Rabu, 24 Oktober 2018


Kamis, 07 Juni 2018 11:19 WIB

Anna Catharina Blok Caspari dan Tenggelamnya Hekwieler Ophelia di Sarolangun (24 November 1931)

Reporter :
Kategori : Jejak

Nisan Anna CAnna Catharina Blok Caspari (Kota Jambi)

Senin 23 November 1931, Hekwieler Ophelia (dibaca: ofilia) yang membawa rombongan Asisten Residen Bangko (membawahi onder afdeling Muaro Tebo, Muaro Bungo, Sarolangun dan Bangko) Juriaan Blok, tiba di Sarolangun pukul 10 pagi. Rombongan ini dikawal oleh tentara KNIL yang dikomandoi oleh Kapten T. P. Fikenscher.

Keesokan harinya, 24 November pukul 7 Hekwieler Ophelia bertolak dari pelabuhan Sarolangun menuju Jambi. Hujan deras di hulu pada malam sebelum keberangkatan menyebabkan Batang Tembesi meluap sehingga jarak kabel sling menjadi semakin dekat dengan permukaan sungai.



Hal ini tidak disadari oleh awak dan penumpang Ophelia. Tiba-tiba cerobong asap Ophelia tersangkut kabel sling yang menyebabkan Ophelia melintang di atas sungai lalu terbalik dengan cepat dan keras.

Kabel sling ini berfungsi untuk mengikat dan menuntun ponton yang membawa mobil ke seberang sungai. Ponton ini menjadi alat penyeberangan mobil satu-satunya pada saat itu karena belum ada jembatan.

Karena berat, semakin ke tengah kabel sling ini melengkung ke bawah, sehingga Ophelia harus lewat di sekitar pinggir sungai. Namun tetap dibantu oleh seorang penjaga kapal yang berdiri di atas atap Ophelia untuk mengangkat kabel sling dengan sebuah garpu, sehingga Ophelia bisa lewat.

Namun akibat posisi kabel sling yang terlalu rendah dan diperparah oleh arus yang deras yang menyebabkan tingginya laju Ophelia, membuat usaha kali itu sia-sia.

Para penumpang sebagian besar berada di dalam kabin. Penumpang yang berada di dek atas adalah Asisten Residen J. Blok bersama istri (Anna, umur 46 tahun) dan 2 orang anaknya, petugas pertanian kelas satu E. H. Stuut, dan Kapten T. P. Fikenscher. Sedangkan para prajurit KNIL berdesakan di dek bawah.

Kapten T. P. Fikenscher menyadari Ophelia mulai miring dan segera melompat ke sungai. Perahu penyelamat segera dikerahkan oleh Letnan der inf. O. Kesselring.

Awak perahu berhasil melacak keberadaan kapten ketika muncul ke permukaan dan berhasil meraihnya. Begitu pula dengan Asisten Residen J. Blok dan 2 orang anaknya selamat.

Setelah mendapat info dari Sarolangun, selasa siang, 24 November, Kepala Pelabuhan Jambi dan beberapa penyelam berangkat dari Jambi ke Sarolangun dengan Kapal Juliana dengan alat penyelamatan.

Penyelam mencoba menemukan korban dengan alat selam. Kedalaman sungai waktu itu adalah 10 meter, sehingga membuat penyelaman menjadi sangat sulit.

Jenazah yang paling dulu ditemukan adalah jenazah Anna Catharina Blok Caspari yang ditemukan setelah 2 jam pencarian.

Anna Catharina

Ket: Anna Catharina Block Caspari (Dilingkari). Sumber: Geni.com

Upaya penyelamatan telah dilakukan dengan pernapasan buatan namun sia-sia. Barang-barang dan tas surat ditemukan 6 kilometer di hilir sungai. 14 jenazah tentara KNIL ditemukan dengan menggunakan Pakaian Dinas Lapangan.

Jenazah Anna dibawa ke Jambi menggunakan Kapal Juliana. Sementara itu jenazah-jenazah lain khususnya jenazah Sersan Van Bochem dan E. H. Stuut diperkirakan dimakamkan di pangkal Jembatan Tembesi Sarolangun.

Di pangkal Jembatan Tembesi Sarolangun, tepatnya antara taman PKK dan Masjid Al-Falah dulunya merupakan Europese begraafplaats atau area pemakaman orang Eropa menurut peta Belanda tahun 1942.

Namun saat ini hanya tersisa 1 makam. Makam ini memiliki 2 tingkatan dan tidak memiliki identitas yang jelas karena prasasti nisannya telah raib. Di sebelah nisan makam tersebut terdapat sebuah patok batas benteng yang berupa pilar pendek.

Kamis 26 November pukul 10 pagi, prosesi pemakaman Anna berlangsung di Kebun Jahe, onder afdeling Jambi. Seluruh warga Eropa, penduduk pribumi dan Cina terkemuka hadir di pemakaman.

Lusinan karangan bunga menutupi tandu jenazah. Suaminya, J. Blok, mengucapkan terimakasih atas partisipasi tamu yang hadir. 11 hari kemudiaan, 4 Desember, Ratu Wilhelmina melalui telegraf dari Belanda menyatakan rasa simpatinya kepada korban bencana Ophelia.

Hekwieler

Ket: Hekwieler Sarolangun-Tebo. Sumber: kolonialemonumenten.files.

Ophelia adalah sebuah hekwieler/sternwheeler yang didesain khusus untuk transportasi perairan dangkal. Ophelia memiliki panjang 25 m, lebar 4.85 m, dan tinggi 8.5 m dari permukaan sungai. Memiliki draft 60 cm dan freeboard (jarak antar permukaan air dengan lantai dek bawah) 15 – 20 cm.

Rendahnya freeboard ini menyebabkan Ophelia mudah karam karena air dengan mudah masuk ke dek ketika Ophelia miring. Kecepatannya Ophelia adalah 10.5 km/jam. Dikirim tahun 1918 dari galangan kapal bekas di Sekanak yang berada di dekat Jembatan Ampera Palembang saat ini.

Walaupun merupakan sebuah hekwieler bekas, namun Ophelia dalam kondisi sangat baik pada saat Bencana di Sarolangun, karena pada April 1931 Ophelia diperiksa dan diperbaiki total di Industriële Maatschappij Palembang hingga akhirnya tenggelam 7 bulan kemudian.

Komisi penyelidikan mengungkapkan fakta di lapangan bahwa pada titik kecelakaan yang berjarak 15 m dari tepi kiri sungai menghadap ke hilir, ketinggian kabel sling dari permukaan sungai saat keajadian tidak lebih dari 6.4 m. Dengan tinggi Ophelia setinggi 8.5 m, maka seharusnya kabel sling harus diangkat lebih dari 2 m untuk dapat meloloskan Ophelia.

Tahun 1932, nama-nama korban tenggelamnya Hekwieler Ophelia diabadikan oleh pemerintah Hindia-Belanda pada sebuah monumen di bibir tebing Batang Tembesi kawasan Ancol Kabupaten Sarolangun saat ini.

Kepala tulisan prasasti tersebut berjudul “VERDRONKEN BIJ DE OPHELIA RAMP” atau “TENGGELAM PADA BENCANA OPHELIA” dalam Bahasa Indonesia.

Pada isi prasasti tersebut terpahat 14 nama-nama korban tentara KNIL dan 1 orang tahanan, lengkap dengan pangkat dan nomor registrasi anggota KNIL. Dari referensi lain mengatakan bahwa pembangunan monumen ini adalah inisiatif dari KNIL Sarolangun saat itu mengingat nama-nama korban yang terpahat hampir keseluruhan adalah hanya anggota KNIL.

Kondisi monumen tersebut telah banyak mengalami perubahan dibandingkan dengan kondisi awal. Di antaranya adalah (1) Hilangnya prasasti marmer yang berukirkan nama-nama korban oleh tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab, (2) Lantai monumen yang awalnya berjumlah 3 tingkatan sekarang menjadi 1 tingkatan dan dikeramik hitam sehingga monumen terkesan menjadi lebih pendek, (3) Area depan monumen diberi pagar pelindung dari stainless, dan (4) Pada kaki depan monumen diberi tulisan timbul “TUGU KAPAL KARAM”.

Pada dinding sebelah kanan monumen terdapat pahatan nama-nama korban lain. Kepala pahatan tersebut berbunyi “EERE AAN DE GEVALLEN MAKKERS GESNEUVELD” atau “HORMATILAH TEMAN-TEMAN YANG TERBUNUH” dalam Bahasa Indonesia.

Terdapat 11 nama korban dengan nomor registrasi anggota KNIL. Namun nama-nama tersebut tidak ditemukan di referensi manapun dan tidak sesuai dengan jumlah korban yang diberitakan selama ini sehingga masih menjadi misteri. Dari 11 nama tersebut hanya 5 nama yang dapat terbaca, yaitu: Toisuta (27208), Salakory (59371), Talusan (54732), Tomatala (53097) dan Legiman (54633).

Daftar korban bencana Ophelia:

Para pejabat: Anna Catharina Blok Caspari (1885 – 1931), Petugas pertanian kelas satu E. H. Stuut, Pejabat tentara KNIL: Sersan Van Bochem (Belanda), Sersan Slamet (Suku Jawa), Kopral Goemiwang (Suku Sunda),

11 Prajurit KNIL Suku Jawa: Atmowidjojo, Sanmoehana, Legiman, Wirjowikarso, Soepardi, Dirwan, Kasanpawiro, Ngadiman, Kanan, Kasanmoehadi alias Maridjo dan Sardi. Serta 1 orang tahanan yang bernama Doelsalim.

 

*Keterangan redaksi: artikel ini diambil utuh dari sarolangoentempodoeloe.wordpress.com dengan judul Bencana Ophelia Sarolangun. Pemuatan oleh redaksi Kajanglako.com bertujuan memasyaratkan literatur mengenai sejarah dan budaya Jambi. Awak redaksi Kajanglako.com (Jumardi Putra) telah mengunjungi langsung lokasi makam Anna Catharina Blok Caspari (1885 – 1931) di Kebun Jahe, Kelurahan Beringin, Kec. Pasar Kota Jambi. pada 5 Juni 2018. Redaksi menambahkan dua foto dalam tulisan di atas. Beberapa sumber koran-koran Belanda ikut mewartakan peristiwa kematian Anna dan tenggelamnya kapal tersebut (De ram van de ‘Ophelia’).


Tag : #Belanda di Jambi #Anna Catharina Blok Caspari (1885 – 1931) #De ram van de ‘Ophelia’



Berita Terbaru

 

Rabu, 24 Oktober 2018 10:30 WIB

Murady: Selamat untuk Pemprov Jambi dan Pemda yang Raih Opini WTP


Kajanglako.com, Jambi - Politisi Nasional, Drs H A Murady Darmansyah memberikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Jambi dan sejumlah Kabupaten dan Kota

 

Korupsi Taman Hijau
Rabu, 24 Oktober 2018 10:23 WIB

Rugikan Negara Rp150 Juta, Mantan Kadis LH Bungo Ditetapkan Tersangka


Kajanglako.com, Bungo - Kejaksaan Negeri Bungo kembali menunjukkan taringnya, setelah melimpahkan kasus dugaan korupsi pengadaan alat kesehatan di Dinas

 

Program IKM
Rabu, 24 Oktober 2018 10:10 WIB

Ihsan Yunus Hadiri Distribusi Mesin Las Listrik di Telanaipura


Kajanglako.com, Jambi - Selasa (23/10), Kementrian Perindustrian membagikan sejumlah mesin las listrik bagi penggiat usaha jasa pengelasan di Kelurahan

 

Penncurian
Rabu, 24 Oktober 2018 10:02 WIB

Bobol Bengkel Motor di Pamenang, Empat Pelajar Diamankan


Kajanglako.com, Merangin - Empat pelajar di Kecamatan Renah Pamenang diamankan Polisi, lantaran melakukan pencurian. Kasus ini terungkap berawal dari laporan

 

Selasa, 23 Oktober 2018 23:34 WIB

Pemkab Bungo dan UGM Sepakati Kerjasama di Empat Bidang


Kajanglako.com, Bungo - Pemkab Bungo dan Universitas Gadjah Mada (UGM) resmi melakukan kerjasama. Ini ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman