Rabu, 12 Desember 2018


Senin, 28 Mei 2018 13:37 WIB

Menjamurnya Sektor Informal di Bulan Ramadan

Reporter :
Kategori : Perspektif

Triyono. Peneliti LIPI

Oleh Triyono*

Tidak terasa kita telah berada di pertengahan bulan suci Ramadan. Ketika terbesit bulan Ramadan maka ingatan kita tertuju kepada Tunjangan Hari Raya (THR), harga barang naik dan mudik. Namun tidak pernah terpikirkan momen bulan Ramadan ini secara langsung telah menyuburkan sektor informal.



Hal ini ditandai dengan banyaknya bermunculan orang yang berjualan di berbagai tempat dan tumbuhnya industri rumahan. Momen satu tahun sekali ini sangat dimanfaatkan oleh berbagai kalangan terutama pekerja di sektor informal untuk meraih untung. Kemudian bagaimana sebenarnya potret kehidupan sektor informal?

Berkembangnya sektor informal karena sektor formal hingga saat ini belum sepenuhnya mampu menampung angkatan kerja kita. Di sisi lain rilis Badan Pusat Satistik (BPS) terhadap Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) bulan Februari 2018 masih cukup tinggi yaitu 6,87 juta orang.

Karena itu menjamurnya sektor informal di bulan Ramadan diindikasikan merupakan jalan keluar bagi sebagian pengangguran untuk bekerja karena dihadapkan dengan kebutuhan pokok hari Raya Idul Fitri. Hal ini dilakukan sebagai upaya strategi bertahan hidup. Apalagi  di kota-kota besar seperti Jakarta.

Munculnya pedagang dadakan dan usaha baru memberikan secerca harapan bagi penurunan angka pengangguran. Meskipun momen tahunan ini berdampak terhadap lalu lintas karena sebagian bahu jalan digunakan untuk berjualan, tetapi di sisi lain munculnya usaha-usaha ini menjadi embrio bagi pemerintah.

Embrio yang muncul dari masyarakat ini seharusnya mampu ditangkap oleh Pemerintah Daerah seperti DKI Jakarta. Hal ini dapat dilakukan dengan mensinergikan program OCE OK yang pada waktu kampanye lalu menjadi salah satu jargon politik gubernur terpilih.

Di sisi lain program OKE OC diharapkan mampu menumbuhkan semangat usaha baru. Momen bulan Ramadan dengan menjamurnya usaha-usaha baru ini diharapkan mampu menjadi stimulus bagi perkembangan dunia usaha.

Pemerintah Daerah DKI Jakarta jika mampu menangkap momen ini, maka bisa menjadi stimulus usaha untuk lebih berkembang karena ada beberapa faktor yang mendukung. Pertama, masyarakat secara langsung telah memiliki inisiatif sendiri untuk berusaha. Inisiatif merupakan salah satu kunci keberhasilan program. Namun demikian inisatif yang sudah ada dari masyarakat ini perlu didorong oleh pemerintah.

Kebijakan yang dapat dilakukan oleh pemerintah dapat dimulai melalui pendataan, dan selanjutnya pembinaan berkelanjutan. Program pemerintah yang tidak ada pembinaan berkelanjutan hanya akan mengulang kegagalan-kegagalan program terdahulu.

Faktor kedua masyarakat telah memiliki produk usaha. Dengan demikian tidak harus memulai dari awal. Pemerintah dalam hal ini tinggal membina mulai dari proses produksi untuk menghasilkan produk yang berkualitas kemudian hingga pemasaran.

Program pembinaan dan pendampingan pemasaran merupakan langkah paling vital dalam keberlanjutan usaha sektor informal. Apalagi dalam hal ini yang menjadi sasaran adalah sektor informal yang produknya hanya dipasarkan untuk memenuhi kebutuhan di bulan Ramadan.

Namun seandainya produk-produk tersebut dikembangkan dan diperluas pasarnya maka usaha tersebut sangat bisa jalan tanpa harus bergantung pada bulan Ramadan. Selain itu adanya teknologi informasi sekarang ini juga sangat membantu bagi terciptanya peluang usaha menjadi besar.

Melihat potensi sektor informal saat ini, sensitivitas kebijakan memang sangat diperlukan. Dengan demikian pemerintah tidak hanya berfokus permasalahan makro ekonomi, tetapi juga harus mampu menangkap ekonomi mikro seperti ini.

Apalagi kondisi sektor informal hingga saat ini masih menjadi benteng dalam perekonomian nasional. Hal ini tercermin dalam data BPS bulan Februari 2018, yang mencatat bahwa pelaku sektor informal mencapai 58,72 persen dari total jumlah penduduk Indonesia yang bekerja.  

Oleh karena itu, pengelolaan sektor informal seyogyanya diterapkan sesuai dengan kebijakan yang sangat pro kepada usaha kecil. Harapannya sektor informal ini sedikit demi sedikit naik kelas ke sektor formal.

Naiknya ke kelas formal maka usaha semakin berkembang dan merekrut tenaga kerja secara massif. Sekarang tinggal menunggu realisasi stakeholder terkait dalam melihat peluang menjamurnya sektor informal di bulan Ramadan ini. Jika peluang ini mampu dijalankan maka usaha sektor informal ini dapat berdaya saing.

*Penulis adalah peneliti Ketenagakerjaan Pusat Penelitian Kependudukan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)


Tag : #Ramadan dan Sektor Informal #Ekonomi Berkelanjutan



Berita Terbaru

 

Selasa, 11 Desember 2018 21:05 WIB

Nelayan Ini Ditemukan Luka-luka di Kapal Pompongnya


Kajanglako.com, Tanjung Jabung Barat – Diduga mengalami kecelakaan kerja saat melaut, seorang nelayan di Tanjab Barat ditemukan luka-luka dan terbaring

 

Program Sosial Bank Indonesia
Selasa, 11 Desember 2018 20:19 WIB

Cabai hingga Trigona, Potensi Mahad Aljamiah jadi Kawasan Ekowisata


Kajanglako.com, Jambi – Tak usah diragukan lagi, Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Jambi begitu menaruh perhatian besar terhadap pengembangan

 

Selasa, 11 Desember 2018 18:31 WIB

Dirikan Tenda, Warga Mandiangin dari 12 Desa Duduki Kantor Bupati


Kajanglako.com, Sarolangun – Buntut dari kisruh antara warga 12 Desa di Kecamatan Mandiangin dengan PT AAS, ratusan warga mendatangi Kantor Bupati

 

Selasa, 11 Desember 2018 17:54 WIB

BP2KBP3A Layangkan Surat ke PLN, Saryoto: jika Tak Digubris Kita Tempuh Jalur Hukum


Kajanglako.com, Batanghari - Hingga saat ini, KWH arus listrik di Kantor Badan Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan

 

Selasa, 11 Desember 2018 17:33 WIB

Pol PP Punya Catatan Buruk saat Jaga Kantor Gubernur, Edi: Kami Siap jika Diminta Kembali


Kajanglako.com, Jambi - Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Jambi, Fachrori Umar, meminta Pengamanan Dalam (Pamdal) Kantor Gubernur Jambi pada tahun 2019 ditiadakan. Kebijakannya