Rabu, 24 Januari 2018
Pencarian


Selasa, 01 Agustus 2017 14:59 WIB

Melayu Jambi, Siapakah Kau Sesungguhnya?

Reporter :
Kategori : Jejak

PGA 6 Tahun Kuala Tungkal, 1972 Sumber: phi-kualatungkal

Oleh: Widodo*

 



Dia lahir di Jambi. Darahnya Minangkabau. Setelah mendapatkan pendidikan permulaan di Jambi, dia merantau ke Yogyakarta untuk belajar di perguruan tinggi. Berhasil memperoleh ijazah sarjana, dia tak pulang kampung. Dia tinggal di Yogyakarta. Pekerjaan mengharuskannya melakukan perjalanan bolak-balik Yogyakarta-Jawa Barat secara relatif sinambung.

Karena warna kultural yang melekat padanya itu, dia berkata, “Saya tidak punya akar”. Dia merasa tak punya tempat berpijak yang mantap. Dia manusia rantau, subjek yang senantiasa bergerak dari satu tempat ke tempat lain. Tapi, apakah dia memang tak berakar?

Ketika kami bertemu, dia bercerita tentang kampung halamannya: Jambi. Dia membeberkan trah spiritual Sultan Taha Syaifuddin, suatu wawasan yang hanya dimiliki segelintir orang. Dia juga mengenang sejumlah ulama Jambi, bahkan memprovokasi saya untuk menelusuri jejak langkah seorang ulama Jambi yang tidak begitu terkenal tetapi menurutnya berperan penting dalam membentuk karakteristik Islam Jambi.

Dari bagaimana dia bercerita dan apa yang diceritakannya tentang Jambi, saya menangkap sebuah kesan. Dia bukan tak punya akar. Dia jelas punya akar. Akar itu adalah Melayu Jambi.

Barangkali, entah dia sadari atau tidak, pengakuannya bahwa dia tidak punya akar dilatarbelakangi oleh menyempitnya makna Melayu Jambi. Muncul kesan bahwa kategori Melayu Jambi hanya bisa dan boleh dimasuki oleh individu yang berdarah murni Melayu Jambi. Dia tak punya kemurnian itu, walaupun dia tampak ingin dan sebenarnya sedang menyumbangkan sesuatu untuk Jambi.

Ternyata, kriteria untuk disebut sebagai orang Melayu Jambi bukan loyalitas dan sumbangsih, tetapi kemurnian darah. Barangkali, karena itulah dia mengaku tak punya akar.

Penyempitan makna etnisitas tersebut, kalau kita perhatikan, bukan gejala unik yang hanya terjadi di Jambi. Bagai kotak pandora yang sekonyong-konyong terbuka, setelah Orde Baru yang represif, restriktif, dan integralistik terguling, meruyak gerakan reaktif tetapi kolosal untuk kembali ke akar secara ekstrem. Identitas lokal dicari, kemudian diteguhkan. Hampir setiap daerah berhasrat membedakan diri dari daerah lain. Bahkan, hal itu terjadi juga pada tingkatan kabupaten.

Ada keyakinan pubertas yang diam-diam dikumandangkan: aku berbeda, maka aku ada. Di mana-mana, orang sibuk memisahkan yang murni dari yang tak murni. Ke-aku-an mau disucikan dari najis ke-yang-lain-an, suatu ikhtiar yang absurd dan mustahil.

Efek samping dari pencarian eksistensi yang reaktif ini adalah direngkuhnya identitas yang cenderung eksklusif dan tertutup. Revivalisme sekaligus fundamentalisme etnis menghasilkan mimpi buruk kebangsaan, misalnya perang Dayak-Madura di Kalimantan yang traumatis itu. Konflik laten lintas-etnis bangkit kembali. Di Yogyakarta, beberapa tahun setelah gempa 2006, pelajar Bugis dan Madura pernah berperang. Pekik merdeka Aceh semakin keras, begitu pula Papua. Jarak psiko-kultural yang memisahkan Jawa dan Sunda tambah melebar.

Menyaksikan erosi kebangsaan itu, Iman Budhi Santosa, penyair sepuh Yogyakarta, pun bertanya:

Lalu, di manakah Indonesia?

Selain tertera pada buku

pada sisa makanan yang terselip pada celah kuku

atau memang hanya kisah wayang

sengaja dimainkan dalang

untuk menghibur, mengubur penat para tamu

 

Di manakah Indonesia? Ketika orang-orang Sunda

meniup seruling, anak-anak Osing bermain gasing?

Ketika Bugis mendendangkan La Galigo

Riau mendendangkan Bujang Tan Domang

Jawa mendendangkan kinanthi

di mana Indonesia sembunyi? Di mana dongeng itu

ketika buah maja dan kulit batang kina

lelah menjaga mahkota kebesaran Nusantara?

 

Lalu, ke mana Indonesia Raya

ketika upacara selesai

bendera dikibarkan

dan lagu itu dititipkan kembali

ke dalam jantungmu, jantungku?

 

(Ketika Jutaan Anak Tersesat di Indonesia, 2014)

 

Demikianlah, karena revivalisme-fundamentalisme etnis, kita jadi sukar bicara soal kebangsaan, bahkan juga soal kejambian. Manusia Kerinci berada di kotak ini, manusia Tungkal di kotak itu, migran Jawa di kotak yang lain. Sejauh berkenaan dengan perihal kebudayaan, masing-masing kelompok bergerak dalam kotaknya sendiri-sendiri. Masih digenggamkah ajaran kuno itu: di mana bumi dipijak, di sana langit dijunjung? Jangan-jangan, ketika membela adat dengan keris dan tombak, kita senyatanya malah sedang menikam tradisi. Sebuah ironi, juga ambivalensi.

Efek samping lainnya, kita menemukan anak-anak muda berkultur hibrid yang gagal menangkap akar eksistensi kulturalnya. Mereka terombang-ambing dari satu identitas kultural ke identitas kultural lainnya. Akan tetapi, tak satu pun identitas kultural yang menerima mereka apa adanya dengan tangan terbuka. Karena itu, mereka lebih nyaman mendefinisikan diri sebagai manusia rantau, manusia pasca-etnis, yang tak memiliki akar, tempat berpijak, dan kampung halaman.

Efek samping ketiga, seleksi kepemimpinan di tingkat lokal menjadi bersifat rasialistis dan tidak rasional. Proses politik menghendaki kandidat pemimpin yang putra daerah, khususnya dalam arti etnisitas. Bakal kandidat yang bukan putra daerah terlempar dari arena kompetisi politik meskipun dia berpengalaman dan berkompetensi menjadi pemimpin. Kalau pun diperkenankan berlaga dalam kompetisi itu, dia hanya berperan sebagai wakil, pemanis, atau penghias. Dia sekadar penjaring suara kelompok etnis pendatang. Proses politik menjadi tidak sehat. Demokrasi tinggal nama tanpa realitas.

Apabila merefleksikan fenomena kultural di Jambi tanpa pretensi dan prasangka, kita mengerti bahwa ketiga efek samping itu, sedikit atau pun banyak, telah menjadi bagian dari dinamika sosial di Jambi. Artinya, penyempitan makna etnisitas, dalam konteks Jambi tentu penyempitan makna Melayu Jambi, adalah permasalahan yang bukan saja perlu diperhatikan, tetapi juga harus segera dicari jawabannya.

Untuk memperoleh jawaban, kita bisa bertanya kepada guru-guru di Barat, tetapi sebelum itu dilakukan, lebih baik kita bertanya dulu kepada luluhur Jambi. Bukankah mereka sudah mengingatkan kita untuk menurut runut nan terentang sejak bari, menempuh jalan nan berambah sejak dulu?

Catatan sejarah Jambi yang ditatah aksaranya oleh leluhur kita memberikan jawaban yang terang terhadap pertanyaan siapakah Melayu Jambi itu sesungguhnya. Leluhur kita ternyata memandang kemelayu-jambian secara plastis, cair, dinamis, dan terbuka, tanpa melupakan jati diri. Melayu Jambi adalah identitas yang kosmopolis.

Lebih dari sekadar bingkai geografis, Melayu Jambi merupakan kesatuan kultural yang dibentuk oleh dan turut membentuk jaringan perdagangan maritim transnasional hingga periode penaklukkan Sumatera secara total dan massif oleh Belanda. Sebagai salah satu emporium dalam jaringan perdagangan maritim itu, Melayu-Jambi niscaya bertabiat terbuka. Ia tidak anti yang-lain. Ia bahkan tak segan-segan menyerap yang-lain ke dalam ke-aku-annya dalam rangka membangun identitas, meskipun pada mulanya demi tujuan pragmatis.

Berkat sikap kultural yang terbuka tersebut, hingga kini Tibet masih mengenang Jambi, dengan takzim. Atisha, mahaguru Buddha di Tibet yang berasal dari India itu, pada abad ke-11 selama sebelas tahun belajar kepada gurunya mahaguru Buddha, Dharmakirti Serlingpa yang bermukim di Suwarnadwipa, di Sriwijaya, di Jambi. Setelah belajar di Jambi, Atisha pulang ke India, kemudian mengajar di Tibet. Di sana, Atisha membangun kembali agama Buddha yang mengalami degradasi parah. Dialah yang menanam benih tradisi kedalai-lamaan di tanah Tibet.

Bagaimana jadinya bila Serlingpa, seorang leluhur Jambi yang dilupakan, menghayati sikap kultural yang tertutup dan fundemantalis? Sejarah pasti tak merekam Jambi sebagai salah satu penjaga spiritualisme, cahaya yang amat dibutuhkan untuk mengenyahkan kegelapan pascamodern saat ini.

Berabad-abad sesudah masa Serlingpa, keterbukaan kultural masih hidup di Jambi. Dalam kronik kesultanan Jambi, Hikayat Negeri Jambi, diterangkan bahwa Datuk Paduka Berhala merintis kesultanan Melayu Jambi. Dia tidak lahir di Jambi. Tidak pula berdarah Jambi. Dia bangsawan dari Turki yang kemudian menjadi raja (stranger king) di Jambi. Pada masa jauh sebelum itu, Jambi dirajai oleh Tun Telanai. Datuk Paduka Berhala disebut-sebut sebagai moyang sultan-sultan Jambi.

Jadi, kronik kesultanan Jambi menerangkan bahwa ada unsur asing dalam diri sultan-sultan Jambi. Mereka tidak berdarah murni Melayu Jambi, tetapi mereka diterima, bahkan dimitoskan, sebagai unsur formatif dari kemelayujambian.

Selain mengitegrasikan unsur Turki ke dalam identitas Melayu Jambi, kronik itu juga menggambarkan bahwa Minangkabau dan Melayu Pelembang merupakan dua unsur asing yang bersama-sama membangun identitas Melayu Jambi. Seorang penguasa Jambi menikahi Puteri Pinang Masak, anak perempuan Yang Dipertuan Pagar Ruyung. Penguasa Jambi yang lain menikahi puteri Demang Lebar Daun, penguasa Palembang. Dengan pernikahan politik itu, darah sultan-sultan Jambi, yang seringkali dianggap sebagai representasi dari kemurnian darah Melayu Jambi, tambah tidak murni. Darah itu sudah “dicemari” berbagai unsur asing.

Kadar pencemaran tersebut semakin tinggi ketika kesultanan Melayu Jambi memasuki masa kejayaan, sekitar pertengahan abad ke-17. Andaya (1993: 60-67) menulis, Pangeran Gede mengharuskan rakyat pedalaman menanggalkan busana Melayu dan mengenakan busana Jawa saat mereka menghadap ke istana. Pejabat kesultanan Melayu Jambi menggunakan gelar sentana kesultanan Jawa. Tata pemerintahan kesultanan Mataram Islam menjadi model bagi tata pemerintahan kesultanan Melayu Jambi. Di istana, ditampilkan kesenian wayang, tari Jawa, dan gamelan. Kesultanan menginternalisasi adat-istiadat Jawa ke dalam identitas Melayu Jambi.

Barangkali, pada masa inilah bahasa Jawa tinggi mulai digunakan sebagai alat komunikasi para “priyayi” kesultanan Jambi. Singkat kata, pada periode ini, berlangsung Jawanisasi Melayu Jambi dengan pola dari atas ke bawah. Terutama sejak saat itu, kejawaan menjadi unsur formatif kemelayujambian. Jejak Jawa dalam Melayu Jambi masih lestari hingga sekarang.

Pada periode itu pula, kesultanan Jambi menganugerahi seorang pedagang Tionghoa muslim sebuah gelar kehormatan: Orang Kaya Setia Utama (Andaya, 1993: 64). Dengan gelar ini, pedagang asing tersebut sengaja diintegrasikan ke dalam lingkungan kesultanan Melayu Jambi. Seorang Tionghoa dinilai sebagai bagian penting dalam masyarakat Melayu Jambi. Bukan lagi unsur asing, ketionghoaan ditarik masuk ke dalam identitas Melayu Jambi bukan sebagai pelengkap belaka, tetapi bahkan sebagai unsur formatif.

Kurun-kurun selanjutnya dalam sejarah Jambi menyaksikan kian beragamnya unsur asing yang menjadi unsur formatif identitas Melayu Jambi. Unsur formatif yang paling menonjol adalah suku Arab.

Adanya keberagaman unsur asing dalam wadah identitas Melayu Jambi merupakan buah dari pandangan dunia kosmopolis yang dikembangkan leluhur Jambi, suatu kearifan dengan mana Melayu Jambi saat ini masih tegak, walaupun limbung dihantam badai modernitas. Bagi mereka, Melayu Jambi bukanlah identitas yang eksklusif, kaku, statis, rampung, dan tertutup, tetapi identitas yang inklusif, plastis, dinamis, menjadi, dan terbuka. Melayu Jambi adalah wadah yang menampung berbagai anasir etnis.

Meminjam istilah Lombard, Melayu Jambi adalah ruang osmosis, lokus persilangan lintas-budaya, dimana pelbagai etnis berjumpa untuk membangun dinamika identitas kultural. Bersandar pada falsafah ini, primordialisme etnis, konflik antar-etnis, kampanye putera daerah dalam seleksi pemimpin lokal, pengoposisian Islam Jambi dengan ketionghoaan, dan kegelisahan dalam mencari akar kultural hanyalah anatema belaka.

Sahabat saya yang mengaku tak punya akar itu, tetapi lahir dan besar di Jambi, tak perlu digugat apabila nanti, suatu saat, dia berubah pikiran dengan mengatakan: “Jambi adalah kampung halaman saya. Melayu Jambi adalah akar saya”. Kita, yang berasal dari latar belakang etnis berbeda, yang pernah dibentuk dan sedang membentuk Jambi, adalah Melayu Jambi. Melayu Jambi adalah kita. .

 

*Widodo merupakan Mahasiswa Universitas Tamansiswa Yogyakarta asal Jambi. Penyuka bacaan filsafat, sejarah, sastra dan budaya.

 


Tag : #Melayu #Migrasi #Keragaman #Jambi #Paradoks



Berita Terbaru

 

Selasa, 23 Januari 2018 23:50 WIB

Dugaan Kecurangan Toke Karet Terkuak, Warga Bandingkan Hasil Timbangan dengan Milik Sendiri


Kajanglako.com, Bungo – Petani Karet yang ada di Wilayah Kecamatan Muko-muko Bathin VII, Kabupaten Bungo, mulai resah dengan hasil timbangan yang

 

Penyelundupan Satwa Langka
Selasa, 23 Januari 2018 20:26 WIB

BKIPM Jambi Gagalkan Penyelundupan 7 Anak Buaya Via Bandara


Kajanglako.com, Jambi – Badan Karantina Ikan dan Pengendalian Mutu (BKIPM) Jambi bekerja sama dengan Avsec Bandara Sultan Thaha, berhasil menggagalkan

 

Selasa, 23 Januari 2018 20:14 WIB

Selain Diselingkuhi, Juanda Mengaku Juga Sering Dianiaya Istrinya


Kajanglako.com, Batanghari - Sebelum belang sang istri yang kedapatan selingkuh dengan Kades Padang Kelapo mencuat. Juanda akui sudah seringkali dianiaya

 

Selasa, 23 Januari 2018 20:03 WIB

Juanda Lapor ke Inspektorat, Kades Padang Kelapo Berdalih Hanya Ajak 'EN' Rapat


Kajanglako.com, Batanghari - Kasus perselingkuhan Kades Padang Kelapo akhirnya berlanjut. Juanda, beserta sejumlah saksi melaporkan kasus tersebut ke Inspektorat

 

Selasa, 23 Januari 2018 19:49 WIB

Heboh, Kades Padang Kelapo Dikabarkan 'Gituan' di Semak-semak


Kajanglako.com, Batanghari - Selaku pemimpin desa harusnya bisa membimbing warga desanya dengan baik. Namun, yang terjadi kali ini bertolak belakang. Jangankan