Rabu, 20 Juni 2018


Sabtu, 09 Juni 2018 07:54 WIB

Bermalam di Dusun Soeji

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda) 

Jalan yang ditelusuri hari itu memang banyak rintangan. Namun demikian, tanpa harus dikomando, para kuli berjalan dengan cepat. Tak seorang pun ingin terpisah dari rombangan  di dalam belantara. Setiap orang takut dibegal oleh perampok; tak ada yang ingin tersesat dan terpaksa menginap sendirian di dalam hutan.



Banyaknya kelokan di jalan itu dan lebatnya semak-belukar membuat mereka sesekali terpisah kehilangan pandangan terhadap orang-orang yang berjalan di depan. Dua kali, mereka hampir saja tersesat karena mengikuti jalan setapak yang kemudian ternyata bukanlah jalan, melainkan jejak kawanan gajah.

Walau sebelum berangkat, ada kabar bahwa perjalanan mereka kemungkinan akan dihadang oleh penjahat, Schouw Santvoort sendiri tidak melihat tanda-tanda adanya penjahat-penjahat itu.

Akan tetapi, malam itu Radja di Sambah bercerita bahwa dalam perjalanan hari itu, Radja di Oeloe dua kali bertemu dengan beberapa orang yang mencurigakan. Untunglah, lelaki itu, yang selalu berjalan di depan dengan tombaknya, berhasil mengusir orang-orang itu.

Schouw Santvoort sebetulnya ingin berbicara dengannya, namun pembicaraan dengannya tak kunjung terjadi. Anggota-anggota tim penjelajahan yang berbangsa pribumi pun kesulitan memahami bahasa yang digunakannya. Tambahan lagi, lelaki itu memang pendiam pula.

Menjelang pukul 11.00, mereka tiba di Soengei Moendi, perbatasan di antara Soengei Koenjit dan Soengei Pau yang terletak di sebelah tenggaranya. Dua jam kemudian, mereka tiba di perbatasan antara Soengei Koenjit dan Indamar. Pk. 13.00, di atas sebuah bukit, tiba-tiba hutan yang selama ini membatasi pandangan mata, terbuka luas. Dari tempat yang dulunya merupakan ladang tampak pemandangan yang indah. Sejauh mata memandang, tampak perbukitan hijau.

Pk 15.15, mereka tiba di Indamar, sebuah dusun dengan rumah-rumah yang tersebar jauh satu sama lain. Beberapa orang menyarankan untuk meneruskan perjalanan ke Soeji, tanpa berhenti di dusun itu. Saran ini diikuti oleh Schouw Santvoort karena ia sendiri merasa tak nyaman melihat pandangan mata warga dusun itu. Ia merasa dianggap sebagai orang yang tak diinginkan.

Mereka meneruskan perjalanan. Tak lama kemudian, mereka sampai di Soeji. Seperti juga di Soengei Koenjit dan Tandjoeng Alam, banyak penduduknya berasal dari Soengei Pagoe.

Di dekat Soeji, tampak Soengei Djoedjoean yang mengalir deras di antara tepian-tepiannya yang tinggi. Di dalam hati, Schouw Santvoort mengucapkan selamat tinggal pada dataran tinggi yang telah dilewatinya. Belantara lebat dengan tetumbuhannya yang lebat dan gelap, dengan aliran deras air sungai dari sumbernya di gunung dan jurang-jurangnya yang dalam telah dilewatinya.

Setelah itu, jalan menuju pantai timur Sumatra sudah membentang dan dapat ditelusuri, pun tampai pemandu jalan.

Schouw Santvoort mengutus Katib Sampono untuk berangkat duluan untuk membeli perahu-perahu yang diperlukan untuk melanjutkan perjalanan. Dengan susah-payah, ia berhasil mendapatkannya dua buah sampan kecil.

Namun, sampan-sampan seperti itu sama sekali tidak cocok untuk perjalanan panjang. Dari Rantau Ilir—tempatnya menunggu kedatangan tim penjelajahan, ia mengirimkan sampan yang terbesar ke Soeji. Dengan sampan itu, tim harus dapat menyeberang ke Rantau Ilir. Akan tetapi, karena sampan itu hanya dapat mengangkut empat orang sekali jalan, mereka memerlukan waktu cukup lama untuk menyeberangkan seluruh tim. 

Sampan itu terbuat dari sepotong kayu yang di bagian tengahnya dikerat. Empat orang dapat duduk berturutan di dalamnya. Sebagian sampan itu tertutup oleh atap dedaunan. Karena dinding lambungnya tidak terlalu tinggi, sampan itu sangat mudah bergerak-gerak di dalam air dan mudah oleng bila penumpangnya bergerak-gerak terlalu banyak.

Untuk menghindari bahaya seperti itu, pada jenis sampan yang lebih besar dan yang dimaksudkan untuk dipakai dalam perjalanan jauh, dinding lambungnya diberi pemberat.

Sampan seperti ini disebut ‘biloengkang’. Semua biloengkang memiliki bagian yang tertutup oleh atap susunan dedaunan kering di atas empat tiang penopang di tengah-tengah lambungnya.

Karena biloengkang lebih lebar daripada sampan biasa, dua orang dapat duduk berdampingan untuk mendayung. Perahu seperti ini dapat membawa 12-20 orang penumpang, tetapi hanya sekitar lima orang dapat beristirahat di bawah atapnya.

Berkat bantuan Penghoeloe Soekoe Soeji, malam itu mereka diperbolehkan menginap di sebuah rumah yang sedang dibangun. Dindingnya tak ada sama sekali, tapi atapnya sudah terpasang.

Seharusnya mereka dapat beristirahat kalau saja tak ada kabar-kabar yang membuat hati was-was. Konon, orang-orang yang tadi hendak menyergap mereka di hutan, kini telah berjalan mendahului mereka ke nagari berikutnya. Di sana mereka berusaha mengumpulkan orang yang bersedia bersekutu dengan mereka untuk menyergap Schouw Santvoort dan rombongannya. Berita ini memusingkan kepala Radja di Sambah.

Schouw Santvoort berusaha menenangkan hatinya. Tak lama lagi, Radja di Sambah akan meninggalkan rombongan tim penjelajahan. Schouw Santvoort menyelesaikan urusan ‘administrasi’ dengannya. Ia melunasi pembayaran honor Radja di Sambah dan anak buahnya, yaitu sebesar ƒ128,-

Semalaman, warga dusun Soeji berdatangan untuk menghormati Radja di Sambah. Selain mereka, juga berdatangan orang-orang yang berpenampilan mencurigakan. Tanpa berbicara kepada siapa pun, mereka terus-menerus menatap sosok Schouw Santvoort. Tentu saja, sikap ini membangkitkan kekhawatiran dan kecurigaan lelaki Belanda itu. Sikap mereka juga membuat anggota-anggota tim lainnya berjaga-jaga.

*Acuan Kepustakaan: PJ Veth. Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, uitgerust door het Aardrijkskundig Genootschap, 1877-1879 . Jilid II. Leiden: EJ Brill. 1882

 


Tag : #Jambi #Ekspedisi Sumatra Tengah #Sumatra



Berita Terbaru

 

Kuliner Nusantara
Rabu, 20 Juni 2018 15:00 WIB

Sensasi Pedas 'Sate Setan' di Bernai Sarolangun


Kajanglako.com, Sarolangun – Bagi anda penyuka kuliner nusantara, kalau anda jalan-jalan ke Kabupaten Sarolangun, jangan lupa untuk mencoba’Sate

 

Pilwako Jambi 2018
Rabu, 20 Juni 2018 14:45 WIB

Dimeriahkan Judika, Fasha Undang Warga Hadiri Kampanye Akbar FM di GOR Kotabaru


Kajanglako.com, Kota Jambi – 23 Juni nanti, pasangan calon nomor urut dua Fasha-Maulana akan menggelar kampanye Akbar di GOR Kotabaru, Kota Jambi. Kampanye

 

Pilwako Jambi 2018
Rabu, 20 Juni 2018 14:31 WIB

Soal Video Rekayasa Politik Uang, Fasha: Mudah-mudahan Allah Turunkan Hidayahnya


Kajanglako.com, Kota Jambi – Calon Walikota Jambi nomor urut dua, Syarif Fasha menanggapi santai video politik uang yang diduga rekayasa untuk menyerang

 

Pilwako Jambi 2018
Rabu, 20 Juni 2018 14:04 WIB

Kapolda Kunjungi Kediamannya, Sani: Terima Kasih Pak Telah Sudi Hadir


Kajanglako.com, Kota Jambi - Kapolda Jambi, Brigjen Pol Muchlis AS berserta rombongan juga melakukan kunjungan ke kediaman Calon Walikota Jambi nomor urut

 

Pilwako Jambi 2018
Rabu, 20 Juni 2018 13:49 WIB

Jelang Pemungutan Suara, Kapolda Sambangi Kediaman Syarif Fasha


Kajanglako.com, Kota Jambi – Menjelang hari pemungutan suara Pilwako Jambi pada 27 Juni nanti, Kapolda Jambi Brigjen Pol Muchlis AS mengunjungi kediaman