Sabtu, 15 Desember 2018


Jumat, 08 Juni 2018 15:18 WIB

Pasca Tragedi Ophelia 1931, Belanda Bangun Jembatan Beatrix di Sarolangun

Reporter :
Kategori : Ensklopedia

Jembatan Beatrix di Sarolangun. 1938. Sumber: javapost.nl

Pasca tenggelamnya Hekwieler Ophelia (dibaca: ofilia), pada 1936 hingga 1937 awal direncanakan pembangunan jembatan sebagai solusi dari resiko kabel sling yang membahayakan lalu lintas kapal-kapal besar di atas Batang Tembesi.

Jembatan ini awalnya akan difungsikan sebagai autobrug, atau jembatan yang dikhususkan untuk penyeberangan mobil, pengganti ponton.



Pada pertengahan Juni 1937, tender pembangunan jembatan beton bertulang sepanjang 197.4  di atas Batang Tembesi di Onder Afdeling Sarolangun di Keresidenan Jambi, diadakan di Afdeling Waterstaat di Departemen van Verkeer & Waterstaat/Dep. V & W (Departemen Perhubungan dan Pekerjaan Umum) Bandung.

Saat itu Bandung menjadi pusat pemerintahan Hindia-Belanda kedua setelah Batavia. Kantor Dep. V & W adalah Gedung Sate Bandung saat ini. Dalam pertemuan tersebut diputuskan bahwa proyek pembangunan jembatan tersebut diserahkan kepada kontraktor NV. Nedam di Batavia Pusat dengan menelan anggaran dana sebesar 146.800 Gulden. Angka tersebut setara dengan 1.1 Milyar Rupiah pada saat ini, namun jauh lebih fantastis pada tahun 1937.

Nedam (Nederlands Aannemings Maastchappy) sebelumnya bernama Fa.H. Boersma berdiri pada tahun 1877 di kawasan Gambir Jakarta Pusat. Bekas kantornya saat ini ditempati oleh kantor pusat PT. Asuransi Jiwasraya (Persero). NV. Nedam bergerak di bidang kontruksi dan merupakan cikal bakal berdirinya salah satu perusahaan yang masuk dalam jajaran perusahaan konstruksi BUMN tertua dan terbesar di Indonesia, yaitu PT. Nindya Karya (Persero).

Pendanaan pembangunan Jembatan Batang Tembesi bersumber pada hasil ekspor karet. Karet dalam negeri yang terlebih dahulu dikumpulkan di Banjarmasin lalu diekspor ke Amerika Serikat untuk anggaran dana perbaikan jalan, pembangunan jembatan, dan lain-lain. Banjarmasin saat itu menjadi pelabuhan strategis yang menjadi pintu keluar masuk perdagangan hasil hutan dan perkebunan.

Sedangkan dari referensi lain menyebutkan bahwa pembangunan ini didanai oleh upeti masyarakat sarolangun yang dipungut oleh pemerintah Hindia-Belanda saat itu. Namun tentulah tidak cukup untuk membangun sebuah jembatan beton semegah itu.

Tahun Pembuatan: Dari petikan surat kabar di atas, kita sudah dapat menyimpulkan bahwa pembangunan Jembatan Betrix bukanlah seperti yang kerap disebutkan di media-media yaitu tahun 1932, bahkan ada yang menyatakan lebih jauh lagi yaitu tahun 1923 sebelum Bencana Ophelia. Berdasarkan foto dari KITLV menunjukkan bahwa pada 21 November 1938 kondisi pembangunan jembatan masih setengah jadi.

Tahun Penyelesaian: Pengerjaan jembatan yang memiliki 4 busur ini selesai pada tahun 1939 berdasarkan bukti yang tak terbantahkan pada prasasti yang terpahat di pangkal jembatan bagian Sri Pelayang. Kabel sling penyeberangan ponton akhirnya dapat dilepas.

Bertolak dari 2 hal di atas dapat disimpulkan bahwa lama pembangunan Jembatan Beatrix adalah 2 tahun sejak 1937 hingga 1939. Jika kita sejenak mengenang Lagu Beatrix yang dipopulerkan oleh Mayang Beatrix, ada sepenggal lirik yang mungkin dapat menjadi pengingat “Duo tahun bekerjo badan tesikso…” maka sesuailah dengan fakta-fakta di atas.

Pada saat awal perencanaan dan proses pembangunan, nama Jembatan Beatrix belum dicetuskan oleh Belanda, namun masih menggunakan nama “Jembatan Batang Tembesi” karena jembatan ini akan dibangun di atas aliran Batang Tembesi.

Umumnya jembatan-jembatan yang dibangun oleh Belanda saat itu menggunakan nama sungai yang dilintasi jembatan tersebut. Setelah kelahiran Putri Beatrix Wilhelmina Armgard pada tahun 1938, setahun sebelum rampungnya jembatan, nama Beatrix inilah yang konon disematkan oleh pemerintah Hindia-Belanda sebagai hadiah kelahiran cucu Ratu Wilhelmina yang tengah berkuasa di Belanda saat itu.

Pada saat pengerjaan Jembatan Batang Tembesi/Beatrix tahun 1938, 7 jembatan kabel lainnya telah selesai dibangun. Jembatan kabel tersebut antara lain adalah Jembatan Mesumai, Merangin, Tabir, Palepat, Senamat, Bungo dan Tebo. Semua jembatan itu memiliki dimensi yang cukup besar namun tidak semegah jembatan beton Beatrix Sarolangun.

Pengerjaan 7 jembatan kabel tersebut menelan anggaran dana sebesar 348.450 Gulden (2.5 Milyar Rupiah saat ini), atau hanya sekitar dua kali lipat anggaran dana pembangunan Jembatan Beatrix.

Sekitar tahun 1975 satu busur pertama di bagian pasar bawah roboh, sementara itu 3 busur lainnya tetap berdiri. Hal ini disebabkan tergerusnya pondasi tiang sehingga tiang miring ke arah hulu oleh derasnya arus sungai yang terhimpun dibagian ini setiap harinya, diperparah pula oleh banjir kala itu. Beberapa tahun kemudian bagian busur yang roboh ini disambung sementara dengan jembatan kawat. Pada era kepemimpinan bupati pertama Kabupaten Sarolangun, H. M. Madel pada tahun 2000an rekonstruksi jembatan dilakukan.

Jembatan Beatrix

Ket: Kondisi jembatan pasca perbaikan

Bentuk busur jembatan yang roboh dibangun kembali sesuai dengan bentuk semula. Seiring dengan perkembangan teknologi, penggunaan tiang pancang baja kala itu dirasa jauh lebih kuat dalam menahan arus dibandingkan penggunaan tiang beton.

Oleh karena itu dibangunlah 2 tiang pancang baru yang terdiri dari pipa-pipa pancang baja di tiap sisi busur baru jembatan. Busur baru tidak lagi bertumpu pada tiang beton lama dan menciptakan sebuah ruang antar busur pada sisi jembatan bagian pasar bawah.

Oleh karena itu jumlah tiang jembatan yang berjumlah 5 tiang sejak awal pembangunan, berubah pasca rekonstruksi menjadi 6 tiang hingga saat ini.

Pada tahun 1978 sebuah jembatan rangka baja yang lebih besar dibangun. Jembatan dengan panjang 154.3 m dan lebar 9 m ini menggantikan peran utama Jembatan Beatrix sebagai sarana penghubung utama antara Pasar Sarolangun dan Sri pelayang sebelumnya.

Saat ini Jembatan Beatrix hanya menjadi sarana penghubung kendaraan-kendaraan kecil dan arena rekreasi kaum muda-mudi ketika sore dan malam hari. Pada usia ke-80 tahun saat ini jembatan ini telah kembali bersolek “muda” dengan pengecatan warna-warni dan instalasi lampu hias oleh pemerintah daerah setempat seperti foto di bawah ini.

jembatan terbaru

 

*Keterangan redaksi: artikel ini diambil utuh dari sarolangoentempodoeloe.wordpress.comdengan judul Pembangunan Jembatan Beatrix Sarolangun. Pemuatan oleh redaksi Kajanglako.com bertujuan memasyaratkan literatur mengenai sejarah dan budaya Jambi. Redaksi menambahkan tiga foto dalam tulisan di atas. Sumber koran-koran Belanda ikut mewartakan kegiatan pembangunan jembatan ini.


Tag : #Sejarah Jembatan Beatrix Sarolangun #Jambi #Sumatra #Batavia



Berita Terbaru

 

Jumat, 14 Desember 2018 22:15 WIB

Nota Ponita, Bocah Penderita Penyempitan Usus dapat Bantuan Fachrori


Kajanglako.com, Jambi – Nasib malang dialami Nota Ponita, bocah berusia lima tahun warga Kelurahan Handil Jaya, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi ini

 

Jumat, 14 Desember 2018 21:48 WIB

Puluhan Emak-emak Keracunan Makanan Usai Acara Yasinan


Kajanglako.com, Batanghari - Puluhan ibu-ibu keracunan gara gara menyantap hidangan di acara yasinan rutin pada Kamis malam (13/12) di Desa Rambutan Masam.

 

Jumat, 14 Desember 2018 20:54 WIB

AJI Jambi Gelar Halfday Basic Workshop Hoax Busting and Digital Hygiene


Kajanglako.com, Jambi - Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) Jambi, bekerjasama dengan Google News Initiative dan Internews Halfday Basic menggelar Workshop

 

Jumat, 14 Desember 2018 19:57 WIB

Ini Program Jangka Menengah Pemkab Merangin


Kajanglako.com, Merangin - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Merangin melaksanakan rapat konsultasi publik Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD)

 

Jumat, 14 Desember 2018 19:54 WIB

Atlet Pemenang Gala Desa Protes Tak Ada Uang Pembina, Tobroni Yusuf: Tanya ke Menpora


Kajanglako.com, Bungo - Event pertandingan yang diselenggarakan pada 27 November lalu, Kamis malam (13/12) resmi ditutup oleh Tobroni Yusuf, Plt Kadis