Senin, 10 Desember 2018


Jumat, 06 Oktober 2017 06:29 WIB

Orasi Budaya: Buku dan Keindonesiaan

Reporter :
Kategori : Jejak

Kampung Buku Jogja (Literasi dan Pasar Buku)

Oleh: Hairus Salim H.S.

Saudara-saudara yang terhormat, di mana tempat buku dalam Indonesia kita sekarang ini?



Jika kita berkunjung ke sebuah rumah orang Indonesia, entah kaya atau miskin, entah lulus perguruan tinggi atau hanya sebatas sekolah menengah, entah di kota dan di desa, lalu mencari sebuah atau dua buah buku, ya cukup sebuah atau dua buah buku, bukan se-almari perpustakaan, mungkin kita akan kecewa. Buku bukanlah bagian dari kehidupan sebagian besar keluarga Indonesia modern.

Tak usah dan tak perlu saya ulang di sini, betapa banyak survei menunjukkan betapa rendah minat baca di masyarakat kita. Dalam perlombaan literasi, kita berada di jurang dasar dalam klasemen dan itu artinya peradaban kita sebagai bangsa terus terancam degrasi.

Saudara-saudara, apa pentingnya buku sekarang ini? Buku sebagai sebuah lambang, sebagai sebuah simbol, dan sebagai sebuah metafora. Buku adalah peradaban. Peradaban yang maju, kosmopolit dan besar ditunjang oleh buku. Peradaban yg maju, kosmopolit memperlakukan buku sangat tinggi dan agung. Karena itu marilah kita renungkan keberadaan buku sekarang ini, di antara kepadatan lalulintas berita hoax, yang masuk ke rumah kita sebagai tamu terhormat, kita jamu dengan takzim, dan kemudian bersemayam di lubuk hati kita.

Buku adalah keluasan, bukan kepicikan. Sebagai mediasi informasi dan pengetahuan, buku adalah lambang bagi suatu hamparan yang luas. Atau suatu samudera yang tak berbatas. Entah sudah berapa juta buku ditulis dan masih akan terus ditulis. Entah sudah berapa topik yang dibahas dan masih ada ribuan topik lagi yang akan dibahas. Tiada henti tidak bertepi. Buku akan selalu abadi untuk mengabarkan dan menceritakan keluasan buana ini. Peristiwa-peristiwa masa lalu dicatat dan dikenang melalui buku. Tragedi direnungkan lewat buku, komedi ditertawakan oleh buku. Seorang pembaca buku mestinya adalah seorang jembar pikiran dan luas wawasan, bukan seorang yang picik dan sempit.

Buku adalah keragaman, bukan ketunggalan. Karena ia adalah keluasan, maka ia tampil tidak dalam satu bentuk, satu warna, satu jenis. Ada banyak warna, ada beragam jenis, ada bermacam bentuk. Buku adalah sebuah republik demokrasi yang dihuni bermacam orang dengan beragam keinginan dan bermacam kepentingan. Buku adalah metafora bagi keragaman, bukan ketunggalan. Ribuan hingga jutaan lembar kertas dipersembahkan untuk penulisan buku pada hakikatnya hanya untuk mengabarkan dunia yang an’wa, yang beragam tersebut, dengan berbagai drama, sedih dan gembira, dengan berbagai tokoh –jahat dan baik- dan dengan berbagai lakon di dalamnya. Seorang pembaca buku adalah seorang yang melihat sebuah taman penuh bunga, dan ia tenggelam di dalam keindahan warna-warni bermacam bunganya. Ia bahagia bernafas di dalamnya.

Buku adalah perbedaan, bukan persamaan. Keluasan dan keragaman akhirnya membawa resiko pada banyak hal, dan tidak seorang pun yang bisa seiring dan sejalan, sepakat dan sependapat, dalam setiap hal dengan orang lain. Selalu ada celah yang kecil –dan tak jarang jurang yang menganga lebar—di mana orang berbeda dan bersimpang jalan pada suatu, dua atau bahkan lebih hal. Buku adalah simbol bagi perbedaan. Jika dunia ini dan orang-orang di dalamnya sama di zaman apapun, dan daerah manapun, maka buku sejak dulu sudah berhenti diproduksi. Buku sudah lama berakhir riwayatnya. Buku membisiki kita di tengah malam yang sunyi atau menggampar kita di hiruk-pikuk kota yang sibuk bahwa perbedaan adalah sunnatullah. Lalu ia menuntut kita untuk menerima dan tunduk pada kenyataan itu.

Buku adalah kedalaman, bukan kedangkalan. Keluasan, keragaman, dan perbedaan itu akhirnya membutuhkan pemahaman, pengertian, pengetahuan. Ia tidak semata luas, tidak hanya beragam, dan juga tak sekadar berbeda. Ia lebih dari semua itu. Buku datang dengan kedalaman. Yang luas itu bisa dijelajahi, yang beragam itu bisa disinggahi dan yang berbeda itu --setebal apapun-- bisa dimengerti dan diterima. Pada awalnya kita berenang di permukaan airnya, tapi akhirnya menyelam ke kedalamannya. Buku adalah pangkal bertolak dari kedangkalan menuju ke kedalaman. Dan sekali kita menyentuh dan sampai pada kedalaman, buku telah berubah menjadi jalan spiritual dan pengayaan jiwa. Membaca menjadi sebuah pencarian.

Buku adalah kelengkapan, bukan potongan dan kepingan. Sebagai sebuah menu, buku adalah kelengkapan, keutuhan. Dia memiliki asal dan tujuan. Dia punya awal Dan akhir yang jelas. Keutuhan ini membuat orang melihat sesuatu di dalam konteks dan latarnya yang jelas. Ia hendak menjawab semua jenis permasalahan yang menjadi pertanyaanya, meski pertanyaan ini tidak seluruhnya bisa ia jawab. Dan kalau pun bisa menjawab, maka jawaban itu melahirkan pertanyaan-pertanyaan baru. Ia memang bukan semata potongan-potongan, patahan-patahan, kepingan-kepingan.

Buku adalah kerendahhatian, bukan kejumawaan. Betapa luas dunia ini, betapa beragam penghuninya, betapa banyak peristiwa dan masalah yang ditorehkan di dalamnya, apakah kita bisa memahaminya? Tidak, tak akan bisa. Makin kita memahami dan mengetahuinya, makin banyak yang justru tidak kita pahami dan kita mengerti. Makin ingin kita pintar, makin sadar kita bahwa kita sebenarnya bodoh nian. Buku menuntut kerendahhatian, bahwa kita hakikatnya kecil dan kerdil, pengetahuan kita sangat minim dan terbatas, karena itulah kita memerlukan buku untuk terus belajar, untuk terus memahami, untuk senantiasa menjelajah, dan untuk terus mencari. Kerendahhatian adalah landasan untuk bergerak terus ke dapan, sedangkan kejumawaan adalah pintu dekadensi dan kematian.

Saya tidak tahu, di manakah dan bagaimanakah tempat buku dalam rumah Indonesia kita sekarang ini? Apakah Indonesia adalah sebuah buku tua di atas almari yang lusuh, berdebu dan rontok dimakan rayap? Atau Indonesia adalah buku yang lembaran kertas-kertasnya telah sobek dan sebagiannya telah raib entah di mana?

Jangan-jangan Indonesia adalah negeri yang telah kehilangan buku. Semoga saja tidak!

Demikian, terima kasih.

 

*Orasi ini disampaikan oleh Hairus Salim pada 5 Oktober 2017 di Kampung Buku Jogja. Ia adalah Deputy Director Yayasan LKiS, Yogyakarta. Aktif sampai sekarang meneliti, menyunting, menerjemah sejumlah buku dan menulis masalah-masalah agama, kebudayaan, dan politik kebudayaan. Selain itu, sesekali juga diminta mengajar secara ‘luar biasa’ di Universitas Sanata Dharma, Atma Jaya, dan UGM, Yogyakarta. Pemuatan teks orasi ini atas izin yang bersangkutan.


Tag : #Literasi #Kampung Buku Jogja #Pasar Buku #Peradaban



Berita Terbaru

 

Minggu, 09 Desember 2018 17:45 WIB

Premi BPJS Kesehatan ASN Muarojambi Capai Rp12,24 Miliar


Kajanglako.com, Muaro Jambi - Setiap tahun Pemerintah Kabupaten Muarojambi mengeluarkan dana sebesar Rp12,24 miliar.    Dana sebesar itu digunakan

 

Minggu, 09 Desember 2018 17:31 WIB

Kontraktor Curi Listrik, Saryoto Sebut Pihak Rekanan Lobi Denda ke PLN Jambi


Kajanglako.com, Batanghari - Hingga saat ini, KWH di Kantor Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak

 

Minggu, 09 Desember 2018 17:08 WIB

Tumpukan Sampah Bikin Kesal, Warga Bagan Pete Blokir Jalan


Kajanglako.com, Jambi  - Puluhan warga Bagan Pete RT 15 Kenali Besar, Kota Jambi, melakukan aksi pemblokiran jalan. Minggu (9/12).   Aksi merupakan

 

Minggu, 09 Desember 2018 11:18 WIB

BNNK Bungo Antisipasi Meningkatnya Peredaran Narkoba Jelang Tahun Baru


Kajanglako.com, Bungo - Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Bungo mengantisipasi peningkatan peredaran barang haram jelang Tahun Baru 2019.   Ketua

 

Sabtu, 08 Desember 2018 14:56 WIB

Biaya Makan Napi Minus, Lapas Sarolangun Hutang ke Rekanan


Kajanglako.com, Sarolangun – Anggaran untuk makan Napi di Lapas Klas III Sarolangun yang dikucurkan Kementerian Hukum dan HAM melalui Dirjen Pemasyarakatan