Sabtu, 20 Oktober 2018


Sabtu, 19 Mei 2018 06:16 WIB

Rombongan Schouw Santvoort Menginap di Soengei Soengkei dan Soengei Koenjit

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Orang Melayu terbagi-bagi ke dalam soekoe, yaitu kesatuan-kesatuan sosial yang dipimpin oleh seorang Penghoeloe Soekoe. Dalam perjalanan awalnya itu, Schouw Santvoort sangat dibantu oleh Penghoeloe Soekoe Bedar Alam.



Lelaki itu berangkat duluan untuk mengabarkan kedatangan penjelajah Belanda itu. Ia diperbolehkan menginap di rumah salah seorang sepupu perempuan Radja Selan, kepala Tandjoeng Alam.

Sesuai dengan kebiasaan Menangkabo, suami perempuan itu tinggal di rumah isterinya. Lelaki itu pergi sendiri untuk menjemput Sang Radja yang sedang berada di ladangnya.

Nyonya rumah hanya mengenakan selembar sarung yang melilit pinggangnya. Sambil menyusui anaknya, ia tenang-tenang saja mengobrol dengan rombongan Schouw Santvoort.

Tak lama kemudian, Radja Selan muncul dan mereka berkenalan. Ia berjanji akan mengutus kemenakannya, Radja di Oeloe, untuk memandu tim penjelajahan sampai ke Tandjoeng Alam.

Setelah segala urusannya selesai, Schouw Santvoort sudah tak sabar ingin menyegarkan tubuh dengan mandi di sungai sebelum matahari terbenam. Memang, sungai itu terletak tak jauh dari rumah tempatnya menginap.

Mendengar rencananya, Radja Selan menganjurkannya untuk membawa beberapa orang pengawal. Rupanya, selama bulan itu, harimau dari hutan seringkali muncul dari hutan. Nyatanya, malam itu, tatkala  hujan turun deras,  aum harimau terdengar.

Rumah kemenakan Radja Selan hanya terdiri dari satu ruangan saja, padahal Schouw Santvoort dan seluruh rombongannya menginap di sana. Walhasil, malam itu, sekitar 40 orang (termasuk beberapa orang anak yang tak henti menangis) menyesaki rumah itu.

Sebelum matahari terbit, ketika dunia masih berselimut gelap, empat ekor ayam jago petarung yang sangkarnya digantungkan di bawah pagu rumah, mulai berkokok dengan penuh semangat. Mau tak mau, seisi rumah pun bangun pagi.

Awan yang sarat hujan masih menggelantung di udara. Sekitar pukul setengah Sembilan pagi, mereka meninggalkan Soengei Soengkei. Di tengah jalan, mereka bertemu dengan Radja Selan yang tidur di rumahnya sendiri. Hari itu, Radja Selan-lah yang menjadi pemandu perjalanan mereka.

Tak lama setelah meninggalkan doesoen, mereka memasuki belantara. Entah berapa lamanya mereka menelusuri jalan setapak di bawah pepohonan rindang dan di antara semak-belukar belantara itu.

Di kejauhan tampak sebuah rumah yang dikelilingi oleh ladang. Pohon-pohon kopi yang tumbuh di ladang-ladang itu sedang berkembang. Karena pemilik rumah tak mengundang mereka untuk mampir, mereka beristirahat di dekat rumah itu. Hanya lima belas menit saja untuk mengambil nafas, sebelum meneruskan perjalanan melalui hutan yang bukan main lebatnya.

Setengah jam kemudian, mereka tiba di rumah seseorang yang bernama Radja Palembang. Mendadak hujan turun. Deras. Mereka terpaksa menunda perjalanan. Rombongan itu berteduh di bawah atap sebuah gudang terbuka.

Selama dua jam menunggu hujan reda, Schouw Santvoort mengobrol dengan Radja Selan dan Radja di Sambah. Kedua orang itu banyak bercerita mengenai keistimewaan-keistimewaan  Soengei Koenjit.

Akhirnya, hujan reda. Mereka meneruskan perjalanan. Masuk lagi ke dalam hutan sampai mereka tiba di suatu tempat.

Dua hari sebelumnya, salah seorang warga doesoen Radja Selan diserang oleh seekor harimau di tempat itu. Bayangan mengerikan itu menyertai Schouw Santvoort dalam perjalanan, sampai mereka tiba di Soengei Koenjit.

Hanya ada beberapa rumah saja di doesoen itu. Radja Selan menunjuk ke salah sebuah rumah yang akan menjadi penginapan mereka malam itu. Sekitar sepuluh orang warga doesoen sudah berkumpul di sana. Radja Selan meminta diri. Ia akan berunding dengan para Penghoeloe untuk menentukan siapa yang akan memandu perjalanan keesokan harinya.

Seperti malam sebelumnya, malam itu mereka tidur beramai-ramai. Sekitar lima puluh orang berdesak-desakan di rumah yang untuk sementara ditinggal pemiliknya agar dapat menampung rombongan tim penjelajahan.

Tak beda dengan rumah-rumah lainnya, rumah yang mereka tempat dibangun di atas tiang-tiang yang tinggi. Sebagian lantai rumah itu dibuat lebih tinggi sedikit daripada lantai dasarnya.

Bagian itu biasanya digunakan untuk tempat duduk orang yang dihormati. Di lantai yang ditinggikan itulah Schouw Santvoort dan Radja di Sambah tidur malam itu. Sebuah kelambu dipasang dan di dalam tenda anti-nyamuk itu, Schouw Santvoort menuliskan catatan perjalanannya.

Negari Soengei Koenjit merupakan daerah miskin. Di sebelah barat, negari itu berbatas dengan wilayah yang sudah dikuasai Belanda di bagian selatan Dataran Tinggi Padang.

Di sebelah timur, Soengei Koenjit berbatas dengan is een armoedig staatje, dat ten westen grenst aan negari Indamar. Batas-batas di sebelah utara dan selatan terserap ke dalam belantara tanpa ujung.

Soengei Koenjit terdapat di dalam wilayah Radja Tan Toewa Radja Selan bertoewan ka Menangkabo. Karena itu, karena mengakui kekuasaan raja Menangkabo, sejak kerajaan itu takluk, lelaki itu tidak mengakui kekuasaan siapa pun.

Akan tetapi, rupanya beberapa saat sebelumnya, kepada Penghoeloe Kapala Loeboe Malaka, Radja Tan Toewa Radja Selan telah mengungkapkan bahwa ia tidak berkeberatan daerahnya dicakup dalam wilayah kekuasaan Belanda.

Hal yang sama diungkapkannya di Loeboe Gedang kepada Kontrolir Lolo en Soengei Pagoe ketika lelaki Belanda berkunjung ke XII Kota. Setelah pengungkapan itu, tak terjadi apa-apa lagi.

Belanda seolah-olah hanya mendengarkan apa yang disampaikannya tanpa menindaklanjuti ucapan itu. Kepada beberapa orang anggota tim penjelajah, Radja Selan mengeluh bahwa Hindia-Belanda tampaknya tidak menghargai kekuasaan yang diberikan atas tanah dan wilayahnya.

Keluarga besarnya—yang termasuk ke dalam suku Melayu--berasal dari lembah Soengei Pagoe. Mereka termasuk suku Melayu. Ia tak tahu kapan persisnya nenek-moyangnya meninggalkan daerah Soengei Pagoe.

Radja Tan Toewa Radja Selan yakin bahwa setelah meninggal dunia, nenek buyutnya masih berkelana di bumi sebagai seekor gajah. Lalu, ia mulai bercerita.

 

*Acuan Kepustakaan: PJ Veth. Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, uitgerust door het Aardrijkskundig Genootschap, 1877-1879 . Jilid II. Leiden: EJ Brill. 1882


Tag : #Schouw Santvoort ke Jambi #kepala Tandjoeng Alam #Sumatra



Berita Terbaru

 

Program Sosial Bank Indonesia
Sabtu, 20 Oktober 2018 15:54 WIB

Video [KJTV] Pengembangan Klaster Kopi Arabica Kerinci


 

Ketenagakerjaan
Sabtu, 20 Oktober 2018 15:43 WIB

Tahan Dokumen Asli Karyawan, Perusahaan Terancam Disanksi


Kajanglako.com, Jambi – Untuk menangkal perusahaan swasta yang masih menerapkan sistem penahanan dokumen atau ijazah asli milik karyawannya. Pemprov

 

Dirgahayu Muaro Jambi
Sabtu, 20 Oktober 2018 15:03 WIB

Fitri Karlina dan Artis KDI Akan Meriahkan Malam Hiburan Rakyat HUT ke-19 Muarojambi


Kajanglako.com, Muaro Jambi – Puncak perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-19 Kabupaten Muaro Jambi akan digelar malam ini, Sabtu (20/10). Kegiatan

 

STIKBA Peduli
Sabtu, 20 Oktober 2018 14:45 WIB

Ini yang Dilakukan BEM STIKBA Jambi Bantu Korban Bencana di Palu dan Donggala


Kajanglako.com, Jambi – Melalui Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Baiturrahim (STIKBA) Jambi, kembali menggelar cek

 

Ekspedisi Belanda ke Djambi
Sabtu, 20 Oktober 2018 07:08 WIB

Berbiduk-biduk Menuju Sigoentoer


Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda) Laporan lengkap mengenai pertemuan para utusan dengan pemimpin-pemimpin adat di Poelau Poendjoeng mengecewakan