Senin, 10 Desember 2018


Rabu, 08 Agustus 2018 07:13 WIB

Membangun Kembali Candi Kedaton

Reporter :
Kategori : Ensklopedia

Candi Kedaton di kawasan Percandian Muarojambi. Sumber: Kemdikbud

Oleh: Jon Afrizal*

Memasuki Candi Kedaton seolah membawa kita menuju kegiatan penganut Buddha di rentangan abad ke-8 hingga ke-13 Masehi di Pulau Sumatera. Candi Kedaton adalah satu dari sekian banyak candi di Kompleks Percandian Muara Jambi.



Kompleks yang berada di Desa Danau Lamo Kecamatan Marosebo Kabupaten Muarojambi ini hanya 45 menit dari Kota Jambi, dengan menggunakan jalur darat.

Sama seperti beberapa candi lainnya, Candi Kedaton memiliki banyak candi-candi kecil di sekelilingnya. Candi ini dilingkupi pagar batu bata yang mengelilinginya.

Saat ini candi-candi kecil yang masih berupa gundukan-gundukan batu bata tengah dibangun kembali. Untuk menjadikannya mirip dengan kondisi asli.

Ini bukan perkara mudah. Banyak tenaga ahli yang dilibatkan untuk kegiatan ini. Sementara penduduk lokal, juga dilibatkan. Tetapi hanya sebagai tenaga kasar saja.

Candi ini memiliki lima lapis pagar menuju bangunan utama. Pagar terluar memiliki luasan 5 hektar.

Pemugaran candi ini sendiri adalah tahap ke-10 sejak 2008. Setiap tahun dibutuhkan waktu lima bulan untuk menggarapnya.

Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu dan Bangka Belitung yang berada di bawah Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan berkerja berdasarkan Undang-Undang nomor 11 tahun 2010 tentang cagar budaya. Pekerjaannya melingkupi perlindungan, pengembangan dan pemanfaatan cagar budaya.

Tenaga harian yang berkerja di areal ini sebanyak 69 orang. Sedangkan tim pemugaran yang terdiri dari ahli arkeologi, dan penggambaran sebanyak 20 org.

Setiap batu bata yang rusak dibuatkan batu bata baru sebagai pengganti yang lama. Batu bata ini dicetak di Kabupaten Muarojambi.

"Batu baru diusahakan di bagian dalam, sementara batu bata lama diletakkan di bagian luar. Sebab kualitas batu bata yang lama lebih bagus dibanding cetakan baru," kata arkeolog BPCB, Agus Sudaryadi, baru-baru ini.

Ukuran batu bata 30 x 18 centimeter dengan ketebalan 5 hingga 7 meter.

Sementara bangunan induk memiliki lebar 26 meter x 26 dengan  tinggi 5 meter.

Candi Kedaton memiliki tiga bagian, yakni bangunan induk, perwara, gapura. Candi ini dilindungi parit di bagian utara dan selatan. Parit juga berfungsi sebagai transportasi penghubung antara candi.

Kompleks Percandian Muara Jambi terdiri dari 88 candi. Candi berukuran besar sebanyak 9 candi, 8 di antaranya telah sudah dipugar. Kompleks ini memiliki luas 12 kilometer persegi. 

Tapi kompleks ini tengah menghadapi masalah serius. Pemkab Muarojambi meminta agar luasan candi dikurangi. Tujuannya adalah untuk pemanfaatan yang bernilai ekonomis.

Saat ini terdapat aktifitas ekonomi yang mengelilingi kompleks ini. Seperti perkebunan kelapa sawit, dan areal penampungan batu bara.

Tim ahli dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Junus Satrio Atmojo mengatakan pihaknya telah mengkaji masalah itu. Didapatlah kesimpulan bahwa Pemkab Muarojambi harus segera membentuk tim cagar budaya untuk menjaga kelestarian candi-candi itu.

"Tim terdiri dari berbagai stakeholder dan masyarakat," katanya.

Sejauh ini, katanya, ia belum melihat adanya tindakan dari pemerintah daerah untuk menjaga candi-candi itu. Melainkan malah membuatnya semerawut, dengan mendirikan pasar malam, dan hal-hal bersifat ekonomis lainnya. Dengan demikian pemerintah mendapatkan pendapatan dari sana.

"Perlu pengelolaan yang baik, agar kompleks ini bisa menjadi tempat wisata sejarah yang menarik," katanya.

Ahok, warga setempat yang sering terlibat dalam kegiatan untuk memajukan areal kompleks mengatakan, banyak kunjungan yang dilakukan oleh para penganut Buddha dari luar negeri, terutama dari Tibet, dalam setiap tahunnya.

Mereka umumnya datang untuk beribadah. Selain juga untuk menggali adanya hubungan kompleks ini dengan Tibet. Sebab berdasarkan sejarah lampau, kepercayaan Buddha yang berkembang di Tibet saat ini, berawal dari kedatangan nenek moyang mereka ke kompleks ini. Mereka belajar kepercayaan Buddha di kompleks ini yang dulunya adalah universitas.

"Tapi hanya beberapa orang warga lokal saja yang bisa meng-guide pendatang. Umumnya tidak bisa berbahasa Inggris, dan tidak memahami kompleks ini," katanya 

Sehingga ia meminta agar pemerintah lokal dapat memberikan pelatihan singkat kepada warga lokal. Ini agar warga menjadi paham akan makna kompleks ini. Selain juga untuk meningkatkan perekonomian warga lokal. 

*Penulis adalah Anggota AJI Kota Jambi. 


Tag : #Candi Kedaton Muarojambi #Cagar Budaya Percandian Muarojambi



Berita Terbaru

 

Minggu, 09 Desember 2018 17:45 WIB

Premi BPJS Kesehatan ASN Muarojambi Capai Rp12,24 Miliar


Kajanglako.com, Muaro Jambi - Setiap tahun Pemerintah Kabupaten Muarojambi mengeluarkan dana sebesar Rp12,24 miliar.    Dana sebesar itu digunakan

 

Minggu, 09 Desember 2018 17:31 WIB

Kontraktor Curi Listrik, Saryoto Sebut Pihak Rekanan Lobi Denda ke PLN Jambi


Kajanglako.com, Batanghari - Hingga saat ini, KWH di Kantor Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak

 

Minggu, 09 Desember 2018 17:08 WIB

Tumpukan Sampah Bikin Kesal, Warga Bagan Pete Blokir Jalan


Kajanglako.com, Jambi  - Puluhan warga Bagan Pete RT 15 Kenali Besar, Kota Jambi, melakukan aksi pemblokiran jalan. Minggu (9/12).   Aksi merupakan

 

Minggu, 09 Desember 2018 11:18 WIB

BNNK Bungo Antisipasi Meningkatnya Peredaran Narkoba Jelang Tahun Baru


Kajanglako.com, Bungo - Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Bungo mengantisipasi peningkatan peredaran barang haram jelang Tahun Baru 2019.   Ketua

 

Sabtu, 08 Desember 2018 14:56 WIB

Biaya Makan Napi Minus, Lapas Sarolangun Hutang ke Rekanan


Kajanglako.com, Sarolangun – Anggaran untuk makan Napi di Lapas Klas III Sarolangun yang dikucurkan Kementerian Hukum dan HAM melalui Dirjen Pemasyarakatan