Rabu, 20 Juni 2018


Kamis, 24 Mei 2018 10:09 WIB

Matinya Peradaban Maritim: Ketika Warisan Leluhur Diterjang Gelombang Jaran Goyang

Reporter :
Kategori : Oase Esai

ilustrasi. sumber: www.cowasjp.com

Oleh: Roedy Haryo Widjono AMZ*

Penemuan situs prasejarah di gua-gua pulau Muna, Seram dan Arguni di Maluku, mengenai lukisan perahu-perahu layar, menggambarkan bahwa nenek moyang bangsa Indonesia merupakan bangsa pelaut. Bahkan relief perahu bercadik di candi Borobudur kian menegaskan kejayaan peradaban maritim bangsa Nusantara.



Denys Lombard penulis buku “Nusa Jawa Silang Budaya” mengatakan Nusantara merupakan wilayah dunia yang menjadi topik menarik untuk diulas karena keeksotisan, potensi alam dan posisi geografis dalam cakupan wilayah Indocina, yang menjadi arena strategis lintas perdagangan dunia.

Di buku itu pula Denys menjelaskan secara periodik kesejarahan Nusantara (untuk menyebut fase eropanisasi, islamisasi, dan indianisasi) dalam arena percaturan dunia, persinggungan, penyebaran, perubahan budaya dan dampaknya terhadap perubahan mentalitas.

Namun kemasyhuran itu lambat laun memudar, maka jangan heran jika lagu “Nenek Moyangku Seorang Pelaut” tenggelam diterjang “gelombang Jaran Goyang” yang didendangkan Nella Kharisma dengan “nada dasar” komodifikasi berlabel budaya populer.

 

Menelusur Kearifan Leluhur

Relief perahu di candi Borobudur menegaskan ihwal migrasi bangsa Nusantara, termasuk orang Dayak Ma’anyan yang bermigrasi ke Madagaskar. Pada relief itu terdapat 11 gambar perahu dalam tiga kategori, yaitu kano terbuat dari sebatang kayu yang dilubangi; kano dengan tambahan dinding papan, tetapi tanpa cadik; dan kano bercadik. Relief itu merupakan saksi bisu ihwal rancangan kapal tradisional bangsa Nusantara yang amat tersohor.

Adrian Horridge, pakar perahu Nusantara dan guru besar emiritus Australian National University, berpendapat, perahu yang terpahat pada relief candi Borobudur adalah cikal bakal kora-koradan merupakan “nenek moyang” kapal jung di masa kejayaan Kerajaan Sriwijaya.

Hasil kerja panjang para arkeolog menemukan perahu papan di ujung barat daya Semenanjung Malaya, yang setelah dilakukan uji karbon berasal dari abad III-V Masehi.

Terdapat temuan menarik ihwal teknologi pembuatan kapal, yakni bentuk papan bersilang, diikat dengan plat sambung, dan kontruksi teknik pasak. Temuan lain di Sambirejo, Sumatera Selatan, berupa kemudi setengah lingkaran sepanjang 27 kaki berukuran panjang 20 kaki. Peninggalan kapal tanpa cadik di Palembang, yang merupakan cikal bakal kapal jungdipergunakan sebagai kapal barang hingga abad XVI.

Hikayat bahari berbasis maritim (laut dan sungai) tersebut harusnya menjadi khasanah memori kolektif, pemikiran mitologi dan perkembangan peradaban yang termanifestasi dalam pengetahuan (local knowlegde), kearifan (local wisdom) dan simbol (local symbol).

Orang Bugis-Makassar-Mandar, untuk menyebut contoh, mengenal kosmologi tata ruang yang mencerminkan pandangan terhadap semesta. Pandangan kosmologi itu dikenal dengan Sulappa Eppa' Wala Suji (Segi Empat Belah Ketupat) yang mengandung multimakna.

Segi empat belah ketupat dimaknai sebagai model kesemestaan yang berkorelasi dengan empat unsur, yaitu udara, air, api, dan tanah yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia.

Berbekal hal demikian itu Suku bangsa Bugis-Makassar-Mandar tersohor sebagai bangsa pelaut dan mewariskan tradisi passompe(tradisi para pelaut yang merantau mempergunakan kapal layar phinisi (Bugis-Makassar) dan sandeq (Mandar)).

Bukti kejayaan sebagai bangsa perantau terbukti dengan ditemukannya perkampungan di Australia, beberapa pulau di Samudera Pasifik, Madagaskar, Cape Town, Afrika Selatan, Malaysia, Thailand dan Vietnam. Peradaban bangsa maritim juga termanifestasi dalam kehidupan orang Bajau yang leluhurnya berasal dari Sulu, Filipina Selatan. Sejak ratusan tahun silam mereka bermigrasi ke Sabah, Malaysia dan berbagai Wilayah Indonesia, seperti wilayah pesisir Kalimantan Timur dan pulau-pulau sekitarnya.

Laut bagi orang Bajau adalah hakikat kehidupan (Ombok Lao-Raja Laut), sebagaimana falsafah mereka “Papu Manak Ita Lino Bake isi-isina, kitanaja manusia mamikira bhatingga kolekna mangelolana” (Tuhan memberikan laut dengan segala isinya, manusia yang memikirkan bagaimana cara memperoleh danmempergunakannya. Laut merupakan tempat merajut kehidupan dan mempertahankan diri seraya mewariskannya kepada generasi berikutnya).

 

Kejayaan Peradaban Maritim

Kehidupan bangsa Nusantara bertumpu pada aktivitas agraris berbasis tanah. Komoditas unggulan kala itu di antaranya padi, palawija, merica, pala, cengkeh, juga kapur barus, mur, borax, kesturi, dan emas. Kawasan penghasil komoditas ini berada di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Maluku dan Papua. Bertalian dengan tata niaga komoditas, laut merupakan sarana hakiki untuk mengangkut berbagai hasil bumi ke wilayah Nusantara lainnya, India, Afrika, dan Cina.

Bangsa Nusantara kala itu telah memiliki pengetahuan dan teknologi perkapalan serta navigasi, sehingga mampu menyeberangi Samudera Hindia hingga ke Semenanjung India bahkan ke Timur Tengah dan Afrika. Bangsa Nusantara sudah mampu mengintegrasikan pengelolaan wilayah darat, pesisir, dan laut.

Itulah esensi kesemulaan mengenai filsafat Tanah dan Air yang dimaknai sebagai negeri. Kemahsyuran peradaban maritim jelas terungkap pada Kerajaan Sriwijaya (600-1000) sebagai kemaharajaan bahari yang amat berpengaruh di Nusantara. Daerah kekuasaannya membentangdari Kamboja, Thailand, Semenanjung Malaya, Sumatera hingga Jawa. 

Kerajaan Sriwijaya memiliki pelabuhan internasional yang besar dan menguasai perdagangan di wilayah barat hingga Semenanjung Malaya. Kejayaan Sriwijaya kemudian diambil-alih oleh Majapahit (1293-1500) yang menjadi pusat kerajaan maritim Nusantara. Ketika itu kerajaan Majapahit tidak memonopoli penguasaan pelabuhan, karena pelabuhan dikelola kerajaan masing-masing dan Majapahit menyediakan sarana pendukung memperlancar perdagangan antar kerajaan. Kolaborasi itu membuat aktivitas perdaganganNusantara menjadi kuat dan disegani.

Bentangan kemasyhuran peradan maritim ini menyusul kemudian pada Kesultanan Ternate (1257-1876) yang memiliki peran penting di kawasan timur Nusantara dan mengalami kegemilangan di paruh abad XVI karena perdagangan rempah-rempahdan kekuatan militernya.

Begitu juga setelahnya pada kerajaan Samudera Pasai yang menguasai aktivitas perdagangan dan pelayaran di Selat Malaka hingga tahun 1521. Menurut laporan perjalanan Ma Huan dan Fei Xin,  Kesultanan Samudera Pasai dideskripsikan memiliki batas wilayah dengan pegunungan tinggi di sebelah selatan, sebelah timur berbatasan dengan Kerajaan Aru, sebelah utara dengan laut, sebelah barat dengan kerajaan Nakur dan Lide. Dalam kunjungan itu, laksamana Cheng Ho menyampaikan hadiah dari Kaisar Tiongkok, berupa lonceng Cakra Donya. 

Selain ketiga kerajaan di atas, tatkala menyusuri kejayaan bangsa maritim di Sumatra, Aceh, untuk menyebut contoh, niscaya akan berjumpa dengan Keumalahayati atau Malahayati, Kepala Barisan Pengawal Istana Panglima Rahasia dan Panglima Protokol Pemerintah dari Sultan Saidil Mukammil Alauddin Riayat Syah IV. Bahkan Malahayati memimpin 2.000 orang pasukan Inong Balee (janda pahlawan) untuk berperang melawan Belanda pada 11 September 1599 dan membunuh Cornelis de Houtman dalam pertempuran satu lawan satu di geladak kapal.

 

Diterjang Gelombang Jaran Goyang

Laut juga sungai sebagai determinan peradaban maritim, kiranya tak tersangkal. Namun, modernisasi adalah juga realitas peradaban yang tak terelakan bagi semua suku bangsa. Kejayaan maritim mengalami keterpurukan hingga titik nadir saat kolonial Belanda menguasai Nusantara dan kaum pribumi mengalami ketertindasan yang hebat. 

Kritik terhadap transisi peradaban maritim terungkap dalam novel “Arus Balik” karya Pramoedya Ananta Toer. Ia menegaskan runtuhnya kekuatan maritim Nusantara beserta degradasi mentalitas masyarakat disebabkan karena karakteristik “peradaban daratan” tidak sekeras peradaban maritim.

Padahal sebelum kedatangan bangsa Eropa, perkembangan Nusantara jauh lebih gemilang, namun terus surut lantaran transformasi menuju masyarakat daratan yang kapitalistik.

Taktik kolonialisme Portugis, Inggris, dan Belanda adalah menaklukkan kota-kota pelabuhan seperti Malaka, Sunda Kelapa, Tuban, dan Makassar untuk menguasai perdagangan di bawah kontrol penguasa kolonial.

Pramoedya Ananta Toer menegaskan “Sejak kongsi dagang Belanda Vereenigde Oostindische Compagnie (1602-1799) yang memiliki hak monopoli berdagang dan berlayar di wilayah sebelah timur Tanjung Harapan dan sebelah barat Selat Magelhaens, laut tidak lagi menjadi penghubung, tetapi menjadi pemisah antar pulau-pulau di Nusantara.”

Pada masa pemerintahan Orde Lama, Presiden Soekarno mencetuskan Deklarasi Djuanda (13 Desember 1957), yang menyatakan bahwa laut menjadi kesatuan wilayah kedaulatan negara Indonesia. Bahkan dengan prinsip “Berdiri di atas kaki sendiri” (Berdikari) Soekarno menolak intervensi dan bantuan dari negara asing. Maka kala itu terkenal slogan provokatif “Inggris kita linggis, Belanda kita setrika, go to hell with your aid America.”

Namun pada masa rezim Orde Baru, Soeharto justru memberi peluang terhadap dominasi negara asing, melalui produk regulasi, terutama Undang-Undang Penanaman modal Asing (1967).

Sejak itulah bangsa Indonesia terpelet “jaran goyang” yang dibungkus dalam tahayul pembangunan untuk melayani kepentingan kaum kapitalis pemilik modal dalam mengelola dan mengeruk kekayaan sumber daya alam.

Selain itu, “mantra jaran goyang” yang mewujud dalam kebijakan pembangunan sangat berorientasi ke darat (tanah) dan itulah jejak awal riwayat kematian peradaban maritim.

Kebijakan geopolitik poros maritim di era Jokowi, ternyata juga masih berorientasi kapitalis dan mengabaikan dimensi populis yang bertumpu pada kesejarahan peradaban maritim. Kebijakan poros maritim meski berikhtiar membangun identitas budaya, namun bertumpu pada pembangunan infrastruktur dan praktik diplomasi middle power untuk meningkatkan peran global serta memperluas keterlibatan kerjasama di kawasan Indo-Pasifik.

Arus peradaban kontemporer kini sedang menuju peradaban global, dan gelombang transformasi peradaban terus berlangsung. Realita sosial telah memberi pembelajaran hikmah sejarah, kemahsyuran bangsa maritim terus tergerus peradaban kekinian. Namun celakalah bangsa yang telah menjadi korban pembangunanisme dan terperangkap dalam labirin a-historis sehingga alpa merawat warisan leluhur.

Namun kematian peradaban maritim hendaklah tidak diratapi, agar tidak terjerembab dalam retorika kejayaan masa lalu. Maka tetaplah bersikukuh merawat ingatan ihwal kejayaan peradaban maritim, dan menolak lupa terhadap tindakan keji pemusnahan peradaban maritim, agar tidak menjadi bangsa a-historis yang tidak mampu merawat warisan leluhur.

Semoga syair lagu Nenek Moyangku Seorang Pelaut menjadi inspirasi untuk melakukan revitalisasi peradaban maritim dan merajut kehidupan yang lebih beradab. Sekali layar terkembang pantang biduk surut ke pantai (Kualleangi Tallanga Natowalia) dan di laut kita jaya(Jalesveva Jayamahe).

“/Nenek moyangku orang pelaut/gemar mengarung luas samudra/menerjang ombak tiada takut/menempuh badai sudah biasa.

//Angin bertiup layar terkembang/ombak berdebur di tepi pantai/pemuda b'rani bangkit sekarang/ke laut kita beramai-ramai.”

 

*Penulis merupakan Direktur Nomaden Institute Cross Cultural Studies. Kini mukim di Samarinda.


Tag : #Arus Balik Pramoedya Ananta Toer #Kejayaan Sriwijaya #Kejayaan Samudra Pasai #Orang Bugis Makasar #Orang Bajau #Nenek Moyangku Seorang Pelaut #Pembangunisme Orde Baru #Jokowi Kembali ke Maritim



Berita Terbaru

 

Kuliner Nusantara
Rabu, 20 Juni 2018 15:00 WIB

Sensasi Pedas 'Sate Setan' di Bernai Sarolangun


Kajanglako.com, Sarolangun – Bagi anda penyuka kuliner nusantara, kalau anda jalan-jalan ke Kabupaten Sarolangun, jangan lupa untuk mencoba’Sate

 

Pilwako Jambi 2018
Rabu, 20 Juni 2018 14:45 WIB

Dimeriahkan Judika, Fasha Undang Warga Hadiri Kampanye Akbar FM di GOR Kotabaru


Kajanglako.com, Kota Jambi – 23 Juni nanti, pasangan calon nomor urut dua Fasha-Maulana akan menggelar kampanye Akbar di GOR Kotabaru, Kota Jambi. Kampanye

 

Pilwako Jambi 2018
Rabu, 20 Juni 2018 14:31 WIB

Soal Video Rekayasa Politik Uang, Fasha: Mudah-mudahan Allah Turunkan Hidayahnya


Kajanglako.com, Kota Jambi – Calon Walikota Jambi nomor urut dua, Syarif Fasha menanggapi santai video politik uang yang diduga rekayasa untuk menyerang

 

Pilwako Jambi 2018
Rabu, 20 Juni 2018 14:04 WIB

Kapolda Kunjungi Kediamannya, Sani: Terima Kasih Pak Telah Sudi Hadir


Kajanglako.com, Kota Jambi - Kapolda Jambi, Brigjen Pol Muchlis AS berserta rombongan juga melakukan kunjungan ke kediaman Calon Walikota Jambi nomor urut

 

Pilwako Jambi 2018
Rabu, 20 Juni 2018 13:49 WIB

Jelang Pemungutan Suara, Kapolda Sambangi Kediaman Syarif Fasha


Kajanglako.com, Kota Jambi – Menjelang hari pemungutan suara Pilwako Jambi pada 27 Juni nanti, Kapolda Jambi Brigjen Pol Muchlis AS mengunjungi kediaman