Senin, 16 Juli 2018


Sabtu, 23 Juni 2018 09:24 WIB

Semalam di Tandjoeng Alam

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Pada tanggal 9 April, Schouw Santvoort berhati-hati naik ke atas sampan di Soengei  Djoedjoean. Ia ditemani oleh  Radja di Sambah, Penghoeloe Soengei Koenjit dan seorang pembantunya, Oedjir, yang bertugas mendayung sampan itu. Di bawah pimpinan Radja di Oeloe, anggota-anggota tim penjelajahan yang lain meneruskan perjalanan di darat menuju kampung Kamang.



Pukul 08.15 mereka tiba di  Tandjoeng Alam. Radja Indamar, yang bernama Radja Satia Alam, tinggal di dusun itu; sementara Radja di Oeloe tinggal di Kamang, dusun menginduk pada Tandjoeng Alam. Mereka bersampan tak sampai satu jam.

Banyak tempat dangkal di sungai itu; banyak pula bebatuan dan percepatan arus di tempat-tempat tertentu. Mereka harus berhati-hati supaya sampan mereka tidak oleng atau terbalik. Sungai itu berkelok-kelok dan tikungan-tikungannya yang pendek membuatnya tak mungkin dapat dilalui oleh sebuah kapal uap.

Setelah tiba, Schouw Santvoort terpaksa menunggu di atas sampan selama setengah jam, menunggu diizinkan turun ke darat. Lalu, bersama Radja di Sambah ia mendatangi rumah seorang kemenakan Radja van Tandjoeng Alam.

Rumah itu berdekatan dengan tempat sampan mereka merapat. Sejak mulai menjelajah, Schouw Santvoort seringkali melihat orang di berbagai dusun yang mengidap penyakit gondok.

Akan tetapi, belum pernah ia mengamati gondok sebesar yang ada di leher isteri, anak-anak dan kemenakan tuan rumah mereka. Wajah mereka hampir tertutup oleh pembengkakan itu. Gondok itu juga membuat suara mereka terdengar serak. Walaupun penampilan mereka agak mengerikan, mereka bersikap sangat ramah.

Kata orang, penyakit itu merupakan penyakit keturunan dan biasanya baru muncul pada saat anak-anak berumur sekitar empat belas tahun atau lebih muda lagi. Anehnya, di Rantau Ikir, yang berbatasan dengan daerah itu, tak ada orang yang terkena penyakit gondok.

Setelah beristirahat dan menunggu selama satu setengah jam, muncullah Radja  Tandjoeng Alam. Sementara itu, rumah tempat mereka beristirahat semakin lama semakin dipenuhi oleh warga dusun yang memperhatikan mereka dengan pandangan mata yang penuh curiga.

Orang-orang itu seperti tak berkedip, memperhatikan segala gerak-gerik Schouw Santvoort dan rombongannya. Lelaki Belanda itu terpaksa terbiasa menjadi tontonan. Sehari-hari, sepanjang hari, ada saja orang yang mengamati segala gerak-geriknya.

Radja dusun Tandjoeng Alam sangat santun. Barangkali sikap itu dikarenakan ia berasal dari Soengei Pagoe dan ia sangat menghormati Radja di Sambah. Ia berjanji akan membantu Schouw Santvoort. Ia juga menyatakan akan berjaga-jaga sepanjang malam karena beberapa orang di negarinya ‘kurang bersahabat’ terhadap Belanda.  

Perkenalannya dengan keluarga yang mengidap penyakit gondok itu dirasakan sangat menyenangkan oleh Schouw Santvoort. Ia memutuskan untuk tetap tinggal di rumah itu, walau Radja di Sambah, pengiring-pengiringnya dan para kuli pergi ke rumah lain untuk menginap. Radja di Sambah mengajaknya ikut menginap di tempat lain, tetapi lelaki Belanda itu menolak dengan halus.

Penghoeloe Soengei Koenjit, yang mewakili kepala adatnya, mendampinginya siang-malam. Tombaknya yang tajam tak lepas dari genggaman tangannya. Walau Schouw Santvoort mulai terbiasa dengan gaya bicara Penghoeloe Soengei Koenjit, kedua lelaki itu lebih banyak menggunakan bahasa isyarat untuk mengobrol.

Dusun tempat mereka menginap malam itu berlumpur, kecuali di depan rumah-rumah yang memiliki halaman kecil di depannya. Tak mengherankan di musim hujan seperti ini.  Indamar dan Tandjoeng Alam yang membawahi Soeji dan Kamang dihuni oleh beberapa ribu penduduk yang sebagian berasal dari Dataran Tinggi Padang dan sebagian lagi berasal dari Djambi.

Dalam kehidupan sehari-hari, kedua kelompok masyarakat itu berpanut pada aturan-aturan adat Minangkabau. Kedua Radja (kepala adat) yang memimpin dusun-dusun itu sama-sama berasal dari lembah Soengei Pagoe. Di masa mudanya, Radja Tandjoeng Alam bahkan pernah tinggal di Pasir Talang gewoond.

Produk alam yang dihasilkan Tandjoeng Alam tak banyak berbeda dengan yang ada di Soengei Koenjit. Namun, penduduk di dusun ini memiliki cukup banyak ternak, terutama kerbau. Binatang-binatang dijual ke daerah-daerah kekuasaan Belanda.

Selain itu, kebun kopi juga lebih banyak. Di Rantau Ikir, daun-daun kopi itu dipertukarkan untuk memperoleh garam, kain dan keperluan lainnya. Baik Indamar maupun Tandjoeng Alam memiliki sebuah masjid dan surau seperti di  Soeji. Bangunan-bangunan ibadah seperti itu tak ada di Soengei Koenjit.

Malam itu, rumah yang ditempatinya masih saja dipenuhi orang. Schouw Santvoort mulai menjelaskan apa yang diketahuinya mengenai Pulau Sumatera dan rute penjelajahan yang ingin ditelusurinya. Semua orang yang hadir mendengarkannya dengan penuh perhatian.

Malam itu ditutup dengan sajian istimewa yang telah disiapkan oleh tuan rumah untuk menghormati tetamu yang menginap di rumahnya: sebuah pertunjukan ‘tandak’. Para penari gemulai mempesona para tetamu dengan gerak-gerik tari yang tidak pernah tampak di Eropa.

Hari semakin malam. Rumah itu dikelilingi oleh beberapa orang bersenjata untuk menjaga keamanan. Schouw Santvoort tidak memperhatikannya. Ia tidur cepat, kelelahan. Menjelang tengah malam, ia terbangun. Seseorang menyampaikan kepadanya tentang kedatangan  Radja Indamar dan sekitar 25 orang bersenjata. Lelaki itu rupanya khawatir bahwa rumah yang ditempati Schouw Santvoort akan diserang.

Untunglah, kekhawatiran itu tidak menjadi nyata. Sampai pagi, yang terdengar hanya bunyi rintik hujan. Tiada henti tercurah dari langit.

 

*Acuan Kepustakaan: PJ Veth. Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, uitgerust door het Aardrijkskundig Genootschap, 1877-1879 . Jilid II. Leiden: EJ Brill. 1882


Tag : #ekpedisi sumatra tengah 1877-1879 #ekspedisi Belanda ke Jambi #Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie #Midden-Sumatra-expeditie 1877 - 1879



Berita Terbaru

 

Minggu, 15 Juli 2018 20:05 WIB

Pelantikan Pengurus IKBJ Dijadwalkan Awal Agustus


Kajanglako.com, Jambi – Panitia Pelantikan Pengurus Ikatan Keluarga Bungo Jambi (IKBJ) telah menjadwalkan pelantikan pada awal Agustus, acara pelantikan

 

HKP ke-46
Minggu, 15 Juli 2018 17:59 WIB

Bupati Syahirsah Harapkan Petani Tingkatkan Kualitas dan Kuantitas Produk Pertanian


Kajanglako.com, Batanghari - Plt Gubernur Fahrori Umar, mengatakan kepada petani yang telah sukses di bidang pertanian diharapkan dapat menularkan

 

Peringatan HKP
Minggu, 15 Juli 2018 17:55 WIB

Syahirsah Dampingi Fachrori Tutup Acara HKP Tingkat Provinsi


Kajanglako.com, Batanghari - Setelah berjalan selama tiga hari, yang dimulai pada 12 Juli lalu, Sabtu (14/7), Hari Krida Pertanian (HKP)  tingkat

 

FPTI
Minggu, 15 Juli 2018 17:46 WIB

Manfaatkan Alam Terbuka, FPTI Gelar Rakornis di Hutan Kota


Kajanglako.com, Jambi - Cara berbeda dan tak biasa dilakukan Pengurus Provinsi (Pengprov) Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Jambi saat menggelar

 

Minggu, 15 Juli 2018 15:18 WIB

Sambut Akbar Tandjung, Bupati Mashuri Sampaikan Perkembangan Kabupaten Bungo


Kajanglako.com, Bungo - Bupati Bungo, H Mashuri sambut kedatangan Ketua Dewan Pembina KAHMI Pusat, Akbar Tandjung. Bupati Mashuri menjamu Menteri zaman