Selasa, 22 Mei 2018


Senin, 14 Mei 2018 16:38 WIB

Aksi Terorisme dan Anomali Politisi Kita

Reporter :
Kategori : Oase Esai

ilustrasi. sumber: inilahbanten

Oleh: Made Supriatma*

Tidak gampang menjadi Teroris: Kita semua sedang mengunyah apa yang terjadi di Surabaya. Ketika mengetik ini, saya kembali mendengar serangan. Kali ini sasarannya Poltabes Surabaya. Rupanya, medan perang Suriah sudah dipindahkan ke Indonesia.



Banyak orang masih tergagap dengan apa yang terjadi. Bagaimana memahami satu keluarga melakukan bunuh diri sambil membunuh orang lain, yang tidak dia kenal, dan tidak pernah memusuhinya?

Orang juga mulai menawarkan teori ini dan itu tentang terorisme ini. Namun, ada satu spesies yang selalu menarik perhatian saya. Mereka adalah para politisi. Saya selalu tertarik dengan bagaimana cara politisi menanggapi tragedi. Biasanya tanggapan mereka selalu mengacu pada kepentingan mereka.

Kebetulan politisi favorit saya, Tuan Fadli Zon (FZ) (catatan: favorit lain saya adalah Tuan Fahri Hamzah). Saya tertarik dengan Tuan FZ karena beberapa hal. Untuk saya Tuan FZ adalah politisi paling konsisten. Sejak Orde Baru masih berjaya dia sudah bersama Mr. Prabowo, yang sekarang jadi bos partainya. Kesetiaan Tuan FZ bergandengan politik dengan Mr. Prabowo lebih awet ketimbang usia perkawinan Mr. Prabowo.

Nah, segera setelah terjadi ledakan bom, Tuan FZ menulis di akun Twitternya. Dia mengutuki serangan terroris itu. Sampai di sini, okelah. Sewajarnya dia mengutuk. Kemudian datang Tweet kedua. “Terorisme biasanya berkembang di negara yang lemah pemimpinnya, mudah diintervensi, banyak kemiskinan dan ketimpangan dan ketidakadilan yang nyata,” begitu tulis Tuan FZ.

Tidak perlu jauh-jauh untuk tahu ke mana arah smash yang lancarkan Tuan FZ. Saya membayangkan dia menuliskannya dengan senyum di bibirnya yang tebal, dan matanya yang bulat berbinar itu. Kita tahulah siapa ditunjuk sebagai pemimpin lemah. Politisi pinter membikin “zinger” (smash politik yang bisa berupa lelucon atau metafor).

Tapi benarkah semua poin yang disampaikan Tuan FZ itu?

Pertama, soal pemimpin. Kita tahu situasi di Afghanistan jelek sekali. Juga di Pakistan, Irak, Suriah, Libya. Terorisme subur di negara-negara ini. Negara-negara ini sedang dilanda perang. Jadi kita maklum kalau mereka tidak memiliki kepemimpinan. Tapi terorisme juga terjadi di Perancis, Inggris, Spanyol, atau negara-negara Scandinavia.

Di semua negara ini, ada kepemimpinan yang kuat. Jadi? Ya, tidak bisa dikatakan bahwa terorisme berkembang di negara yang pemimpinnya lemah. Pemimpin di negara-negara ini juga tidak mudah diintervensi. Walau sesungguhnya kita tidak tahu apa makna ‘intervensi’ dari Tuan FZ ini. Mungkin maksudnya dikendalikan. Tapi ya, masak sih PM Inggris dikendalikan oleh kekuatan luar? Salah lagi.

Bagaimana dengan poin “banyk kemiskinan n ketimpangan dan ketidakadilan yang nyata”? Nah, ini yang lebih penting untuk dibahas. Benarkah kemiskinan, ketimpangan, dan ketidakadilan melahirkan terorisme?

Kita bisa mulai dari sini: Sebagian paling besar orang miskin tidak ingin menjadi teroris.

Tidak semua orang yang tidak bisa makan jadi teroris. Kebanyakan orang akan bekerja sebisanya supaya bisa hidup. Mereka akan mengerjakan apa saja. Bahkan mereka yang paling miskin sekalipun bekerja mencari makan. Kalau hidup seseorang kepepet sekali, mereka tidak akan menjadi radikal. Yang pertama mereka lakukan adalah bagaimana supaya selamat. Bahasa Jawa punya peristilahan yang bagus bagaimana orang menghadapi penderitaan: 'ngalah, ngalih, ngamuk.'

Taruhlah misalnya kesulitan makan. Kalau orang bisa menahan lapar, ya dia tahan sebisanya. Kalau sudah lapar sekali, dia berusaha cari gantinya. Dari biasa makan nasi ke makan singkong, atau bahkan makan nasi aking (nasi basi yang dikeringkan dan kemudian dimasak lagi). Hanya pada tahap terakhir orang ngamuk – dalam hal ini, yang paling sering dilakukan adalah menjadi kriminal. Yang dikriminalkan pun kecil-kecilan (petty crimes) kayak maling ayam.

Poinnya adalah sangat, sangat sedikit orang memilih untuk menjadi teroris. Apalagi orang miskin. Orang kebanyakan tidak sanggup menjadi teroris. Kebanyakan orang ingin hidup yang lebih gampang. Hidup senang dan tenang. Kebanyakan orang pengin hidup. Tidak ingin mati.

Saya hanya ingin mengatakan bahwa menjadi teroris itu tidak gampang. Sulit sekali. Menjadi teroris itu pilihan ideologis. Jadi, sekali lagi, orang menjadi teroris bukan karena dia miskin. Kebanyakan orang yang memilih menjadi teroris hidup berkecukupan. Mungkin tidak mewah. Tapi cukup. Mereka punya keterampilan untuk menghidupi dirinya sendiri dan keluarganya. Teroris itu mati di Sidoarjo semalam itu jualan kue. Banyak dari mereka yang jualan herbal (misalnya, jinten hitam) atau madu.

Mereka juga bukan orang bodoh. Mereka berketerampilan. Mereka bisa merakit bom. Perlu keahlian teknis dan kimiawi untuk melakukan ini. Mereka juga fasih menggunakan internet dan semua media komunikasi. Ketrampilan (skill) seperti ini tidak dimiliki orang kebanyakan bukan?

Menjadi teroris itu berat. Anda harus taat. Anda harus membuang semua pikiran di luar tujuan. Anda harus hidup dengan aturan perjuangan (agama) yang sangat ketat. Anda harus sangat berdisiplin karena berada dalam keadaan ‘perang.’ Untuk bisa begitu, Anda harus terus menerus hidup dengan tingkat kebencian yang teramat tinggi pada apa saja yang Anda anggap musuh. Sedikit orang sanggup untuk hidup dalam kebencian terus menerus.

Setiap orang adalah mahluk sosial. Itu sebabnya orang ingin diterima di masyarakat. Ingin bergaul, bercanda, dicintai dan mencintai. Kebanyakan teroris harus menekan perasaaan itu. Kebanyakan teroris tidak mau bergaul dengan masyarakat -- yang dianggapnya kotor dan perlu dibersihkan.

Tidak gampang hidup seperti itu. Jadi, dalam hal ini pun Tuan FZ salah sama sekali. Tapi sudahlah. Tuan FZ adalah politisi, bukan peneliti atau akademisi. Keterampilan politisi adalah bicara meyakinkan. Banyak politisi memilih untuk meyakinkan dengan cara menyesatkan. Eh, bukankah Tuan FZ pernah berselfie-ria dengan Mr DT, presiden Amerika yang paling banyak membohongi publik?

*Penulis adalah kontributor IndoPROGRESS sekaligus peneliti masalah sosial dan politik. Tulisan ini pertama kali terbit di lini fb pribadi penulis (14 Mei 2018). Pemuatan di sini atas seizin penulis. Redaksi memberi judul serta melakukan penyuntingan seperlunya.


Tag : #terorisme #terorbomsurabaya



Berita Terbaru

 

Selasa, 22 Mei 2018 17:25 WIB

Terseret Kasus Penyelewengan Dana Desa, Kades Mudo Ditahan Kejari


Kajanglako.com, Merangin - Kejaksaan Negeri (Kejari) Merangin melakukan penahanan terhadap dua tersangka dugaan tindak pidana korupsi Dana Desa untuk

 

Penyerangan Mapolsek
Selasa, 22 Mei 2018 17:18 WIB

Dua Anggota Polsek Marosebo Korban Pembacokan Masih Dirawat di RS Bhayangkara


Kajanglako.com, Jambi - Dua personel kepolisian anggota Polsek Marosebo yang menjadi korban penyerangan dan pembacokan orang tak dikenal, masih mendapat

 

Penyerangan Mapolsek
Selasa, 22 Mei 2018 17:03 WIB

Pelaku Penyerangan Polsek Marosebo Berhasil Ditangkap


Kajanglako.com, Muaro Jambi – Polisi berhasil menangkap pelaku penyerangan Polsek Marosebo, Muaro Jambi, setelah melakukan penyerangan dan melukai

 

Kasus Gratifikasi Zola
Selasa, 22 Mei 2018 16:50 WIB

Sherin Tharia Ditanyai KPK Soal Uang Gratifikasi yang Telah Menjadi Aset


Kajanglako.com, Jakarta – Penyidik KPK mendalami kasus gratifikasi Zola, dengan memeriksa istri Zola, Sherin Tharia, hari ini Selasa (22/5). Kabiro

 

Penyerangan Mapolsek
Selasa, 22 Mei 2018 16:40 WIB

Warga Berhamburan, Pelaku Penyerangan Polsek Marosebo Teriak Bawa BOM


Kajanglako.com, Jambi – Usai menyerang Polsek Marosebo dengan melukai dua anggota polisi serta merusak kantor Polsek, pelaku penyerangan Polsek Marosebo