Sabtu, 17 November 2018


Sabtu, 30 Juni 2018 09:03 WIB

Pertemuan Mendebarkan di Rantau Ikil

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Sekitar pukul setengah sembilan keesokan harinya, mereka kedatangan tamu: Radja Indamar dan Tandjoeng Alam serta Kepala Laras Soengei Pagoe. Mereka menemui Schouw Santvoort untuk menyampaikan siapa saja pembuat onar yang mengancam tim ekspedisi.



Menurut mereka, tokoh utama kelompok itu ada seorang warga  Koeantan, seorang Melayu dari onderafdeeling Pau di dekat Padang, seorang Korintji bernama Panglima Moeda dari kampong Boenga dan seseorang yang berasal dari Bedar Alam. Kelompok mereka terdiri dari kira-kira 12 orang dan mereka aktif mencari anggota-anggota baru.  Berita ini mengkhawatirkan dan meresahkan anggota-anggota rombongan tim penjelajahan itu.

Schouw Santvoort menuliskan surat pernyataan berterima kasih atas bantuan kedua kepala adat itu. Karena akan meninggalkan daerah Indamar dan Tandjoeng Alam, ia juga memberikan tanda terima kasih berupa sepotong kain kepada Radja di Oeloe, kepada lelaki yang mewakili Radja Soengei Koenjit dan kepada semua orang yang menyertainya dalam penjelajahan.

Pun, kedua lelaki yang tadinya diduga akan berbuat onar dan akhirnya (dipaksa) mengikuti rombongan mereka, mendapatkan tanda terima kasih dari lelaki Belanda itu. Cenderamata pun diberikan kepada keluarga tempatnya menginap. Ia betul-betul terkesan oleh keramahtamahan keluarga itu. Manik-manik, cermin-cermin kecil dan sisir-sisir cantik untuk anak-anak mereka dan selembar kain sarung untuk nyonya rumah.

Schouw Santvoort berpamitan. Ia berkemas-kemas, siap berangkat menuju Rantau Ikil. Akan tetapi, ia belum dapat beranjak. Para kuli menemuinya. Mereka ingin pulang ke kampung masing-masing bersama dengan Radja di Sambah dan rombongannya. Bukankah mereka telah berjanji untuk menyertai tim penjelajahan sampai ke Djambi, sebagai kuli dan sebagai pendayung? Para kuli itu bersikeras hendak pulang dengan alasan bahwa mereka takut meneruskan perjalanan.

Sebetulnya, Schouw Santvoort sudah menjanjikan upah yang cukup besar, yaitu ƒ 50,- per orang untuk membantunya dalam perjalanan dari Rantau Ikil ke Djambi. Uang itu juga termasuk ongkos untuk pulang ke kampung masing-masing. Tawaran untuk menaikkan upah itu tentu takkan mengubah pikiran mereka. Mau tak mau, Schouw Santvoort berjanji untuk melepas mereka di negari berikutnya, negari pertama di wilayah Djambi.

Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, ia bersetuju dengan  Radja di Sambah dan Baginda Radja untuk membagi rombongan menjadi dua. Ia sendiri akan melalui jalan air dengan sampan-sampan yang telah dikirimkan oleh Katib Sampono, sementara kedua kepala adat tadi, diiringi anggota tim lainnya dan para kuli akan meneruskan perjalanan di darat.  Pukul 10 pagi, sampan yang ditumpangi Schouw Santvoort membelah air. Ia meninggalkan dusun itu. Di tepian, tampak beberapa sampan yang tertambat. Ia juga melihat sebuah biloengkang di atas sebuah rakit.

Bersama dengan Djoeroetoelis dan Oedjir, Schouw Santvoort tiba di dekat Rantau Ikil sekitar pk. 11 pagi.  Sampan itu ditambatkan di beberapa gelondong kayu yang terapung-apung di sungai. Gelondong-gelondong kayu itu milik Toemenggoeng Rantau Ikil dan disiapkan untuk membuat pemandian di sungai. Rumah Toemenggoeng itu sendiri terletak sekitar 300 meter jauhnya dari sungai.

Karena Radja di Sambah dan Baginda Radja belum tiba, Djoeroetoelis dan Oedjir naik ke darat untuk menemui Toemenggoeng. Schouw Santvoort sendiri menunggu di atas sampan. Ia tak akan turun dari sampan itu sebelum diizinkan menjejakkan kaki di wilayah itu.

Di darat, Djoeroetoelis dan Oedjir melewati lapangan rumput yang luas dengan banyak kerbau di atasnya. Oleh tingginya tepian sungai, kerbau-kerbau itu baru tampak ketika mereka sudah naik ke darat.

Di tepian, di bagian yang lebih tinggi beberapa lelaki, tua dan muda, mulai berkumpul. Semakin lama semakin banyak saja jumlahnya dan semuanya membawa senjata di tangan. Tak seorang pun menunjukkan wajah yang ramah. Tak lama kemudian, Oedjir tergesa-gesa kembali ke sampan. Ia berseru agar Schouw Santvoort jangan meninggalkan sampan. Memang, lelaki-lelaki yang memenuhi tepian sungai tampak bergelagat penuh permusuhan. Schouw Santvoort menahan hati dan berusaha bersabar duduk di atas sampannya.

Setengah jam kemudian, Radja di Sambah dan Baginda Radja tiba. Radja di Sambah tampak tegang. Ia menekankan agar Schouw Santvoort tidak meninggalkan sampan itu. Ia sendiri lalu pergi menemui Toemenggoeng. Menit demi menit berlalu. Terik mentari semakin lama semakin terasa membakar kulit. Schouw Santvoort mulai khawatir bahwa ia takkan diperbolehkan menjejak daerah itu. Satu setengah jam kemudian, Radja di Sambah muncul lagi di hadapannya. Toemenggoeng ingin berbicara.

Diiringi banyak orang berwajah asam, yang tadinya menonton dirinya duduk di sampan, Schouw Santvoort  melangkah ke suatu tempat di tanah lapang di tepian sungai. Toemenggoeng duduk di sana bersama dengan Radja Tandjoeng Alam. Dengan senjata di tangan, para doebalang Toemenggoeng hilir-mudik di sekeliling tempat duduk kedua lelaki itu. Para doebalang itu membuka jalan di antara kerumunan orang agar Schouw Santvoort dapat mendekat.

Schouw Santvoort mengulurkan tangan dan setelah bersalaman dengan kedua lelaki itu, ia duduk bersila di atas rumput di dekat mereka. Radja di Sambah pun bersila di dekatnya. Schouw Santvoort memperkenalkan diri sebagai pedagang dan menjelaskan rencananya menjelajah melalui negari Toemenggoeng itu untuk mencapai Djambi. Ia sekaligus juga meminta bantuan beberapa orang warga penduduk daerah itu untuk membantunya dalam menjelajah karena kuli-kuli yang menyertainya hendak pulang.

Kedua kepala adat itu berbicara panjang-lebar. Schouw Santvoort menunggu dengan sabar. Akhirnya, Toemenggoeng  menyatakan akan menyediakan beberapa orang warganya untuk membantu ekspedisi. Orang-orang itu akan membantu Schouw Santvoort sampai ke Djambi. Ia juga berjanji akan membawa rombongan melalui jalan darat untuk menemui Kjai Lipati, Radja Telokh Kajoe Poetih, dan meminta bantuannya agar membantu tim penjelajahan itu bila mereka mengalami kesulitan.  

Ia juga berjanji akan melindungi Schouw Santvoort selama lelaki Belanda itu berada di wilayahnya sementara sampan disiapkan untuk keberangkatan berikutnya.

Kata-kata Toemenggoeng membesarkan hati Schouw Santvoort. Sebagai tanda terima kasih, ia memberikan uang sebesar ƒ 150,- kepadanya. Ia juga berjanji untuk memberikan upah yang memadai kepada orang-orang yang ditugaskan Toemenggoeng membantu ekspedisi bila ia telah tiba dengan selamat di Djambi. Dari Djambi, orang-orang itu akan memerlukan waktu selama sebulan (melalui jalan darat) untuk tiba kembali di kampung mereka.

Setelah perundingan ini selesai, Toemenggoeng memperkenalkan menantu lelakinya dan para doebalangnya.  Yang terakhir itu rupanya sangat menentang penjelajahan itu.

Akan tetapi, berkat bujukan dan paksaan dari Toemoenggoeng, akhirnya mereka mengalah. Walaupun demikian, mereka tetap menunjukkan sikap yang sangat kaku dan tidak ramah. Melihat sikap itu, Toemenggoeng merasa perlu meyakinkan tamunya bahwa ia dapat mempercayai para doebalang itu. Dengan ancaman hukuman mati, ia telah mempercayai keamanan Schouw Santvoort kepada mereka.

Sementara semua ini berlangsung, penduduk dusun sudah menyemut di sekitar mereka. Di antara mereka juga tampak beberapa orang perempuan. Ini menandakan bahwa situasi sudah boleh dianggap aman. Seseorang menunjuk pada beberapa gadis berpakaian rapi yang berumur kira-kira 12 – 14 tahun. Mereka adalah anak-anak perempuan Toemenggoeng.

 

Keterangan:

* Rantau Ikil merupakan sebuah Desa yang terletak dalam (daerah) Kecamatan Jujuhan, Kabupaten Bungo-Jambi.

* Acuan Kepustakaan: PJ Veth. Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, uitgerust door het Aardrijkskundig Genootschap, 1877-1879 . Jilid II. Leiden: EJ Brill. 1882

 


Tag : #Ekspedisi Belanda ke Jambi #Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie #Midden Sumatra



Berita Terbaru

 

Ekspedisi Belanda ke Djambi
Sabtu, 17 November 2018 09:17 WIB

Toeankoe Radja Loeboe Oelang-aling


Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda) Seorang pegawai pemerintahan Hindia-Belanda—seorang lelaki yang pandai bergaul dengan dan dipercayai

 

Jumat, 16 November 2018 12:55 WIB

Pemprov Jambi MoU Program e-Samsat Nasional


Kajanglako.com, Jambi - Plt Gubernur Jambi, Fachrori Umar, menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dan Perjanjian Kerjasama Samsat (PKS) Online Nasional.   MoU

 

Penerimaan CPNS 2018
Jumat, 16 November 2018 08:48 WIB

Tingkat Kelulusan CASN Rendah, Ini Kata Ihsan Yunus


Kajanglako.com - Rekrutmen Calon Aparatur Sipil Negara (CASN) tahun ini meninggalkan cerita pelik. Di satu sisi Negara tengah membutuhkan banyak tambahan

 

Festival Budaya Bioskop
Jumat, 16 November 2018 06:20 WIB

Bentuk Museum Bioskop, Tempoa Art Digandeng Institut Kesenian Jakarta


Kajanglako, Jambi-hanya tinggal menghitung hari, Festival Budaya Bioskop Jambi segera dibuka untuk publik. Festival untuk pertama kali di Jambi ini merupakan

 

Kamis, 15 November 2018 22:10 WIB

Dugaan Percobaan Penculikan Anak, CE: Jangan Buat Gaduh Sebelum Jelas Motifnya


Kajanglako.com, Sarolangun - Kabar dugaan percobaan penculikan anak di Desa Bernai Luar, Kabupaten Sarolangun, Sabtu (10/11) lalu sempat membuat gempar