Selasa, 18 Desember 2018


Sabtu, 28 Juli 2018 09:03 WIB

Selamat Tinggal Rantau Ikil

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Kampung tempat mereka menambatkan perahu tersembunyi di antara pepohonan kelapa dan pisang. Hanya ada beberapa rumah saja di kampong itu. Sejumlah besar kerbau merumput di atas daratan di dekat tepian sungai. Schouw Santvoort tidak diperbolehkan memasuki kampong itu. Ia hanya diizinkan menjejak tepian saja. Sementara para kuli menyiapkan tambahan atap perahu-perahu itu, Oedjir memasak.



Matahari tenggelam dan alam mulai temaram. Tak lama kemudian, sebuah perahu yang dipenuhi lelaki bersenjata lewat. Perahu kedua, juga penuh dengan lelaki-lelaki bersenjata, lewat pula. Karena khawatir akan diserang malam itu, anggota-anggota tim penjelajahan yang berasal dari Solok, berjaga-jaga sepanjang malam. Mereka  pun tak lupa menyiapkan persenjataan.

Malam itu, langit seolah-olah pecah dan hujan turun dengan derasnya. Selain berjaga-jaga, mereka semalaman juga sibuk menimba air hujan dari lambung perahu supaya perahu-perahu itu tidak tenggelam.

Sikap orang-orang Djambi yang menyertai perjalanan mereka tidak berubah. Sejak selumbari, mereka sudah menunjukkan sikap tak bersahabat. Malam itu, mereka menginap di kampung. Schouw Santvoort menggunakan kesempatan itu untuk mengingatkan anak buahnya agar berusaha bersikap ramah.

Pagi-pagi tanggal 13 April, menantu dan doebalang Toemenggoeng kembali ke perkemahan. Mereka diikuti oleh tiga orang yang akan bertugas sebagai pendayung. Pukul 07.30, mereka bertolak dan meninggalkan daerah Rantau Ikil. Schouw Santvoort dengan senang hati melihat menghilangnya kampung itu dari pandangan matanya. Hari-hari yang telah dilaluinya di daerah itu bukanlah hari-hari yang dirasanya menyenangkan.

Selain dialek yang berbeda, perbedaan karakter di antara penduduk di daerah ini dan penduduk Tandjoeng Alam dan Soengei Koenjit tampak nyata. Penduduk kedua daerah yang terakhir itu memang tampak curiga melihat kedatangan mereka, namun mereka terkesan sederhana dan baik. Sebaliknya dengan penduduk daerah yang baru saja ditinggalkan: mereka tampak licik. Sikap mereka membuat Schouw Santvoort (dan anak buahnya) merasa was-was.  

Schouw Santvoort yakin betul dan bersyukur bahwa perjalanan yang sampai sekarang aman-aman saja tercapai berkat bantuan Toemenggoeng. Lelaki itulah yang dapat membantunya tiba dengan selamat di Djambi. Dalam setiap kesempatan, Schouw Santvoort berusaha menjelaskan bahwa ia bukanlah pegawai pemerintah jajahan.

Ia mencoba membuktikan kebenaran kata-katanya dengan mengambil sikap berteman dengan para kuli. Seperti Radja di Sambah, ia juga ikut duduk bersila bersama mereka, menyimak serta mengobrol dengan mereka. Hal itu tampak dihargai oleh para kuli itu. Ia juga tak henti-henti meyakinkan Toemenggoeng bahwa ia takkan pernah berani menjejak wilayah lelaki itu bila ia (Schouw Santvoort) berniat jahat.

Pun, Schouw Santvoort yakin bahwa kelancaran perjalanannya didukung oleh hubungan baik di antara Orang Toewa dan Toemenggoeng. Karena Orang Toewa menyukai dirinya, lelaki itu membantu meyakinkan Toemenggoeng bahwa pendatang dari Belanda itu dapat dipercaya. Hutang budinya pun besar pada Radja di Sambah. Hubungan baik di antara Radja di Sambah dan Radja Tandjoeng Alam—yang pada gilirannya berteman baik dengan Toemenggoeng—banyak sekali membantu kelancaran penjelajahan itu.  

Menjelang pk 09.30, mereka melewati Poelau Batoe. Kepala dusun ini, yang bernama Pamoentjak, dibawahi oleh Kjai Lipati , Radja Telokh Kajoe Poetih. Kira-kira satu setengah jam kemudian, para pendayung menyimpan dayung. Dari pk 11 sampai dengan pk 13.13, mereka menepi. Biasanya mereka berhenti sejenak di tempat yang sepi untuk beristirahat, masak dan makan. Di tempat itu, bila air sedang pasang, lebar sungai itu menjadi 30 – 70 m. Sebuah kapal uap dapat berlayar melewati tempat itu.

Perjalanan dilanjutkan. Menjelang pk 16.00 mereka tiba di Telokh Kajoe Poetih, di muara Soengei Djoedjoean. Orang-orang yang berada di tepian menengok. Banyak yang mengangkat suara, bertanya dari mana dan hendak ke mana. Dari atas perahu, doebalang menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Orang-orang itu rupanya puas dengan jawaban-jawaban itu dan mereka dibiarkan berlalu dengan tenang.

Di daerah ini, Batang Hari merupakan sungai yang penting. Lebarnya lebih dari 70 meter dan di beberapa tempat, lebarnya bahkan sampai 150 meter. Di sana-sini, tampak adanya bagian-bagian dangkal dan gundukan pasir/lumpur di dasar sungai. Di dekat tepian, acapkali tampak batang-batang pohon muncul di permukaan. Namun, demikian, sungai itu pasti sampai jauh dapat dilayari oleh sebuah kapal uap.

Walau air sungai sedang pasang, tepiannya masih tampak tinggi dan curam, setidak-tidaknya 15 meter di atas permukaan air. Tepian itu terkadang tampak sebagai tebing batu yang gundul, terkadang pula tampak sebagai dinding tanah liat yang berwarna kemerahan dengan tanah yang runtuh di sana-sini oleh hantaman banjir. 

Tempat-tempat mandi di sungai menunjukkan adanya kampong-kampong dan ladang-ladang yang tersembunyi di balik rerimbunan pohon dan dedaunan. Tangga-tangga yang tinggi—terkadang, sampai tiga buah, menghubungkan daratan dengan pemandian-pemandian itu.  

Menjelang terbenamnya mentari, Hadji mulai berazan. Para pendayung kembali menyimpan dayung-dayung mereka. Mereka sholat, kemudian makan dan beristirahat. Supaya tidak terpencar-pencar, pada malam hari, sampan yang kecil diikatkan pada biloengkang. Karena mereka tidak sepenuhnya yakin bahwa tempat itu aman, setiap orang menyiapkan senjata. Hadji melafalkan doa agar perjalanan mereka dilindungiNya. Ia berzikir, diaminkan oleh para pendayung dan penumpang lainnya. Perahu-perahu itu terus meluncur di atas air.

Lewat tengah malam, mereka melewati Telokh Koeali. Dahulu kala, Kumpeni sempat berdagang di sini. Sebuah rumah batu menandakan pernah adanya orang-orang Belanda di tempat itu. Beberapa orang yang mengamati mereka berlalu, memanggil agar menepi. Sesuai saran pemandu-pemandunya, Schouw Santvoort diam saja. Mereka berpura-pura tidak mendengar panggilan dari tepian itu.

Tiba-tiba, hujan turun deras, diiringi angin yang bertiup kencang. Biloengkang mereka terguncang-guncang olehnya. Mereka berhenti dahulu di kelokan sungai yang lebar. Biloengkang dan sampan mereka dapat berlindung di tempat itu. tengah-tengah belantara, mereka menunggu matahari terbit.

 

*Acuan Kepustakaan: PJ Veth. Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, uitgerust door het Aardrijkskundig Genootschap, 1877-1879 . Jilid II. Leiden: EJ Brill. 1882.

*Rantau Ikil merupakan sebuah Desa yang sekarang terletak dalam (daerah) Kecamatan Jujuhan, Kabupaten Bungo-Jambi. Dalam naskah klasik Belanda maupun sebagian peta lama tertulis Rantau Ikir.


Tag : #Ekspedisi Schouw Santvoort ke Djambi 1877 #Jambi #Sumatetra Tengah



Berita Terbaru

 

Selasa, 18 Desember 2018 17:47 WIB

Banjir Menjadi Wahana Hiburan Anak-anak saat Libur Sekolah


Kajanglako.com, Muaro Jambi – Banjir tak melulu menyusahkan, banjir yang mulai menggenangi perkarangan rumah warga justru menjadi wahana hiburan

 

Selasa, 18 Desember 2018 17:35 WIB

Mobil Angkutan Pedesaan Bantuan Kementerian Justru Direntalkan


Kajanglako.com, Bungo - Mobil bantuan dari Kementrian Perhubungan diduga disalahgunakan oleh Dinas Perhubungan Kabupaten Bungo. Bantuan untuk angkutan

 

Selasa, 18 Desember 2018 16:55 WIB

Polres Sarolangun Siapkan 3 Pospam dan 1 Posyan Jelang Tahun Baru


Kajanglako.com, Sarolangun - Jajaran Polres Sarolangun melaksanakan rapat lintas sektoral membahas pengamanan menjelang natal

 

Selasa, 18 Desember 2018 16:40 WIB

Kejari Sarolangun Musnahkan Barang Bukti Mulai dari Narkoba hingga Senpi


Kajanglako.com, Sarolangun – Berbagai barang bukti hasil berbagai tindak pidana dimusnahkan Kejaksaan Negeri (Kejari) Sarolangun, barang bukti yang

 

Konservasi Taman Nasional
Selasa, 18 Desember 2018 16:10 WIB

TNKS, TNBT dan TNBS Masih Marak Jadi Objek Perambahan


Kajanglako.com, Jambi - Provinsi Jambi memiliki aset hutan yang menjadi kebanggaan dengan topologi dan spesifikasi yang berbeda-beda. Taman Nasional Kerinci