Selasa, 25 September 2018


Sabtu, 11 Agustus 2018 15:37 WIB

Djambi dan Jalan ke Palembang

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Pagi-pagi tanggal 18 April, sekitar pukul 05.00, perahu-perahu mereka melewati muara Pidjoean, melewati kampung Mendala dan kemudian, tiba di Djambi pukul 11.00.  Bukan main senangnya Schouw Santvoort. Mereka telah lama berperahu. Dari Rantau Ikir sampai ke Djambi memakan waktu selama 91 jam. Selama itu pula, ketegangan  mencekam tubuhnya.



Maklum, sepanjang perjalanan pertanyaan-pertanyaan mengenai situasi politik di daerah-daerah yang dilaluinya mendera kepalanya, tanpa jawab. Sungguh, ia lelah lahir dan batin. Walaupun demikian, ia tak lupa tujuan utama kedatangannya di daerah itu, yaitu mengamati dan mencatat segala-sesuatu mengenai sungai yang dilaluinya—lebarnya, kedalamannya, arus dan alirannya serta hal-hal di dalam dan sekitar sungai yang dapat menghambat pelayaran kapal uap ekspedisi Sumatra tengah.

Informasi yang dikumpulkannya jauh dari lengkap, tetapi itu cukup untuk membuat peta sementara dan memberikan gambaran mengenai kesulitan-kesulitan yang kemungkinan akan dihadapi.

Di Djambi, ia ditunggu oleh Niessen yang menyambutnya dengan wajah lega. Tak berapa lama sebelum perahu-perahu Schouw Santvoort tiba, Niessen mendapat kabar bahwa beberapa orang dari daerah hulu sedang di perjalanan untuk membuat keributan di Djambi. Kabar ini tentu saja membuatnya khawatir.

Untuk dapat mengejar pelayaran dengan kapal pos yang akan berangkat pada tanggal 28 April dari Palembang ke Batavia, bersama Niessen, Schouw Santvoort menyusun rencana untuk berangkat ke Palembang pada tanggal 20 April.

Sebagian perjalanan ke Palembang akan dilakukan melalui jalan darat. Jalan  yang sedang dipersiapkan oleh Niessen itu memotong rimba dan direncanakan menghubungkan Batang Hari dengan Lalang dan menghubungkan Djambi dan Palembang. Bila jalan itu telah selesai, perjalanan melalui laut tak diperlukan lagi.

Tanggal 19 April, Schouw Santvoort sibuk mempersiapkan keberangkatannya. Ia juga sibuk menyiapkan segala-sesuatu untuk perjalanan pulang orang-orang yang telah menyertainya menjelajah. Ia menyiapkan surat pernyataan berterima kasih atas bantuan Toemenggoeng Rantau Ikir dan Sirih Sekapoer serta untuk Radja di Sambah.

Berkat bantuan merekalah, ia tiba dengan selamat di Djambi. Menantu para Toemenggoeng itu serta doebalang-doebalang mereka akan juga akan meninggalkan Djambi esok harinya, tanggal 20 April, naik sampan. Sebagai tanda terima kasih dan upah, Schouw Santvoort memberikan ƒ 100,- untuk mereka.

Malam itu, orang-orang pribumi—anak buah Schouw Santvoort—merayakan kedatangan di Djambi dengan selamatan di rumah Mantri (Schouw Santvoort menduga bahwa Mantri itu merupakan wakil Sultan di Djambi). Mereka memotong kambing untuk acara syukuran itu.

Dari tiga orang Djambi yang ikut penjelajahan itu, hanya seorang saja yang tampak betul-betul menikmati makanan yang dihidangkan. Dua orang lainnya tampak rikuh dan agak resah. Mereka memilih untuk menunggu di dalam sampan saja.

Senang dan puas karena sudah tiba dengan selamat di Djambi bercampur dengan kesedihan di hati Schouw Santvoort. Ia terpaksa meninggalkan Oedjir di tempat itu. Pembantunya yang setia itu masih saja sakit. Lelaki itu muntah-muntah darah. Rupanya ia terjangkit penyakit beri-beri. Schouw Santvoort berterima kasih dan pamit kepada Oedjir, anak-anak buah Toemenggoeng dan nyonya rumah yang telah menyambutnya dengan ramah-tamah.

Keesokan harinya, Schouw Santvoort naik lagi ke atas sampan. Ia ditemani oleh Niessen, yang ingin mendampinginya sampai ke Bahar, anak sungai Lalang. Tempat itu akan dilalui oleh jalan yang baru. Schouw Santvoort mendayung kira-kira sejauh 10 pal (1 pal = 1859 m) di Soengei Asam. Itu dilakukannya untuk menghindari rawa-rawa yang nantinya akan sebagian jalan baru tadi. Kira-kira 2.5 pal dari Djambi, sungai itu memotong jalan yang direncanakan. Jalan itu pertama-tama menghubungkan Djambi dan Pangkalan Benteng di tepian Soengei Bahar. Jalan di antara kedua tempat serupa garis lurus sepanjang 27 pal.

Sayangnya, jalan itu masih jauh dari terwujud. Pemerintah Hindia-Belanda bahkan belum menyediakan dana yang diperlukan untuk membangunnya. Walau  pun demikian, sudah banyak yang dilakukan untuk mempersiapkannya. Jalan setapak di hutan, yang memang sudah ada, diperlebar dengan menebang pepohonan dan membuka hutan. Semua itu dibawah pengawasan Niessen, agen Politik yang bersemangat sekali membuat jalan penghubung di antara Djambi dan Palembang.

Beberapa saat setelah meninggalkan Djambi, jalan itu pertama-tama melewati daerah yang agak berbukit, kemudian mendekati daerah berawa-rawa (yang dihindari oleh Schouw Santvoort), lalu mengikuti aliran Soengei Asam. Sungai ini beberapa kali memotong jalan itu di beberapa tempat. Suatu saat, jalan itu mulai menanjak lagi sampai di dekat rumah Depati Mandjoh, kepala (adat) orang Koeboe. Dari rumah itu sampai ke Soengei Bahar, jalan itu melewati dataran rendah yang berawa-rawa.   

Pukul 20.00, mereka menepi dan naik ke darat. Setelah berjalan selama kira-kira sejam, mereka tiba di sebuah rumah orang Koeboe yang kosong karena pemiliknya sedang berburu atau meramu hasil hutan.

Di dalam belantara di daerah ini banyak tumbuh pepohonan yang sangat berguna sebagai bahan bangunan dan pepohonan yang menghasilkan berbagai macam getah dan lilin lebah. Sayangnya, kekayaan berupa hasil hutan itu tak banyak terkumpul karena jumlah penduduk yang tinggal di daerah di antara Soengei Lalang, Moesi, Djambi dan laut sedikit sekali.

Menjelang siang, di antara pk. 11.00—k. 12.00, mereka menepi lagi. Para kuli sudah terlalu letih. Setelah beristirahat dan makan, perjalanan diteruskan lagi sampai pk 17.00. Mereka menginap di sebuah rumah kosong, di pinggir jalan itu.

* Acuan Kepustakaan: PJ Veth. Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, uitgerust door het Aardrijkskundig Genootschap, 1877-1879 . Jilid II. Leiden: EJ Brill. 1882

 


Tag : #Schouw Santvoort dari Djambi ke Palembang #Ekspedisi Sumatera Tengah



Berita Terbaru

 

Kekerasan Terhadap Jurnalis
Selasa, 25 September 2018 15:05 WIB

Penyidikan Kasus Ancaman Pembunuhan Wartawan, Camat Marosebo Ulu Berhalangan Hadir


Kajanglako.com, Batanghari - Polres Batanghari terus melakukan penyelidikan terhadap kasus ancaman pembunuhan wartawan yang dilakukan oknum ASN Kantor

 

Selasa, 25 September 2018 13:43 WIB

Penjual Emas PETI Diamankan saat Tunggu Pembeli di Pinggir Jalan


Kajanglako.com, Merangin - Polisi Resor Merangin mengamankan dua orang penjual emas hasil pertambangan ilegal. Pelaku diamankan di wilayah Kelurahan Pasar

 

Lelang Jebatan
Selasa, 25 September 2018 13:26 WIB

Tiga Besar Lelang Jabatan Pemprov Diumumkan, Ini Daftarnya


Kajanglako.com, Jambi - Panitia Pelaksana Lelang Jabatan Pemprov Jambi, telah mengumumkan tiga besar terbaik hasil uji kompetensi lelang jabatan Eselon

 

Unjuk Rasa
Selasa, 25 September 2018 12:57 WIB

Pilrio Ditunda, Warga Ujung Tanjung Unjuk Rasa ke DPRD Bungo


Kajanglako.com, Bungo - Ratusan masyarakat Dusun Ujung Tanjung, Kecamatan Jujuhan menggeruduk Kantor DPRD Bungo, Selasa (25/9).   Dalam aksinya warga

 

Selasa, 25 September 2018 12:35 WIB

Di Tungkal Marak Penipuan Berkedok Undian Berhadiah


Kajanglako.com, Tanjung Jabung Barat - Ada cara saja pelaku penipuan untuk mengelabui korban, saat ini di Kuala Tungkal tengah marak penipuan berkedok