Sabtu, 20 Oktober 2018


Rabu, 18 Juli 2018 18:41 WIB

Bahaya Berdalil Tanpa Ilmu

Reporter :
Kategori : Sudut

Oleh: Zastrouw al-Ngatawi*

Saat ini muncul sikap mempertanyakan dalil atas berbagai tindakan dan tradisi yang berlaku di masyarakat. Apapun tindakan yang dilakukan selalu dipertanykan apakah ada dalilnya atau tidak. Bahkan tindakan yang sudah biasa dilakukan sehari hari dipertanyakan dalilnya.



Tindakan ini benar tapi belum tentu baik. Karena untuk menunjuk teks yang bisa dijadikan sebagai dalil atas suatu tindakan perlu perangkat ilmu yang memadai dengan proses dan prosedur yang panjang.

Ini terjadi karena setiap teks (nash) yang ada itu memiiki konteks sehingga penerapannya harus sesuai dengan konteks tersebut. Penerapan suatu dalil yang tidak sesuai konteksnya akan berakibat pada terjadinya kekacauan tatanan sosial karena terjadi benturan antara realitas dan bunyi teks.

Selain itu pengabaian realitas (sebagai ayat kauniyah) dalam penerapan teks (ayat qauliyah) sebagai dalil akan membuat teks tersebut mengalami disfungsi. Atau sebaliknya umat Islam menjadi stagnan karena terbelenggu teks akibat kesalahan penerapan teks tersebut sebagai dalil.

Cotoh paling nyata adalah penggunaan teks "man tasyabba biqaumin fahuwa min hum" sebagai dalil. Teks ini memiliki konteks dan soirit tertentu yang hanya akan berfungsi secara maksimal jika digunakan sesuai dengan konteks dan spirit dari teks tersebut. Jika teks ini digunakan dalam segala situasi dan konteks kehidupan maka umat Islam tidak akan pernah bisa berkembang karena setiap melakukan sesuatu yang menyamai orang lain akan dianggap sama dengan kaum tersebut.

Jika Walisongo menerapkan teks ini sebagai dalil dalam strategi dakwahnya mungkin Islam belum berkembang di Nusantara hingga saat ini. Sebagaimana kita ketahui, dalam penyebaran Islam, Walisongo menggunakan berbagai macam tradisi dan seni yang ada di kalangan masyarakat Nusantara.

Para wali tahu persis wahwa wayang, slametan, tembang dan sejenisnya adalah tradisi non muslim. Tapi ini bisa menjadi sarana efektif dalam penyebaran Islam. Kalau tidak memakai cara tersebut Islam sulit diterima oleh bangsa Nusantara. Ini artinya jika dalil "man tsyabba..." dipakai maka dakwah Islam bisa gagal. Atas dasar inilah maka para Wali tidak menggunakan teks tersebut sebagai dalil karena tidak sesuai konteks masyarakat Nusantara saat itu.

Menghadapi situasi demikian, Walisongo mencari teks lain yang lebih sesuai untuk dijadikan dalil dalam berdakwah yaitu "khatibunnas ala qadri uquulihim.." (berilah penjelasan pada manusia sesuai kadar kemampuannya) atau ayat "ud'u ila sabili rabbika bil hikmah...". Berdasar pada dalil ini para wali berdakwah dengan menggunakan seni dan tradisi lokal. Berkat kreatifitas para wali menggunakan seni dan tradisi yang diisi dengan ajaran Islam akhirnya Islam bisa diterima secara massif dan penuh suka cita oleh bangsa Nusantara. Strategi inilah yang kemudian diikuti oleh ulama-ulama Nusantara generasi berikutnya. Termasuk saat menerima NKRI sebagai bentuk negara dengan Pancasila sebagai dasarnya.

Apa yang dilakukan Walisongo dan para ulama Nusantara ini merupakan bukti bagaimana penerapan suatu dalil secara tepat dan akurat agar bisa membawa maslahat. Ini terjadi karena ketepatan dalam memilih dalil yang sesuai konteks dan problem yang dihadapi.

Sebagai petunjuk dan pijakan hidup al-Qur'an dan hadits merupakan teks yang lengkap dan canggih. Tapi selengkap dan secanggih apapun petunjuk jika yang menggunakan tidak tidak memiliki kemampuan mengoperasikan secara baik maka akan sia-sia bahkan bisa berbahaya.

Ibaratnya, nash (qur'an-hadist) adalah gudang senjata yang paling komplit dan canggih. Apapun senjata, mulai jarum penthul sampe bom nuklir ada di dalamnya. Untuk bisa menggunakan senjata tersebut harus tahu cara menggunakan dan peruntukkannya. Ini artinya, perlu ilmu menggunakan dan membaca kenyataan agar penggunaannya tepat sasaran.

Misalnya, kalau cuma untuk potong ayam ya cukup ambil parang atau pisau, tidak perlu pakai granat. Jika kita pake pisau unt potong ayam bukan berarti granat tidak berguna atau tidak terpakai. Granat akan berguna dalam konteks tertentu dan situasi tertentu.

Demikian juga dalam penerapan nash sebagai dalil harus sesuai dengan konteks dan problem yang dihadapi. Misalnya apakah tepat menggunakan ayat al-maidah 51 dalam pilkada? Apakah tepat menggunakan teks "man tsyabba biqaumin.." untuk menghukumi kafir orang-orang yg tahlilan, sholawatan karena dianggap sama dengan orang Hindu dan orang Kristen. Kenapa tidak cari ayat dan hadits lain yang lebih sesuai dengan konteksnya? Seperti yg dilakukan oleh Walisongo dan para ulama Nusantara.

Jangan-jangan pemaksaan penggunaan ayat al Maidah 51 sebagai dalil dalam Pilkada seperti penggunaan granat untuk memotong ayam. Memang sih ayamnya mati, tapi yang motong bisa ikut mati dan lingkungan sosial bisa rusak. Inilah contoh penggunaan dalil yg tidak sesuai dengan konteknya.

Apa yang terjadi menunjukjan penerapan dalil yang ngawur, tanpa ilmu yang memadai dan tidak sesuai dengan konteksnya akan sangat berbahaya karena bisa merusak tatanan kehidupan, mempersempit dan mendangkalkan ajaran Islam yang universal.

Sebaliknya penerapan dalil yang tepat dengan konteksnya disertai dengan ilmu yg memadai akan membuat Islam benar benar menjadi alat solusi dan pentujuk yang akurat. Dengan demikian bisa dibuktikan secara nyata bahwa Islam itu shoheh likulli zamanin wa makanin.

Atas dasar ini para ulama sangat hati-hati dalam menerapkan dalil. Prosedur dan persyaratan yang ketat dalam penerapan dalil sebagaimana yang ada dalam kaidah fiqh, ushul fiqh, tafsir dan tasawuf bukan ditujukan untuk membatasi. Tetapi untuk menjaga agar seseorang tidak sembarangan menggunakan dan menerapkan dalil tanpa ilmu. Dalam konteks kehidupan berbangsa di Indonesia yang beragam kehati-hatian dalam mengambil dan menerapkan dalil menjadi sangat penting.

Jika belum mamiliki ilmu dan pemahaman yang cukup cara menerapkan dan menggunakan dalil ada baiknya mengkuti para ulama dan menjalani tradisi yg diperbolehkan oleh para ulama. Tanpa harus pusing mencari dalilnya. Soal dalil biarlah menjadi urusan para ulama yang lebih mengerti karena memiliki ilmunya. Memaksa orang awam berdalil tanpa ilmu sama dengan memaksa anak kecil menggunakan senjata. Bukannya untuk saling melindungi dan menciptakan kemaslahatan tapi malah menjadi alat untuk saling melukai bahkan saling bunuh. Naudzubillah.

 *Dr. Zastrouw al-Ngatawi adalah budayawan dan ketua Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia (LESBUMI) periode 2004-2009. Penulis memiliki ciri khas selalu memakai blangkon dan cukup sering mengisi acara di TV. Tulisan ini semula diunggah penulis di laman fb pribadi (11 Juli 2018).


Tag : #Agama #Dalil #Teks dan Konteks



Berita Terbaru

 

Pemilu 2019
Jumat, 19 Oktober 2018 22:58 WIB

Hadapi Pemilu, Murady Sebut Menuju Kemenangan tanpa Tekanan


Kajanglako.com, Jambi - Dalam masa kampanye Pemilihan Umum kali ini, Politisi Senior Partai Gerindra Murady Darmansyah mengharapkan semua pihak untuk menjaga

 

Waspada Penculikan Anak
Jumat, 19 Oktober 2018 22:36 WIB

Santri Pesantren Dzulhijjah Nyaris Diculik Pria Bertato


Kajanglako.com, Batanghari - Aksi penculikan anak dan remaja tanggung kian marak.   Setelah heboh terjadi di Sarolangun, kini aksi tersebut mulai

 

Jumat, 19 Oktober 2018 21:55 WIB

Sekda Bahtiar Lantik 13 Tenaga Guru dan Fungsional


Kajanglako.com, Batanghari - Sekda Batanghari, Bahtiar Sp, melantik 13 orang tenaga guru dan tenaga fungsional.    Pelantikan tersebut dilaksanakan

 

Jumat, 19 Oktober 2018 21:39 WIB

Kelabui Polisi, WN Malaysia Masukkan Sabu Cair ke Kaleng Softdrink


Kajanglako.com, Tanjung Jabung Barat - Untuk kesekian kalinya, Tim Gabungan dari Kepolisian Sektor Kawasan Pelabuhan Marina Kuala Tungkal, Polairud dan

 

HUT ke-53 Bungo
Jumat, 19 Oktober 2018 18:30 WIB

Plt Gubernur dan Bupati Mashuri Hadiri Sidang Paripurna HUT ke-53 Bungo


Kajanglako.com, Bungo - Pemerintah Kabupaten Bungo memperingati hari jadi yang ke-53, yang dilaksanakan di Gedung DPRD Bungo, Jumat (19/10). Rangkaian