Rabu, 19 Desember 2018


Kamis, 31 Mei 2018 09:11 WIB

Bambu yang Jauh di Mata

Reporter :
Kategori : Pustaka

Penulis. Meiliana K. Tansri. Karya Jhoni Imron

Oleh: Meiliana K. Tansri*

Suatu hari, Bu Yus, yang mengajar Agama di sekolah kami, menatap saya ketika memberi nilai tugas pelajaran Agama hari itu. Sambil tersenyum beliau berkata, "Mei Mei jadi mualaf saja."



Saat itu awal tahun 80-an, Bu Yusnawati, perempuan Minang kelahiran Batusangkar, adalah satu-satunya guru yang mengajar agama, yaitu Agama Islam, di SD 139 Kota Jambi, tempat saya disekolahkan oleh kemampuan ekonomi Papa yang buruh sawmill dan Mama sebagai tukang jahit.

Saya ingat, waktu itu dengan polos saya balik bertanya, "Mualaf itu apa, Bu?" Bu Yus hanya senyum-senyum sambil membelai kepala saya.

Setelah dewasa, bertahun-tahun kemudian baru saya mengerti apa arti kata 'mualaf', dan baru saya sadar, apa maksud pertanyaan Bu Yus itu. Tak lain karena rasa kasih sayangnya kepada saya.

Apa yang beliau lihat dalam diri saya bukanlah kulit saya yang putih atau mata saya yang sipit, melainkan bocah perempuan kerempeng bersepatu butut yang dengan patuh mengerjakan semua tugas menulis Arab dan menghapalkan ayat-ayat Al-Qur'an di depan kelas.

Di mata beliau semua murid sama, yang membedakan hanyalah kesungguhan dalam belajar.

Kasih sayang yang sama terpancar melalui pergumulan guru-guru SLB yang dengan ikhlas mengasuh gadis autis dan membawanya mengenal Tuhan melalui jalan yang mereka kenal dan bisa ajarkan, yaitu agama Islam – walaupun si gadis bukan Islam dalam kisah tulisan Kartika Ratnasari berjudul  Aku dan Anak Tioghoa di Bangku SLB (hal 371).

Pengalaman Kartika itu menyembulkan sisi lembut Islam yang begitu kuat di Yayasan SLB ini dengan menerima seorang gadis kecil berlatar belakang agama yang berbeda plus tiada berbapak, dan ditinggalkan ibunya yang menikah lagi. Sementara neneknya yang tak rela menitipkan cucunya di Panti Asuhan di Malang tak kuasa menjaganya lantaran berusia uzur.

Di situ pula, muncul pergulatan luar biasa dalam diri Kartika, yang menyadari bocah ini terombang-ambing dalam tradisi 2 agama tanpa ada kejelasan sebaiknya agama mana yang konsisten ditradisikan untuk gadis ini. Apatahlagi gadis ini adalah siswa autisme yang hanya melakukan apa yang sehari-hari dia lihat dan diajarkan tanpa keyakinan hati pada agama yang dia jalani tradisinya. (halaman 372-373).

*

Kembali ke cerita awal. Di SD saya adalah minoritas dengan 'cacat' ganda: Kristen dan Cina. Masa diolok-olok dengan kalimat 'makan babi' dan 'singkek' pernah saya alami, tetapi tidak lama karena saya cukup disegani karena selalu juara kelas, dan belakangan saya membentuk kelompok belajar yang belajar berpindah-pindah di rumah teman-teman sekelas.

Kami tinggal di kampung yang heterogen di mana semua bocah dari beragam suku dan campuran beragam suku itu setiap hari bermain bersama dalam suasana yang tidak jauh berbeda dari gambaran beberapa penulis seperti Andreas Kristianto (hal 36); Rahmat Hidayat (hal 67); Ronald Hartono (hal 97); Irma Fitriyah (hal 191); dan Js. Inggried Budiarti (hal 426): main bersama, saling ejek, bantu membantu kalau ada acara di kampung, silaturahmi dan antaran makanan setiap hari raya.

Semua kenangan tentang keindahan dan cecapan rasa bahagia hidup sebagai bangsa yang heterogen itulah yang menjadi salah satu kekuatan buku Ada Aku di Antara Tionghoa dan Indonesia karya 73 penulis dari berbagai etnis, agama, latar belakang sosial-ekonomi, maupun profesi ini.

Kekuatan lainnya adalah kejujuran dan kerendahan hati para penulis ini untuk mengungkapkan kenangan yang tidak indah, dan kepedihan yang juga menjadi bagian dari sejarah hidup bersama dalam heterogenitas Indonesia, baik sebagai pelaku: Aan Anshori (hal 53); Fitria Sari (hal 170); Doni Setyawan (hal 184); maupun sebaga korban: Pdt. Stephen Suleeman (hal 14); Adi Sudjatmika Tjiong (hal 43); Poedjiati Tan (hal 198).

Kedua kekuatan ini hadir berdampingan dan saling melengkapi, menyajikan keberadaan etnis Tionghoa di Indonesia yang seolah tersembunyi di balik tirai bambu. Disadari ada, tetapi tidak terjangkau, dan tetap terpisah seperti minyak yang akan tetap mengapung di atas air.

Sebagai karya kolektif, tentu saja gaya bahasa penulis dalam buku ini berwarna-warni dengan tema yang juga beragam. Mulai dari kenangan dan kesan interaksi pribadi: Dian Lestariningsih (hal 1); A. Hery Pratomo (hal 120); Aang Fatihul Islam (hal 21); tentang krisis identitas: Ellen Nugroho (hal 27); Js. Sugandi Rurya Atmaja (hal 81); Harijanto Tjahjono (308); sejarah: Abigail Soesana (225); Suma Mihardja (349); Herman Saputra Kwan (288); trauma sejarah politik: Nur Apriyanti (212); Ilyas Yasin (361); Jenni Anggita (387); kesadaran tentang keragaman: Arif Muzayin Shofwan (101); Laili Nur Anisah (113); Halim Eka Wardana (138); juga harapan akan masa depan bersama: Dinah Katjasungkana (165); Renata Arianingtyas (206); Waty Sumiaty Halim (272): Cheng Hoo Djodi Galajapo (385).

Namun secara keseluruhan semua cerita mengandung benang merah yang sama, yaitu bahwa persatuan dan kesatuan Indonesia hanya bisa tercapai jika semua elemen masyarakat yang berbeda-beda mau berusaha saling memahami, bersikap terbuka satu sama lain, dan menghargai jarak pribadi yang orang lain butuhkan, sebagaimana bunyi kata bijak berikut ini: "Karena suku, ras, dan agama bukanlah siapa mereka sesungguhnya. Karena siapa mereka sesungguhnya adalah sesama anak manusia. Di situ kita perlu saling terbuka dan sama-sama belajar".

Sayangnya,  tidak rapinya penyuntingan bahasa sehingga letak huruf besar dan tanda baca yang tidak tertib, juga adanya angka di awal kalimat, dan banyaknya campuran kata tidak baku, merupakan kelemahan yang cukup mengganggu ketika membaca buku ini, walaupun makna dan pesan dari teksnya tetap dapat kita tangkap.

Sebagai bagian dari upaya bersama untuk mendidik bangsa, buku ini cukup baik untuk memperkuat kesadaran generasi muda bahwa nasionalisme bukan hanya bendera.

Nasionalisme juga adalah tetangga kita yang Tionghoa, makan babi, atau keduanya. Nasionalisme juga adalah Uni Yas tetangga kita yang berhijab, Wak Ustadz yang kalau mendengarnya mengaji kita bisa meneteskan air mata. Nasionalisme juga adalah Yuk Esah tetangga di balik pagar rumah kita, yang suaminya sering menganggur karena sakit-sakitan. Nasionalisme adalah orang-orang di tempat kita hidup dan berkarya, bukan rumpun bambu yang jauh di seberang lautan.

Kita tidak dapat mengelak bahwa disparitas antara eksistensi Tionghoa di Indonesia dengan entitas sosial lainnya timbul karena warisan sektarianisme yang sudah berabad-abad, terdiferensial menjadi diskriminasi, perundungan, bahkan penindasaan, membentuk sebuah kekeliruan integral bahwa walaupun sudah menyandang status we-en-i, merek 'Made in China' akan tetap melekat.

Namun tak kurang, melalui karya ini sejumlah anak bangsa yang berpandangan ke depan mengajak kita untuk ikut dalam sebuah gerakan berpikir secara kolektif untuk memaknai Indonesia secara transparan dan utuh.

Transparan dalam artian mengakui semua kebaikan dan juga keburukan mulai dari pungli, perundungan, sampai penganiayaan sekelas tragedi 1965 dan 1998 memang benar ada, dan bahwa korbannya bukan hanya etnis Tionghoa tetapi kita semua, orang Indonesia, tanpa memandang dari suku apa.

Dan utuh dalam arti menerima setiap kebaikan dan keburukan itu sebagai bagian dari sejarah yang tidak dapat kita hapus, namun dari situ kita harus berangkat maju bersama menjadi bangsa yang kuat, karena sudah tahan uji.

Akhirnya, usaha tiada putus masing-masing kita merawat keragaman di negeri yang amat kita cintai ini, mengingatkan saya pada ungkapan bernas Nelson Mandela yang berjuang mengakhiri diskriminasi ras dan perbudakan di Afrika Selatan: “Tidak seorang pun yang terlahir untuk membenci orang lain karena warna kulit, latar belakang, atau agamanya. Orang harus belajar untuk membenci, dan jika mereka dapat belajar untuk membenci, mereka dapat diajarkan untuk mencintai, karena cinta datang lebih alami ke hati manusia daripada kebalikannya".

*Meiliana K. Tansri adalah penulis Trilogi Darah Emas (Mempelai Naga, Gadis Buta dan Tiga Ekor Tikus, Sembrani) dan beberapa judul Novel lainnya : Konser, Layang-layang Biru, Kupu-kupu, Belajar Terbang yang diterbitkan oleh Gramedia. Beberapa karyanya telah memenangkan Sayembara Cerber Femina : Perahu Kertas (Juara I, 1997), Bunga Jambu (Juara II,1999), Kupu-Kupu (Juara II,2000), dan Belajar Terbang (Juara I, 2001). Kini, Meiliana tinggal dan bekerja di Jambi


Tag : #Tionghoa dan Indonesia #Jambi Tionghoa #Diskriminasi Ras #Cinta Perbedaan



Berita Terbaru

 

Rabu, 19 Desember 2018 15:46 WIB

Belasan TKA Terdata Bekerja di Batanghari, Mayoritas China


Kajanglako.com, Batanghari - Tercatat di Kabupaten Batanghari, sekitar 13 orang Tenaga Kerja Asing (TKA) bekerja di tiga perusahaan. Hal ini berdasarkan

 

Rabu, 19 Desember 2018 15:37 WIB

Diduga Keracunan Soto Lontong, 2 Warga Teluk Nilau Meninggal Dunia


Kajanglako.com, Tanjung Jabung Barat – Diduga keracunan, usai menyantap soto dalam pengajian ibu-ibu. Puluhan warga Kelurahan Teluk Nilau, Kecamatan

 

Rabu, 19 Desember 2018 15:23 WIB

4 Pos Disiapkan di Merangin untuk Pengamanan Natal dan Tahun Baru


Kajanglako.com, Merangin - Untuk pengamanan natal 2018 dan tahun baru 2019 sebanyak 4 pos pengamanan disiapkan di beberapa titik di wilayah Merangin. Pos

 

Rabu, 19 Desember 2018 12:19 WIB

Jambi Pasok Ikan Patin 20 ton Perhari ke Luar Daerah


Kajangalako.com, Jambi - Pemerintah Provinsi Jambi menargetkan pada tahun 2018, produksi ikan patin sebesar 35 kg perkapital.Pada Januari-Desember 2018,

 

Rabu, 19 Desember 2018 12:06 WIB

Fachrori Upayakan 2019 Semua Desa Dialiri Listrik


Kajangalako.com, Jambi - Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Jambi Fachrori Umar, berharap agar tahun 2019 semua desa di Provinsi Jambi dialiri listrik. Hal