Rabu, 26 September 2018


Sabtu, 12 Mei 2018 09:29 WIB

Perjalanan Schouw Santvoort dari Bedar Alam ke Soengei Soengkei

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Di negeri Belanda, orang tak tahu bahkan tak membayangkan bahwa Schouw Santvoort telah mengubah rencana perjalanannya. Akan tetapi, ternyata pun pejabat-pejabat Belanda di Pantai Timur Sumatra tidak mengetahui adanya perubahan itu.



Residen Palembang, Prujs van der Hoeven—yang memonitor rencana-rencana Schouw Santvoort dari dekat, telah memerintahkan agar Niessen (Agen Politik di daerah itu) untuk meminta agar Sultan Djambi mengirimkan perahu dan seorang kepala adat untuk menjemput Schouw Santvoort di perbatasan di Tandjoeng dan Si Malidoe dan memandunya sampai ke daerah yang dianggap lebih aman. Padahal, Schouw Santvoort telah mengubah rencana perjalanannya dan sama sekali tidak akan melewati daerah-daerah itu.

Melalui sebuah surat yang ditulis oleh van Ophuyzen untuk mengabarkan kedatangan Schouw Santvoort, diketahui bahwa Sultan Djambi memang betul telah berusaha memenuhi permintaan itu. Apakah memang usaha Sultan Djambi menyambut dan memandu Schouw Santvoort memang terlaksana barangkali dapat dipertanyakan.

Ketika tiba di Djambi, penjelajah Belanda itu berasumsi bahwa Sultan telah memerintahkan Pangeran Ratoe untuk mengirimkan perahu untuk menyambutnya. Ia juga berasumsi bahwa Pangeran Ratoe telah menyampaikan hal itu kepada Sultan Taha dan sultan inilah yang akan segera melaksanakan perintah itu.

Karena Schouw Santvoort mengira bahwa kedua sultan itu berhubungan baik satu sama lain, ia sama sekali tidak terpikir adanya kemungkinan perintah Sultan Djambi tidak dilaksanakan.

Tentunya, ia membayangkan dan menyesali bahwa perahu yang akan menjemputnya sia-sia saja menunggu kedatangannya di Si Malidoe. Di kemudian hari, setelah mengetahui bahwa hubungan di antara Sultan Taha dan Pangeran Ratoe sama sekali tidak baik—bahkan bermusuhan, Belanda berpikir bahwa perubahan rencana perjalanan Schouw Santvoort sebetulnya merupakan hal yang (lebih) baik.

Lelaki itu tidak ada bayangan sama sekali mengenai situasi politik yang sebenarnya di daerah itu dan ketidaktahuan itu telah memaksanya untuk lebih berhati-hati. Pun, seandainya Radja Si Goentoer tidak mengizinkan Schouw Santvoort melewati wilayahnya, kemungkinan besar penjelajah Belanda jatuh ke tangan Sultan Taha.

Kalau pun hal ini tidak membahayakan dirinya, Sultan Taha pastilah melakukan segala-sesuatu untuk menggagalkan maksud penjelajahan itu. Seandainya Schouw Santvoort menjelajah sesuai rencana yang digagas dan digariskan nun jauh di negeri Belanda, kemungkinan besar penjelajahan memintas Sumatra sama sekali tak akan terejawantahkan.

Barangkali hal ini dapat dianggap sebagai catatan penting bagi orang-orang yang akan bepergian ke daerah-daerah yang tak dikenal: Jangan terlalu ketat mengikuti instruksi dan rencana yang telah dibuat!

Setelah Aardrijkskundig Genootschap mengungkapkan hipotesa dan dugaan mengenai alasan-alasan perubahan rencana perjalanan itu, uraian selanjutnya di dalam laporan ini didasarkan atas cerita dan laporan Schouw Santvoort sendiri.

4 April. Pagi-pagi, sekitar pukul 08.00, Schouw Santvoort berangkat bersama Radja di Sambah. Schouw Santvoort membawa tim kecil yang terdiri dari seorang jurutulis Pandang Alam (yang bergelar)  Sampono Betoewa; dua orang lelaki dari Solok yang bertugas sebagai kuli dan pendayung; dan seorang pembantu Melayu dari Padang yang bernama  Oedjir.

Katib  Sampono, yang juga ikut di dalam rombongan itu, telah berangkat duluan. Radja di Sambah pun membawa tim penjelajahan kecil yang terdiri dari adiknya yang bernama Hadji Abdoellah; anaknya, Katib Soetan Kabesaran dan empat orang ‘doebalang’ (hulubalang).

Dahulu kala, hulubalang merupakan pengawal petinggi-petinggi suatu kesultanan atau kerajaan. Setelah Belanda berkuasa, jabatan adat sebagai hulubalang tidak ada lagi; namun, gelarnya digunakan untuk para pengawal dan bawahan para kepala (adat). Selain itu, Radja di Sambah juga membawa 15 orang kuli untuk menggotong bagasi, perbekalan penjelajahan dan cenderamata-cenderamata. Karena mereka tidak yakin akan dapat membeli beras dalam perjalanan, mereka pun membawa 2,5 pikul beras sebagai bekal.

Perjalanan dari Bedar Alam ke Soengei Soengkei,  kampong pertama di negari Soengei Koenjit, melewati belantara liar. Sesekali saja mereka melewati ladang-ladang yang ditumbuhi padi.

Jalan yang mereka lewati semakin lama semakin mendaki. Oleh rimbunnya semak-belukar di belantara itu, terkadang mereka terpaksa berbasah-basah, berjalan di sungai dan kali yang dangkal dan lumpur.

Jalan setapak yang ditelusuri berliku-liku. Hujan deras yang acap turun di musim hujan itu membuat bumi basah-kuyup dan berlumpur. Dedaunan lebat pohon-pohon di belantara seperti payung di atas bumi. Tak secercah pun sinar matahari dapat menembusnya untuk mengeringkan lumpur itu.i

Kira-kira pk 09.30, satu setengah jam kemudian, mereka tiba di  Soengei Ekoer, batas wilayah yang telah dikuasai Belanda dan Soengei Koenjit. Air sungai yang bersumber di gunung, membengkak dan mengalir deras, berlomba-lomba menuju Batang Sangir.

Perjalanan para kuli yang berangkat sehari sebelum mereka, terhenti di tempat ini. Mereka tak sanggup meneruskan perjalanan karena arus sungai itu terlalu deras untuk diseberangi.

Karena Schouw Santvoort telah cukup lama menunda-nunda penjelajahannya dan ingin segera memulai penelitiannya, ia tak mau dikalahkan oleh arus deras sungai yang mencoba menghambat perjalanannya.

Bersama Radja di Sambah dan hulubalangnya, tanpa ragu, ia memasuki sungai. Apa daya, di tengah-tengah, ia kehilangan keseimbangan tubuh dan hampir saja terseret air. Untunglah, rekan-rekan seperjalanannya—yang lebih berpengalaman menghadapi arus sungai seperti itu—membantunya.

Schouw Santvoort akhirnya selamat sampai ke tepian di seberang. Dengan susah-payah, para kuli yang menggotong semua perbekalan mereka, pun menyeberang dan selamat sampai di tepian.

Mereka melanjutkan perjalanan panjang ke arah timur. Dua belas paal – kurang-lebih 22.21 km. Akhirnya mereka tiba di Soengei Soengkei.

*Acuan Kepustakaan: PJ Veth. Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, uitgerust door het Aardrijkskundig Genootschap, 1877-1879 . Jilid II. Leiden: EJ Brill. 1882


Tag : #Ekspedisi Sumatra Tengah #Jambi #Sumatra #Sultan Taha #Prujs van der Hoeven #Schouw Santvoort



Berita Terbaru

 

Bursa Inovasi Desa
Rabu, 26 September 2018 19:00 WIB

Bupati Syahirsah: Ingin Majukan Daerah, Majukanlah Desa


Kajanglako.com, Batanghari - Acara Bursa Inovasi Desa (BID) secara resmi dibuka Bupati Batanghari, Ir Syahirsah Sy, Rabu (26/9).   Acara yang dipusatkan

 

Rabu, 26 September 2018 18:45 WIB

Tim Kesenian Batanghari Tampil Memukau di Festival Batanghari


Kajanglako.com, Jambi - Tim Kesenian Kabupaten Batanghari di bawah binaan Yunninta Syahirsah, yang bernaung di Dinas Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Batanghari

 

Pemilu 2019
Rabu, 26 September 2018 15:34 WIB

Masuk 4 Besar Indonesia, Sarolangun Paling Rawan Konflik di Pileg 2019


Kajanglako.com, Jambi - Hasil dari kesimpulan Bawaslu RI, Kabupaten Sarolangun salah satu daerah yang menjadi sorotan pada Pemilihan Legislatif 2019 mendatang.    Sorotan

 

Rabu, 26 September 2018 12:15 WIB

Bacakan Visi Misi MANTAP, Al Haris Ajak Fauzi dan Nalim Bangun Merangin


Kajanglako.com, Merangin - Bupati dan Wakil Bupati Merangin, Al Haris-Mashuri, Rabu (26/9), membacakan visi dan misi membangun Merangin 2018-2023.   Visi

 

Rabu, 26 September 2018 12:03 WIB

Santriwati Korban Nikah Paksa Habib Bahrun Datangi Polres Batanghari


Kajanglako.com, Batanghari - Sekira pukul 10.00 WIB, Rabu (26/9), P Batubara dengan anaknya MG (18) korban ataupun santriwati yang pernah bernaung di Pondok