Rabu, 24 Oktober 2018


Minggu, 10 Juni 2018 15:50 WIB

Menyoal Pudarnya Budaya Lokal Jambi

Reporter :
Kategori : Oase Esai

Jon Afrizal. Penulis

Oleh: Jon Afrizal*

Masyarakat Jambi tercerabut dari akar? Ini mungkin tidak hanya keresahan saya pribadi saja, tetapi juga beberapa orang lainnya. Mari kita lihat persoalan ini dengan lebih jernih.



Di era 80-an, sewaktu itu saya masih duduk di kelas 4 Sekolah Dasar (SD) di sebuah sekolah swasta di Kota Jambi. Saya dan siswa lainnya mendapatkan sebuah buku untuk mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) dari guru kami di sekolah.

Buku itu berisi pengetahuan umum tentang Provinsi Jambi. Buku keluaran Kanwil Pendidikan dan Kebudayaan (P dan K) Provinsi Jambi ini menjelaskan banyak hal tentang daerah ini.

Seperti kisah mengenai para pejuang kemerdekaan, yang nama-namanya kian asing bagi generasi saat ini, bahkan tentang kekayaan alam, seperti berbagai jenis ikan yang dapat kita temui di Sungai Batanghari dan anak-anak sungainya.

Bagi siswa SD, yang pikirannya penuh dengan imajinasi, tentu buku ini memberi nilai lebih dari sekedar pelajaran yang biasa ditemui di ruang kelas yang kaku. Buku ini telah membawa pikiran anak-anak untuk menelusuri hal-hal lain di luar sekolah. Tentang sebuah daerah tempat mereka tinggal, Provinsi Jambi dan Kota Jambi.

Memang tidak detail, tapi cukup membantu pemahaman kami yang bukan "Putra Daerah" ini untuk mengenal Jambi lebih dekat lagi.

Tapi buku sejenis tidak lagi saya temui di kelas-kelas lanjutan. Bahkan di bangku SMP hingga SMA pun tidak.  Sangat disayangkan, pengetahuan daerah saya pun terputus di sana.

Bahkan, saat ini pun tidak ada pembelajaran tentang kelokalan di sekolah. Nanti akan saya jelaskan akibatnya. Sekarang izinkan saya mengulang kembali ingatan kita di tahun '90-an.

Pada masa itu, Abdurahman Sayuti adalah seorang Gubernur Jambi beristerikan Lili Syarif, sosok yang menaruh ketertarikan kuat pada seni.

Lili Syarif memiliki sebuah sanggar seni bernama "Kajanglako". Mereka yang diakui umum sebagai seniman berkumpul di sana untuk menggali potensi masing-masing. Tidak hanya bersifat pribadi saja, melainkan juga potensi kelokalan.

Di masa itulah "Batik Jambi" yang tinggal nama kembali dicuatkan. Berbagai sanggar batik dapat ditemui di kawasan Seberang Kota Jambi. Hingga kini, sanggar-sanggar itu masih ada, walaupun menghadapi persoalan dana dan pemasaran yang tak pernah tuntas. Mereka dihadirkan di berbagai pameran, baik level lokal maupun nasional bahkan internasional, tapi tidak memiliki perekonomian yang baik untuk menunjang keberlangsungan usahanya.

Tak bisa dipungkiri juga peran Abdurahman Sayuti untuk men-Jambi-kan Provinsi Jambi. Di era itulah tumbuh kesadaran masyarakat untuk mengubah bentuk atap rumah mereka yang terlanjur berarsitektur modern menjadi bentuk "Kajanglako".

Ini adalah terobosan yang brilian mengingat pengaruh dari luar tengah mengepung Jambi kala itu, dengan dibukanya jalur Jalan Lintas Timur Sumatera, sebagai sarana keluar dan masuk Provinsi Jambi.

Hingga saat ini, bibit-bibit mencintai kelokalan itu masih tumbuh. Batik Jambi kini tidak hanya didominasi Kota Jambi saja, tapi kabupaten lain pun ikut mengembangkan kreasi mereka, yang terlalu dini menurut saya, karena tidak memiliki dasar corak yang kuat pada akarnya, dan keluar dari pakem batik pada umumnya.

Seperti kita mahfumi, batik adalah budaya Jawa yang dibawa ke tanah Melayu, dengan segala falsafah ke-Jawa-annya. Pertanyaannya, apakah anda pernah melihat batik yang bercorak hewan sejenis "kerang" di tanah Jawa sana? Lha, di Jambi ada!

Begitu pula atap "Kajanglako" pun hingga kini masih banyak digunakan, meskipun kadang terkesan memaksakan kehendak, yang membuat benturan pola-pola arsitektural yang "aneh". Sebagai contoh, ada sebuah bangunan gereja berarsitektur abad ke-19 di bilangan Pasar Kota Jambi. Sangat berciri khas Eropa. Tapi entah mengapa, ditempelkan atap "Kajanglako" di depannya. Akibatnya, tentu saja membingungkan bagi para pengagum seni bangunan.

Lihat, anda telah saya bawa menjelajahi dekade demi dekade perjalanan Provinsi Jambi dan Kota Jambi. Lalu, mari kita bandingkan dengan kondisi saat ini.

Harus saya katakan, pembangunan Kota Jambi saat ini kerap melupakan nilai kelokalan. Perubahan nama kawasan yang seenaknya, misalnya, telah membuat generasi lanjutan tidak memahami filosofis kelokalan. Seperti penyebutan "simpang tiga" yang diubah menjadi "pertigaan" dan selanjutnya.

Siapapun tahu, kata "simpang" adalah bahasa Melayu untuk menyebutkan persilangan beberapa ruas jalan. Sementara kata "pertigaan" atau "perempatan" juga mengacu pada arti yang sama. Sayangnya, penggunaannya hanya kita jumpai di Pulau Jawa saja. Lalu, di Kabupaten Muarajambi, ada sebuah daerah yang bernama "Simpang Lima". Haruskah kita sebut sebagai "Perlimaan"? Bijaklah dalam memposisikan sesuatu, sesuaikan menurut adat tradisi. Jangan seenaknya mengubah sesuatu yang sudah selayaknya demikian.

Selanjutnya, pertandingan membangun hotel dan mall seolah tiada habisnya. Sepertinya kita semua dianjurkan untuk menganut pola pikir konsumerisme tiada henti. Terus dan terus berbelanja, tetaplah menjadi konsumen, dan jangan pernah menjadi produsen. Begitulah kira-kira.

Tapi satu yang dilupakan, tidak ada pembangunan landmark di berbagai pintu masuk ke Kota Jambi, baik dari arah Sengeti, Tempino, Simpang Rimbo, Sejinjang ataupun dari Kumpeh.

Siapapun yang masuk kota ini tidak membekaskan ciri men-Jambi di pikirannya. Sebab tanda itu tidak ada. Semua jadi serba sama, tidak ada kesan tersendiri.

Ini berbeda dengan Kota Padang, misalnya, yang memiliki landmark "Bingkuang" di pintu masuk kota. Yang terpatri dalam ingatan kita ketika melihat "Bingkuang" raksasa itu, adalah, kita telah memasuki Kota Padang.

Saya harap penjelasan saya ini membuat kita berada di pemahaman yang sama, yakni menciptakan arah pembangunan yang berkelokalan dan berciri khas. Bukan memplagiat kota lain.

Anda pun telah melihat hubungan tidak langsung antara pemberian muatan lokal di sekolah, yakni untuk pembentukan pribadi yang tidak hanya memahami ilmu pengetahuan modern saja, tapi juga memiliki pijakan kuat pada tradisi lokal.

Sehingga adalah aneh ketika kita masih berpikir untuk memberikan gelar adat terhadap individu yang dianggap layak oleh lembaga yang di-pemerintah-kan, jika tidak ada landasan kelokalan. Atau, bagaimana jika individu itu terjerat kasus hukum, dapatkah gelar adat yang diberikan kepadanya ditarik kembali, atas dasar tradisi? Ini harus dipikirkan secepatnya.

Hal lainnya adalah melestarikan bahasa Jambi. Kita harus memiliki dan memaksimalkan sekolah yang di dalamnya terdapat fakultas sastra. Sebab mereka akan mengkaji berbagai hal tentang bahasa Jambi. Sehingga ungkapan bahwa beberapa bahasa ibu di Jambi hilang akan segera diperbaiki.

Penting juga untuk memahami penggunaan bahasa Jambi yang benar. Kita sering mendengar beberapa orang secara serampangan mengubah kata dalam bahasa Indonesia yang memiliki akhiran "a" menjadi "o", agar men-Jambi. Seperti kata "warga" menjadi "wargo", " tersangka" menjadi "tersangko", dan lain sebagainya. 

Jika ini terus dibiarkan, maka adalah mungkin nantinya kita mendengar seseorang menyebut kata "Indonesia" menjadi "Indonesio" dan "Amerika" menjadi "Ameriko". Maka, hancurlah tatanan bahasa Indonesia kita akibat ketidaktahuan berbahasa yang baik dan benar.

Akhirnya, pelbagai aspek kelokalan itu saya ungkapkan bukan untuk diperdebatkan. Sebab itu adalah fakta di lapangan. Yang harus kita lakukan adalah mendorong pemerintah daerah untuk merekonstruksi ulang pembelajaran di sekolah, dengan memasukan muatan lokal.

Jika ini tidak cepat kita lakukan, maka kita akan tergilas kuatnya arus globalisasi, dan tidak ada lagi budaya lokal Jambi di bumi. Mari berbuat!

 

*Koresponden The Jakarta Post di Jambi dan anggota AJI Kota Jambi. Menaruh minat pada seni musik, sastra dan budaya popular.


Tag : #Muatan Lokal Jambi di Sekolah #Budaya Lokal Jambi Punah



Berita Terbaru

 

Selasa, 23 Oktober 2018 23:34 WIB

Pemkab Bungo dan UGM Sepakati Kerjasama di Empat Bidang


Kajanglako.com, Bungo - Pemkab Bungo dan Universitas Gadjah Mada (UGM) resmi melakukan kerjasama. Ini ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman

 

Selasa, 23 Oktober 2018 23:12 WIB

Warga 8 Kecamatan dan 5 Kelurahan di Bungo Ini Harus Waspada Banjir


Kajanglako.com, Bungo - Delapan Kecamatan dan Lima Lurah di Kabupaten Bungo yang sudah dicap langganan banjir harus waspada, mengingat curah hujan yang

 

Kejurwil Panjat Tebing
Selasa, 23 Oktober 2018 22:19 WIB

Ketua KONI Batanghari Jamu Atlet Panjat Tebing se-Sumatera Makan Malam


Kajanglako.com, Jambi - Sambutan spesial dilakukan Ketua KONI Batanghari,  Arzanil, kepada seluruh atlet panjat tebing se-Sumatera yang berlaga di

 

Kejurwil Panjat Tebing
Selasa, 23 Oktober 2018 21:55 WIB

Hari Kedua, Atlet Panjang Tebing Jambi Sumbang Satu Emas


Kajanglako.com, Jambi - Memasuki hari kedua Kejuaraan Wilayah (Kejurwil) Panjat Tebing se-Sumatera yang digelar di Venue Garuda Kabupaten Batanghari, Atlet

 

Selasa, 23 Oktober 2018 21:29 WIB

9 Kabupaten/Kota Diganjar WTP, Hanya 2 Daerah Ini Raih WDP


Kajanglako.com, Jambi - Selain Pemerintah Provinsi Jambi, 9 Kabupaten/Kota di Jambi juga meraih opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari BPK atas laporan