragam gerakan estetis muncul dari para aktor seperti mengelilingi, melompat, menaiki bangku, dan sebagainya hendak menandakan bahwa mereka berasal dari bangku itu. Pertunjukan ini ingin mengartikulasikan bahwa biang kerok dari munculnya mereka sebagai manusia-manusia mesin berasal dari bangku kayu tersebut. Bangku kayu yang merupakan satu-satunya properti dalam pertunjukan itu menjadi simbol tempat manusia (kita) mengenyam pendidikan. Bangku kayu adalah bangku pendidikan dan dari sanalah manusia itu tumbuh.

 

Menggugat Pendidikan     

Melalui Bangku Kayu, pertunjukan ini hendak menggugat sistem pendidikan yang menjauh dari esensi dan cita-citanya yang paling dalam. Pendidikan bukan hanya mencetak manusia yang cerdas secara intelektual, tetapi juga merasakan beragam keluh-kesah yang ada di sekitarnya. Manusia yang terdidik harus membaur dan partisipatif dalam memberikan kecerdasan kepada manusia atau masyarakat yang lainnya. Manusia terdidik harus mampu melihat beragam persoalan sosial seperti kemiskinan, pengangguran, pembodohan, dan sebagainya. 

Esensi pendidikan yang jauh panggang dari api itu dihadirkan melalui tokoh-tokoh yang berperan sebagai siswa didik. Mereka menerima begitu saja berbagai rumus-rumus, teori-teori, dan mata pelajaran yang diberikan sekalipun itu bukan dari realitas mereka, tanpa harus mempertanyakan atau mengkritisinya.

Hal ini muncul dari monolog seorang aktor: “Ini Budi. Ini Bapak Budi. Ini kakak Budi… Budinya ke mana?”.  Di saat salah satu tokoh bermonolog perihal paradoksnya pendidikan, aktor-aktor yang lainnya menampilkan diri sebagai siswa didik yang tunduk kepada guru dalam proses di ruang kelas.   

Dalam pertunjukan tersebut, ruang kelas yang dibangun oleh para aktor bukan menjadi proses pembelajaran yang dialogis. Aktor yang berperan sebagai guru memiliki posisi yang dominan dan tidak sejajar dari para siswa didik. Guru juga memposisikan diri sebagai manusia yang berpengetahuan sedangkan siswa didik adalah botol kosong yang mesti diisi pengetahuan.

Cara belajar mereka diseragamkan, teks-teks dihafal, ketika mereka salah, mereka dihukum. Tidak ada kemerdekaan (otonom) bagi aktor-aktor untuk menjadi individu-individu yang dewasa (tokoh malah seperti anak-anak ketika diminta bernyanyi dan membaca puisi).

Pertunjukan ini hendak mengkritik bahwa siswa didik seharusnya belajar untuk memiliki kedewasaan sebagai individu yang mampu bertanggung jawab, bersikap toleran kepada orang lain, serta berempati terhadap penderitaan sesama.

Produk dari sistem pendidikan yang demikian melahirkan orang-orang kuli dan kaum terdidik yang antirealitas. Menjadi orang-orang kuli adalah mereka yang memilih profesi yang barangkali bukan menjadi keinginannya seperti aktor-aktor yang melakukan gerakan-gerakan yang menandakan akan profesi mereka yang berbeda-beda.

Manusia-manusia ini hanya akan menjadi orang-orang yang berada di bawah kendali para penguasa dan pengusaha. Menjadi kaum terdidik yang antirealitas adalah orang-orang yang berpengetahuan tetapi tidak memiliki kepekaan sosial. Mereka hanya menjadi orang-orang yang tidak akan memikirkan persoalan bangsanya.

Pertunjukan Bangku Kayu diakhiri dengan aktor-aktor yang berjalan mundur dari kemajuan zaman. Bangku Kayu hendak mengatakan bahwa bangku pendidikan hanya akan melahirkan keparadoksalan zaman. Di satu sisi terjadi peningkatan teknologi yang pesat guna kemudahan kehidupan, di sisi yang lain manusia selaku pencipta teknologi mengalami kemunduran kemanusiaan.  

Bangku Kayu merupakan gugatan atas pendidikan yang menjauhkan jati diri manusia yang sesungguhnya sebagai manusia yang merdeka, berhak untuk hidup, tidak mengalami penindasan, dan tidak diperlakukan sewenang-wenang. Carut-marut kehidupan dengan segala persoalannya tidak dihadirkan dalam pendidikan yang semestinya dapat menjadi solusi.

 

Minim Problem dan Realitas Sosial

Pertunjukan Bangku Kayu setidaknya telah menyadarkan kita bahwa kondisi kemanusiaan hari ini adalah buah dari pendidikan yang kita dapatkan. Sayangnya, jika ditarik relevansi dengan sosial politik hari ini, kritik pendidikan melalui pertunjukan ini belum termanifestasikan. Semisal, bisa saja menampilkan gerak atau penampilan bagaimana sikap para politisi yang cenderung mementingkan diri dan kelompoknya sendiri, bagaimana masyarakat yang terpolarisasi dengan pilihan politik, bagaimana politisi memainkan isu-isu tertentu yang dapat memecah belah bangsa guna tujuan kekuasaan, bagaimana penindasan terjadi yang dilakukan oleh kekuasaan terhadap orang lain, dan problem-problem kemanusiaan lainnya seperti kemiskinan, kesenjangan sosial, pengangguran, dan lain sebagainya.

Minimnya problem-problem dan realitas sosial yang ditampilkan dalam pertunjukan tersebut membuat tujuan kesadaran (kritis) terhadap khalayak penonton perihal pendidikan serasa kurang maksimal. Selain itu, pertunjukan Bangku Kayu hanya sebatas mengemukakan sistem pendidikan buruk yang diterapkan di sekolah dan dampak produk yang dihasilkannya.

Pertunjukan ini belum melihat darimana problem pendidikan tersebut berasal. Artinya, sistem pendidikan itu tidak hadir secara tiba-tiba, tetapi ada sistem tersembunyi yang melahirkannya. Ada tujuan tertentu di balik sistem pendidikan yang diberlakukan, bisa kekuasaan dari sektarian tertentu atau kapitalisme. Ini yang belum tergarap dalam Bangku Kayu. Tentu ini yang tidak boleh luput dari kritik kita terhadap pendidikan.    

Jambi, 2 September 2018.

*Penulis adalah peneliti sastra dan pemerhati teater. Kini bekerja di Kantor Bahasa Jambi. 


Tag : #Jambi Performing Art: Tiga Kota Tiga Bentuk. #Pertunjukan Teater



Berita Terbaru

 

Pemilu 2019
Jumat, 19 Oktober 2018 22:58 WIB

Hadapi Pemilu, Murady Sebut Menuju Kemenangan tanpa Tekanan


Kajanglako.com, Jambi - Dalam masa kampanye Pemilihan Umum kali ini, Politisi Senior Partai Gerindra Murady Darmansyah mengharapkan semua pihak untuk menjaga

 

Waspada Penculikan Anak
Jumat, 19 Oktober 2018 22:36 WIB

Santri Pesantren Dzulhijjah Nyaris Diculik Pria Bertato


Kajanglako.com, Batanghari - Aksi penculikan anak dan remaja tanggung kian marak.   Setelah heboh terjadi di Sarolangun, kini aksi tersebut mulai

 

Jumat, 19 Oktober 2018 21:55 WIB

Sekda Bahtiar Lantik 13 Tenaga Guru dan Fungsional


Kajanglako.com, Batanghari - Sekda Batanghari, Bahtiar Sp, melantik 13 orang tenaga guru dan tenaga fungsional.    Pelantikan tersebut dilaksanakan

 

Jumat, 19 Oktober 2018 21:39 WIB

Kelabui Polisi, WN Malaysia Masukkan Sabu Cair ke Kaleng Softdrink


Kajanglako.com, Tanjung Jabung Barat - Untuk kesekian kalinya, Tim Gabungan dari Kepolisian Sektor Kawasan Pelabuhan Marina Kuala Tungkal, Polairud dan

 

HUT ke-53 Bungo
Jumat, 19 Oktober 2018 18:30 WIB

Plt Gubernur dan Bupati Mashuri Hadiri Sidang Paripurna HUT ke-53 Bungo


Kajanglako.com, Bungo - Pemerintah Kabupaten Bungo memperingati hari jadi yang ke-53, yang dilaksanakan di Gedung DPRD Bungo, Jumat (19/10). Rangkaian