Rabu, 24 Oktober 2018


Sabtu, 09 Juni 2018 09:45 WIB

Larang Pantang Adat Parbokalo Bungkan Yang Empat

Reporter :
Kategori : Jejak

Penulis

Oleh: Jhoni Imron*

“Zaman orang tua dulu, secara tertulis tidak ada aturan untuk jaga hutan. Tapi hutan atau tanah ulayat itu dijaga oleh Depati, Ninek Mamak. Itu sudah menjadi aturan adat.” 



Idrus Salim baru merebahkan badannya di atas pembaringan. Ia hendak beristirahat sehabis menunaikan shalat Isya. Baru sebentar, terdengar suara memanggilnya dari luar rumah. 

Rumah yang ditinggali Idrus dibangun dua tingkat, tapi hanya bagian bawah yang lebih banyak digunakan. Dia bersama istri, anak, menantu dan cucunya lebih memilih tinggal di lantai bawah. Idrus bersama istrinya mendiami kamar yang terletak di bagian belakang rumah.

Di lantai atas juga terdapat satu kamar yang ditempati cucu perempuannya yang masih duduk di bangku sekolah menengah (SMP). Selain itu juga tersedia ruangan yang cukup luas, yang biasa dipakai oleh tamu yang ingin bermalam di rumahnya.

Idrus Salim segera keluar. Ntino Anang, istrinya, memberitahukan jika yang datang adalah fasilitator dari Perkumpulan Walestra.

Di luar, dua orang anak muda sudah berdiri di depan pintu utama sejak beberapa menit lalu. Tanpa menunggu lebih lama, keduanya langsung masuk disambut si penghuni rumah seperti anak yang baru pulang merantau. Keduanya terlibat obrolan hangat dengan Idrus Salim.  

Idrus terlihat seakan sangat terbiasa berbincang-bincang dengan kedua anak muda di depannya. Suaranya yang be-tone berat semakin menambahkan kesan berwibawa pada sosoknya sebagai Ketua Adat Parbokalo Bungkan Yang Empat.

Puas bertanya kabar masing-masing, perbincangan mereka mulai menjurus ke soal hutan adat. 

“Zaman orang tua dulu, secara tertulis tidak ada aturan untuk jaga hutan. Tapi hutan atau tanah ulayat itu dijaga oleh Depati, Ninek Mamak. Itu sudah menjadi aturan adat,” kata Idrus Salim, menjawab pertanyaan dari salah seorang yang datang ke rumahnya malam itu.

Aturan adat Parbokalo Bungkan Yang Empat, kata Idrus, juga mengatur bagaimana cara menggarap lahan hutan, yang sudah masuk ke dalam tanah ulayat mereka.

“Sudah menjadi pemakaian adat, ada larang pantang dalam pengelolaan hutan. Yang dilarang banyak,” kata dia menjelaskan.

Aturan menanam jenis tanaman, juga diberitahukan ketika Orang Tua Adat memberikan ‘Ajun Arah’. Ajun Arah adalah semacam penentuan pemilihan lokasi berladang dan jenis tanaman yang harus ditanam di lahan yang sudah dipilih oleh tetua adat seperti Idrus Salim.

Di kerapatan adat yang dipimpin Idrus Salim, sampai saat ini aturan menanam pohon tetap ada dan dipatuhi, namun untuk pembukaan lahan baru tidak dilakukan lagi. Masing-masing orang akan mendapat bagian berdasarkan Kalbu dan Sukunya. 

Kerapatan Adat Parbokalo Bungkan Yang Empat Desa Talang Tinggi dan Mukai Tinggi di Kecamatan Siulak Mukai, Kabupaten Kerinci, Jambi, terdiri dari empat suku. Empat suku tersebut, yakni Suku Rajo Indah, Suku Rajo Sulah, Suku Rajo Penghulu dan Suku Datuk.

Selain itu, rumpun masyarakat adat ini juga terbagi menjadi enam Kalbu, yaitu 1) Kalbu Anak Jantan, 2) Kalbu Anak Batino Tuo, 3) Kalbu Anak Batino Mudo/Kampung Dalam, 4) Kalbu Rajo Penghulu, 5) Kalbu Rajo Sulah dan 6) Kalbu Datuk.

Parbokalo Bungkan Yang Empat bisa diartikan kata per kata sebagai purbalaka/zaman dahulu-suku-yang-empat. Defenisi ini berdasarkan penuturan Idrus Salim kepada tim Perkumpulan Walestra.

“Jadi asal usulnyo, Adat Parbokalo Bungkan Yang Empat memiliki empat suku dan enam kalbu itu,” kata Idrus Salim menjelaskan.

 **

Di tanah ulayat Parbokalo Bungkan Yang Empat, dulu di lahan yang agak datar memang dikelola menjadi ladang warga. Sementara beberapa lokasi memang sengaja dibiarkan. Wilayah itu, terutama di areal tanah yang memiliki kemiringan yang cukup curam, sampai kini tetap dipertahankan tegakan pohonnya, dan juga ditanami bambu.

“Pada umumnya di Kerinci ini, untuk menjago tanah agar tidak longsor, ditanam bambu. Itu diatur dalam adat,” ujar Idrus Salim. 

Bambu, selain untuk mencegah longsor, juga sebagai batas agar tidak sengketa. Selain itu untuk menandai daerah yang tidak boleh digarap.

“Kalau kayu manis, dipanen. Bambu kalau pun dipanen bisa cepat tumbuh lagi,” ujar Idrus, menjelaskan alasan pemilihan bambu sebagai tanaman pembantas di lahan-lahan warga.

Lagi pula, kayu manis menjadi tanaman tua yang utama ditanam di setiap lahan. Kebiasaan ini sudah ada dan berlangsung sejak dulu. Leluhur mereka sudah meninggalkan kebiasan bertani yang sangat berguna untuk menopang perekonomian warga hingga saat ini. 

Memang diakuinya, tidak ada aturan adat yang tertulis mengatur hal itu, namun kebiasaan nenek moyang mereka sejak dulu, itu ada dan tetap dipegang hingga kini. “Nyo ginei,” kata Depati Intan Tengah Padang, Idrus Salim, dalam logat Kerinci yang kental. 

“Kopi diantar oleh Palawija, tanaman tua seperi kulit manis, surian, itu diantar oleh kopi. Kalau dak macam itu dak rutin orang menyiang.” Idrus Salim menjelaskan kebiasaan nenek moyang mereka dulu, sambil sesekali terlihat sedang berusaha mengingat-ingat. 

**

Pandangan Idrus Salim terhenti pada kalender 2018, yang dari tadi dipegang dan diamati istrinya. Kalender itu memuat gambar petani di antara barisan tanaman kopi yang masih dipolybag. Kegiatan serupa pernah dilakukan Idrus sejak akhir 2016 lalu. Waktu itu, masyarakat membentuk kelompok pembibitan didampingi Konsorsium Perkumpulan Walestra.  

Kelompok-kelompok itu kemudian menyemai bibit di bawah naungan yang telah dibuat secara swadaya, dengan bantuan pendanaan dari ICCTF. Kayu manis, kopi dan surian dipilih sebagai tanaman yang disemai. Pemilihan tanaman ini sendiri merujuk kepada potensi lokal serta apa yang dilakukan dan menjadi kebiasaan warga setempat sejak lama.

Dua orang muda dari Walestra masih asyik mendengar kisah sang Depati. Laki-laki 60-an tahun yang juga dipanggil Nyantan Anang itu kembali meneruskan ceritanya. 

Soal pembibitan, ia paham betul bagaimana bersemangatnya kelompok yang mereka bentuk waktu itu, memasukkan pohon demi pohon bibit ke dalam plastik kecil berwarna hitam. Yang menarik dari metode dalam kegiatan pembibitan itu, masing-masing anggota kelompok hanya akan mendapatkan bibit tanaman sebanyak yang disemainya sendiri. 

Desember 2016 hingga Januari 2017 masyarakat membuat bibit. Bulan-bulan setelah itu, sampai Agustus, aktivitasnya adalah perawatan. Kayu Manis, Kopi dan Surian, dari lokasi pembibitan itu akan ditanam di ladang warga yang masuk dalam areal hutan adat yang tengah diusulkan untuk mendapatkan legalitas dari pemerintah. 

Sudah sekian bulan berlalu sejak berakhirnya kegiatan pembibitan. Sebanyak 120.000 bibit yang terdiri dari Kayu Manis, Kopi dan Surian, sudah dibagikan ke masing-masing  anggota kelompok. Sebagian sudah ditanam, sebagian lainnya masih menunggu musim. Namun Idrus Salim memastikan bahwa bibit yang mereka semai secara swadaya itu akan sangat berguna untuk memperbaiki kondisi tanah ulayat yang mereka gunakan untuk berladang.

“Kalu bibit, berapa pun di sini pasti habis. Banyak yang mau. Bahkan kalau jual, banyak yang mau beli,” kata Idrus, menjawab pertanyaan dari MusTa’em, Fasilitator Desa di Perkumpulan Walestra, soal sebagian bibit yang belum ditanam anggota kelompok.

Masyarakat di daerah itu memang membutuhkan banyak bibit kayu manis. Apalagi, harga komoditi ini semakin membaik. 

Idrus memperkuat pernyataannya dengan menyebut jenis tanaman Cassiavera ini sebagai tanaman pokok di daerahnya. Tanaman kebiasaan. Bahkan tanaman itu sangat bisa diandalkan untuk memenuhi pundi-pundi keuangan petani. Karena panennya setelah dalam jangka waktu yang lama, maka kayu manis juga dianggap sebagai tabungan keluarga.

“Ini rombongan kami, itu mau pergi umroh, itu 20 orang, dari desa ini,” ujar Idrus.

Menurut dia, petani bisa berangkat ke tanah suci, seperti itu, dari pendapatan menjual hasil panen kayu manis. 

“Nengok itu, dari keberhasilan seluruh penduduk di sini, orang sudah terpengaruh (untuk menanam kayu manis. pen). Kulit (kayu manis, pen) mahal. Kalo sekarang itu Rp 40.000,” ujar Nyantan Anang itu menyakinkan.

Contoh yang diberikan Idrus Salim, seolah ingin menegaskan, bahwa bibit yang mereka hasilkan dari kerja kelompok pembibitan tempo hari, tidak akan sia-sia.

**

Mustaem melihat ke jam yang melingkar di tangannya. Jarum pendek menunjuk ke angka 10, jarum panjang tak dihiraukannya mengarah kemana. Dia lalu memberi isyarat dengan kode gerakan kepala seperti sedang bertanya kepada kawan di sebelahnya. 

Yang diberi kode segera paham. Segera saja mereka menyudahi pembicaraan dengan pemilik rumah. Keduanya lalu berpamitan pulang. 

Tawaran menginap susul menyusul datang dari Nyantan dan Ntino Anang. Tapi pekerjaan yang menumpuk, menjadi alasan yang tepat sehingga keduanya bisa berpamitan, tanpa menyinggung perasaan dua laki bini tersebut. 

Di luar titik-titik hujan kian jelas terlihat. Suara butiran air yang jatuh di atas atap rumah terdengar semakin besar. Tapi, pilihan untuk kembali ke dalam rumah bagi dua anak muda dari Walestra itu sudah tidak ada lagi. 

Berat rasanya untuk kembali masuk, setelah alasan pamungkas dilontarkan ke pemilik rumah agar mengizinkan mereka tetap pulang ke basecamp Walestra di Kota Sungai Penuh. Keduanya langsung menaiki motor lapangan yang terparkir tepat di depan rumah Idrus Salim. 

Motor dipacu menerobos hujan. Tanpa mantel, keduanya mantap melaju dengan posisi badan dicondongkan ke depan.

Sepanjang perjalanan pulang, sesekali terlihat kilat menyambar memperlihatkan siluet di balik bukit-bukit yang memagari Kota Sungai Penuh. Ta’em dan kawannya terlihat sesekali tertawa sambil menahan dingin yang semakin menusuk tulang. 

Entah apa yang mereka bicarakan.

Sepeda motor yang dikendarai Ta’em tetap melaju menerobos hujan. Kawannya yang membonceng seperti bersembunyi di balik badan Ta’em yang tidak terlalu besar. Di kepala keduanya berkecamuk macam-macam pikiran. Sederet daftar pekerjaan masing-masing sudah menunggu untuk segera dituntaskan.

 

*Penulis adalah jurnalis sekaligus pegiat blog. Artikel di atas termuat dalam buku "Merajut Pengetahuan dan Pembelajaran bersama Masyarakat dalam Pengelolaan Hutan: Cerita dan Catatan Lapangan yang ditulis Jhoni Imron (2018).


Tag : #Kerinci Seblat #Larang Pantang Adat Kerinci Seblat #Jambi #Sumatra



Berita Terbaru

 

Rabu, 24 Oktober 2018 10:30 WIB

Murady: Selamat untuk Pemprov Jambi dan Pemda yang Raih Opini WTP


Kajanglako.com, Jambi - Politisi Nasional, Drs H A Murady Darmansyah memberikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Jambi dan sejumlah Kabupaten dan Kota

 

Korupsi Taman Hijau
Rabu, 24 Oktober 2018 10:23 WIB

Rugikan Negara Rp150 Juta, Mantan Kadis LH Bungo Ditetapkan Tersangka


Kajanglako.com, Bungo - Kejaksaan Negeri Bungo kembali menunjukkan taringnya, setelah melimpahkan kasus dugaan korupsi pengadaan alat kesehatan di Dinas

 

Program IKM
Rabu, 24 Oktober 2018 10:10 WIB

Ihsan Yunus Hadiri Distribusi Mesin Las Listrik di Telanaipura


Kajanglako.com, Jambi - Selasa (23/10), Kementrian Perindustrian membagikan sejumlah mesin las listrik bagi penggiat usaha jasa pengelasan di Kelurahan

 

Penncurian
Rabu, 24 Oktober 2018 10:02 WIB

Bobol Bengkel Motor di Pamenang, Empat Pelajar Diamankan


Kajanglako.com, Merangin - Empat pelajar di Kecamatan Renah Pamenang diamankan Polisi, lantaran melakukan pencurian. Kasus ini terungkap berawal dari laporan

 

Selasa, 23 Oktober 2018 23:34 WIB

Pemkab Bungo dan UGM Sepakati Kerjasama di Empat Bidang


Kajanglako.com, Bungo - Pemkab Bungo dan Universitas Gadjah Mada (UGM) resmi melakukan kerjasama. Ini ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman