Jumat, 22 Juni 2018


Senin, 28 Mei 2018 14:52 WIB

Untuk Apa Kita Berpuasa

Reporter :
Kategori : Sudut

ilustrasi

Oleh: Husein Muhammad*

Puasa adalah ritual keagamaan yang bukan hanya diajarkan oleh agama Islam, tetapi juga agama-agama dan sistem kepercayaan dalam komunitas manusia-manusia. Ajaran ini esensial, eksklusif, menyentuh dimensi spiritual yang menjadi jantung manusia.



Ritual ini menjadi milik Tuhan saja, bukan milik manusia. Tuhan mengatakan: "Semua amal/kerja manusia miliknya sendiri, kecuali puasa. Ia milik-Ku, dan Akulah yang menghargainya".

Pertanyaan utamanya adalah mengapa dan untuk apa manusia perlu dibimbing Tuhan menjalani ritual ini. Sejak awal, Tuhan menaruh kepercayaan penuh kepada manusia untuk tugas pengaturan kehidupan bersama di dunia ini.

Tuhan menyebutnya dalam arti "genus", manusia sebagai “khalifah fi al-Ardh”, pemimpin bumi. Dia berharap manusia bisa membangun kehidupan bersama yang saling menghormati, saling melindungi dan saling menyejahterakan.

Untuk keperluan itu Tuhan membekalinya dengan seluruh perangkat yang memungkinkan mereka dapat mengerjakan semua tugas kemanusiaan itu dengan sebaik-baiknya.

Tuhan memberi manusia akal untuk memikirkan, hati untuk mengalami dan merasakan, dan hasrat untuk menggerakkan.

Ketiganya yang bersifat spiritual itu secara genuin diciptakan pada asalnya dalam keadaan suci dan baik.

Tetapi dalam perjalanannya manusia seringkali menjadi makhluk yang lemah, lalim dan bodoh. Ia sering lalai, mudah tergoda, terperangkap dalam dosa dan tergelincir ke dalam tindakan-tindakan yang menyimpang; merendahkan, mendiskriminasi dan menzalimi orang lain.

Manusia juga mudah tertarik pada dan tertipu oleh hasrat-hasrat yang rendah dan kesenangan-kesenangan sesaat (duniawi); memuja harta, jabatan, seks, golongannya sendiri, keturunan, dan sebagainya.

Hasrat-hasrat diri ini amat sering melalaikan, memperdaya, mengecoh, bahkan tak menghargai hak orang lain. Manusia acapkali tak mampu mengendalikan hasrat-hasrat rendah yang menyesatkan itu. Manusia juga sering tidak memahami orang lain, salah paham terhadap orang lain dan bahkan memusihi orang lain.

Lihatlah, hari-hari ini di negeri ini, kita masih belum selesai menyaksikan perilaku-perilaku manusia yang rakus, egois, berebut kuasa, sombong, gemar mengumbar hasrat perut dan sex, merendahkan orang lain dan tidak menaruh empati penderitaan orang lain.

Hari-hari ini kita juga menyaksikan beragam tindakan manusia yang menyakiti sesamanya baik di dalam rumahnya sendiri maupun di ruang bersama. Kata-kata kasar dan melukai manusia berhamburan di mana-mana, di dunia nyata dan di dunia maya.

Lihatlah masih begitu banyak orang-orang miskin dan fakir, yang terlunta-lunta, yang tidur di kolong jembatan, yang dibiarkan.

Lihatlah, bagaimana bom-bom diledakkan di "rumah-rumah tempat manusia mengabdi kepada Tuhan". Betapa manusia, ciptaan Tuhan yang terhormat itu, tengah mengalami situasi kejiwaan yang rusak, terbelah, lalai dan menyimpang.

Nah, di sinilah puasa menjadi momen penting dan perlu. Ia adalah momen penting untuk mendidik nurani manusia agar kembali kepada fungsinya sebagai wakil Tuhan. Puasa juga mengajarkan tentang keharusan manusia mengendalikan hasrat-hasrat rendah dan amoral.

Pembiaran hasrat-hasrat rendah yang tak terkendali selalu akan melahirkan malapetaka sosial dan kemanusiaan. Intinya, puasa merupakan momen melatih sensitifitas pikiran, hasrat dan tindakan agar selalu terkontrol dan terkendali.

Inilah sejatinya taqwa: tujuan utama Puasa.

 

* K.H. Husein Muhammad, lahir di Cirebon, 9 Mei 1953. Setelah menyelesaikan pendidikan di Pesantren Lirboyo, Kediri, tahun 1973 melanjutkan studi ke Perguruan Tinggi Ilmu al-Qur-an (PTIQ) Jakarta. Tamat tahun 1980. Kemudian melanjutkan belajar ke Al-Azhar, Kairo, Mesir. Di tempat ini ia mengaji secara individual pada sejumlah ulama Al-Azhar. Kembali ke Indonesia tahun 1983 dan menjadi salah seorang pengasuh Pondok Pesantren Dar al-Tauhid, yang didirikan kakeknya tahun 1933 sampai sekarang. Karya tulisnya tersebar di toko-toko buku besar di tanah air. Tulisan ini semula diunggah penulis di laman fb pribadi pada 25 Mei 2018. Pemuatan oleh redaksi atas seizin penulis.


Tag : #Puasa dan Kemanusiaan #Puasa dan Kesalehan Sosial



Berita Terbaru

 

Tradisi Usai Lebaran
Jumat, 22 Juni 2018 11:10 WIB

Pemprov Jambi Gelar Halal Bihalal, Fachrori: Ayo Saling Beri Maaf


Kajanglako.com, Jambi - Memasuki hari kedua kerja, Pemerintah Provinsi Jambi menggelar Halal Bihalal dengan seluruh ASN. Halal Bhalal digelar di halaman

 

Kebakaran
Kamis, 21 Juni 2018 23:00 WIB

Kebakaran Rumah Makan di Bungo, Diduga Sengaja Dibakar Orang Tak Dikenal


Kajanglako.com, Bungo - Sebuah rumah pribadi dan sekaligus rumah makan di bungo ditinggal mudik di Jalan Ali Sudin, Kamis malam (21/6), hangus sekejap

 

Kebakaran
Kamis, 21 Juni 2018 22:54 WIB

Di Tinggal Mudik, Satu Rumah Makan Hangus Terbakar


Kajanglako.com, Bungo - Sebuah rumah pribadi dan sekaligus rumah makan di Bungo yang ditinggal mudik di Jalan Ali Sudin, Kamis malam (21/6) hangus sekejap

 

Sidak ASN
Kamis, 21 Juni 2018 22:43 WIB

Hari Pertama Masuk Kerja, Bupati Syahirsah Sidak Sejumlah OPD


Kajanglako.com, Batanghari - Tahun ini, cuti lebaran untuk semua PNS lebih panjang dari tahun sebelumnya. Untuk meningkatkan kedisiplinan PNS di wilayah

 

Curat
Kamis, 21 Juni 2018 19:08 WIB

Polsek Pelawan Singkut Tangkap Kawanan Spesialis Bongkar Rumah


Kajanglako.com, Sarolangun - Dua orang pelaku tindak pidana Pencurian dengan Pemberatan (Curat) berhasil ditangkap Polsek Pelawan Singkut.  Penangkapan