Senin, 16 Juli 2018


Senin, 18 Juni 2018 08:24 WIB

'Bepak, nak Belajar Ape?'

Reporter :
Kategori : Perspektif

Anak-anak KAT Batin Sembilan tengah belajar di pinggir Danau 40, Sungai Bungin, Hutan Harapan, Kabupaten Batanghari. Foto: Jon Afrizal

Oleh: Jon Afrizal*

"Bepak, nak belajar ape?" 



(Bapak, kita hendak belajar apa?)

Demikian Rika (14), murid kelas 4 "Sekolah Besamo" bertanya kepada gurunya, Teguh Rianto, saat melaksanakan proses ajar-mengajar di pinggir Danau 40 di kawasan Sungai Bungin. Danau seluas 1 hektare ini berada di dalam Hutan Harapan di Kabupaten Batanghari Provinsi Jambi.

Sebanyak 16 murid, sembilan di antaranya adalah perempuan, belajar sambil bermain di kawasan ini. Beberapa di antara mereka duduk di kayu rebahan sambil membuka buku pelajaran. Mereka belajar tulis dan hitung. Beberapa anak lainnya tampak bermain-main, memanjat batang pohon, dan bermain air di danau.

Ke-16 siswa ini adalah bagian dari 45 siswa anak komunitas adat terpencil (KAT) Batin Sembilan yang belajar di kelas jauh yang diinisiasi PT Restorasi Ekosistem (REKI) sebagai pemegang konsesi Hutan Harapan sejak tahun 2012.

"Hanya 16 anak ini yang bersekolah dengan rutin. Sementara sisanya tidak," kata Teguh Rianto, beberapa waktu lalu.

Pendidikan adalah hal yang baru bagi warga Batin Sembilan. Sejak inisiasi dilakukan pihak perusahaan, mereka mulai mengenal pendidikan.

"Para orangtua tidak menolak anak-anaknya bersekolah. Hanya saja sedikit dari mereka yang sadar akan perlunya pendidikan bagi anak-anaknya," katanya.

Untuk mengantisipasi agar siswa tetap bersekolah, setiap hari ia dengan menggunakan kendaraan pick up roda empat milik perusahaan menjemput para siswa ke masing-masing kelompok. Yakni kelompok Sungai Pelompang, Tanding, Gelinding dan Simpang Macan Luar. 

Penjemputan dilakukan pada pukul 07.00 WIB. Memakan waktu 1 jam untuk menjemput siswa ke sekolah yang berada di kawasan Simpang Tanding, atau sekitar 20 menit perjalanan dengan menggunakan kendaraan roda empat dari camp PT REKI.

Sekolah ini adalah sekolah semi formal. Siswa dapat belajar di alam dan di ruang kelas. Ini semua tergantung kepada "mood" para siswa sendiri.

"Kami tidak bisa memaksa mereka untuk belajar secara formal seperti sekolah pada umumnya. Sebab jika kami paksakan, maka siswa tidak akan mau bersekolah lagi," katanya.

Sekolah ini memiliki dua ruang kelas dan satu ruang guru yang juga berfungsi sebagai perpustakaan. Sedangkan usia murid terbentang antara 7 hingga 14 tahun.

Murid-murid sendiri dibagi dua kelompok, yakni kelas rendah, kelas 1,2 dan 3. Dan kelas tinggi, kelas 4,5 dan 6.

Jam belajar pun sangat longgar. Mereka harusnya belajar hingga pukul 12.00 WIB. Tapi yang efektif hanya 3 jam saja. Sebab, terkadang, jika siswa mulai jenuh, mereka akan meminta untuk pulang ke rumah.

Jika sudah begitu, maka guru pun mengajak mereka bermain di bawah rerimbunan pepohonan di samping bangunan sekolah. Tersedia tiga utas ayunan di sana. Atau, jika berada di alam bebas, mereka akan bermain gasing dan beberapa permainan tradisional lainnya.

Guru pun harus sedikit berimprovisasi. Semisal, jika anak bermain ayunan, maka guru meminta mereka untuk menghitung dengan menggunakan jari tangannya berapa kali mereka berayun.

Sekolah ini berinduk pada SD 49/I Desa Bungku Kecamatan Bajubang Kabupaten Batanghari. Sekolah yang seluruh muridnya adalah anak Batin Sembilan ini mengirim muridnya ke SD induk untuk mengikuti Ujian Nasional (UN) SD.

Sebanyak tiga murid telah mengikuti UN SD pada tahun 2018 ini. Sementara pada tahun 2017, telah lulus dua orang siswa. Sedangkan di tahun 2016 telah lulus lima orang.

Adalah Ria (13) yang merupakan satu dari tiga siswa yang telah ikut UN SD tahun ini. Ia terdiam sejenak ketika penulis menanyakan apakah ia akan melanjutkan sekolah ke jenjang SMP atau tidak. Terlihat sikap pesimis di wajahnya.

"Malu," katanya.

Ia mengatakan beberapa temannya sempat melanjutkan ke jenjang SMP. Tapi putus di tengah jalan. Selain persoalan dana, juga masalah sosial.

Banyak dari anak Batin Sembilan merasa rendah diri jika berada di luar lingkungannya. Sebab, kerap warga desa terdekat menghadiahkan pandangan mata yang meremehkan kepada mereka. Sehingga mereka merasa tak nyaman.

Tapi ini tak berlaku buat Dita Anggraini, seorang siswa lainnya yang juga ikut UN SD dari sekolah ini. Ida Susanti, orangtuanya, sangat mendukung agar anaknya melanjutkan sekolah hingga ke jenjang sekolah tertinggi sekalipun.

Ia, yang hanya tamatan SD, berusaha terus menyemangati anaknya untuk melanjutkan pendidikan. Sebab menurutnya pendidikan penting agar anak-anaknya memiliki strata sosial yang sama dengan warga desa.

"Saya dan suami saya akan mengupayakan dana untuknya," katanya.

Ia mengatakan dua anaknya bersekolah di Sekolah Besamo. Yakni Dita Anggaraini yang berada di kelas 6, dan Bela Miranda di kelas 3.

Mereka mendapat bantuan dari pihak perusahaan untuk bersekolah, seperti alat tulis, tas, sepatu dan seragam sekolah. Tapi, katanya, pihak terkait seperti Dinas Pendidikan ataupun Dinas Sosial tidak pernah memberikan bantuan. Sialnya, katanya, instansi itupun tak pernah berkunjung terkait sosialisasi perlunya pendidikan di pemukiman mereka di kawasan Sungai Pelompang.

Ini pun bisa disaksikan sendiri. Sepanjang tiga hari penulis berada bersama mereka, memang tak pernah ada petugas dari instansi terkait yang berkunjung, baik ke sekolah maupun ke pemukiman. Padahal pendidikan termasuk satu dari 11 point yang termaktub di dalam Peraturan Presiden (Perpres) RI nomor 186 tahun 2014 tentang pemberdayaan sosial terhadap KAT.

Supervisor Community Development PT REKI, Syafrizal mengatakan "Sekolah Besamo" termasuk satu dari tiga program community development (CD) yang dilakukan perusahaan. Yakni pendidikan, kesehatan dan agroforestry.

Tapi, katanya, budget yang diberikan untuk sektor pendidikan lebih besar dari dua program CD lainnya. Meskipun ia tak menjelaskan total budget, tapi ia menggambarkan untuk bangun sekolah yang didirikan pada awal tahun 2017 itu membutuhkan dana sebesar Rp 30 juta. Itu belum termasuk pemberian perangkat belajar untuk siswa dan gaji dua guru.

"Ini tanggungjawab kami terhadap mereka yang tinggal di kawasan restorasi ini. Sebab kami harus membuat penghidupan mereka lebih baik di kemudian hari," katanya.

Jika taraf penghidupan mereka lebih baik, maka pihak perusahaan pun telah berhasil membina mereka. Meskipun butuh waktu lama untuk itu, tapi setidaknya pihak perusahaan telah berusaha.

"Kami kini tengah membangun pemahaman perlunya pendidikan bagi anak-anak mereka. Agar mereka tak dipandang sebelah mata lagi oleh warga di luar kelompok Batin Sembilan," katanya. 

 

*Penulis adalah anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Jambi.


Tag : #Anak-Anak KAT Sekolah #Sekolah Informal #Pendidikan untuk Semua #Sokola Rimba



Berita Terbaru

 

Minggu, 15 Juli 2018 20:05 WIB

Pelantikan Pengurus IKBJ Dijadwalkan Awal Agustus


Kajanglako.com, Jambi – Panitia Pelantikan Pengurus Ikatan Keluarga Bungo Jambi (IKBJ) telah menjadwalkan pelantikan pada awal Agustus, acara pelantikan

 

HKP ke-46
Minggu, 15 Juli 2018 17:59 WIB

Bupati Syahirsah Harapkan Petani Tingkatkan Kualitas dan Kuantitas Produk Pertanian


Kajanglako.com, Batanghari - Plt Gubernur Fahrori Umar, mengatakan kepada petani yang telah sukses di bidang pertanian diharapkan dapat menularkan

 

Peringatan HKP
Minggu, 15 Juli 2018 17:55 WIB

Syahirsah Dampingi Fachrori Tutup Acara HKP Tingkat Provinsi


Kajanglako.com, Batanghari - Setelah berjalan selama tiga hari, yang dimulai pada 12 Juli lalu, Sabtu (14/7), Hari Krida Pertanian (HKP)  tingkat

 

FPTI
Minggu, 15 Juli 2018 17:46 WIB

Manfaatkan Alam Terbuka, FPTI Gelar Rakornis di Hutan Kota


Kajanglako.com, Jambi - Cara berbeda dan tak biasa dilakukan Pengurus Provinsi (Pengprov) Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Jambi saat menggelar

 

Minggu, 15 Juli 2018 15:18 WIB

Sambut Akbar Tandjung, Bupati Mashuri Sampaikan Perkembangan Kabupaten Bungo


Kajanglako.com, Bungo - Bupati Bungo, H Mashuri sambut kedatangan Ketua Dewan Pembina KAHMI Pusat, Akbar Tandjung. Bupati Mashuri menjamu Menteri zaman