Rabu, 20 Juni 2018


Kamis, 31 Mei 2018 15:46 WIB

Islam Wasathiyah dalam Wacana Islam di Ranah Global

Reporter :
Kategori : Perspektif

Penulis. Joko Arizal.

Oleh: Joko Arizal*

Awal Mei lalu, Indonesia didapuk sebagai tuan rumah Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Ulama se-dunia. Ini kali pertama dalam sejarah, KTT Ulama se-dunia diselenggarakan di Indonesia.



Penyelenggaraan KTT di sini cukup beralasan, karena Indonesia merupakan negara muslim terbesar di dunia dan negara ketiga terbesar—setelah Amerika dan India—dalam menerapkan sistem demokrasi.

Di samping itu, alasan lain yang amat signifikan, yaitu Indonesia adalah negara muslim yang relatif stabil bila dibandingkan negara-negara muslim lainnya, terutama di Timur-Tengah.

Penyelenggaraan konferensi yang dihadiri 100 ulama ini pada dasarnya hendak merespon konstelasi politik global yang menyebabkan krisis peradaban dengan ditandai marakanya islamophobia, terorisme atau ekstremisme.

Islam dalam krisis peradaban ini, oleh muslim yang memaknai Islam di luar meanstream atau bisa disebut ekstremisme Islam, terepresentasikan dalam wajah yang tak ramah. Pun dengan media tertentu juga turut andil dalam mengkonstruksikan Islam yang beringas.

Pada kasus tertentu misalnya, bila tindakan kriminal dilakukan oleh seorang muslim, maka dengan gegabah suatu media mengasosiasikan tindakan dengan terorisme. Tanpa ada upaya investigasi yang mendalam.

Namun manakala pelaku kriminal itu non-muslim, media itu hanya mewartakan insiden penembakan atau pembunuhan, seperti yang terjadi di Florida beberapa bulan lalu dan di Prancis baru-baru ini. Kenyataan ini turut menggambarkan bahwa media juga terinfeksi virus islamophobia.

Dalam identifikasi itu, kita menemukan setidaknya dua komponen yang mengkonstruksi wajah Islam yang marah yakni ekstremisme Islam dan media (Islamophobia). Seakan itulah wajah Islam. Ia tampak dominan dalam konstelasi politik global.

Keadaan demikian itu tak serta-merta diafirmasi kalangan muslim lainnya yang memaknai Islam sebagai rahmat bagi alam semesta. Kalangan terakhir ini adalah ulama yang berhimpun dalam konferensi ini.

Di sini tampak pertarungan pemaknaan akan Islam: ekstremisme Islam dan media (Islamophobia) di satu sisi, ulama di sisi lain. Kenyataan ini sesungguhnya mengandaikan bahwa Islam bukanlah sesuatu fix dan final, tapi selalu dalam medan pertarungan wacana.

Berkaitan hal di atas itu, relevan kiranya kita memakai kerangka pikir Ernesto Laclau, pemikir politik kontemporer, dalam menilik Islam. Menurutnya Islam merupakan empty signifier (penanda kosong) dimana masing-masing subjek politik bertarung secara diskursif dalam “mengisi Islam”.

Itu artinya, Islam adalah konstruksi dari antagonisme-antagonisme sosial yang dikontestasikan secara politik. Hadirnya antagonisme itu tak lepas dari pemaknaan akan Islam yang beragam dan tumbuh dari proses historis yang konfliktual.

Setiap upaya peneguhan secara totalitas akan “Islam” dalam satu pemaknaan, maka pada saat bersamaan proses ekslusi terjadi. Dan munculnya subjek yang terekslusi itu akan mendislokasikan tatanan pemaknaan Islam yang baru terbentuk.

Dalam konteks konferensi ini, ulama mendislokasikan pemaknaan Islam ala kalangan ekstremisme Islam dan media (Islamophobia). Ini sekaligus menunjukkan bahwa konstruksi Islam ala kalangan ekstremisme Islam dan  media (Islamophobia) pada arsy global tampak hegemonik. Sementara para ulama di konferensi itu dan kalangan muslim yang tak sepaham dengan kalangan ekstremis menjadi subjek yang-terekslusi.

Kondisi ini yang memungkinkan proses identifikasi, positioning dalam pertarungan wacana, dan bentuk artikulasi yang memuat political project. Sementara political project yang disuguhkan atas krisis peradaban adalah Islam Wasathiyah atau dikenal dengan moderasi Islam.

 

Moderasi Islam

Islam wasathiyah mengacu pada sikap beragama yang mampu merangkul berbagai kalangan, mengedepankan sikap tenggang rasa (tasamuh), cinta-kasih (rahmah), mengutamakan dialog (syura) dan menjadi penengah di antara pelbagai pihak yang bertikai.

Pemaknaan Islam dalam artian wasathiyah ini menjadi chain of equivalence (rantai kebersamaan) dari sejumlah ulama dunia yang berhimpun di KTT ini.

Rantai kebersamaan ini hanya mungkin terbentuk manakala munculnya subjek hegemonik. Subjek hegemonik dalam artian Laclauian ini ialah subjek yang piawai mengartikulasikan tuntutan-tuntutan subjek lainnya. Ia mampu melampui tuntutan itu dengan membentuk chain equivalence sekaligus menjadi agenda bersama. 

Bila kita cermati, upaya membangun chain of equivalence ini diprakarsai pemerintah Jokowi melalui utusan khusus presiden untuk dialog agama dan peradaban, yakni Din Syamsuddin.

Kondisi ini sekaligus menunjukkan komitmen pemerintah Jokowi dalam merespon krisis peradaban global dengan merangkul ulama se-dunia.

Bahkan sebelumnya, dalam konferensi Alumni Universitas Al-Azhar di Nusa Tenggara Barat bulan Oktober 2017, presiden juga menegaskan komitmennya tentang Islam wasathiyah yang telah dipraktikkan di Indonesia dapat menjadi prototype dan arus utama bagi masyarakat dunia, utamanya dalam tiga aspek: teologi, fiqh dan tasawuf.

Pada aspek teologi, kecenderungan umat Islam Indonesia mempraktikkan aliran teologi Asy’ariyah, Maturidiyah, dan dalam beberapa hal juga Jabariyah. Aliran teologi Islam ini tak begitu ekstrem sebagaimana aliran khawarij dan mu’tazilah.

Sementara aspek fiqh—meskipun kita mengakui empat madzhab: Maliki, Hanafi, Syafi’i, dan Hambali—sebagian besar umat Islam menerapkan mazhab Syafi’i yang relatif pada posisi tengah dari mazhab lainnya.

Begitu juga dalam aspek tasawuf, preferensinya mengacu pada al-Ghazali, sehingga corak tasawuf di Indonesia lebih dominan warna tasawuf akhlaqi ketimbang tasawuf falsafi seperti ajaran Ibn Arabi, al-Hallaj dan sebagainya.

Adanya wacana Islam wasathiyah yang telah menubuh dan berurat-berakar dalam sanubari umat Islam di Indonesia membentuk bagaimana artikulasi atau praktik keberislaman wasathiyah.

Memakai teori wacana Ernesto Laclau dan Chantal Mouffe (2001), bahwa wacana yang membentuk artikulasi dan artikulasi pula yang membentuk wacana. 

Prototype Islam wasathiyah yang dipraktikkan oleh masyarakat Indonesia ini yang hendak disuguhkan dalam praktik keberislaman masyarakat muslim dunia. Dan para ulama se-dunia bersikap afirmatif atas wacana Islam wasathiyah sebagai kontribusi Islam dalam menjawab krisis global sekaligus meng-counter wacana Islam yang justru bertolak-belakang dengan Islam wasathiyah yang mencitrakan wajah ramah Islam.

Dipilihnya sikap afirmatif ini mengandaikan sisi hegemonik pemerintah Jokowi untuk turut-serta menjaga keberlangsungan umat Islam dan menampilkan, meminjam ungkapan Azyumardi Azra, wajah Islam yang berbunga-abunga (flowering Islam).

Setrutu hal itu, mengemukanya wacana Islam wasathiyah ini membangun political frontier dengan ekstremisme Islam dan media (Islamophobia). Adanya political frontier menghadirkan  pertarungan wacana Islam. Islam sebagai empty signifier (penanda kosong) menjadi medan pertarungan diskursif antara kalangan Islam wasathiyah dengan ekstremisme Islam dan (media Islamophobia).

Akhirnya, hadirnya Islam wasathiyah sebagai wacana hegemonik, tak serta-merta dapat merunyamkan subjek berseberangan yang-terekslusi, dalam hal ini ekstremisme Islam dan media (Islamophobia). Kemungkinan menyeruaknya resistensi subjek terekslusi itu akan selalu ada, karena tatanan sosial memuat kerentanan dan ketakmampuannya merengkuh subjek secara totalitas.

*Penulis adalah Dosen Universitas Paramadina, Jakarta.


Tag : #islamophobia #ekstrimisme #islam moderat #Islam Ramah



Berita Terbaru

 

Kuliner Nusantara
Rabu, 20 Juni 2018 15:00 WIB

Sensasi Pedas 'Sate Setan' di Bernai Sarolangun


Kajanglako.com, Sarolangun – Bagi anda penyuka kuliner nusantara, kalau anda jalan-jalan ke Kabupaten Sarolangun, jangan lupa untuk mencoba’Sate

 

Pilwako Jambi 2018
Rabu, 20 Juni 2018 14:45 WIB

Dimeriahkan Judika, Fasha Undang Warga Hadiri Kampanye Akbar FM di GOR Kotabaru


Kajanglako.com, Kota Jambi – 23 Juni nanti, pasangan calon nomor urut dua Fasha-Maulana akan menggelar kampanye Akbar di GOR Kotabaru, Kota Jambi. Kampanye

 

Pilwako Jambi 2018
Rabu, 20 Juni 2018 14:31 WIB

Soal Video Rekayasa Politik Uang, Fasha: Mudah-mudahan Allah Turunkan Hidayahnya


Kajanglako.com, Kota Jambi – Calon Walikota Jambi nomor urut dua, Syarif Fasha menanggapi santai video politik uang yang diduga rekayasa untuk menyerang

 

Pilwako Jambi 2018
Rabu, 20 Juni 2018 14:04 WIB

Kapolda Kunjungi Kediamannya, Sani: Terima Kasih Pak Telah Sudi Hadir


Kajanglako.com, Kota Jambi - Kapolda Jambi, Brigjen Pol Muchlis AS berserta rombongan juga melakukan kunjungan ke kediaman Calon Walikota Jambi nomor urut

 

Pilwako Jambi 2018
Rabu, 20 Juni 2018 13:49 WIB

Jelang Pemungutan Suara, Kapolda Sambangi Kediaman Syarif Fasha


Kajanglako.com, Kota Jambi – Menjelang hari pemungutan suara Pilwako Jambi pada 27 Juni nanti, Kapolda Jambi Brigjen Pol Muchlis AS mengunjungi kediaman