Selasa, 21 Agustus 2018


Sabtu, 14 Juli 2018 06:30 WIB

Lelaki Tua yang Bertanggung Jawab

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Pukul 7 pagi. Seseorang datang memberi tahu Schouw Santvoort bahwa beberapa sampan mereka—termasuk sampannya sendiri--rusak dihantam air besar malam sebelumnya. Sampan-sampan itu tidak dapat dipakai lagi. Apa akal? Schouw Santvoort teringat pada biloengkang di atas rakit yang dilihatnya di Tandjoeng Alam. Rupanya itulah satu-satunya biloengkang yang ada di sepanjang Djoedjoean pada saat itu, akan tetapi hal ini baru diketahuinya di kemudian hari.



Schouw Santvoort mengundang Radja Tandjoeng Alam untuk bertemu dengannya. Sikap lelaki itu dirasakannya sangat hangat dan bersahabat. Barangkali saja lelaki itu dapat membantunya memperoleh biloengkang tadi dengan harga yang tidak terlalu mahal. Radja Tandjoeng Alam mengangguk. Bersama Oedjir, pembantu setia yang siang-malam mengurus segala kepentingan Schouw Santvoort, Radja itu berangkat naik satu-satunya sampan yang tersisa, menuju Tandjoeng Alam.

Menjelang pk 13.00, kedua orang itu tiba kembali ke Rantau Ikir. Radja Tandjoeng Alam berhasil membeli biloengkang tadi seharga ƒ 37,50—di bawah harga yang biasa diminta untuk perahu seperti itu. Sisa hari itu digunakan untuk mempersiapkan perahu itu untuk perjalanan. Perahu itu relatif baru dan hanya sedikit lubang kecil yang harus didempul supaya tidak bocor.

Sebetulnya Schouw Santvoort ingin berangkat, meneruskan perjalanan, sebelum malam tiba. Akan tetapi, alam menghalangi niatnya. Soengei Djoedjoean membengkak dengan air yang mengalir deras. Tak seorang pun anggota timnya yang ingin berangkat sore itu dan mendayung perahu malam-malam.

Toemenggoeng dan kedua radja di sana datang berkunjung untuk menikmati teh sore sambil mengobrol. Toemenggoeng menunjukkan anak-anaknya dan bercerita bahwa salah seorang anaknya merupakan radja yang tinggal di negari Tabo. Ia menyarankan Schouw Santvoort untuk tidak terlalu banyak menunjukkan diri ketika di atas perahu di Batang Hari.

Menurutnya, hal itu dapat saja memancing hal yang tak diharapkan, terutama ketika melewati dusun-dusun dengan dengan radja-radja yang kemungkinan tak mengizinkan Schouw Santvoort memasuki wilayah mereka. Memang, sudah banyak yang menyampaikan bahwa keseluruhan daerah aliran Batang Hari sampai ke muara Tembesi termasuk ke dalam wilayah kekuasaan Sultan Taha yang telah diusir oleh Belanda dan kini menetap di Telokh Rendah.   

Schouw Santvoort berterima kasih atas informasi itu dan berjanji akan membuatkan surat penghargaan atas bantuan Toemenggoeng bila ia sudah tiba kembali di Batavia. Sementara mereka mengobrol, Radja Tandjoeng Alam duduk di dekat mereka. Sepanjang hari, lelaki itu selalu saja berada di dekat dan di sekitar Schouw Santvoort. Menurut rencana, bila Schouw Santvoort berangkat, ia sendiri bersama Toemenggoeng akan berangkat menuju Telokh Kajoe Poetih melalui jalan darat untuk membantu tamu Belanda mereka, bila dan di mana pun diperlukan.

Bagaimana dengan Korintji? Radja Tandjoeng Alam bercerita bahwa ia pernah ke daerah itu. Korintji terbagi dua; yang satu termasuk dalam wilayah Djambi; yang lain termasuk dalam wilayah Menangkabosch (Minangkabau). Sebagian daerah itu (tidak dijelaskan bagian yang mana) condong ke Kumpeni dan berminat dimasukkan ke dalam wilayah Hindia-Belanda.

Ia juga bercerita bahwa daerahnya (Tandjoeng Alam), Korintji dan beberapa daerah lain yang beberbatasan, telah membentuk semacam persekutuan untuk saling membantu bila terjadi peperangan.  Bila ia datang ke Korintji atau seorang kepala adat dari Korintji datang ke Tandjoeng Alam, maka seekor kerbau disembelih untuk dimakan bersama warga. Radja Tandjoeng Alam menawarkan diri untuk mengantarkan  Schouw Santvoort bila ia ingin mengunjungi Korintji—dengan syarat, tak ada orang Eropa lain yang ikut bersama mereka.

Sayangnya, Schouw Santvoort harus meneruskan perjalanan ke Djambi. Nantinya, bila ada waktu dan kesempatan untuk mengunjungi Djambi, Radja Tandjoeng Alam adalah orang pertama yang disuratinya mengenai rencana itu. Apakah ada jalan ke Korintji dari arah timur atau timur laut? Radja Tandjoeng Alam menggelengkan kepala. Dari arah XII Kota, tak ada jalan menuju Korintji.

Sebaliknya, dari dusunnya sendiri, dalam waktu 8 hari, dengan berjalan kaki melalui rimba-raya di antara Goenoeng , ia dapat mencapai Korintji dengan berjalan melalui rimba-raya di antara Goenoeng Korintji dan Goenoeng Toedjoeh.  Jalan paling baik ke daerah Korintji adalah jalan dari Sindang. Di jalan itu, bahkan di dalam rimba, banyak tersedia rumah atau pondok-pondok kecil untuk tempat orang menginap. Jalan paling pendek, tetapi lebih sulit, adalah jalan dari Tapan. Di sebelah utara danau, hanya ada belantara saja.

Radja Tandjoeng Alam bersemangat menceritakan semua itu. Ia adalah lelaki yang sudah berumur dan rupanya mengidap penyakit rematik. Schouw Santvoort memberinya sehelai kemeja yang terbuat dari bahan flannel. Tekstil lembut dan hangat itu belum  dikenalnya dan ia senang sekali menerima pemberian itu.

Malam itu, ketika Schouw Santvoort terbangun sesaat, ia terkejut melihat Radja Tandjoeng Alam tidur di lumbung padi, di samping kelambu yang melindunginya dari gigitan nyamuk. Rupanya lelaki tua itu menyangsikan keamanan dusun. Ia memutuskan untuk berjaga-jaga sendiri, walau seperti malam-malam sebelumnya, selalu ada orang-orang yang siaga di sekitar tempat menginap Schouw Santvoort. Ia tidur dengan tenang. Esok, penjelajahan diteruskan.

 

* Rantau Ikir merujuk nama Desa Rantau Ikil yang sekarang terletak dalam (daerah) Kecamatan Jujuhan, Kabupaten Bungo-Jambi.

* Acuan Kepustakaan: PJ Veth. Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, uitgerust door het Aardrijkskundig Genootschap, 1877-1879 . Jilid II. Leiden: EJ Brill. 1882.


Tag : #Jambi #Naskah Klasik Belanda tentang Jambi #Midden Sumatra #Sejarah Jambi



Berita Terbaru

 

Aksi Pengeroyokan
Senin, 20 Agustus 2018 23:55 WIB

Ini Penjelasan Panitia Terkait Aksi Pengeroyokan di Kampus UIN STS Jambi


Kajanglako.com, Jambi – Aksi Pengeroyokan yang terjadi di Kampus Universitas Islam Negeri Sultan Taha Syaifudin (UIN STS) Jambi, Senin sore (20/08),

 

Aksi Pengeroyokan
Senin, 20 Agustus 2018 23:30 WIB

Mahahsiswa UIN STS Jambi Dikeroyook Oknum Panitia Ospek


Kajanglako.com, Muaro Jambi – Aksi pengeroyokan terjadi di Kampus Universitas Islam Negeri Sultan Taha Syaifudin (UIN STS) Jambi. Diduga aksi pengeroyokan

 

Senin, 20 Agustus 2018 22:01 WIB

Ihsan Yunus Beri Masukan Penyelenggaraan OSS


Kajanglako.com, Jakarta - Berlakunya pelayanan perizinan berusaha terintegrasi secara elektronik atau Online Single Submission (OSS) masih menyimpan pro

 

HUT ke-73 RI
Senin, 20 Agustus 2018 17:04 WIB

Wabup Buka Lomba Panjat Pinang 45 Batang


Kajanglako.com, Batanghari -Dalam rangka menyemarakkan HUT RI ke-73, Kabupaten Batanghari mengadakan pesta rakyat berupa perlombaan panjat pinang yang

 

Jelang Idul Adha
Senin, 20 Agustus 2018 15:57 WIB

Sidak Pasar, Wabup Hillal: Tak Ada Kenaikan Harga


Kajanglako.com, Sarolangun - Memasuki H-2 Idul adha, Tim Satgas Pangan Pemkab Sarolangun melakukan Sidak ke Pasar Atas sarolangun, untuk memastikan ketersediaan