Selasa, 25 September 2018


Sabtu, 18 Agustus 2018 08:35 WIB

Depati Mandjoh di Soengei Sikladi

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Jalan baru itu muncul di Soengei Bahar, di dekat Pangkalan Raden Kikir. Kira-kira 10 pal dari Djambi, jalan itu berbagi dua. Yang satu menuju ke Pangkalan Benteng.



Hujan deras membuat mereka tak dapat tidur. Walaupun demikian, pukul 07.30 mereka  sudah siap berangkat. Jalan yang ditelusuri melewati belantara lebat di daerah yang berbukit-bukit.

Mereka tidak hanya harus turun-naik mendaki bukit dan menuruninya lagi, tetapi juga sesekali harus melewati sungai-sungai dan rawa-rawa. Untunglah tersedia jembatan di beberapa sungai untuk menyeberanginya.

Setelah beberapa jam berjalan, mereka tiba di sebuah pondok, yang serupa dengan pondok tempat mereka menginap malam sebelumnya. Pondok itu dibangun di bagian ujung jalan yang sedang dipersiapkan. Setelah tempat itu, jalan yang sudah diperlebar dengan penebangan pepohonan kembali menjadi jalan setapak yang berbelok-belok di dalam hutan.  Mereka sudah mendekati kampong tempat tinggal Depati Mandjoh yang mengepalai orang Koeboe di Djambi.  

Kini, di depan mata tampak sebuah pondok yang terletak di tepian Soengei Sikladi. Niessen teringat bahwa ia pernah berkenalan dan berbicara sebentar dengan sang Depati ketika salah seorang anak buahnya—seorang pekerja paksa—bekerja sama dengan Depati itu untuk menebang pepohonan untuk membuka jalan. Ia mengutus anak buahnya itu untuk mengundang sang Depati bertemu dengannya. Tak lama kemudian, Depati itu datang. Lelaki itu berperawakan kokoh dan menunjukkan sikap yang tidak malu-malu.

Ketika Schouw Santvoort menyampaikan keinginannya untuk mengunjungi kampungnya, Depati itu tampak agak ragu-ragu. Seperti juga dirinya, warga kampungnya belum pernah melihat orang asing berkulit putih. Ia khawatir bahwa mereka akan berlari menyelamatkan diri bila kedua lelaki Belanda itu muncul di kampungnya.

Setelah dibujuk dengan hadiah berupa selembar kain untuk dirinya dan hadiah kain, manik-manik serta sisir-sisir cantik penghias rambut untuk isteri dan anak-anaknya, Depati itu akhirnya setuju memperkenalkan Schouw Santvoort dan Niessen kepada warga kampungnya.

Ia berbalik arah, berjalan kembali ke kampungnya. Schouw Santvoort dan Niessen mengiringi langkahnya di jalan setapak sepanjang kira-kira 20 meter yang hampir tak dapat dilalui oleh rapatnya belukar yang tumbuh di sekitarnya. Sebuah lahan yang terbuka terdapat di luar hutan itu, dengan tiga buah rumah yang papa. Delapan orang Koeboe (tiga di antaranya perempuan), duduk di rumah Depati Mandjoh. Mereka hanya mengenakan secarik kain yang diikat di pinggang dan dibelit di antara kedua kaki mereka. Depati Mandjoh mengenakan sarung yang menutupi tubuhnya dari pinggang sampai ke lutut.

Depati Mandjoh mengajak anak perempuannya yang bungsu—umurnya kira-kira 13 atau 14 tahun—duduk-duduk bersama mereka. Anak itu belum lama sebelumnya baru saja menikah. Ia tak perlu malu-malu lagi. Kaum lelaki Koeboe bertubuh besar dan kokoh; kaum perempuan berkulit lebih putih dan lebih mirip dengan perempuan-perempuan dari daerah Eropa selatan dibandingkan dengan orang dari suku lain di nusantara.

Mereka tampak senang dengan cenderamata-cenderamata kecil yang disampaikan oleh Niessen dan Schouw Santvoort. Sebagai tanda terima kasih, mereka memberikan seekor ayam dan dua ekor burung parkit. Ayam, parkit-parkit itu dan beberapa ekor merupakan binatang peliharaan mereka.  (Catatan tambahan dari redaksi Aardrijskundig Genootschap: Pada bulan Agustus 1878, masyarakat Koeboe ini dikunjungi juga oleh van Hasselt dan Cornelissen dan pada bulan Januari 1879, oleh Cornelissen. Dua orang pertama datang dalam konteks Ekspedisi Sumatera Tengah sementara Cornelissen memang sengaja datang untuk mempelajari pola hidup, adat dan kebudayaan mereka. Dalam tulisan ini, uraian Schouw Santvoort dipersingkat. Pembahasan lebih rinci terdapat di bagian lain).

Berbeda dengan warga di permukiman-permukiman Koeboe yang lain, keluarga-keluarga di kampung itu merasa bangga bahwa sebuah jalan akan dibangun di sana. Karenanya mereka tidak meninggalkan kampung mereka, padahal pada umumnya orang Koeboe dikenal liar dan takut bertemu orang luar. Pembukaan hutan untuk pembuatan jalan sudah cukup untuk membuat mereka menyeruak mencari perlindungan di dalam belantara.

Sore hari menjelang pukul 17.00, mereka kembali ke pondok di tepian Soengei Sikladi, tempat mereka menemui Depati Mandjoh. Schouw Santvoort, Niessen dan rombongannya meneruskan perjalanan. Letih dan lelah, dengan pakaian yang sobek-sobek oleh duri-duri belukar di hutan, mereka tiba di Pangkalan Benteng. Pukul 19.15. Hari sudah malam. Tak mungkin lagi mereka meneruskan perjalanan karena jalan setapak yang ditelusuri acapkali hilang tertutup oleh akar dan batang-batang pohon yang tumbang. Tambahan lagi, seluruh tubuh mereka sudah menjadi santapan nikmat lintah-lintah.

Di  Pangkalan Benteng terdapat reruntuhan tembok yang pernah didirikan oleh seorang pangeran dari Djambi. Di kampung kecil itu, sebuah pondok sudah disiapkan sebagai tempat menginap malam itu. Soengei Bahar, di dekatnya, berlumpur dan tampak keruh. Namun, seluruh rombongan bersyukur dapat mandi dan membersihkan diri di air sungai itu di bawah cahaya bulan.

Keesokan harinya, 22 April, seorang suruhan Niessen menyampaikan bahwa ia telah menemukan sebuah perahu daoeb. Perahu itu sebetulnya milik Pangeran Hassan dari Djambi yang menambatkannya di Kandang, sebuah kampung orang Koeboe. Perahu itu dipersiapkannya untuk sewaktu-waktu bila ia hendak bepergian ke Palembang. Mengapa ditambatkan di kampung orang Koeboe itu? Rupanya untuk menunjukkan kekuasaan dan pengaruhnya di situ, walau sebetulnya kampung Kandang termasuk di dalam wilayah yang telah dikuasai Belanda. Kepala kampung itu bersedia meminjamkan perahu itu kepada Schouw Santvoort untuk perjalanannya ke Palembang.

Tibalah saat untuk berpamitan kepada tuan rumah dan pemandunya. Schouw Santvoort sungguh berterima kasih atas bantuan mereka. Dari rombongannya sejak semula, kini tinggal Hadji Abdoellah, Katib Sampono, para djoeroetoelis dan dua orang kuli.  Toean Niessen meminjamkan seorang sipir bersenjata dari Djambi, seorang agen kepolisian yang membawa senjata dan lima orang pekerja paksa untuk mendayung dan mengemudikan perahu.

Setelah semuanya beres, pukul 16.30 sore, Schouw Santvoort naik ke atas perahu daoeb yang sarat dengan muatan: perbekalan dan penumpang. Di tempat pemberangkatannya itu, lebar Soengei Bahar mencapai 50 meter. Namun, karena tepiannya penuh dengan ‘rasoh’--semacam alang-alang air—sungai itu tampak lebih sempit. Setelah melewati muara Soengei Kandang, perahu itu meluncur di atas Soengei Lalang. Di balik awan, rembulan bersinar. Mereka terus berlayar, sepanjang malam.

* Acuan Kepustakaan: PJ Veth. Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, uitgerust door het Aardrijkskundig Genootschap, 1877-1879 . Jilid II. Leiden: EJ Brill. 1882.


Tag : #Midden Sumatra Expeditie 1877-1879 #Jambi dalam Naskah Klasik Belanda



Berita Terbaru

 

Selasa, 25 September 2018 18:04 WIB

Sosialisasi Pemilu Damai di Bungo, Kapolda: Berbeda Pilihan, Jangan Merusak Persaudaraan


Kajanglako.com, Bungo - Kapolda Jambi, Irjen Pol Muchlis. Mensosialisasikan bahaya Radikalisme, Terorisme dan Pemilu Damai ke Kabupaten Bungo.    Kedatangan

 

Kekerasan Terhadap Jurnalis
Selasa, 25 September 2018 15:05 WIB

Penyidikan Kasus Ancaman Pembunuhan Wartawan, Camat Marosebo Ulu Berhalangan Hadir


Kajanglako.com, Batanghari - Polres Batanghari terus melakukan penyelidikan terhadap kasus ancaman pembunuhan wartawan yang dilakukan oknum ASN Kantor

 

Selasa, 25 September 2018 13:43 WIB

Penjual Emas PETI Diamankan saat Tunggu Pembeli di Pinggir Jalan


Kajanglako.com, Merangin - Polisi Resor Merangin mengamankan dua orang penjual emas hasil pertambangan ilegal. Pelaku diamankan di wilayah Kelurahan Pasar

 

Lelang Jebatan
Selasa, 25 September 2018 13:26 WIB

Tiga Besar Lelang Jabatan Pemprov Diumumkan, Ini Daftarnya


Kajanglako.com, Jambi - Panitia Pelaksana Lelang Jabatan Pemprov Jambi, telah mengumumkan tiga besar terbaik hasil uji kompetensi lelang jabatan Eselon

 

Unjuk Rasa
Selasa, 25 September 2018 12:57 WIB

Pilrio Ditunda, Warga Ujung Tanjung Unjuk Rasa ke DPRD Bungo


Kajanglako.com, Bungo - Ratusan masyarakat Dusun Ujung Tanjung, Kecamatan Jujuhan menggeruduk Kantor DPRD Bungo, Selasa (25/9).   Dalam aksinya warga