Selasa, 22 Mei 2018


Sabtu, 12 Mei 2018 10:04 WIB

Memberantas Terorisme Zaman Now

Reporter :
Kategori : Perspektif

Musri Nauli

Oleh: Musri Nauli

Membaca, mengamati dan menelisik “peristiwa huru-hara” MAKO Brimob dan “upaya penyelesaiannya” menarik perhatian saya.



5 orang gugur sebagai abdi bhayangkara negara tidak membuat pihak kepolisian “terjebak” dengan permainan yang disodorkan oleh pelaku.

Provokasi “institusi” dan tempat yang dihormati di kalangan kepolisian justru membuat para pelaku yakin dengan “umpan” yang hendak disantap.

Ditambah dengan 5 orang gugur membuat “strategi” bisa berubah menjadi “ladang pembantaian”. Dan apabila “umpan” ini dimakan maka citra kepolisian “semakin hancur” dan membuat kepolisian kehilangan wibawa.

Namun di sisi lain, emosi publik yang teraduk-aduk dengan “peristiwa pembunuhan” yang mengerikan seakan-akan memberikan cek kosong kepada kepolisian untuk menyelesaikan dengan tegas.

Polemik inilah membuat strategi ciamik harus dikemas dengan gaya elegan. Menyelesaikan dengan tegas, terukur, tuntas namun tetap menjunjung profesionalisme kepolisian dan menempatkan HAM sebagai bagian dari proses.

Pertama. Dengan berapi-api, kemenangan sudah mulai diraih ketika pembunuhan 5 orang bhayangkara akan memantik “penyerbuan” ke dalam MAKO Brimob. Pihak kepolisian tentu saja akan mudah menyelesaikannya dengan cepat. Termasuk melakukan upaya paksa dengan menembak “siapapun” yang tidak tunduk dengan perintah menyerahkan diri.

Tapi upaya ini ternyata dihitung secara matang oleh pihak kepolisian. Memakan umpan akan menimbulkan instabilitas. Dan tewasnya para pelaku justru membuat peristiwa ini kemudian akan menjadi headline yang akan mudah “digoreng".

Tentu saja pihak kepolisian mempunyai perhitungan cermat. Para pelaku yang merupakan “dedengkot” pelaku terorisme “jago” memprovokasi sehingga akan memudahkan emosi (ditambah peristiwa 5 orang yang telah terbunuh).

Tapi sang pelaku tentu saja lupa. Berbagai peristiwa terorisme di Indonesia memberikan pelajaran kepada pihak keamanan. Berbagai strategi, sel baru justru membuka tabir dan modus operandi yang akan mudah diketahui arah dan formatnya.

“Meladeni” provokasi agar dilakukan penyerbuan justru inilah yang dikehendaki oleh para pelaku. “Kenekatan mati” justru menjadi amunisi dan umpan yang hendak ditawarkan.

Dengan “ketenangan’ sembari membaca peluang dan memberikan kesempatan kepada para pelaku menyerahkan diri adalah bentuk “kesabaran” meladeni permainan dari para pelaku.

Dalam strategi perang Zaman Now, “perang psikologis (psy war)” adalah cara canggih untuk meladeni pertempuran.

Saya membayangkan “para pemimpin” di Kepolisian yang “justru emosi” meledak-ledak akibat Mako Brimob yang “belum ditundukkan” dan “ketenangan pikiran” agar tetap fokus menyelesaikan dengan terukur, profesional dan mengedepankan HAM.

Kebimbangan menggunakan cara cepat namun justru menjadi umpan balik yang berbahaya dan strategi ciamik yang harus tenang menghadapinya.

Namun, sekali lagi, belajarlah ilmu hingga ke negeri Tiongkok. Pepatah lama yang sering dilupakan. Termasuk seni bertempur.

Peperangan, muslihat, taktik, seni perang modern pun adalah merupakan “kreasi” ataupun pengembangan dari ilmu Tiongkok.

Di dalam kitab klasik “Seni Perang” seperti “The 36 Secret Strategies of the Martial Arts: The Classic Chinese Guide for Success in War, Business and Life” strategi diuraikan sebagai strategi 4. Strategi 4 Buat musuh kelelahan sambil menghemat tenaga. Adalah sebuah keuntungan, merencanakan waktu dan tempat pertempuran. Dengan cara ini, anda akan tahu kapan dan di mana pertempuran akan berlangsung, sementara musuh anda tidak. Dorong musuh anda untuk menggunakan tenaga secara sia-sia sambil anda mengumpulkan/menghemat tenaga. Saat ia lelah dan bingung, anda dapat menyerangnya.

Strategi 9 Pantau api yang terbakar sepanjang sungai. Tunda untuk memasuki wilayah pertempuran sampai seluruh pihak yang bertikai mengalami kelelahan akibat pertempuran yang terjadi antar mereka. Kemudian serang dengan kekuatan penuh dan habiskan.

Bab 4. Strategi Chaos/Kekacauan Strategi 19 Jauhkan kayu bakar dari tungku masak. (Lepaskan pegangan kayu dari kapaknya.) Ketika berhadapan dengan musuh yang sangat kuat untuk menghadapinya secara langsung anda harus melemahkannya dengan meruntuhkan pondasinya dan menyerang sumber daya.

Strategi 35 Ikat seluruh kapal musuh secara bersamaan (Jangan pernah bergantung pada satu strategi.) Dalam hal-hal penting, seseorang harus menggunakan beberapa strategi yang dijalankan secara simultan. Tetap berpegang pada rencana berbeda-beda yang dijalankan pada sebuah skema besar; dengan cara ini, jika satu strategi gagal, anda masih memiliki beberapa strategi untuk tetap maju.

Empat strategi itulah yang digunakan. Sembari bernegosiasi memberikan batas waktu tertentu, berbagai strategi tetap terukur sembari memperhitungkan efektifivitas daya serang.

Pelan tapi pasti, kekurangan logistik adalah “daya tahan” yang justru menjadi amunisi baru. Umpan justru dimakan para pelaku.

Kisah mengepung hingga berbulan-bulan benteng yang kokoh justru menjadi “para penghuni” menjadi stres. Selain penghuni benteng yang “terkurung” di dalam harus stand by memantau serangan dari luar, stres justru dirasakan penghuni di dalam. Berbulan-bulan stand by penuh akan menurunkan stamina dan menurunkan kewaspadaan. Belum lagi di tengah waktu kemudian “terjadinya” pertikaian sesama penghuni” akibat stand by dengan waktu yang panjang.

Kisah-kisah inilah yang sering dilihat dari film-film klasik Hollywood ketika pasukan penyerang gagal menembus benteng yang terkenal kokoh.

Kekurangan logistik justru menjadi kisah heroik ketika Sultan Agung hendak menyerbu Sunda kelapa (Batavia).

Pasuka pemukul yang jauh meringsek maju, kemudian terputus jalur suplai logistik yang tertinggal jauh di belakang. Kekalahan Sultan Agung adalah pelajaran penting bagaimana mengatur peperangan dengan tetap menjaga aras logistik.

Tidak lama kemudian, akibat kekurangan logistik, para pelaku kemudian menyerahkan diri. Sebuah “umpan” yang justru dilumat pihak lawan.

Menyelesaikan peristiwa di Mako Brimob tentu saja bisa dilakukan berbagai negara. Namun menyelesaikan tanpa harus melakukan “pembantaian”, menjunjung tinggi HAM dan tetap mengedepankan profesional pihak kepolisian haruslah diacungi jempol, sehingga tidak salah kemudian, berbagai negara memberikan apresiasi yang tinggi kepada pihak kepolisian.

Saya kemudian teringat pepatah perang. Perang adalah mengalahkan musuh. Tapi perang tanpa menyebabkan musuh menjadi mati adalah seni perang tersendiri.

Strategi ciamik yang dikembangkan kepolisian justru menempatkan Kepolisian tidak “grasak-grusuk” dan panik menghadapinya. Justru “ketenangan” adalah kekuatan tersembunyi yang merupakan modal penting di dalam menyelesaikannya.

Tegas, effektif dan terukur adalah kata mantra di dalam peristiwa penyelesaikan Mako Brimob.

Salut kepada Kepolisian.

Salam hormat kepada Bayangkara negara yang rela menjadi martir menjaga Indonesia.

 

*Penulis adalah pengacara dan aktivis lingkungan.


Tag : #Terorisme #Musri Nauli #Mako Brimob



Berita Terbaru

 

Selasa, 22 Mei 2018 17:25 WIB

Terseret Kasus Penyelewengan Dana Desa, Kades Mudo Ditahan Kejari


Kajanglako.com, Merangin - Kejaksaan Negeri (Kejari) Merangin melakukan penahanan terhadap dua tersangka dugaan tindak pidana korupsi Dana Desa untuk

 

Penyerangan Mapolsek
Selasa, 22 Mei 2018 17:18 WIB

Dua Anggota Polsek Marosebo Korban Pembacokan Masih Dirawat di RS Bhayangkara


Kajanglako.com, Jambi - Dua personel kepolisian anggota Polsek Marosebo yang menjadi korban penyerangan dan pembacokan orang tak dikenal, masih mendapat

 

Penyerangan Mapolsek
Selasa, 22 Mei 2018 17:03 WIB

Pelaku Penyerangan Polsek Marosebo Berhasil Ditangkap


Kajanglako.com, Muaro Jambi – Polisi berhasil menangkap pelaku penyerangan Polsek Marosebo, Muaro Jambi, setelah melakukan penyerangan dan melukai

 

Kasus Gratifikasi Zola
Selasa, 22 Mei 2018 16:50 WIB

Sherin Tharia Ditanyai KPK Soal Uang Gratifikasi yang Telah Menjadi Aset


Kajanglako.com, Jakarta – Penyidik KPK mendalami kasus gratifikasi Zola, dengan memeriksa istri Zola, Sherin Tharia, hari ini Selasa (22/5). Kabiro

 

Penyerangan Mapolsek
Selasa, 22 Mei 2018 16:40 WIB

Warga Berhamburan, Pelaku Penyerangan Polsek Marosebo Teriak Bawa BOM


Kajanglako.com, Jambi – Usai menyerang Polsek Marosebo dengan melukai dua anggota polisi serta merusak kantor Polsek, pelaku penyerangan Polsek Marosebo