Senin, 15 Oktober 2018


Sabtu, 21 Juli 2018 09:39 WIB

Oedjoeng Tandjoeng dan Auoer Gading

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Pagi-pagi tanggal 12 April, anak buah Schouw Santvoort sibuk mempersiapkan segala sesuatu untuk keberangkatan. Beras, bebuahan dan perbekalan lain dimuat dan disimpan baik-baik di atas sampan yang tersisa dan biloengkang yang baru saja dibeli.



Pukul 8.30, mereka telah siap. Sebilah klewang dibungkus dengan kain berwarna kuning dan ditegakkan di salah sebuah tiang atap biloengkang. Sebuah bendera berwarna kuning berkibar di puncak sebuah tombak yang difungsikan sebagai tiang bendera. Klewang dan bendera kuning itu menandakan bahwa perahu itu merupakan perahu utusan radja. Setelah mereka meninggalkan perairan wilayah kekuasaan Toemenggoeng, barulah bendera itu diturunkan dan klewangnya disimpan.

Radja di Sambah, Radja Tandjoeng Alam, orang-orang yang ikut serta dalam perjalanan dari Soengei Pagoe dan Toemenggoeng (diiringi oleh beberapa orang kerabatnya) mengantarkan Schouw Santvoort sampai ke tepian sungai, tempat perahu-perahunya tertambat.

Beberapa warga dusun sudah menunggu pula di tepian sungai untuk menyaksikan keberangkatannya. Schouw Santvoort sekali lagi mengucapkan terima kasih dan menyalami teman-teman barunya.

Radja di Sambah, yang oleh Schouw Santvoort lebih dikenal sebagai raja pertama di Soengei Pagoe, telah banyak sekali membantu. Akan tetapi, wajahnya tampak letih dan waswas.  Ia sudah beberapa malam tak dapat tidur nyenyak karena memikirkan keselamatan lelaki Belanda yang didampinginya. Pagi yang cerah dan alam yang tampak damai tidak mampu menenangkan hatinya.

Seandainya memungkinkan, ia sebetulnya ingin menemani Schouw Santvoort sampai ke Djambi. Berulang kali ia menyatakan hal itu. Akhirnya, ia mengusulkan agar anak lelaki atau adik lelakinya ikut saja. Schouw Santvoort pun menyetujui usul itu. Ia memilih didampingi oleh adik Radja di Sambah. Lelaki itu adalah seorang haji. Dalam kesulitan, adanya seorang haji di dalam rombongan mereka mungkin dapat membantu. Radja di Sambah mengangguk. Dengan wajah yang menunjukkan suasana hatinya yang masih saja resah, lelaki itu akhirnya mengucapkan tabik.

Beberapa saat sebelum mereka berangkat, Toemenggoeng berbicara dengan Pandang Alam, jurutulis tim penjelajahan. Toemenggoeng itu kini sudah yakin bahwa Schouw Santvoort hanya ingin membangun hubungan-hubungan dagang di daerah. Ia kini merasa dapat mempercayai niat baik lelaki Belanda itu. Saking besar rasa percaya itu, Toemenggoeng bahkan bersedia memberikan sebagian tanah di negerinya sendiri untuk tempat membangun sebuah kantor atau gudang. Seandainya Schouw Santvoort ingin mulai berdagang, ia juga berjanji bahwa warga negarinya akan memberikan emas atau komoditi lain dari daerahnya sebagai alat penukar.

Schouw Santvoort dan rombongannya naik ke atas perahu. Rombongan itu terdiri dari menantu Toemenggoeng, dua orang doebalangnya dan dua orang warga dusunnya yang hanya akan ikut sampai ke Tabo. Kedua orang itu bertugas sebagai pendayung perahu.

Selain itu, Hadji Abdoellah (yang disebut sebagai Orang Toewa oleh Schouw Santvoort), Jurutulis, dua orang kuli yang bergantian mendayung dan Oedjir, yang bertugas untuk memasak. Schouw Santvoort duduk berdelapan di atas biloengkang yang dikemudikan oleh menantu Toemenggoeng (Schouw Santvoort menduga bahwa Toemenggoeng telah berpesan kepada menantunya untuk mengawasi dan melindungi dirinya).

Orang Toewa mengambil tempat di dalam sampan yang dikemudikan oleh salah seorang doebalang. Ia juga tidur dan sholat di dalam sampan itu. Schouw Santvoort berharap bahwa penampilannya yang berwibawa  dan sholeh dapat menghilangkan kecurigaan orang-orang yang masih meragukan maksud dan tujuan rombongan penjelajahan itu.

Dua buah dayung ikut hilang bersama sampan yang hilang terbawa air sungai. Akan tetapi, hal itu tidak menjadi masalah bagi rekan-rekan seperjalanan Schouw Santvoort. Dengan cekatan, mereka membuat sepasang dayung dari potongan-potongan kayu dan bambu. Sepanjang jalan, dayung-dayung darurat itulah yang digunakan. Bukan main kreatifnya orang Melayu menggunakan bahan apa pun untuk mengatasi masalahnya.

Pukul 09.00 pagi, mereka tiba di kampong Oedjoeng Tandjoeng. Kampong itu juga dikenal dengan nama Sirih Sakapoer. Di kampong ini, mereka berhenti selama sejam untuk membeli bahan-bahan yang diperlukan untuk memperbesar atap perahu-perahu mereka.  

Schouw Santvoort tidak dianjurkan untuk meninggalkan biloengkangnya. Dari tempatnya duduk, ia sepuas hati mengamati warga dusun yang datang menonton dirinya. Sikap bermusuhan tak tampak sama sekali; bahkan, kaum perempuan dan anak-anak acapkali tampak tertawa geli setiap kali seseorang mengomentari sosok dan gerak-gerik Schouw Santvoort.

Sejam kemudian, mereka meneruskan perjalanan ke hulu sampai sekitar pukul 15.00. Mereka menambatkan perahu di kampong Auoer Gading. Mereka tinggal semalam di tempat itu karena Schouw Santvoort merasa perlu memasang rangka bambu di kiri-kanan biloengkang yang ditumpanginya.

Perahu itu sangat ringkih dan cepat oleng. Beberapa kali, biloengkang itu hampir saja terbalik. Bila itu terjadi, akan terjadi malapetaka karena sempitnya ruang di antara atap dan lambung perahu hampir tidak memungkinkan penumpangnya dapat cepat menyelamatkan diri.

Supaya tidak membangkitkan kecurigaan orang-orang baru yang ikut serta dalam penjelajahannya, Schouw Santvoort terpaksa menunda membuat catatan mengenai keadaan dan situasi di sekitar sungai, jarak tempuh antar berbagai kampong, tempat-tempat dangkal dan tempat dengan percepatan arus di sungai. Catatan singkat yang dibuatnya barulah dilengkapi kemudian. Hal ini agak disayangkannya karena cukup banyak tempat di sungai dengan percepatan arus.

Di tempat-tempat itu, menantu Toemenggoeng terpaksa berhati-hati mengemudi biloengkang itu. Di beberapa tempat, lebar sungai mencapai 40 meter. Sebuah kapal uap akan dapat melayari sungai itu bila airnya mencapai ketinggian yang sama dengan yang kini dihadapi. Akan tetapi, hal itu hanya dapat dilakukan bila tempat dangkal dan tempat percepatan arus dapat dipetakan dengan teliti.

*Acuan Kepustakaan: PJ Veth. Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, uitgerust door het Aardrijkskundig Genootschap, 1877-1879 . Jilid II. Leiden: EJ Brill. 1882.


Tag : #Ekspedisi Sumatra Tengah #Ekspedisi Schouw Santvoort ke Djambi



Berita Terbaru

 

Senin, 15 Oktober 2018 15:00 WIB

Pamit ke Asrama, Santri Ini Ditemukan Tergantung


Kajanglako.com, Merangin - Ponpes Syeh Maulana Qori dihebohkan dengan adanya salah satu santriwati yang ditemukan tergantung dengan kain panjang di lehernya.    Informasi

 

Hotspot
Senin, 15 Oktober 2018 11:39 WIB

Terpantau 65 Titik Panas di Merangin


Kajanglako.com, Merangin - Hotspot atau titik panas terpantau cukup banyak di Kabupaten Merangin. Per 10 Oktober terpantau 65 titik panas di sejumlah Kecamatan

 

Senin, 15 Oktober 2018 11:28 WIB

Polisi Kejar-kejaran dengan Rambo, Resedivis Narkoba Asal Tabir


Kajanglako.com, Merangin - Polres Merangin kembali menangkap pelaku penyalahguna Narkoba. Kali ini yang diamankan adalah resedivis barang haram tersebut.    Pelaku

 

Minggu, 14 Oktober 2018 16:57 WIB

Bukannya di Kebun, Warga Jujuhan Tanam Pohon Kelapa dan Sawit di Jalinsum


Kajanglako.com, Bungo - Ungkapan rasa kecewa kepada pemerintah, warga Tukum 1, Kecamatan Jujuhan, menanam pohon kelapa di Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum)

 

Penerimaan CPNS 2018
Minggu, 14 Oktober 2018 16:43 WIB

Dewan Bungo Minta Penerimaan CPNS Utamakan Putra Daerah


Kajanglako.com, Bungo - Kabupaten Bungo merupakan salah satu daerah yang mendapat kuota penerimaan CPNS tahun ini, Bungo mendapat jatah 221 CPNS dari KemenPAN-RB.    Tiga