Selasa, 16 Oktober 2018


Sabtu, 04 Agustus 2018 06:38 WIB

Menjelang Doesoen Tengah

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Suatu hal menarik perhatian Schouw Santvoort. Semakin jauh mereka menyusuri sungai menjauhi Rantan Ikil, semakin dekat hubungan sosial di antara orang Melayu dan orang Djambi di dalam rombongannya. Kedua belah pihak tampak mulai saling mempercayai. Terhadap dirinya pun ada perubahan. Kecurigaan orang-orang Djambi terhadap Schouw Santvoort mulai berkurang pula.



Untunglah, pagi hari sebelum mereka berangkat, alam memberkahi dengan cuaca baik. Banyak kampung yang dilewati, termasuk di Pasir Pandjang dan Soengei Boengkal, tersembunyi di balik rerimbunan pohon dan semak di tepian. Mereka menepi sekitar pukul 10.oo. Tak lama; hanya untuk melakukan beberapa perbaikan kecil dan masak nasi saja. Kini, mereka melewati dusun-dusun Poelau Poedjian, Telokh Langkap dan Moeara Tabo.

Perjalanan hari itu lancar. Perahu-perahu itu tak banyak terhalang oleh batang-batang kayu yang terendam atau terapung-apung di permukaan sungai. Daratan di tepian sungai, datar. Setiap kali mereka mendekati suatu kampung, sampan dapur yang kecil maju untuk berlayar di antara tepian dan biloengkang untuk mengalihkan perhatian dari perahu yang lebih besar itu. Mereka terus meluncur dan baru berhenti lagi menjelang tengah malam, di tengah-tengah rimba.

Pagi-pagi, sebelum pukul enam, kedua perahu itu meluncur lagi. Hari itu tanggal 15 April.  Sungai yang mereka layari kira-kira 150 meter lebarnya. Alam yang dilewati tidak menunjukkan banyak variasi. Di sana-sini mereka melawati beberapa kampung. Seseorang menunjuk ke salah satu di antaranya Boepei. Dusun itu adalah dusun yang makmur dengan sekitar 25 rumah. Beberapa rumah itu beratap genteng.  

Mereka semua merasa agak lelah oleh kurang tidur karena selalu harus berjaga-jaga pada malam hari. Untunglah hampir semua anggota tim penjelajahan itu tetap sehat. Yang jatuh sakit hanyalah Oedjir.

Setelah melewati Rantau Api, seseorang mengusulkan agar menepi dahulu dan menunggu sampai matahari terbenam. Dusun berikutnya Telokh Rendah, dusun tempat tinggal Sultan Taha. Lebih baik mereka melewati dusun itu di malam hari saja. Schouw Santvoort mendengarkan dan menerima baik saran para pemandunya. Dalam lindungan kelam, mereka berangkat lagi. Menjelang pk. 22.00, dusun  Telokh Rendah tampak di depan mata.

Dusun itu terang-benderang dengan cahaya lampu. Sultan merayakan suatu selamatan atau pesta. Dari arah rumahnya, terdengar suara orang mengaji. Di dalam biloengkang dan sampan, tak seorang pun membuka mulut. Dayung pun membelah air tanpa suara. Sinar rembulan menerangi tengah sungai, tetapi mereka meluncur diam-diam, berselimut bayang-bayang gelap tepian.

Di darat, tak seorang pun mengamati kedatangan dan kepergian mereka, meninggalkan dusun itu.  Setengah jam kemudian, hujan turun. Angin bertiup kencang. Mereka terpaksa menepi untuk berlindung.

Hujan semalaman baru berhenti menjelang pagi tanggal 16 April. Muara Tabir dan Telokh Nopal Pajoeng  masih sepi. Menjelang siang, mereka terpaksa berhenti untuk memperbaiki sayap biloengkang yang belum dipasang. Beberapa kali, orang yang melihat kesibukan itu, mendekat dan bertanya: “Dari mana?” Setiap kali, menantu Toemenggoeng menjawab: “Dari Batang Hari, untuk mengantar haji.” Rupanya jawaban sederhana itu sudah cukup untuk memuaskan rasa ingin tahu penduduk setempat.

Sejauh ini, mereka tidak banyak bertemu sampan atau perahu lain di atas Batang Hari. Hanya beberapa sampan saja atau biduk yang ditambatkan di pinggir sungai. Setelah mendayung sampai pukul 15.00, mereka tiba di Soekati Gedang, salah sebuah kampung paling besar dan paling makmur yang ditemui dalam penjelajahan selama ini.

Di dekat kampong ini, sungai itu mencapai lebar sebesar 200 meter. Tepiannya rendah dan daratannya pun rendah, sepanjang mata dapat memandang. Beberapa tempat bahkan tergenang air. Genangan-genangan air seperti itulah yang mungkin membuat orang berpikir bahwa di suatu tempat, sungai Djambi itu membentuk sebuah danau.

Setelah melewati  Moeara Rasam , sebuah kampung besar, beberapa kampung yang lebih kecil susul-menyusul sampai kedua perahu itu tiba di muara Tembesi. Daerah itu termasuk wilayah kekuasaan Sultan yang baru; daerah yang dapat dianggap aman oleh Schouw Santvoort.

Walaupun demikian, perahu-perahu itu terus meluncur dan baru menepi di tengah malam—sebetulnya pagi-pagi dinihari pada tanggal April. Itu pun dilakukan karena hujan mulai turun dengan derasnya dan angin bertiup kencang. Air sungai meluap dan membanjir ke tepiannya. Alam membentuk sungai itu menjadi danau-danau berdiamater 500an meter.

Lewat tengah hari, pada tanggal 17  April, setelah melewati berbagai dusun besar dan kecil, mereka tiba di Doesoen Tengah , dusun tempat tinggal Sultan Ahmad. Sebelum menemui lelaki itu, Schouw Santvoort ingin bertemu dulu dengan agen kepolisian Hindia-Belanda di Djambi.

Karena itu, perahu-perahu mereka terus meluncur, tanpa berhenti di dusun itu. Para pendayung terus bekerja, mendayung sampai menjelang tengah malam. Pukul 23.00, alam memaksa mereka menepi. Hujan turun deras.

*Acuan Kepustakaan: PJ Veth. Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, uitgerust door het Aardrijkskundig Genootschap, 1877-1879 . Jilid II. Leiden: EJ Brill. 1882.


Tag : #Schouw Santvoort ke Djambi 1877 #Ekspedisi Sumatra Tengah 1877-1879 #Sejarah Jambi dan Ekspedisi Belanda



Berita Terbaru

 

Selasa, 16 Oktober 2018 09:43 WIB

Bagi yang Lolos Seleksi CPNS 2018, Ini Gaji yang Kamu Terima


Kajanglako.com - Tahun 2018 ini, Pemerintah telah resmi membuka penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS). Baik untuk Kementerian, Lembaga dan Pemerintah

 

Karya
Selasa, 16 Oktober 2018 09:02 WIB

Seputar 'Sang Nabi' Kahlil Gibran


Oleh: Widodo* Beberapa hari lalu, saya mengunjungi Gramedia Jambi. Dan saya terkejut. Di antara koleksi pustaka sastranya yang minimalis, ternyata toko

 

Selasa, 16 Oktober 2018 08:06 WIB

5 Tahun Berturut Tak Diraih, Pemkab Sarolangun Bertekad Rebut Kembali Adipura


Kajanglako.com, Sarolangun - Sudah 5 tahun Kabupaten Sarolangun tak lagi diganjar sebagai kota bersih, untuk itu Pemerintah Kabupaten kembali menargetkan

 

Selasa, 16 Oktober 2018 07:45 WIB

Menuju 10 Besar, Nilai Tes Calon Anggota KPU Akan Diakumulasi


Kajanglako.com, Jambi - Sistem penilaian berbeda dari seleksi-seleksi sebelumnya dilakukan dalam seleksi Calon Anggota KPU 4 Kabupaten/Kota di Provinsi

 

Pencurian Ternak
Senin, 15 Oktober 2018 22:18 WIB

Polisi Tangkap Kawanan Spesialis Pencuri dan Penjagal Ternak Sapi


Kajanglako.com, Tanjung Jabung Barat – Empat pelaku spesialis pencuri ternak sapi, tak berkutik saat ditangkap Polsek Pengabuan. Kawanan pelaku ditangkap