Sabtu, 16 Februari 2019


Senin, 28 Mei 2018 13:37 WIB

Menjamurnya Sektor Informal di Bulan Ramadan

Reporter :
Kategori : Perspektif

Triyono. Peneliti LIPI

Oleh Triyono*

Tidak terasa kita telah berada di pertengahan bulan suci Ramadan. Ketika terbesit bulan Ramadan maka ingatan kita tertuju kepada Tunjangan Hari Raya (THR), harga barang naik dan mudik. Namun tidak pernah terpikirkan momen bulan Ramadan ini secara langsung telah menyuburkan sektor informal.



Hal ini ditandai dengan banyaknya bermunculan orang yang berjualan di berbagai tempat dan tumbuhnya industri rumahan. Momen satu tahun sekali ini sangat dimanfaatkan oleh berbagai kalangan terutama pekerja di sektor informal untuk meraih untung. Kemudian bagaimana sebenarnya potret kehidupan sektor informal?

Berkembangnya sektor informal karena sektor formal hingga saat ini belum sepenuhnya mampu menampung angkatan kerja kita. Di sisi lain rilis Badan Pusat Satistik (BPS) terhadap Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) bulan Februari 2018 masih cukup tinggi yaitu 6,87 juta orang.

Karena itu menjamurnya sektor informal di bulan Ramadan diindikasikan merupakan jalan keluar bagi sebagian pengangguran untuk bekerja karena dihadapkan dengan kebutuhan pokok hari Raya Idul Fitri. Hal ini dilakukan sebagai upaya strategi bertahan hidup. Apalagi  di kota-kota besar seperti Jakarta.

Munculnya pedagang dadakan dan usaha baru memberikan secerca harapan bagi penurunan angka pengangguran. Meskipun momen tahunan ini berdampak terhadap lalu lintas karena sebagian bahu jalan digunakan untuk berjualan, tetapi di sisi lain munculnya usaha-usaha ini menjadi embrio bagi pemerintah.

Embrio yang muncul dari masyarakat ini seharusnya mampu ditangkap oleh Pemerintah Daerah seperti DKI Jakarta. Hal ini dapat dilakukan dengan mensinergikan program OCE OK yang pada waktu kampanye lalu menjadi salah satu jargon politik gubernur terpilih.

Di sisi lain program OKE OC diharapkan mampu menumbuhkan semangat usaha baru. Momen bulan Ramadan dengan menjamurnya usaha-usaha baru ini diharapkan mampu menjadi stimulus bagi perkembangan dunia usaha.

Pemerintah Daerah DKI Jakarta jika mampu menangkap momen ini, maka bisa menjadi stimulus usaha untuk lebih berkembang karena ada beberapa faktor yang mendukung. Pertama, masyarakat secara langsung telah memiliki inisiatif sendiri untuk berusaha. Inisiatif merupakan salah satu kunci keberhasilan program. Namun demikian inisatif yang sudah ada dari masyarakat ini perlu didorong oleh pemerintah.

Kebijakan yang dapat dilakukan oleh pemerintah dapat dimulai melalui pendataan, dan selanjutnya pembinaan berkelanjutan. Program pemerintah yang tidak ada pembinaan berkelanjutan hanya akan mengulang kegagalan-kegagalan program terdahulu.

Faktor kedua masyarakat telah memiliki produk usaha. Dengan demikian tidak harus memulai dari awal. Pemerintah dalam hal ini tinggal membina mulai dari proses produksi untuk menghasilkan produk yang berkualitas kemudian hingga pemasaran.

Program pembinaan dan pendampingan pemasaran merupakan langkah paling vital dalam keberlanjutan usaha sektor informal. Apalagi dalam hal ini yang menjadi sasaran adalah sektor informal yang produknya hanya dipasarkan untuk memenuhi kebutuhan di bulan Ramadan.

Namun seandainya produk-produk tersebut dikembangkan dan diperluas pasarnya maka usaha tersebut sangat bisa jalan tanpa harus bergantung pada bulan Ramadan. Selain itu adanya teknologi informasi sekarang ini juga sangat membantu bagi terciptanya peluang usaha menjadi besar.

Melihat potensi sektor informal saat ini, sensitivitas kebijakan memang sangat diperlukan. Dengan demikian pemerintah tidak hanya berfokus permasalahan makro ekonomi, tetapi juga harus mampu menangkap ekonomi mikro seperti ini.

Apalagi kondisi sektor informal hingga saat ini masih menjadi benteng dalam perekonomian nasional. Hal ini tercermin dalam data BPS bulan Februari 2018, yang mencatat bahwa pelaku sektor informal mencapai 58,72 persen dari total jumlah penduduk Indonesia yang bekerja.  

Oleh karena itu, pengelolaan sektor informal seyogyanya diterapkan sesuai dengan kebijakan yang sangat pro kepada usaha kecil. Harapannya sektor informal ini sedikit demi sedikit naik kelas ke sektor formal.

Naiknya ke kelas formal maka usaha semakin berkembang dan merekrut tenaga kerja secara massif. Sekarang tinggal menunggu realisasi stakeholder terkait dalam melihat peluang menjamurnya sektor informal di bulan Ramadan ini. Jika peluang ini mampu dijalankan maka usaha sektor informal ini dapat berdaya saing.

*Penulis adalah peneliti Ketenagakerjaan Pusat Penelitian Kependudukan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)


Tag : #Ramadan dan Sektor Informal #Ekonomi Berkelanjutan



Berita Terbaru

 

Sabtu, 16 Februari 2019 08:35 WIB

Sedang BAB, Duda Ini Batuk Lalu Keluar Segumpal Daging dari Lubang Anusnya


Kajanglako.com, Merangin - Penyakit aneh dialami Lusihadi, 42 tahun, tiba-tiba saja keluar segumpal daging dari lubang anusnya.   Awalnya, Lusihadi

 

Ekspedisi Belanda ke Djambi
Sabtu, 16 Februari 2019 06:32 WIB

Peralatan yang Rusak dan Awak yang Dipulangkan


Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda) Pada tanggal 25 Juli, Nakhoda Makkink tiba. Ia menumpang kapal pos dari Batavia. Ia membawa peti-peti

 

Jumat, 15 Februari 2019 22:58 WIB

Sekda Bahtiar Hadiri Millenial Road Safety Festival


Kajanglako.com, Batanghari - Bupati Batanghari Syahirsah yang diwakili oleh Sekretaris Daerah Batanghari Bakhtiar, Jumat (15/2), menghadiri Millenial Road

 

Jalan Rusak
Jumat, 15 Februari 2019 16:04 WIB

Aspal Ambruk, Hati-hati Lintasi Jalan di Bungo Ini


Kajanglako.com, Bungo - Para pengendara yang melintas di jalan penurunan Sungai Buluh arah jalan lingkar, tepatnya jika hendak ke Bandara Muara Bungo diminta

 

Unjuk Rasa Mahasiswa
Jumat, 15 Februari 2019 15:56 WIB

Mahasiswa Unja ke Gubernur: Jangan Gunakan Uang Negara untuk Kepuasan Keluarga


Kajanglako.com, Jambi - Puluhan Mahasiswa Unja melakukan aksi unjuk rasa, sebagai bentuk kepedulian kepada Provinsi Jambi karena saat ini dinilai Jambi