Rabu, 15 Agustus 2018

Senin, 28 Mei 2018 13:37 WIB

Menjamurnya Sektor Informal di Bulan Ramadan

Reporter :
Kategori : Perspektif

Triyono. Peneliti LIPI

Oleh Triyono*

Tidak terasa kita telah berada di pertengahan bulan suci Ramadan. Ketika terbesit bulan Ramadan maka ingatan kita tertuju kepada Tunjangan Hari Raya (THR), harga barang naik dan mudik. Namun tidak pernah terpikirkan momen bulan Ramadan ini secara langsung telah menyuburkan sektor informal.



Hal ini ditandai dengan banyaknya bermunculan orang yang berjualan di berbagai tempat dan tumbuhnya industri rumahan. Momen satu tahun sekali ini sangat dimanfaatkan oleh berbagai kalangan terutama pekerja di sektor informal untuk meraih untung. Kemudian bagaimana sebenarnya potret kehidupan sektor informal?

Berkembangnya sektor informal karena sektor formal hingga saat ini belum sepenuhnya mampu menampung angkatan kerja kita. Di sisi lain rilis Badan Pusat Satistik (BPS) terhadap Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) bulan Februari 2018 masih cukup tinggi yaitu 6,87 juta orang.

Karena itu menjamurnya sektor informal di bulan Ramadan diindikasikan merupakan jalan keluar bagi sebagian pengangguran untuk bekerja karena dihadapkan dengan kebutuhan pokok hari Raya Idul Fitri. Hal ini dilakukan sebagai upaya strategi bertahan hidup. Apalagi  di kota-kota besar seperti Jakarta.

Munculnya pedagang dadakan dan usaha baru memberikan secerca harapan bagi penurunan angka pengangguran. Meskipun momen tahunan ini berdampak terhadap lalu lintas karena sebagian bahu jalan digunakan untuk berjualan, tetapi di sisi lain munculnya usaha-usaha ini menjadi embrio bagi pemerintah.

Embrio yang muncul dari masyarakat ini seharusnya mampu ditangkap oleh Pemerintah Daerah seperti DKI Jakarta. Hal ini dapat dilakukan dengan mensinergikan program OCE OK yang pada waktu kampanye lalu menjadi salah satu jargon politik gubernur terpilih.

Di sisi lain program OKE OC diharapkan mampu menumbuhkan semangat usaha baru. Momen bulan Ramadan dengan menjamurnya usaha-usaha baru ini diharapkan mampu menjadi stimulus bagi perkembangan dunia usaha.

Pemerintah Daerah DKI Jakarta jika mampu menangkap momen ini, maka bisa menjadi stimulus usaha untuk lebih berkembang karena ada beberapa faktor yang mendukung. Pertama, masyarakat secara langsung telah memiliki inisiatif sendiri untuk berusaha. Inisiatif merupakan salah satu kunci keberhasilan program. Namun demikian inisatif yang sudah ada dari masyarakat ini perlu didorong oleh pemerintah.

Kebijakan yang dapat dilakukan oleh pemerintah dapat dimulai melalui pendataan, dan selanjutnya pembinaan berkelanjutan. Program pemerintah yang tidak ada pembinaan berkelanjutan hanya akan mengulang kegagalan-kegagalan program terdahulu.

Faktor kedua masyarakat telah memiliki produk usaha. Dengan demikian tidak harus memulai dari awal. Pemerintah dalam hal ini tinggal membina mulai dari proses produksi untuk menghasilkan produk yang berkualitas kemudian hingga pemasaran.

Program pembinaan dan pendampingan pemasaran merupakan langkah paling vital dalam keberlanjutan usaha sektor informal. Apalagi dalam hal ini yang menjadi sasaran adalah sektor informal yang produknya hanya dipasarkan untuk memenuhi kebutuhan di bulan Ramadan.

Namun seandainya produk-produk tersebut dikembangkan dan diperluas pasarnya maka usaha tersebut sangat bisa jalan tanpa harus bergantung pada bulan Ramadan. Selain itu adanya teknologi informasi sekarang ini juga sangat membantu bagi terciptanya peluang usaha menjadi besar.

Melihat potensi sektor informal saat ini, sensitivitas kebijakan memang sangat diperlukan. Dengan demikian pemerintah tidak hanya berfokus permasalahan makro ekonomi, tetapi juga harus mampu menangkap ekonomi mikro seperti ini.

Apalagi kondisi sektor informal hingga saat ini masih menjadi benteng dalam perekonomian nasional. Hal ini tercermin dalam data BPS bulan Februari 2018, yang mencatat bahwa pelaku sektor informal mencapai 58,72 persen dari total jumlah penduduk Indonesia yang bekerja.  

Oleh karena itu, pengelolaan sektor informal seyogyanya diterapkan sesuai dengan kebijakan yang sangat pro kepada usaha kecil. Harapannya sektor informal ini sedikit demi sedikit naik kelas ke sektor formal.

Naiknya ke kelas formal maka usaha semakin berkembang dan merekrut tenaga kerja secara massif. Sekarang tinggal menunggu realisasi stakeholder terkait dalam melihat peluang menjamurnya sektor informal di bulan Ramadan ini. Jika peluang ini mampu dijalankan maka usaha sektor informal ini dapat berdaya saing.

*Penulis adalah peneliti Ketenagakerjaan Pusat Penelitian Kependudukan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)


Tag : #Ramadan dan Sektor Informal #Ekonomi Berkelanjutan



Berita Terbaru

 

Perburuan Satwa Langka
Rabu, 15 Agustus 2018 08:59 WIB

Beli Kulit Harimau dari SAD, Dua Warga Jangkat Timur Ditangkap Polisi


Kajanglako.com, Merangin - Polres Merangin mengamankan dua pelaku penjual kulit Harimau Sumatera. Kedua pelaku diamankan di wilayah Bangko Barat, Selasa

 

Fasilitas Air Bersih
Selasa, 14 Agustus 2018 22:21 WIB

Pelanggan PDAM Tirta Pengabuan Mulai Nikmati Air Bersih Tebing Tinggi


Kajanglako.com, Tanjung Jabung Barat - Di peringatan Dirgahayu ke-53 Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Pemkab berhasil merealisasikan penyaluran air bersih

 

HUT ke-53 Tanjab Barat
Selasa, 14 Agustus 2018 22:08 WIB

Lestarikan Tradisi Bahari, Pemkab Tanjabbar Gelar Balap Pompong


Kajanglako.com, Tanjung Jabung Barat - Sebagai bentuk upaya melestarikan tradisi masyarakat bahari, sekaligus memeriahkan HUT Tanjab Barat ke-53 dan HUT

 

Ibadah Haji 2018
Selasa, 14 Agustus 2018 21:50 WIB

Satu Jamaah Haji Asal Batanghari Wafat di Makkah


Kajanglako.com, Batanghari - Satu jamaah haji asal Kabupaten Batanghari Suratman bin Mohan (76) yang tergabung dalam Kloter 21 meninggal dunia di Makkah.  Informasi

 

Pemilu 2019
Selasa, 14 Agustus 2018 19:30 WIB

Satu Bacaleg PPP Dapil Sarolangun-Merangin Meninggal Dunia


Kajanglako.com, Jambi - Partai Persatuan Pembangunan (PPP) mendapatkan kabar duka di tengah persiapan menghadapi Pemilihan Legislatif (Pileg) 2019, Satu