Kamis, 13 Desember 2018


Senin, 04 Juni 2018 09:14 WIB

Jejak Kuno di Amazone van Jambi: dari Parit Jering hingga Makam Ahmad Salim di Varella

Reporter :
Kategori : Jejak

Taman Nasional Berbak. Sumber: Wisatago

Oleh: Nurhadi Rangkuti*

Perahu telah menunggu tim arkeologi  di Parit 2 Desa Air Hitam Laut, Kecamatan Sadu, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi.  Desa ini dibelah oleh sebatang sungai yang airnya berwarna hitam dan bersifat asam, yaitu Air Hitam Laut.  Di kiri-kanan sungai menjulur  parit-parit buatan hasil gotong royong  penduduk desa.



Umar (77), salah satu sesepuh Desa menceritakan tentang sejarah parit di Desa Air Hitam Laut.  Yang menarik perhatian tim dari Balai Arkeologi Sumatera Selatan adalah kisah tentang parit kuno yang letaknya agak jauh ke hulu sungai. Lelaki tua itu tidak tahu siapa dan kapan parit itu dibuat dan digunakan. Tim memutuskan untuk melihat parit misterius itu  secara langsung di lokasi.

Pagi itu perahu telah disiapkan. Umar berkenan menjadi pemandu tim pemburu  situs  di daerah lahan basah Sumatera. Kali ini berburu di daerah lahan basah yang dilindungi negara dan dunia internasional: Taman Nasional Berbak.

Menurut Umar, penduduk Desa  Air Hitam Laut dan desa  sekitarnya sebagian besar berasal  dari Sulawesi Selatan, antara lain Bugis dan Mandar.  Mereka datang ke Air Hitam Laut sekitar tahun 1965 dalam beberapa gelombang.  Mereka membuka hutan dan menggali parit-parit untuk mengelola air sungai untuk pertanian. Lebar parit antara 5-10 meter. Tiap parit  memiliki ketua parit yang mengkoordinir pembuatan parit dan pengelolaannya.

Parit 1 digali dekat dengan kuala sungai sekitar tahun 1965. Parit-parit berikutnya digali sampai parit ke-10 yang lokasinya berbatasan dengan kawasan Taman Nasional Berbak. Parit-parit dibuat dalam kaitannya dengan pengelolaan air sungai untuk kepentingan pertanian dan tegalan, antara lain kelapa, kelapa sawit (palm oil).

Tim arkeologi bersama Umar dan Erwan, petugas dari Balai Taman Nasional Berbak, telah berada di atas perahu. Perahu pun bergerak pelan dengan deru mesinnya yang merusak suara alam di pagi yang cerah.

Memasuki perbatasan taman nasional, tumbuhan nipah (nypa fruticans) dan nibung (oncosperma tigillanium) semakin rapat di tepi sungai. Jarang sekali melihat tanaman nibung sekarang di pantai timur Sumatera. Batang-batang nibung digunakan oleh masyarakat rawa untuk bangunan tiang rumah dan jembatan kayu (jerambah) di perkampungan rawa.

Sisa bangunan rumah panggung tertua dari batang nibung ditemukan dalam penggalian arkeologis di Situs Karangagung Tengah, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan.

Berdasarkan analisis  pertanggalan sisa arang dengan C-14, Situs Karangagung Tengah berasal dari abad ke-3–4 Masehi, beberapa abad sebelum Kerajaan Sriwijaya (abad ke 7 – 13 Masehi) menguasai Sumatera. Situs-situs perkampungan kuno  yang berasal dari awal Masehi sampai masa Sriwijaya ditemukan pula di kawasan Air Sugihan di pantai timur Sumatera Selatan.

Perahu terus melaju. Perjalanan sudah mencapai jarak 10 km dari Desa Air Hitam Laut. Semakin ke hulu, tumbuhan nipah mulai digantikan oleh tumbuhan pandan rasau (pandanus heliocopus).  “Peralihan dari nipah ke pandan rasau menunjukkan adanya peralihan air sungai dari air asin ke air tawar”, kata Erwan, petugas TN Berbak, menjelaskan.

Tak lama kemudian perahu merapat di depan mulut sungai kecil. Perahu tak dapat masuk ke dalam karena air surut. “Kita jalan kaki masuk hutan untuk melihat parit kuno”, kata Umar, sambil menghunus parang  kemudian mulai menebas rintangan akar dan ranting-ranting pohon membuka jalan untuk tim. Lelaki tua itu telah hafal liku-liku alam liar yang berada di kawasan Taman Nasional Berbak. Tim berjalan kaki menuju lokasi parit kuno yang disebut Umar dengan nama Parit Jering, sesuai dengan lokasinya di sekitar Sungai Jering yang sempit.

 

Amazone van  Jambi

Amazone van Jambi”, adalah promosi wisata untuk mengunjungi Taman Nasional Berbak di Jambi. Tak perlu jauh-jauh ke Sungai Amazone di benua sana untuk berpetualang ke alam liar berawa-rawa. Datang saja ke TN Berbak, wilayah konservasi lahan basah terbesar di dunia.

Pada tahun 1935 pemerintahan Hindia Belanda menetapkan wilayah yang dilindungi seluas 190.000 hektar, kemudian pada tahun 1992 kawasan ini ditetapkan lagi luasnya menjadi 162.700 hektar oleh pemerintah Republik Indonesia. Taman Nasional ini memang bertujuan untuk melindungi dan melestarikan lahan basah termasuk fauna-flora yang ada untuk kepentingan internasional.

Kawasan Taman Nasional Berbak yang meliputi dataran aluvial, rawa gambut dan rawa pasang surut ini kaya dengan jenis-jenis fauna-flora. Berbagai jenis pandan, palem, nipah serta berbagai jenis hewan hidup di daerah lahan basah. Ada 16 jenis hewan mamalia yang dilindungi antara lain harimau Sumatera (Panthera Tigris), macan dahan (neofelis nebulosa), tapir (tapirus indicus), badak Sumatera (Diceroerhinus sumatrensis), beruang madu (helarctos malayanus), siamang (symphalangus syndactylus),  wau-wau (hylobates agilis), dan lemur (cynocephalus variegatus).

Kawasan Taman Nasional Berbak meliputi Daerah Aliran Sungai (DAS) Air Hitam Laut, Air Hitam Dalam dan DAS Benu yang berbatasan dengan Provinsi Sumatera Selatan.  Air Hitam Laut  bermuara di pantai timur Jambi yang langsung berhadapan dengan Laut Cina Selatan. Sungai yang dalamnya sekitar 15 meter itu memiliki cabang, yaitu Sungai Simpang Malaka, Sungai Jering dan Simpang Kubu. Air Hitam Laut dipilih tim arkeologi untuk melacak jejak budaya masa lalu.

Nibung di Taman Nasional Berbak. Foto Nurhadi Rangkuti

Ket: Nibung di Taman nasional Berbak. Foto: Dok. Nurhadi

 

Parit dan Nisan

Umar terus berjalan sambil menebas akar dan ranting membuka jalan ke lokasi Parit Jering di area hutan sekunder itu. Tim mengikuti Erwan yang menghentikan langkahnya. Ia mengamati lingkungan sekitar.

Ada sebatang pohon matoa (pometia pinnata), tanaman khas Papua yang rasa buahnya seperti rambutan, menarik perhatian petugas Taman Nasional itu untuk mendokumentasikannya. Selain matoa ada tanaman sirih (piper betle), rambai (baccaurea matleyaka) dan salak (salacca zalacca) yang tumbuh di tempat itu.

“Tumbuh-tumbuhan ini tidak umum berada di dalam kawasan Taman Nasional Berbak. Mungkin zaman dulu ada orang yang berkebun di sini”, kata Erwan.

Tidak jauh dari tempat itu terdapat gundukan tanah yang memanjang utara-selatan. Inilah Parit Jering yang  dicari tim arkeologi. Parit kuno yang lebarnya antara 5 – 10 meter itu dijumpai dalam keadaan kering. Dua orang anggota tim berupaya menelusuri panjang parit ke arah utara, namun tak lama kembali lagi. Mereka melaporkan ada jejak-jejak tapak tapir dan harimau. Jejak-jejaknya masih segar, pertanda belum lama sang raja hutan berhasil mendapatkan mangsanya.

Tim bergegas kembali ke perahu  meninggalkan parit kuno, yang ternyata menjadi tempat tinggal harimau. Menurut Umar, beberapa puluh tahun yang lalu ia pernah membuat pondok di tempat itu dan sering bermalam sendirian. Sampai sekarang lelaki tua itu belum pernah berpapasan dengan harimau, hanya mendengar suara dan melihat jejak-jejaknya saja.

“Sekarang kita berkunjung ke lokasi makam-makam kuno”, kata Umar setelah berhasil menghidupkan mesin. Biduk pun meluncur menyeberangi Air Hitam Laut, memasuki mulut sungai Simpang Malaka. Tim hati-hati turun ke tepian sungai setelah diingatkan Umar bahwa di tempat yang dilalui tim dikenal sebagai sarang buaya sinyulong (tomistoma schegelii)  bertelur, buaya yang dianggap sudah langka di dunia.

Umar sendirian masuk hutan sementara tim menunggu tak jauh dari sungai. Lama juga Umar  mencari makam kuno. Permukaan tanah hutan sekunder itu tertutup endapan daun-daun kering yang tebal, menghilangkan makam dari pandangan Umar. Akhirnya terdengar teriakan Umar. Teriakannya mengingatkan pada kisah Archimedes yang masuk bak mandi kemudian berteriak: eurekaeureka! Artinya Umar telah menemukan makam kuno!

Seonggok makam dengan sepasang nisan yang berlumut tebal dibersihkan dari dedaunan kering. Terlihat bentuk nisan yang pipih dan polos tanpa tulisan kaligrafi. Nisan dibuat dari batu granit. “Sebenarnya masih ada beberapa makam di sini, tapi sulit mencarinya karena tertimbun daun”, kata Umar. Lebih lanjut ia menyatakan kemungkinan orang-orang yang dikubur itu dulu adalah mereka yang membuat dan memanfaatkan Parit Jering. Boleh jadi.

Nisan-nisan itu menandakan orang-orang pertama yang menjelajahi dan memukimi hutan rawa Air Hitam Laut adalah pada masa berkembangnya Islam di Jambi. Temuan serupa ternyata terdapat juga di dekat pantai, ketika keesokan harinya tim arkeologi melakukan survei di Desa Air Hitam Laut dan desa tetangganya, Remau Bako Tua. Tak jauh dari parit-parit yang dibuat penduduk desa, ditemukan makam dan nisan dari batu granit. Bahkan survei di muara Air Hitam Dalam yang bermuara di Batanghari,  juga  menemukan makam dan nisan yang sama. Pada umumnya bentuk  nisan ada yang pipih dan ada yang bulat seperti botol.

 Nisan Kuno

Ket: Nisan Kuno di Taman Nasional Berbak. Foto: Dok. Nurhadi

“Peradaban Lahan Basah”

Kawasan TN Berbak itu bagian dari daerah lahan basah yang  terbentang di sepanjang pantai timur Sumatera. Di wilayah Sumatera Selatan dan Jambi lahan basah  lebarnya  sekitar 80-100 km dari garis pantai terdekat, termasuk di dalamnya Kota Palembang dan Kota Jambi.

Lahan tersebut terbentuk dari endapan rawa dan endapan aluvium. Banyak sungai-sungai besar yang bermuara di pantai timur, antara lain, Sungai Musi dan Batanghari.  Daerah lahan basah berbatasan dengan dataran kering yang berpasir, yaitu dataran koluvial. Dataran ini terbentuk oleh proses-proses erosi dan longsor yang mengikis daerah Pegunungan Bukit Barisan yang terus berlangsung pada masa Holosin.

Ternyata banyak ditemukan situs arkeologi di daerah lahan basah. Candi Muara Jambi dan situs-situs candi lainnya dari abad ke-9–14 Masehi di DAS Batanghari menunjukan berkembangnya peradaban pada masa Hindu-Buddha. Ditilik dari zamannya diperkirakan situs-situs tersebut peninggalan Sriwijaya.

Di Palembang,  di sepanjang Musi dan cabang-cabang sungainya, ditemukan peninggalan prasasti-prasasti batu dari abad ke-7 Masehi. Salah satunya adalah Prasasti Kedukan Bukit berangka tahun 682 Masehi. Prasasti ini ditemukan di Desa Kedukan Bukit di dataran rawa  pada meander Sungai Musi.

Prasasti itu  mengisahkan perjalanan Dapuntahyang, raja Sriwijaya, bersama 20.000 prajurit membawa dua ratus peti naik perahu, sedangkan yang berjalan kaki 1312. orang.

Rombongan ekspedisi itu berangkat dari Minanga Tamwan (sampai sekarang lokasinya masih menjadi perdebatan para ahli) dan tiba di sekitar tempat prasasti ditemukan di Palembang sekarang. Dalam prasasti disebutkan Dapuntahyang mendirikan permukiman setingkat desa (vanua) di tempat itu. Sejumlah ahli menganggap dari wanua itu kemudian menjadi pusat Kerajaan Sriwijaya.

Tidak terlalu jauh dari pantai timur ditemukan pula situs-situs permukiman dari masa sebelum Sriwijaya. Situs-situs di Karangagung Tengah, di Kabupaten Musi Banyuasin di Sumatera Selatan, berasal dari sekitar abad ke-4 Masehi terletak pada lahan rawa pasang surut. 

Demikian pula situs-situs di Air Sugihan yang terletak di sebelah timur muara Sungai Musi, sebagian berasal dari masa pra-Sriwijaya yang terus berlanjut sampai abad ke-14 Masehi.

Dilihat dari berbagai jenis artefak yang ditemukan dalam penggalian arkeologis (sejak tahun 2000 sampai sekarang) masyarakat yang pernah hidup pada masa pra-Sriwijaya di kawasan Karangagung Tengah dan Air Sugihan telah menggunakan barang-barang impor dari Cina, India dan Asia Tenggara daratan.

Di wilayah perbatasan antara dataran koluvial dan rawa ditemukan situs-situs kubur tempayan. Situs-situs tersebut ditemukan di Kota Jambi sampai ke tenggara di wilayah Sungai Gelam, Jambi, dan Bayunglincir di Sumatera Selatan. Pertanggalan situs berdasarkan analisis C-14 menunjukkan kubur tempayan  tertua dari abad ke-2 , terdapat  di Situs Sentang, Bayunglincir. Hasil penggalian arkeologis  di Situs Air Merah di Sungai Gelam  berasal dari abad ke-9 Masehi berdasarkan analisis carbon dating. Tampaknya penguburan tradisi prasejarah berlanjut  pada zaman Sriwijaya di pantai timur Sumatera.

Artefak-artefak yang ditemukan di dasar perairan Air Laut Hitam

Ket: Artefak-artefak di Dasar Perairan Air Hitam Laut. Foto: Dok. Nurhadi

Datuk Paduko Berhalo

Nisan-nisan dari batu granit yang ditemukan tim arkeologi dalam perburuan situs  arkeologis di DAS Air Hitam Laut menambah bukti peradaban masa lalu di daerah lahan basah. Sejarah lokal di Jambi mengisahkan seorang tokoh yang  bernama Achmad Salim yang berasal dari Turki. Tokoh ini dikenal dengan sebutan Datuk Paduko Berhalo yang makamnya terdapat di Pulau Berhala,  letaknya di sebelah timur laut pantai Jambi yang dipisahkan oleh Selat Berhala. Pulau yang disebut Varella  oleh bangsa Portugis ini memang merupakan sumber batu-batu granit selain Kepulauan Bangka-Belitung.

Datuk Paduko Berhalo menikah dengan wanita dari lingkungan  kerajaan, Putri Selaras Pinang Masak. Mereka memiliki empat orang putra yaitu Orang Kayo Pinggai, Orang Kayo Pedaturan, Orang Kayo Hitam dan Orang Kayo Gemuk. Dari keempat putra itu, Orang Kayo Hitam (1500-1515) yang kemudian menurunkan raja-raja di Jambi (Mukti Nasruddin, 1989). Makamnya terdapat di tepi Batanghari.

Makam-makam di DAS Air Hitam Laut diperkirakan sezaman dengan makam Orang Kayo Hitam. Rupa-rupanya setelah beberapa abad Air Hitam Laut ditinggalkan, rombongan Umar dari Sulawesi datang ke wilayah “Amazone van Jambi” untuk membuka kehidupan baru.

Foto Makam Datuk Paduko Berhalo

 Makam Datuk Paduko Berhalo

*Nurhadi Rangkuti merupakan arkeolog. Pendidikan S-1 Arkeologi di Universitas Indonesia dan S-2 Geografi di Univ. Gadjah Mada. Tulisan ini pernah terbit di lorongarkeologi.id dengan judul Berburu Situs di “Amazon van Jambi” pada 26 Januari 2018. Pemuatan di sini atas seizin penulis dengan tujuan memasyarakatkan literatur mengenai sejarah dan budaya Jambi. Bacaan lebih lanjut yaitu Endes N. Dachlan,dkk, 2000, Rencana Pengelolaan Taman Nasional Berbak Propinsi Jambi (Periode 2000/2001 s/d 2024/2025). Jambi: Bagian Proyek Pemantapan Pengelolaan Taman Nasional Berbak Propinsi Jambi dan Mukti Nasruddin, 1989, Jambi dalam Sejarah Nusantara 692 -1949 M (tidak diterbitkan). 


Tag : #Taman Nasional Berbak #Jambi #Sumatra #Tanjung Jabung Timur #Makam Datuk Paduko Berhalo



Berita Terbaru

 

Kecelakaan Maut
Kamis, 13 Desember 2018 13:17 WIB

Mobnas Camat Jangkat Timur yang Tenggelam Tak Bisa Ditarik, Tali Seling Putus Berkali-kali


Kajanglako.com, Batanghari - Evakuasi mobil dinas Camat Jangkat Timur terus dilakukan. Hampir lima jam tim evakuasi melakukan penarikan mobil yang terjebur

 

Unjuk Rasa
Kamis, 13 Desember 2018 12:15 WIB

Pendemo Sebut Kadis PUPR Bungo Sering Ngumpet


Kajanglako.com, Bungo – Beberapa kali aksi unjuk rasa yang dilakukan massa dari gabungan Ormas di Dinas PUPR Bungo, kerap tak berhasil menemui Kadis

 

Unjuk Rasa
Kamis, 13 Desember 2018 12:04 WIB

Demo Peringatan Hari Anti Korupsi, Ormas di Bungo Soroti Dua Proyek Ini


Kajanglako.com, Bungo - Sejumlah proyek yang dikerjakan Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Kabupaten Bungo, mendapat sorotan massa dari gabungan

 

Kecelakaan Maut
Kamis, 13 Desember 2018 11:28 WIB

Tim Evakuasi Kesulitan Angkat Mobil Dinas Camat Jangkat Timur yang Tenggelam


Kajanglako.com, Batanghari - Hingga saat ini, Tim Evakuasi mobil dinas Camat Jangkat Timur yang terperosok ke dalam jurang terus berupaya mengangkat badan

 

Kecelakaan Maut
Kamis, 13 Desember 2018 09:21 WIB

Ucapan Duka untuk Santri Korban Kecelakaan Mobnas Camat Jangkat Timur Mengalir di Medsos


Kajanglako.com, Merangin - Kecelakaan tunggal mobil dinas Camat Jangkat Timur yang mengakibatkan tiga korban tewas di Jalan AMD Muarabulian, Kabupaten