Sabtu, 15 Desember 2018


Sabtu, 02 Juni 2018 08:50 WIB

Komplotan dan Babak-belur di Belantara

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Perjalanan pada tanggal 7 April langsung dimulai dengan kesulitan. Mereka menelusuri dan sesekali harus menyeberangi Soengei Djoedjoean (Jujuhan-red). Sungai itu lumayan lebar. Kira-kira 40m – 50m dan lumayan dalam.



Terlalu dalam untuk diseberangi dengan berjalan kaki. Mereka terpaksa menggunakan rakit yang tentu saja harus dibuat terlebih dahulu dengan memotong bambu di hutan lalu mengikat bilah-bilah itu menjadi alat untuk menyeberangi sungai itu. Satu jam lebih diperlukan untuk melakukannya.

Di Soengei Koenjit, Schouw Santvoort dan timnya tidak berhasil mendapatkan kuli-kuli untuk mengangkut barang dan perbekalan penjelajahan. Untunglah penghulu yang menjadi pemandu mereka bersedia turun tangan. Ia memang lelaki yang selalu siap membantu dan baik hati.

Selain dirinya, hanya satu lelaki dari Simawoeng yang menyertai perjalanan itu. Ia adalah kerabat pemilik rumah tempat Schouw Santvoort menginap. Lelaki itu bertugas membawa barang yang paling berat, yaitu peti perjalanan milik Schouw Santvoort sendiri.

Sebetulnya rute yang dijalani hari itu tidak terlalu panjang. Hanya saja, rute itu sangat berat. Mereka menapaki jalan di tebing-tebing curam tepian kanan sungai. Jalan? Istilah itu tidak berlaku di tempat ini! Tak ada sesuatu pun yang menyerupai sebuah jalan.

Bahkan, tak ada sisa-sisa jejak di dalam hutan yang tampak akan membawa mereka ke suatu tempat! Berkali-kali, di tempat yang dangkal, mereka harus masuk ke dalam sungai untuk menyeberang.

Itu pun tak mudah dilakukan karena air sungai itu mengalir deras dan batu-batu yang besar dan licin memaksa mereka memanjatnya terlebih dahulu untuk sampai di seberang.

Menjelang pukul 09.40 pagi, mereka tiba di Lompatan. Setelah beristirahat, Schouw Santvoort berharap dapat meneruskan perjalanan; setidak-tidaknya sampai ke negari berikutnya.

Akan tetapi, Radja di Sambah menampik rencana itu. Ia menyarankan untuk berhenti dulu di Lompatan karena mereka belum tahu bagaimana sambutan orang di kampung berikutnya.

Lagipula, ia memperkirakan bahwa kalau mereka meneruskan perjalanan, mereka baru akan sampai di tujuan berikutnya pada setelah matahari tenggelam. Ia mengingatkan bahwa bermalam di belantara bukanlah hal yang menyenangkan: hujan deras turun tanpa tempat untuk berlindung dan aum harimau yang terdengar di kejauhan.

Tambahan lagi, tak pantas pula menolak undangan Radja di Oeloe, kemenakan dan calon pengganti Radja Selan, untuk menginap semalam di rumahnya. Schouw Santvoort pun tak dapat tidak, membatalkan niatnya. Mereka menginap di tempat itu. 

Namun karena rumah Radja di Oeloe kecil dan tampak agak goyah, tak mungkin seluruh rombongan menginap di sana. Sebagian tim penjelajahan dan para kuli terpaksa membentang tikar di lumbung penyimpanan padi.

Walau dengan hati sedikit gundah karena perjalanannya tertunda, acara menginap di rumah Radja di Oeloe membuat Schouw Santvoort senang juga. Ia berkesempatan berkenalan dengan penghoeloe Lompatan dan keluarga yang ramah-tamah.

Beberapa orang anggota keluarga itu mengajaknya memancing di Djoedjoean. Tak jauh dari dusun itu, terdapat tempat yang acap didatangi gajah. Binatang-binatang itu rupanya pada malam hari biasa bolak-balik menuruni tebing curam di tepian sungai dan  menyeberangi sungai di tempat yang sama. Kaki-kaki mereka yang besar-besar membuat semacam kolam kecil yang airnya agak terbendung dari arus sungai yang menderas. Banyak ikan berlindung di sana dan ke sanalah mereka pergi memancing.

Mendengar cerita mengenai gajah-gajah itu, Schouw Santvoort serta-merta bersemangat. Ia ingin kembali lagi ke tempat itu pada malam hari untuk menyaksikan sendiri kawanan gajah itu.

Radja di Oeloe menggeleng-gelengkan kepalanya tanda tak setuju; bahkan kerabatnya pun tak diperbolehkannya melakukan hal itu. Akan tetapi, bukan bahaya belantara dan penghuninya yang membuatnya berkeras menentang ide jalan-jalan malam hari itu, melainkan kekhawatiran akan keselamatan diri Schouw Santvoort.

Siang itu sekitar pukul 15.00, enam orang lelaki datang dari Limau. Tuan rumah menyuguhkan secangkir kopi untuk mereka. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, mereka duduk-duduk saja. Keenam orang itu tidak menunjukkan sikap bersahabat. Hal ini membuat anggota-anggota tim penjelajahan agak was-was.

Schouw Santvoort berusaha membuka percakapan. Hendak ke manakah? Dan, ke mana arah perjalanan mereka? Lelaki-lelaki itu menggerakkan tangan ke arah selatan, tetapi tak seorang pun mengungkapkan ke mana persisnya tempat yang hendak dituju.

Hari itu hujan. Tak henti-hentinya, seperti hari-hari yang telah berlalu. Menjelang malam, dua orang lelaki Melayu datang pulang. Radja di Sambah tampaknya menyangsikan niat baik mereka. Walaupun demikian, ia diam saja dan kedua lelaki itu pun ikut menginap di rumah Radja di Oeloe.

Ketika Schouw Santvoort bangun pagi-pagi keesokan harinya (8 April), yang pertama-tama dilihatnya adalah Radja di Sambah, Radja di Oeloe dan Juru tulisnya yang sedang berbisik-bisik satu sama lain. Rupanya mereka baru saja menerima kabar bahwa adanya rencana untuk menyergap dan merampok tim penjelajahan di tengah belantara, di antara Lompatan dan Indamar.

Menurut Radja di Sambah, kedua lelaki yang datang belakangan dan ikut menginap di rumah itu, sebenarnyalah juga termasuk di dalam komplotan itu. Karena itulah, ia tak tidur sepanjang malam untuk mengawasi gerak-gerik kedua orang itu. Lebih baik jangan pergi dulu, katanya.

Namun, Schouw Santvoort tak ingin menunda-nunda lagi perjalanannya. Tak ada keuntungan yang dapat diperoleh dengan menunda-nunda perjalanan itu. Bukankah belantara di antara Soengei Koenjit dan Indamar termasuk di dalam wilayah Radja Soengei Koenjit? Dan, bukankah dirinya telah berkenalan dan berhubungan baik dengan raja itu? Tambahan lagi, bukankah Radja Soengei Koenjit telah memberikan izin untuk memintas di wilayahnya?

Dalam pikiran lelaki Belanda itu, anggota rombongan mereka cukup banyak untuk dapat membela diri melawan penjahat-penjahat di mana pun. Radja di Sambah terdiam. Ia terpaksa menurut, meneruskan perjalanan. Sebelum berangkat, ia meminta kedua orang lelaki yang dicurigainya untuk ikut serta dengan alasan bahwa bila perlu, keduanya dapat memberikan bantuan di perjalanan.

Pukul 8 pagi, mereka mulai berjalan dan tak lama kemudian, mereka masuk ke dalam belantara yang maha lebat. Belum pernah Schouw Santvoort menyaksikan belantara selebat itu.

Hutan belantara itu merupakan medan ganas dengan pepohonan dan semak-belukar raksasa yang tumbuh rapat, menghadang jalan yang hendak dilalui. Berjam-jam lamanya mereka berjuang untuk dapat terus berjalan. Tak ada yang berbicara. Tak seorang pun berminat membuang nafas dan tenaga untuk berbicara.

Mereka berjalan terbungkuk-bungkuk untuk mencari akar pohon sebagai pegangan ketika kaki mereka tergelincir di tanah berlumpur yang licin. Mereka melewati batang-batang pohon yang tumbang dan hancur menjadi humus ketika dijamah tangan.

Sambil memanjat tebing-tebing dengan susah-payah dan turun ke lembah (atau tergelincir), mereka masuk semakin dalam ke relung belantara itu. Sinar matahari tak masuk, secercah pun.

Hal itu tentunya tidaklah membuat ceria suasana perjalanan. Dedaunan pohon-pohon di atas kepala mereka tumbuh rapat seperti payung yang membuat semuanya menjadi gelap, namun ternyata dedaunan itu tetap tak dapat melindungi mereka dari hujan deras yang turun sepanjang hari. 

Alangkah banyaknya lintah di situ! Saking banyaknya, akhirnya mereka bahkan tidak lagi berusaha melepaskan diri dari gigitan binatang itu. Beberapa kali, ketika jumlah lintah yang menempel di tubuhnya dirasanya sudah terlalu banyak, Schouw Santvoort berhenti sebentar. Dua puluh lima ekor lintah dicabutnya dari satu tempat saja di tubuhnya.

Malam itu, setelah tiba di dusun Soeji, ia membersihkan diri di sungai. Bukan main. Ternyata, lintah-lintah itu telah dapat menemukan seluruh bagian tubuhnya yang tidak tertutup pakaian. Bahkan, binatang-binatang bedebah itu juga menemukan lubang-lubang lengan dan kerah baju di kemejanya serta lubang kaki di pantalonnya. Tak sedikit yang berhasil masuk ke dalam pakaiannya!

Bukan hanya lintah yang membuat mereka berdarah-darah. Duri-duri tajam belukar belantara menusuk dan merobek pakaian serta kulit mereka. Di akhir perjalanan malam itu, seluruh tim penjelajahan itu tampak seperti orang-orang yang baru pulang dari medan tempur. Babak-belur dan berdarah-darah.

*Acuan Kepustakaan: PJ Veth. Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, uitgerust door het Aardrijkskundig Genootschap, 1877-1879 . Jilid II. Leiden: EJ Brill. 1882.


Tag : #Schouw Santvoort ke Jambi #Ekspedisi Belanda ke Jambi #Sungai Batanghari #Ekspedisi Sumatra 1877-1879



Berita Terbaru

 

Jumat, 14 Desember 2018 22:15 WIB

Nota Ponita, Bocah Penderita Penyempitan Usus dapat Bantuan Fachrori


Kajanglako.com, Jambi – Nasib malang dialami Nota Ponita, bocah berusia lima tahun warga Kelurahan Handil Jaya, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi ini

 

Jumat, 14 Desember 2018 21:48 WIB

Puluhan Emak-emak Keracunan Makanan Usai Acara Yasinan


Kajanglako.com, Batanghari - Puluhan ibu-ibu keracunan gara gara menyantap hidangan di acara yasinan rutin pada Kamis malam (13/12) di Desa Rambutan Masam.

 

Jumat, 14 Desember 2018 20:54 WIB

AJI Jambi Gelar Halfday Basic Workshop Hoax Busting and Digital Hygiene


Kajanglako.com, Jambi - Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) Jambi, bekerjasama dengan Google News Initiative dan Internews Halfday Basic menggelar Workshop

 

Jumat, 14 Desember 2018 19:57 WIB

Ini Program Jangka Menengah Pemkab Merangin


Kajanglako.com, Merangin - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Merangin melaksanakan rapat konsultasi publik Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD)

 

Jumat, 14 Desember 2018 19:54 WIB

Atlet Pemenang Gala Desa Protes Tak Ada Uang Pembina, Tobroni Yusuf: Tanya ke Menpora


Kajanglako.com, Bungo - Event pertandingan yang diselenggarakan pada 27 November lalu, Kamis malam (13/12) resmi ditutup oleh Tobroni Yusuf, Plt Kadis