Kamis, 13 Desember 2018


Rabu, 08 Agustus 2018 07:36 WIB

Penjenamaan Kota: Masyarakat sebagai Modal Sosial

Reporter :
Kategori : Perspektif

ilustrasi. Jembatan Genta Arasy di Kota Jambi

Oleh: Ricky A Manik*

Beberapa tahun yang lalu, walikota Jambi, Sy. Fasha sedang gencar-gencarnya membangun dan memperbaiki berbagai fasilitas umum dan ruang-ruang publik. Sebagai pemimpin yang teknokrat, ia memandang keberhasilan sebuah kota dilihat dari meningkatnya tempat perbelanjaan, hotel-hotel, dan membaiknya fasilitas-fasilitas umum seperti jalan dan taman-taman kota. 



Tak ada yang salah apa yang dilakukan oleh Walikota Jambi tersebut. Masyarakat bisa menikmati jalan-jalan yang sudah melebar di ruas tertentu. Masyarakat juga menikmati fasilitas berupa tempat nongkrong yang diasosiasi oleh Walikota tersebut sebagai tempatnya para jomblo merenung nasibnya yang tak kunjung menemukan tambatan hati.

Beberapa taman itu dinamai, seperti Pedestrian Jomblo, Taman PKK, Taman Jaksa, Taman Tugu Pers, Taman Singkawang, dan lainnya. Nah, yang menarik perhatian saya—yang menjadi inspirasi tulisan ini—adalah bagaimana sebuah kota dibangun dan dikatakan berhasil tanpa melihat pertumbuhan ekonomi dan keterlibatan masyarakatnya sebagai modal sosial?

Penjenamaan Kota

Dua kemungkinan sebuah jenamaan (brand) kota terbentuk. Pertama, ia terbentuk dengan sendirinya seiring waktu atau secara alamiah. Kedua, dibentuk atau diciptakan. Jenamaan yang terbentuk secara alamiah bisa terkait dengan kecenderungan terjadinya proses alam pada suatu daerah tersebut. Sebut saja seperti Bogor sebagai kota hujan dan Jakarta sebagai kota banjir dalam pemaknaan publik.

Ibarat sebuah merek dagang, kota atau suatu daerah dapat juga dipasarkan dengan tujuan-tujuan yang sama. Suatu kota dapat dipromosikan sebagai tempat tinggal, tujuan beragam jenis wisata (budaya, tambang, alam, dll.), investasi, tempat bekerja, dan lain sebagainya. Oleh sebab itu, penjenamaan sebuah kota bukan berangkat dari penamaan yang dibuat selepas tidur. Ia merupakan serangkaian asosiasi, persepsi kualitas dan diferensiasi unik yang harus dipelihara relevansinya melalui strategi dan taktik pemasaran yang terintegrasi.

Di Amerika, penjenamaan kota dibentuk dengan tujuan menstimulasi pertumbuhan ekonomi, sedangkan di negara-negara Eropa dimaksudkan untuk seluruh aspek kesejahteraan sosio-ekonomis masyarakatnya. Terkait dengan semua bentuk dan tujuan tersebut, penjenamaan kota memiliki tujuan maksimal terkait dengan aktifitas-aktifitas untuk meningkatkan kualitas hidup penduduk lokalnya.

Penjenamaan kota dipahami sebagai keseluruhan tindakan atau aktivitas untuk membangun imej positif sebuah kota atau wilayah serta selanjutnya mengkomunikasikannya dengan target grup/sasaran secara visual, naratif, atau melalui pergelaran-pergelaran dan festival-festival  secara lokal, nasional dan internasional untuk memperoleh sebuah keunggulan kompetitif dengan kota-kota atau wilayah-wilayah lainnya.

Di Indonesia, beberapa kota yang dikenal memiliki taglineadalah Jakarta dengan “Enjoy Jakarta”, Yogyakarta dengan “Never Ending Asia”, dan Bandung dengan “Paris van Java”, sedangkan untuk di luar pulau Jawa, baru-baru ini, pemerintah provinsi Bali menerbitkan tagline “Shanti, Shanti, Shanti”. Namun, apakah penjenamaanadalah semata-mata tagline?.

Seperti telah diulas sebelumnya, penjenamaan kota bukanlah permainan kata tetapi menyangkut nilai (value)produk atau kota itu sendiri. “Enjoy Jakarta” dianggap tidak mampu memperbaiki keadaan. Pertanyaan yang kerap dilontarkan oleh para peneliti adalah apakah seseorang mampu “enjoy Jakarta” dengan situasi macet, banjir, tidak tertib, jorok dan lain sebagainya? Ini artinya bahwa logo, tagline, dan promosi gencar yang dilakukan pemerintah Jakarta tidak cukup untuk membangun sebuah jenama.

Hal lain yang menjadi temuan dalam beberapa riset evaluasi “Enjoy Jakarta” adalah tentang kurangnya keterlibatan publik dalam mempromosikan program tersebut, sehingga dianggap ini hanya program pemerintah semata. Selain itu, masalah klise yang sering muncul adalah masalah pendanaan dan sistem birokrasi pemerintah yang berbelit-belit.

Sementara pada kota atau daerah di luar pulau Jawa, masih sulit menemukan upaya-upaya pemangku kepentingan membangun jenamasecara sistematis. Beberapa kota atau kabupaten hanya mempromosikan tempat-tempat wisata secara konvensional, misalnya melalui iklan ublicl dan pemasangan baliho, dengan harapan bahwa upaya promosi tersebut akan menarik wisatawan untuk berkunjung atau menarik investor untuk menanamkan modal. Namun, apakah upaya sederhana itu mampu mewujudkan harapan yang mereka inginkan? Atau mereka hanya akan menghambur-hamburkan anggaran yang dikelola setiap tahun namun tidak memberi efek signifikan terhadap tujuan yang ingin dicapai?

Masyarakat sebagai Modal Sosial

Pembangunan kota yang dilakukan walikota Jambi barulah sebatas memperbaiki fasilitas publik dan memberikan izin usaha perhotelan dan mal, tetapi belum pada bagaimana menjadikan masyarakat Jambi sebagai modal sosial yang dapat digerakkan dalam pertumbuhan ekonomi kota Jambi.

Kita dapat melihat contoh bagaimana Bali berhasil menjadikan masyarakatnya sebagai bagian dari satu penjenamaan bukan saja dari objek wisata yang mereka miliki tetapi sosialkultural orang Bali.

Kebudayaan orang Bali menjadi magnet tersendiri untuk menarik wisatawan yang tidak saja menikmati panorama alam yang ditawarkan. Mulai dari berbagai ritual keagaamaan, tempat-tempat keagaaman beserta arsitekturnya, kesenian-keseniannya, dapat kita jumpai di setiap tempat, baik itu di rumah-rumah masyarakatnya ataupun di tempat perhotelan.

Di kota Sawahlunto, Sumatera Barat, kota yang nyaris menjadi kota mati setelah pertambangan batubara sejak zaman kolonial sudah tidak beroperasi lagi disulap menjadi kota tambang yang berbudaya. Kota Sawahlunto menjadikan bekas tambang (dengan segala peninggalannya) menjadi objek wisata sejarah dengan beragam kebudayaan yang dimilikinya (bisa baca buku Dr. Elsa yang berjudul: “Menggali Bara, Menemu Bahasa: Bahasa Tansi, Bahasa Buruh dari Sawahlunto”).

Sawahlunto tidak saja menjadikan objek peninggalan sejarah tambang sebagai suatu strategi dalam menarik minat pendatang, tetapi juga memanfaatkan sosialkultural masyarakatnya yang unik. Kita bisa melihat dan menemukan berbagai etnis dalam menghadirkan seni dan kebudayaannya.

Kembali pada apa yang sedang dibangun oleh walikota Jambi, Sy Fasha untuk kota Jambi saat ini. Kalau Tuan/Puan baru pertama datang ke Jambi, kemungkinan besar Tuan/Puan akan melewati simpang Jelutung. Tuan/Puan akan menemukan sebuah tagline  Jambi Garden City. Tetapi Tuan/Puan akan kesulitan mencari taman yang benar-benar menjadi representasi dari berbagai aktivitas sebagai imej positif suatu kota.

Tuan/Puan malah lebih banyak menemukan ruko (rumah toko) dibandingkan taman. Panamaan ini dibuat oleh Walikota sudah pasti dikarenakan beberapa taman kota Jambi telah direnovasi dan diberi nama sehingga hal tersebut menandakan bahwa di Jambi memiliki banyak taman (baik itu sebagai lahan hijau atau tempat bermain).

Bagi seorang Fasha, barangkali itu hanya penamaan saja, tetapi bagi sebuah tagline atau penamaan kota yang dipampang di ruang publik itu keliru. Jambi sebagai “kota taman” bukan sebuah nilai produk dari kota yang dapat menstimulasi pertumbuhan ekonomi masyarakat Jambi. Penamaan itu jelas jauh panggang dari api untuk aspek kesejahteraan masyarakat dan aktivitas-aktivitas yang dapat meningkatkan kualitas hidup penduduk lokalnya.

Nah, kalau Tuan/Puan akan diajak ke Tanggorajo di malam hari sembari memakan jagung bakar, di seberang sungai Batanghari, Tuan/Puan akan menemukan tagline lagi yang bernama JambiKota Seberang. Jadi, yang mana sebenarnya tagline Kota Jambi yang menjadi representasi sosialkultural masyarakat Kota Jambi? Saya pun tak bisa memahaminya.

*Penulis adalah peneliti sastra. Kini bekerja di Kantor Bahasa Jambi.


Tag : #Kota Jambi Terkini #Kota Jambi dan Ruang Publik #Brand dan Orientasi Pembangunan Kota Jambi



Berita Terbaru

 

Kecelakaan Maut
Kamis, 13 Desember 2018 09:21 WIB

Ucapan Duka untuk Santri Korban Kecelakaan Mobnas Camat Jangkat Timur Mengalir di Medsos


Kajanglako.com, Merangin - Kecelakaan tunggal mobil dinas Camat Jangkat Timur yang mengakibatkan tiga korban tewas di Jalan AMD Muarabulian, Kabupaten

 

Kecelakaan Maut
Kamis, 13 Desember 2018 08:41 WIB

[Foto-foto] Kecelakaan Maut Mobil Dinas Camat Jangkat Timur


 

Kamis, 13 Desember 2018 08:23 WIB

Rekanan Lamban, Proyek Drainase Rp6,5 M Distop dan Diadendum


Kajanglako.com, Sarolangun - Pekerjaan proyek drainase tertutup yang berlokasi di Jalan Sriwijaya Sarolangun distop pengerjaannya,

 

Kamis, 13 Desember 2018 08:04 WIB

Pria dan Wanita Muda Ini Ditangkap saat Asik Nyabu di Rumah Bedeng


Kajanglako.com, Tanjung Jabung Barat – Sepertinya hampir setiap hari Kepolisian di Tanjab Barat menangkap pelaku penyalahgunaan Narkoba, terutama

 

Rabu, 12 Desember 2018 20:30 WIB

Dua Pelajar Kesentrum Listrik Akibat Buah Rambutan


Kajanglako.com, Tanjung Jabung Timur - Dua pelajar yang sedang berada di RT 10 Dusun Margomulyo, Desa Pandan Lagan, Kecamatan Geragai, terpaksa harus dilarikan