Sabtu, 15 Desember 2018


Sabtu, 26 Mei 2018 08:16 WIB

Radja Selan dan Nenek-Buyutnya

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Radja Tan Toewa Radja Selan mulai bercerita.



Pada suatu hari ketika Raja sedang di berada di Soengei Soengkei, rakyat ribut. Seekor gajah datang. Binatang raksasa itu merusak rumah-rumah di kampung. Penduduk kampung, lelaki dan perempuan, berteriak-teriak, memukul ketongan dan membuat gaduh untuk mengusirnya. Namun, sia-sia saja. Gajah itu tak mau pergi.

Malam itu, Radja Selan membakar ‘koemajan’ (catatan FA: barangkali maksudnya, kemenyan). Hal  ini memang biasa dilakukan bila orang ini menolak balak atau mengusir mahluk halus yang jahat.

Asap kemenyan itu berbau wangi dan perlahan-lahan memenuhi seluruh rumah. Radja Selan tertidur. Ia bermimpi bahwa seorang tua datang mendekatinya. Orang itu berbisik bahwa gajah yang datang ke kampungnya sebenarnya nenek-buyutnya.

Keesokan hari,  ketika matahari telah menyingsing di ufuk timur, ia bergegas bangun. Gajah itu masih saja ada. Radja Selan mendekat.

“Tabik, Nenek!” katanya. “Maafkan kami, cucu-cucumu, yang telah berlaku tak sepantasnya kepadamu!”

Gajah itu diam memandangnya, lalu tanpa bersuara sedikit pun, binatang membalikkan badan dan meninggalkannya. Gajah itu melewati semua rumah di kampung dan kemudian menghilang di dalam belantara.

Sejak saat itu, bila sekawanan gajah datang merusak tanaman mereka,  Radja Selan meminta bantuan nenek-buyutnya. Seekor gajah kemudian muncul dan memberikan bantuan yang diperlukannya.

Demikianlah cerita yang disampaikan kepada Schouw Santvoort. Lelaki itu mendengarkannya dengan seksama. Di dalam catatan hariannya malam itu, ia menulis:  tentunya, cerita itu menggambarkan betapa besar kuasa keluarga Radja Selan di daerah itu.

Di dalam wilayah Soengei Koenjit terdapat tujuh buah kampung yang masing-masing hanya terdiri dari tiga sampai lima buah rumah. Tidak semua warganya tinggal di kampung. Sebagian tinggal tersebar di ladang atau kebun-kebun tempat mereka menanam kopi.

Tak beda dengan penduduk di Soengei Pagoe dan XII Kota, penduduk Soengei Koenjit berperawakan tegap, rajin bekerja dan berkepribadian baik. Schouw Santvoort menduga bahwa tak ada penduduk yang berasal dari Jawa di antara mereka. Walaupun mereka mengenal madat, tak banyak orang menggunakan candu itu.

Mereka menanam dan memperdagangkan beras hasil pertanian. Setiap pikul beras—yang mutunya kurang baik--dijual seharga ƒ 4,-.  Namun, sebagian besar sebetulnya dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan sendiri, seperti juga halnya dengan kopi.

Penduduk Soengei Koenjit menanam kopi untuk daunnya (catatan FA: Schouw Santvoort tidak menjelaskan apa kegunaan daun kopi itu). Mereka sama sekali tidak mengumpulkan buah-buah kopi yang banyak dihasilkan pepohonan itu. Sebagian dedaunan kopi yang dikumpulkan biasanya dikirimkan ke wilayah kekuasaan Belanda di Dataran Tinggi Belanda.

Mereka tidak beternak. Akan tetapi, ayam dapat diperoleh dengan harga 20-50 sen per ekor dan kambing pun dapat dibeli di mana-mana seharga ƒ 2,- - ƒ 3,-. Di sekitar Soengei Koenjit banyak tumbuh pepohonan pisang, pepaya, bebuahan lain dan kelapa.

Walaupun demikian, penduduk lebih banyak menggunakan minyak ‘simawoeng’, hasil perasan biji-biji pohon tertentu yang banyak tumbuh di dalam hutan.

Mereka tampaknya tidak menggunakan minyak kelapa. Selain biji-bijian untuk minyak ‘semawoeng’, penduduk Soengei Koenjit juga mengumpulkan rotan, getah-getahan dan damar dari hutan. Rotan di bawa ke Djambi dengan rakit atau perahu melalui Djoedjoean, sedang getah-getahan dan damar dibawa ke pantai barat Sumatra untuk diperdagangkan.

Pakaian yang dikenakan oleh penduduk Soengei Koenjit sama saja dengan pakaian orang di  daerah XII Kota. Kaum perempuan yang sudah menikah hanya mengenakan sarung yang dililit di pinggang saja.

Mereka membiarkan bagian atas tubuhnya terbuka. Para gadis biasanya melilitkan sarung sehingga dada mereka tertutup. Sarung itulah satu-satunya pakaian yang biasa dikenakan perempuan. Ada juga kain di daerah ini. Kain itu biasanya dibawa oleh para pedagang kerbau yang berkeliling dari Tabo atau Korintji sampai ke Soengei Koenjit.

Penduduk di daerah itu tidak tampak bermusuhan, tetapi mereka juga tidak tampak bersahabat. Schouw Santvoort sudah mendengar bahwa orang Melayu cenderung curiga pada hal dan orang yang baru. Ia menduga bahwa penduduk daerah menunjukkan sikap demikian karena mereka merasa aneh melihat sosok dirinya yang berkulit putih.

Banyak orang datang untuk menunjukkan penghormatan kepada Radja di Sambah. Setiap orang yang datang, masuk ke dalam rumah tempat Schouw Santvoort dan Radja di Sambah duduk.

Dengan wajah serius, mereka mendekat untuk memberikan penghormatan secara adat. Schouw Santvoort menahan geli karena hampir setiap orang memberikan sembah penghormatan kepada Jurutulis tim penjelajahan.

Lelaki itu kebetulan mengenakan jas flanel berwarna merah dan  wajahnya pun tampak berwibawa. Setiap kali, Jurutulis itu membalas penghormatan orang-orang itu dengan anggukan hormat pula sebelum ia menggerakkan tangan menunjuk pada Radja di Sambah yang sebetulnya dicari oleh orang-orang itu.

Pada tanggal 6 April, Penghoeloe Soekoe Bedar Alam meminta diri untu kembali ke kampungnya. Memenuhi permintaannya, Schouw Santvoort memberikan selembar surat pernyataan bahwa ia telah bersukarela membantu tim penjelajahan.

Selain itu, ia juga memberikan selembar kain kepada penghulu itu sebagai tanda mata. Setelah serah-terima tugas memandu penjelajahan dengan Penghoeloe Soekoe Soengei Koenjit, Radja Selan pun memohon diri.

Hari itu juga, sekitar pk 10.00 pagi, Schouw Santvoort meninggalkan Soengei Koenjit bersama rombongannya. Penghoeloe Soekoe Soengei Koenjit memandu perjalanan mereka.

Sebagai tanda kehormatan, lelaki itu membawa tombak milik Radja Selan. Penghoeloe Soekoe Soengei Koenjit merupakan lelaki Melayu yang biasa tinggal di gunung. Ia agak tua, dengan fisik yang sangat kuat.

Beberapa kali, ketika para kuli kesulitan mengangkat beban mereka, ia sendiri turun tangan. Ia mengikat barang yang harus dibawa ke punggungnya supaya kedua tangannya dapat bebas digunakan.

Memang itu perlu karena mereka harus membabat belukar dan semak di hutan dengan parang untuk membuka jalan. Ia juga harus dapat menggapai dan memegang cabang-cabang belukar untuk dapat memanjati dan menuruni tebing-tebing curam dengan tanah licin berlumpur yang mereka lewati.

Penghoeloe Soekoe Soengei Koenjit melangkah pasti. Tubuhnya hanya tertutup oleh secarik kain yang melilit pinggangnya. Ketika terpaksa memasuki sungai, tanpa malu-malu ia melepaskan kain itu, berbeda dengan orang-orang Melayu lainnya di dalam rombongan tim penjelajahan itu. Orang-orang itu tak pernah tampak melepaskan pakaian sama sekali.

Menjelang pk 10.30, langkah mereka terhadang oleh sungai. Air sungai itu merupakan aliran  anak sungai Djoedjoean. Karena berada di gunung, arusnya mengalir kuat. Tampaknya, hampir saja tak mungkin diseberangi.

Setelah menyeberang, dalam perjalanan selanjutnya, mereka terpaksa menyeberangi sungai itu tiga kali lagi. Sejam kemudian, setelah melewati beberapa ladang, mereka tiba di kampung Simawoeng yang terdapat di tepian Djoedjoean. Penduduk di sana tidak mengundang mereka masuk ke dalam kampung.

Hari itu mereka berjalan sejauh 6 pal (1 pal = 1.851 m) atau sekitar 11.1 km. Tak jauh sebetulnya. Akan tetapi,  oleh banyaknya rintangan alam di dalam belantara dan sungai, semua orang sudah sangat ingin beristirahat. Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya penduduk kampung Simawoeng mengizinkan mereka masuk. Akhirnya, mereka dapat beristirahat di salah sebuah rumah di kampung itu.

*Acuan Kepustakaan: PJ Veth. Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, uitgerust door het Aardrijkskundig Genootschap, 1877-1879 . Jilid II. Leiden: EJ Brill. 1882


Tag : #Sumatra Expeditie van 1877-1879 #Schouw Santvoort di Jambi



Berita Terbaru

 

Jumat, 14 Desember 2018 22:15 WIB

Nota Ponita, Bocah Penderita Penyempitan Usus dapat Bantuan Fachrori


Kajanglako.com, Jambi – Nasib malang dialami Nota Ponita, bocah berusia lima tahun warga Kelurahan Handil Jaya, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi ini

 

Jumat, 14 Desember 2018 21:48 WIB

Puluhan Emak-emak Keracunan Makanan Usai Acara Yasinan


Kajanglako.com, Batanghari - Puluhan ibu-ibu keracunan gara gara menyantap hidangan di acara yasinan rutin pada Kamis malam (13/12) di Desa Rambutan Masam.

 

Jumat, 14 Desember 2018 20:54 WIB

AJI Jambi Gelar Halfday Basic Workshop Hoax Busting and Digital Hygiene


Kajanglako.com, Jambi - Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) Jambi, bekerjasama dengan Google News Initiative dan Internews Halfday Basic menggelar Workshop

 

Jumat, 14 Desember 2018 19:57 WIB

Ini Program Jangka Menengah Pemkab Merangin


Kajanglako.com, Merangin - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Merangin melaksanakan rapat konsultasi publik Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD)

 

Jumat, 14 Desember 2018 19:54 WIB

Atlet Pemenang Gala Desa Protes Tak Ada Uang Pembina, Tobroni Yusuf: Tanya ke Menpora


Kajanglako.com, Bungo - Event pertandingan yang diselenggarakan pada 27 November lalu, Kamis malam (13/12) resmi ditutup oleh Tobroni Yusuf, Plt Kadis