Rabu, 14 November 2018


Sabtu, 07 Juli 2018 08:17 WIB

Lumbung Padi di Rantau Ikil

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Sementara menyiapkan keberangkatan ke tujuan berikutnya, Schouw Santvoort menginap di rumah milik kepala dusun itu. Kemungkinan besar rumah itu sebetulnya merupakan semacam rumah jaga pabean yang mengontrol dan mengawasi perahu-perahu yang lewat di depannya.



Bangunan rumah tua yang terletak di tepian sungai itu tampak teramat rapuh. Ketika para kuli mengantarkan barang-barangnya, tiang-tiang rumah itu berderak dan bergoyang-goyang seakan hendak rubuh.

Setelah kedua radja yang menyambut kedatangannya meninggalkan tempat itu, Schouw Santvoort tinggal bersama orang-orang yang akan menjadi pemandunya. Kesempatan baik untuk berkenalan, pikirnya. Setelah diam sesaat, orang-orang itu menanyakan perihal kopernya. Bolehkah koper itu untuk mereka? Sehalus mungkin, Schouw Santvoort menjelaskan bahwa ia hanya memiliki satu koper itu saja dan koper itu sangat diperlukannya untuk perjalanannya. Ia menarik nafas lega ketika tak lama kemudian, seseorang datang memberitahukan bahwa Toemenggoeng telah mendapatkan rumah yang lebih baik untuk tempatnya menginap malam itu.

Penginapan kedua yang ditawarkan sebetulnya merupakan sebuah lumbung padi yang baru saja selesai dibangun. Sisi-sisi bangunan itu terbuka, tanpa dinding. Walaupun tak dapat dikatakan asri, namun lantai dan atapnya kokoh.

Schouw Santvoort tidak sempat merasa kesepian. Bangunan itu penuh dengan orang. Selain ia sendiri dan anggota-anggota tim penjelajahannya, beberapa orang yang sedang dalam perjalanan dari Tabo ke Korintji juga menginap di bawah atap lumbung padi itu. Beberapa lelaki siap menjaganya dengan senjata di tangan.

Sepanjang hari mereka tidak meninggalkan sisinya. Walau memang merasa aman, mau tak mau Schouw Santvoort juga merasa seperti seorang tawanan oleh kehadiran para ‘body-guard’ itu. Warga dusun yang belum melihat sosoknya, mulai berdatangan pula. Sore hari, sebelum turun ke sungai untuk mandi, ia mencukur janggutnya. Hal ini membuat warga dusun yang mengamatinya terheran-heran dan geli. Cekakak tawa melihat gerak-gerik lelaki Belanda itu membuat mereka tampak lebih ramah dan menyenangkan di mata Schouw Santvoort.

Dengan susah-payah, ia berhasil menukarkan sebuah sampan yang dibelikan oleh Katib Sampono dengan perahu yang lebih besar. Biloengkang yang diinginkannya tak tersedia sama sekali. Apa boleh buat.

Anggota tim yang sejak semula menjelajah bersamanya tinggal beberapa orang saja, yaitu Abdoellah, djoeroetoelis dengan dua pengikutnya dan  Oedjir. Sebetulnya saudara lelaki Abdoellah ingin ikut pula akan tetapi Radja di Sambah  memerlukan kehadirannya. Para doebalang Radja di Sambah menyatakan diri sebetulnya ingin menemaninya menjelajah, tetapi mereka pun tak dapat ikut karena tak ingin meninggalkan tuan mereka.

Siang itu, ia membayar upah para kuli dan memberikan uang untuk belanja perbekalan di jalan: beras, cabai dan ayam. Lalu, demi keamanan, ia berpura-pura kehabisan uang dan meminjam uang seperlunya dari Orang Toewa. Lelaki itu menyimpan uang untuk naik haji ke Mekkah. Setibanya mereka di Djambi, pinjaman itu akan dilunasi oleh Schouw Santvoort.

Orang-orang yang memenuhi lumbung itu mengamati segala persiapan itu dengan penuh rasa ingin tahu. Keriuhan di tempat itu membuat Schouw Santvoort tidak berkesempatan membuat catatan apa pun, walau ia menginap selama dua malam di Rantau Ikil. Ia baru dapat menulis-nulis lagi pada malam hari di dalam perahu ketika mereka berangkat.

Radja di Sambah bercerita bahwa Schouw Santvoort tidak diundang menginap di rumah Toemenggoeng karena orang menganggap rumah itu sudah terlalu penuh dan terlalu buruk.

Namun, akhirnya Schouw Santvoort menyadari bahwa alasan ini hanya dibuat-buat saja dan hal itu dilakukan demi menjaga keselamatannya. Sepanjang malam, lumbung padi tempatnya menginap dijaga oleh para doebalang sang Toemenggoeng tidak mempercayai orang-orang dari luar dusun yang pada saat bersamaan datang dan menginap di rumahnya.

Sebelum malam tiba, seluruh barang dan perbekalan Schouw Santvoort telah disimpan di rumah kepala dusun. Abdoellah dan para kuli tetap tinggal di lumbung bersamanya untuk berjaga-jaga juga. Schouw Santvoort dapat beristirahat. Pembicaraan dengan berbagai orang hari itu membuatnya berpikir. Ia agak heran bahwa banyak orang yang diajaknya berbicara hari itu cenderung berbohong atau memberikan keterangan yang berlebihan. Setiap kali ia bertanya mengenai lamanya suatu perjalanan kepada beberapa orang, jawaban yang diterimanya selalu berlainan dan perjalanan yang direncanakan seperti semakin lama menjadi semakin panjang.  Beberapa orang mengatakan bahwa perjalanan ke Djambi memerlukan waktu setidak-tidaknya sepuluh hari; namun, orang-orang lain mengatakan bahwa melayari Batang Hari memerlukan waktu sebulan!

Sampai pk 04.00 pagi, Schouw Santvoort melek. Ia tak dapat tidur. Dari rumah Toemenggoeng terdengar orang ramai berbicara dengan suara keras. Apakah orang-orang itu sedang bertengkar?  Ternyata tidak. Mereka hanya berbicara dan berdebat saja. Suara Toemenggoeng yang terutama didengarnya. Banyak sekali yang dikatakannya. Ia bahkan sempat berbicara terus-menerus selama hampir dua jam. Schouw Santvoort beberapa kali mendengarnya mengatakan: “Kumpeni”. Tentu mereka membicarakan dirinya.

 

*Acuan Kepustakaan: PJ Veth. Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, uitgerust door het Aardrijkskundig Genootschap, 1877-1879 . Jilid II. Leiden: EJ Brill. 1882. 

*Rantau Ikil merupakan sebuah Desa yang sekarang terletak dalam (daerah) Kecamatan Jujuhan, Kabupaten Bungo-Jambi.


Tag : #Ekspedisi Sumatera Tengah #Jambi #Sumatra #Ekspedisi Schouw Santvoort ke Jambi



Berita Terbaru

 

Rabu, 14 November 2018 13:56 WIB

Tiga Daerah di Jambi Ini Laju Penurunan Tingkat Kemiskinannya Tertinggi


Kajanglako.com, Jambi - Pelaksana tugas (Plt) Gubernur Jambi, Fachrori Umar memberikan piagam penghargaan kabupaten/kota penanggulangan kemiskinan tertinggi

 

Pesona Jambi
Rabu, 14 November 2018 13:13 WIB

Kesabaran Memotret Burung Migran di Pantai Cemara


Oleh : Wenny Ira R Senin pagi 5 November 2018, di kantor Taman Nasional Berbak dan Sembilang (TNBS) yang berlokasi di Sijenjang Kota Jambi telah riuh dan

 

Rabu, 14 November 2018 00:18 WIB

Politik Identitas Jelang Pemilu, Al Makin: Menghilangkan Substansi Masalah Sebenarnya


Kajanglako.com, Kota Jambi - Semakin mendekati Pemilu 2019, isu politik identitas semakin kentara disebarluaskan ke tengah masyarakat. Medium utamanya,

 

Operasi Zebra 2018
Selasa, 13 November 2018 20:25 WIB

Satlantas Sarolangun Keluarkan 1.318 Surat Tilang Selama Operasi Zebra


Kajanglako.com, Sarolangun - Selama 14 hari pelaksanaan Operasi Zebra 2018, Satlantas Polres Sarolangun sedikitnya mengeluarkan 1.318 surat tilang, baik

 

Selasa, 13 November 2018 20:13 WIB

Percobaan Penculikan Anak, Dewan Sarolangun Minta TNI/Polri Bersinergi


Kajanglako.com, Sarolangun – Kabar dugaan  percobaan penculikan  anak  di  RT 11 Desa Bernai, Sabtu malam lalu, membuat Anggota